Cerita ini mengisahkan seorang wanita yang ditinggal mati oleh suaminya karena kecelakaan yang dialami suaminya. Dimas, sebelum kepergiannya ia menitipkan pesan pada Dinda istrinya, untuk mendonorkan jantungnya pada pasien di rumah sakit yang sama. Dengan persetujuan Dinda akhirnya jantung itu di donorkan pada seorang pasien.
Setahun kepergian Dimas, Dinda mulai mencari kesibukan lagi. Walau belum hilang rasa sedih serta rindunya pada Dimas. Dinda bekerja di sebuah perusahaan dengan rekan-rekan yang sangat baik padanya salah satunya Ana. Ana juga sahabat Agra CEO perusahaan tempat mereka bekerja dan juga orang yang mendapatkan donor jantung Dimas.
Diawal pertemuan, Dinda dan Agra ada rasa ketertarikan pada mereka berdua. Tapi, Dinda dan juga Agra tidak terlalu menggubris hati mereka.
Namun, seiring berjalannya waktu Agra memahami hatinya yang telah jatuh cinta pada Dinda. Dengan berbagai alasan, Agra mengajak Dinda untuk menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Mawarni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Jantung Agra
Berbulan-bulan berlalu Dinda menjalani hidupnya sebagai seorang janda. Rindu, itu yang sedang dialaminya. Ia rindu kepada almarhum suaminya. Rindu akan belaian dan canda tawanya yang selalu ia tunggu-tunggu saat suaminya pulang ke rumah di kala itu.
Namun, saat ini entah mengapa Dinda merasa ada yang aneh di hatinya kala ia berada di dekat bosnya, Agra. Bayang-bayang Agra menghantui pikirannya.
Sampai Dinda bertanya-tanya dalam hati, siapa Agra itu? Apakah ia pernah mengenalnya? atau pernah bertemu dengannya? Dinda merasa seperti pernah melihat Agra. Tapi ia tidak tau dimana.
Sekali lagi ia melihat Agra rasa penasarannya semakin memuncak. Akhirnya kakinya melangkah mengikuti Agra walau hatinya merasa ragu.
Agra masuk kedalam lift. Saat berbalik badan lagi-lagi mata mereka bertemu. Tidak di pungkiri lagi hati mereka berdua saling terpaut.
"Maaf pak, boleh bicara sebentar?" Dinda merasa bibirnya hilang kendali padahal hatinya masih ragu untuk berbicara pada Agra.
"Ya, silahkan, " jawab Agra agak gugup sambil bergeser ke kanan.
Dinda masih bingung dan ragu. 'Kenapa Pak Agra bergeser? apakah maksudnya aku harus naik lift juga?' terka Dinda dalam hati.
"Kenapa kamu diam aja? ayo masuk!" ucap Agra sambil menekan tombol pintu.
Dinda terbangun dari lamunannya dan masuk kedalam lift.
'Ya Allah, kenapa aku ikut masuk ke lift sih? maksudnya kan mau bicara di luar aja. Gak mesti terjebak berdua begini' ucap Dinda dalam hati yang merasa kikuk.
Dan tak di sangka jantung Agra pun kembali berdebar kencang di tambah mereka berduaan di lift membuat Agra semakin gugup.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Agra sedikit gugup sambil melepas jarinya dari tombol.
"Em, menurut bapak apakah kita saling kenal?" ucap Dinda pelan sambil memperhatikan jari Agra yang menekan angka 10.
Agra langsung melihat Dinda begitu mendengar pertanyaannya. Dan begitu juga Dinda melihat wajah Agra menelisik apa yang membuat dirinya begitu memikirkan Agra.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Agra balik bertanya.
"Maaf sebelumnya kalau saya lancang Pak. Begini, saya merasa tidak asing dengan bapak dan saya begitu penasaran. Sehingga saya... " Dinda menghentikan perkataannya.
'Nggak-nggak. Ini terlalu berlebihan. Ada apa sih denganku?' ucap Dinda dalam hati.
Dinda menundukkan kepalanya, ia tahu bahwa Agra masih melihatnya menunggu perkataannya.
"Maaf pak".
Jantung Agra masih terus berpacu. Tapi, ia tidak tega melihat Dinda yang sepertinya malu.
" Siapa Nama kamu tadi?" tanya Agra.
"Dinda", jawab Dinda gugup.
" Begini Dinda. Seingat saya, kita tidak pernah bertemu sebelumnya sampai hari ini di jam makan siang itulah pertama kalinya saya melihat kamu."
Ting...
Lift berhenti dan pintu terbuka.
"Maaf karena saya sudah mengganggu bapak", ucap Dinda menunduk.
" Ya, tidak apa-apa", jawab Agra yang masih gugup. "Maaf ya Dinda, saya tinggal."
Dinda menganggukkan kepala di ikuti dengan Agra yang keluar dari lift.
Dinda pun menarik napas lega dan tetap melihat punggung Agra yang menjauh.
Sambil berjalan, Agra pun menarik napas lega.
"Lama-lama dekat sama Dinda bisa kena serangan jantung mendadak nih kayaknya", ucap Agra pelan.
Lalu Agra menghentikan langkahnya, dan berbalik melihat ke belakang. Tepatnya, melihat Dinda seorang diri dalam lift sebelum pintu lift tertutup rapat dan mata mereka saling bertemu lagi.
Dinda terkulai lemas memegangi dadanya.
"Ini kenapa sih hati sama kaki gak pernah kompak! Untung aja tadi gak kebablasan bilang kalau aku mikirin dia mulu", Dinda berdumel dengan dirinya sendiri.
.
.
.
.
Kejadian hari ini benar-benar membuat Dinda tidak bisa konsentrasi pada pekerjaannya. Ia lebih banyak melamun.
" Kenapa Din? Oh, aku tau mikirin Agra ya?" bisik Ana.
"Kelihatan banget ya?" tanya Dinda balik.
"Ya ampun, berarti kalian sama-sama suka?"
"Bukan suka An, lebih tepatnya bingung. Karena perasaan aku tuh pernah kenal gitu kayak g asing."
"Yah... itu namanya benih-benih cinta sudah mulai merasuk ke hati kalian. Hi.. hi.."
"Kamu lagi jodohin aku sama pak Agra?"
"Kenyataannya Agra juga terpesona sama kamu. Dan itu di luar kebiasaannya. Cinta pada pandangan pertama".
" Gak mungkin pak Agra jatuh cinta sama aku. Secara kami beda kasta."
"Iya sih, Tapi masalahnya keluarga Agra tidak seperti itu. Membedakan orang dengan kasta."
"Lagian, asal kamu tau aku itu seorang janda."
"Whaaaaat!!!" Ana berteriak kaget.
"Ssstt! Ana... " ucap Dinda berbisik sambil melekatkan jari telunjuk di bibirnya.
Tentu saja semua mata tertuju pada Ana yang berteriak.
"Kenapa An ? sampe berteriak gitu", tanya Dena penasaran.
" Oh, ini barusan aku liat artis yang keliahatan alim ternyata pemakai narkoba. Kaget deh aku, hehehe" Ana beralasan.
Semua kembali lagi bekerja.
"Kamu lagi gak bercanda kan Din?" sambung Ana.
"Serius, ini udah setahun kepergiannya".
" Maaf ya Din, aku gak tahu".
"Iya gak apa-apa kok", Dinda tersenyum.
Kemudian, Dinda diam kembali. Wajahnya sayu seperti sedang memikirkan sesuatu.
" Ada apa Din? kok murung gitu?" tanya Ana penasaran.
"Jantung ", ucap Dinda.
" Jantung? Kenapa? Almarhum suami kamu sakit jantung?" Ana menduga.
Dinda menggelengkan kepalanya.
"Almarhum suamiku korban kecelakaan. Dan pesan terakhirnya adalah mendonorkan jantungnya kepada seseorang yang membutuhkan donor jantung pada saat itu."
Sekilas Ana memikirkan Agra yang setahun lalu mendapatkan donor jantung. Apakah orang itu adalah suami dari Dinda? Ana bertanya-tanya dalam hati.
Dinda merasa heran dengan ekspresi datar Ana seolah ia sedang memikirkan sesuatu.
"Kenapa An? Kok jadi kamu yang melamun?" tanya Dinda.
"Oh, gak apa-apa. Oh ya, aku boleh tau nggak di rumah sakit mana?"
"Di rumah sakit XX. Emangnya kenapa?"
Ana terkejut mendengar nama rumah sakit yang sama dengan rumah sakit yang merawat Agra tapi sebisa mungkin ia memasang wajah datar. Lalu, apa yang harus dia katakan? Apakah dia harus memberitahu bahwa Agra juga mendapatkan donor jantung di rumah sakit yang sama setahun lalu? atau dia merahasiakannya dulu? Ana bingung memikirkannya.
"Em, itu aku ada kenalan dokter di sana. Kamu mau tau gak siapa yang dapat donor jantungnya?"
Dinda menggelengkan kepalanya.
"Aku tau kok An".
" Apa? Kamu tau orangnya?" Ana terkejut lagi.
"Aku tau kedua orang tua nya."
"Oh, jadi kamu cuma tau kedua orang tuanya. Berarti anaknya kamu nggak tau dong".
Dinda mengangguk.
" Terus kamu gimana? Kamu ikhlas?"
"Kalau almarhum aja ikhlas. Kenapa aku gak ikhlas", ucap Dinda tersenyum.
" Kalau gitu aku doakan, semoga dengan donor jantung itu menjadi ladang pahala untuk almarhum suami kamu dan semoga Allah menempatkan beliau di tempat paling baik. Amin."
"Amin", ucap Dinda senang mendengar doa tulus dari Ana.
.
.
.
.
So Happy Ending
Time Travel Lia mampir
Vio emang jahat banget sih
Time Travel Lia mampir
Time Travel Lia mampir
Time Travel Lia mampir