NovelToon NovelToon
Mama

Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Action / Misteri / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika
Popularitas:51.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arina rizqin

"Papa, jahat! Rara mau mama bukan bunda!"

Rara berlari keluar rumah tanpa menggunakan alas kaki. Bara dengan cepat mengejar Rara yang berlari sembari menangis. Ia menyesal.

Bara meraih tubuh anaknya yang sudah dewasa, bukan lagi anak kecil yang dulu selalu dimanja.

"Papa jahat ... hiksss ...." Rara menangis dalan pelukan Bara. Melepas semua rasa rindu yang ia tahan selama bertahun-tahun untuk mamanya.

"Kita cari keberadaan mama ya," bisik Bara ditengah pelukan mereka. Membuat Rara semakin menangis usai mendengar perkataan sang papa.

"Papa harus menuhin janji itu. Rara nggak mau kalau Papa ingkar lagi." Bara mengiyakan permintaan anaknya.

Hatinya seperti tercabik-cabik melihat buah hatinya yang sudah lama tak bertemu Rida menangis pilu di hadapannya karena keputusannya yang bodoh juga rindu yang menggebu di hati sang anak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arina rizqin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebingungan

Aku menunggu kabar yang tidak kunjung datang dari Mas Bara. Mencoba menenangkan diriku sendiri, namun percuma jadi keputuskan untuk pergi ke rumah sakit.

Selesai mandi dan bersiap aku turun ke lantai bawah untuk menemui Pak Dadang,

"Pak, tolong antar Rida ke rumah sakit yaa." Aku meminta Pak Dadang untuk mengantarku ke rumah sakit, karena tadi beliau yang mengendarai mobil untuk mengantar Mas Bara dan Rara ke rumah sakit.

"Baik Nya, ayo." Segera Pak Dadang menuju garasi untuk mengambil mobilku.

"Ayo Nya, masuk," ucapnya sembari membukakan pintu belakang untukku. Setelahnya beliau memutari mobil menuju kursi kemudi dan melajukan mobil membelah padatnya jalanan Ibu Kota.

"Tadi Mas Bara yang menyuruh bapak untuk pulang?" tanyaku memecah keheningan di dalam mobil.

"Iya Nya, katanya Pak Dadang teh pulang aja biar tuan yang menjaga non Rara," jawabnya membalas pertanyaanku.

"Bapak tahu kan di mana ruangan Rara? Dari tadi aku menelpon Mas Bara tidak diangkat."

"Tahu Nya, tadi bapak sempat masuk ke ruangan non rara." Setelahnya di dalam mobil hening kembali.

Sampai di rumah sakit aku segera menuju ruangan Rara dengan ditemani Pak Dadang sebagai petunjuk. Sampai di ruangan Rara Pak Dadang kusuruh untuk pulang karena Bi Iyem sendiri di rumah, jadi aku masuk sendiri ke dalam.

"Assalam ... mualaikum Mas," Tubuhku mematung, mataku terpaku pada satu titik, kedua tangan itu saling menjalin. Apa ini? Pengkhianatan? Kepalaku mulai memikirkan banyak hal, namun segera kutepis. Melangkah kaku aku memasang senyum kaku.

"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak dengan tingah laku gugup sepertinya?

"Nadia? Sudah lama di sini?" tanyaku.

"Belum terlalu, lima belas menit sebelum kamu." Nadia menjawab dengan tatapan seperti kesal menurutku, apa mungkin aku menganggu acara berpegangan mereka?

"Kenapa tidak menghubungiku Mas? Sedari tadi aku menunggu kabar darimu namun tak kunjung mendapatkan kabar juga. Jadi aku memutuskan untuk kemari ditemani Pak Dadang." Aku sebal kepadanya karena tidak mengabariku tadi.

"Lupa." Hei! Jawaban macam apa itu? Biasanya ia akan meminta maaf jika lupa mengabariku ataupun tidak ikut makan malam bersama di rumah. Apa aku tidak salah dengar Mas Bara menjawabku dengan nada datar seperti itu?

Ada yang aku tidak ketahui di sini.

"Maksudmu?" Tanyaku untuk memastikan kembali jawaban yang kudengar tadi.

"Kamu tidak dengar kalau Mas Bara lupa?" Kenapa malah Nadia yang menjawabku? Aku benar-benar di bingungkan.

"Rara bagaimana keadaannya Mas?" tanyaku lagi.

"Untung saja tadi Mas Bara segera membawanya ke rumah sakit, jadi Rara masih bisa terselamatkan dan baik-baik saja sekarang." Jawaban dari Nadia membuatku seolah-olah bersalah dan juga membuatku geram, bagaimana tidak geram? Sedari tadi aku bertanya kepada Mas Bara selalu ia yang menjawab, sekalinya menjawab jawaban yang terlontar seolah menyudutkanku.

"Apa mak---"

"Sudah lah jangan membuat keributan! Biarkan Rara istrahat dengan tenang, sebaiknya kamu pulang Rida!" sentak Mas Bara membuatku terkejut sekali.

"Yang benar saja? Aku ibunya, mengapa aku yang disuruh pergi!?" bentakku kepadanya.

"Mana ada ibu yang tega meracuni anaknya sendiri," cetusnya, mengapa hatiku sakit mendengar ucapannya?

"Apa maksudmu berbicara seperti itu? Kau tidak percaya denganku? Demi Tuhan! Bukan aku yang meracuni Rara." Aku membela diri, karena memang bukan aku pelakunya.

"Jika bukan kamu lalu siapa? Mana ada maling mengaku, jika itu terjadi pasti penjara penuh." Nadia membuat suasana semakin memanas, ingin sekali aku mencabik mulutnya itu. Padahal dulu dia sahabat yang paling dekat denganku. Apa yang membuatnya berubah begini?

"Lebih baik kamu pulang Rida, daripada aku membawa masalah ini ke rana hukum," peringat dari Mas Bara sungguh membuatku sakit hati, segitu tidak percanyanyakah dia kepadaku? Sampai ingin membawa masalah ini ke rana hukum?

"Baik aku pulang, aku akan mencari bukti untuk membuktikan kalau bukan aku pelakunya. Aku berjanji siapapun yang melakukan hal ini, akan kubuat ia menyesal telah menganggu kehidupanku." Sekilas aku melihat wajah Nadia menegang, segera aku berlalu dari ruangan Rara. Gara-gara berdebat dengan mereka aku tidak dapat memeluk Raraku yang terbujur lemah di brankar.

Keluar dari ruangan Rara aku langsung berjalan keluar rumah sakit untuk pulang dengan taksi, tadi aku berpikir untuk bergantian menjaga Rara dengan Mas Bara, tapi yang terjadi malah di luar ekspetasi ku.

"Ke kafe swagia yaa, Pak," kataku kepada bapak taksi setelah aku duduk di kursi belakang.

"Iya mbak," jawab bapak tersebut.

...***...

Sampai di kafe Swagia aku langsung membayar taksi dan melangkahkan kakiku ke dalam kafe, aku duduk di bangku dekat jendela agar bisa melihat pemandangan indah yang tersaji di kafe Swagia.

Kupesan kopi sebagai teman merenungku, aku masih bingung dengan sikap Mas Bara tadi ketika di rumah sakit, ada yang aneh sepertinya. Sikapnya juga seolah percaya pada pendapat Nadia bahwa aku yang meracuni Rara.

"Rida!" teriak seseorang dari arah pintu masuk, ia berjalan ke arahku dengan senyum terpatri di bibirnya.

"Nanda? sedang apa di sini?" tanyaku ketika mengetahui Nanda yang memanggilku.

"Seharusnya aku yang bertanya padamu, sedang apa kamu di sini? Seperti orang galau saja," ucapnya dengan kekehan miliknya yang selalu kudengar jika bertemu dengannya.

"Aku bingung sekali, Mas Bara percaya kepada Nadia jika aku yang meracuni Rara. Padahal kamu tahu bukan seberapa sayangnya aku pada Rara, aku harus membuktikan kalau bukan aku pelakunya. Maukah kamu membantuku?"

"Tentu saja! Coba ingat-ingat sesuatu ketika kamu bersama Rara di dapur. Hal sekecil apapun itu, bisa jadi mereka sangat berguna," Perkataan Nanda membuatku mengingat-ingat hal apa saja di dapur.

"Astagfirullah, apakah kamu ingat ketika aku meminta pendapatmu tentang kamera kecil yang kupasang di gaun ulang tahun Rara?" tanyaku denga alis bertautan.

"Astaga! aku ingat itu," serunya dengan semangat.

"Apakah besok kamu sibuk?"

"Sepertinya jadwalku kosong besok, kenapa? Ingin meminta bantuan?" Tebakannya tepat sekali, aku membalasnya dengan senyuman berarti.

"Bantu aku pecahkan masalah ini!" seruku dengan semangat. Akan kucari tahu siapa dalang dibalik masalah yang terjadi di keluargaku.

"Baik! kamu tahu aku suka sekali jika diajak memecahkan masalah seperti ini." Kuakui memang Nanda orang yang tepat untukku mintai tolong. Karena ketika kampus seseorang menerorku dengan gencarnya, aku bercerita kepadanya tentang masalah itu, lalu ia menghabiskan waktunya untuk memecahkan teror yang menimpaku dan usahanya tidak sia-sia karena ia berhasil menangkap pelaku bahkan ku prediksi pelaku jera terhadap sesuatu yang Nanda lakukan padanya, hingga tidak ada lagi teror yang mengganggu ku. Aku bangga sekali dengannya.

"Kita mulai besok pencariannya." Setelahnya kami menikmati makanan dan minuman yang di sugukan pelayan kafe swagia tadi.

...$$$...

Berhasilkah mereka menangkap pelaku sama seperti Nanda menangkap pelaku teror Rida ketika kampus? pantengin terus ceritanya yaa (^.^)

Stay tune always yaa ❤

Olla, see you in the next chapter ;) .

I hope you like my story❤

Don't forget to stay at home 😉.

1
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
belum jd istri sah uda berlagak. kujambak nanti kau ya nadia
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
semoga saja berhasil biar terbongkar tuh kebusukan Nadia.
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
ayo Rida ungkap sampai tuntas
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
hilih, kesal sama Nadia. tega banget ngefitnah orang...
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
katanya ga selingkuh tapi sauang2an. apa sih ini orang? ngajak ribut??
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
suami istri sibuk dgn dunia masing-masing sehingga anaklah yg terbengkalai.
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
aku kok ya kasian sama bayinya.
Yusniar Zebua
lanjut
Wani Ikhwani
GWS mbak
ditunggu lanjutannya
A2NNALUP: Terima kasih, Ka. 💚
total 1 replies
Sh❤️≛ᔆᣖᣔᣘᐪᣔ
jejak like dlu
Rahmalia Maricar
udah mampir ya like komen rate bintang 5 💞
ʀ𝖍𝒚𝖓𝖆
makin penasaran aku
Yusniar Zebua
lanjut
Eka
nyimak
Elfrina Tinambunan
up nya jangan dikit2 dan lama thor.. suka ceritanya
Herlin Herlina Herlin Her
lanjut thor,
Yusniar Zebua
lanjut
Rizqi
tetap semangat ya...
HIATUS
mampir sayang semangat
A2NNALUP: Makasih, Ka Dhe. 💜
total 1 replies
Susi Ana
jempol hadir, mampir ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!