Apa yang akan kamu lakukan ketika sebuah insiden tidak sengaja membawamu kembali ke masa lalu?
Ini seperti pertanyaan tanpa jawaban tetapi membuat Han Yuan tetap ingin tinggal.
Dia mungkin kehilangan yang lama, tetapi mendapatkan ganti yang lebih baik. Dunia yang benar-benar dia inginkan.
Jika bersama seseorang yang kamu cintai, lalu apa yang kamu takuti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amorise_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permaisuri Kaisar
Situasi di luar istana kekaisaran sudah sangat ramai oleh tamu undangan. Mereka tampak lebih antusias dibanding sang pengantin wanita terlihat sangat tertekan.
"Tidak kusangka ternyata Bingyan Gōngzhǔ sangat cantik."
"Siapa bilang? Kudengar dia bukan Tuan Putri Bingyan."
"Benarkah? Apa yang terjadi sebenarnya?
"Jangan bicarakan lagi. Kalian tidak ingin hidup ya?!"
"Apa yang kalian bicarakan? Kalian semakin berani ya?" Itu adalah suara wanita yang sudah Yuan temui dua kali. Sontak para pelayan pun terkejut dan menundukkan kepala.
"Maafkan kami, Wei Fūrén," ucap mereka kompak.
"Cepat selesaikan saja pekerjaan kalian!" katanya tegas.
Para pelayan itu pun langsung mencari kesibukannya masing-masing.
Wanita yang di panggil nyonya oleh para pelayan itu menatap datar Yuan dari cermin. Dia kemudian berjalan mendekat, dam berisik tepat di telinga Yuan.
"Sebaiknya kamu tidak membuat membuat masalah untuk dirimu sendiri. Jika tidak, nyawamulah yang menjadi taruhannya," ujar wanita itu dengan penuh penekanan. Kemudian ia pun pergi dari sana.
"Ayi, kamu akan menyesal!"
Nyonya Wei mengangkat alisnya. "Oh? Kalau begitu aku akan menunggu. Semoga saja kamu masih memiliki waktu untuk membuatku menyesal. Kalian, jaga Huánghòu dengan baik!"
Yuan mencibir, dia melirik pelayan yang sedang memakaikan mahkota dan bertanya, "Siapakah wanita tadi?"
Pelayan itu menatap Yuan dari kaca dan menjawab, "Dia adalah jenderal wanita kerajaan Wei."
"Kerajaan Wei?"
Yuan menatap mahkota yang sudah terpasang di kepalanya. Mahkota itu terlihat sangat indah, mungkin hanya orang-orang tertentu saja yang memakainya dan itulah yang membuat Yuan penasaran.
"Mahkota yang sangat indah," kata Yuan memancing.
Pelayan itu tersenyum sopan dan merespon sesuai yang diharapkan Yuan. "Tentu saja, Tàihòu sendiri yang merancangnya. Mahkota itu diberikan khusus untuk Permaisuri Kaisar. Ditambah yang memakainya adalah seorang putri yang cantik," ujarnya penuh semangat.
Tanpa pelayan itu sadari, wajah Yuan menjadi pucat pasi.
Apa katanya tadi? Ibu suri? Permaisuri Kaisar? Jadi dia akan menikahi seorang Kaisar? Tamatlah sudah, menipu seorang Kaisar adalah kesalahan yang fatal dan ia secara tidak sengaja terlibat di dalamnya.
"Huánghòu, boleh Núbì bertanya juga?" tanya pelayan itu ragu. Tetapi rasa penasarannya sudah berada di ujung tanduk.
"Katakan," jawab Yuan.
"Apakah Anda bukanlah Bingyan Gōngzhǔ?" Pertanyaan itu akhirnya meluncur. Bukan hanya dia yang penasaran, tetapi para pelayan yang ada di ruangan itu juga memasang telinga mereka dan siap mendengarkan dengan cermat.
Melihat Yuan yang tidak langsung menjawabnya, pelayan itu berlutut di samping Yuan dan berkata, "Yang Mulia, maaf jika hamba salah bicara," katanya menundukkan kepala.
Yuan terkejut. Dia dengan cepat berkata, "Tidak. Tidak. Jangan seperti ini. Berdirilah." Orang-orang di istana ini sangat serius atau itu hanya perasaannya?
"Kurasa kalian juga tau jawabannya, kan?" lanjut Yuan bertepatan dengan seseorang yang datang menjemputnya.
"Yang Mulia, upacara akan segera dimulai."
***
Yuan dituntun oleh Nyonya Wei dengan cadar merah yang sudah menutupi wajah. Diikuti beberapa pelayan di belakangnya, Yuan berjalan dengan pelan di sepanjang karpet berwarna merah.
Seluruh pasang mata menatapnya menjadikan dia sebagai sorotan. Jika tidak ditahan oleh Nyonya Wei di sampingnya, mungkin Yuan sudah jatuh tersungkur.
"Huanghou tampaknya sangat tegang ya? Jangan khawatir, kamu tidak akan mati sekarang," bisiknya dengan yang terdengar menyebalkan di telinga Yuan. Tangan wanita setengah baya itu menggenggamnya sangat kuat seperti akan mematahkan telapak tangannya.
Yuan mencoba melonggarkan genggamannya tetapi ternyata sangat sulit. Kekuatan wanita itu memang seperti yang dia bayangkan.
"Ayi, jika aku mati maka aku akan membawamu bersamaku. Kamu seorang wanita mengapa memperlakukan aku seperti ini? Tidakkah kamu takut ini akan terjadi pada putrimu?"
"Anak kecil mana boleh menasihatiku? Lagipula aku hanya memiliki seorang putra. Jadi Huanghou, terima kasih atas perhatianmu."
"Kamu mengkhianati kerajaanmu dan kekaisaran Qin. Mengapa masih begitu sombong?"
"Tidak. Aku tidak melakukannya. Kerajaan Wei malah akan berhutang padaku. Jelas putri keras kepala itu yang menciptakan keadaan ini. Jika kamu ingin menyalahkan orang, maka dia yang paling tepat. Lagipula itu salahmu sendiri berada di sana dengan gaun pernikahan." Langkahnya tiba-tiba terhenti yang membuat Yuan juga ikut berhenti.
"Selamat atas pernikahan Huángdì dan Huánghòu."
Dari bawah cadar yang ia pakai, Yuan melihat sebuah tangan terulur di depannya. Tangan besar itu terlihat sangat indah seperti porselin. Jari-jarinya lentik tetapi tone kulitnya berada sedikit di bawah Yuan.
Belum dia tersadar, tangan itu sudah menariknya pelan dan membawanya untuk menghadap Janda Permaisuri dan Ibu suri.
Kemudian mereka berdua mulai melakukan ritual upacara pernikahan (3) hingga selesai.
***
Setelah upacara pernikahan itu berakhir, Yuan dibawa ke kamar pengantin. Tidak ada seorang pun yang menemaninya. Jika ada Jingli di sini, sepertinya akan lebih baik.
Dia gelisah memikirkan Kemungkinan buruk yang akan terjadi padanya. Tadinya dia mulai akan menerima dirinya yang terjebak di Dinasti Qin itu, lagipula kehidupan sebagai seorang putri sudah sangat menyenangkan. Ia memiliki kekayaan, ibu dan ayah yang menyayanginya dan Jingli yang sudah seperti saudaranya. Tentang orang-orang yang berniat menyakitinya? Itu hanya masalah waktu. Yuan sedikit lebih pintar untuk bisa mengatasinya.
Suara pintu yang dibuka disusul dengan derap langkah yang semakin mendekat membuat Yuan semakin menundukkan kepalanya.
Dia bisa melihat sepasang kaki dengan baju panjang berwarna merah yang menjuntai berdiri sangat dekat di depannya.
Perlahan jemari lentik yang berukuran lebih besar dari jari tangan Yuan itu mengangkat cadarnya.
Hanya butuh seperkian detik bagi kaisar melepaskan cadar dari kepala Yuan.
Yuan menahan napas saat merasakan tatapan tajam milik Kaisar yang seakan membakar.
Kaisar Qin membuang cadar yang masih ia pegang ke sembarang arah. Kemudian dengan jari telunjuknya, dia mengangkat wajah Yuan agar menatapnya.
Yuan pun mau tidak mau harus bertemu pandang dengan mata berwarna biru langit itu.
Beberapa saat dia seperti tersihir melihat figur pria di depannya. Pria itu sangat amat tampan. Memiliki hidung mancung, mata berwarna biru cerah dan sangat tajam dengan rambut panjang berwarna coklat yang tersampir di punggungnya, bibir ranum pria itu semerah mawar, tinggi badannya sekitar 190 cm. Benar-benar pahatan yang sempurna.
"Siapa namamu?" tanya Kaisar. Suaranya terdengar sangat berat tetapi juga indah di telinga.
Yuan ingin menjawab, tapi tatapan intimidasi dari kaisar membuat suaranya hanya sampai tenggorokan.
"Siapa namamu?" ulang sang Kaisar tampan itu sambil mendekatkan wajahnya.
"Yu--Yanli," jawab Yuan terbata. Hampir saja dia menjawabnya dengan salah.
"Putri pertama Kerajaan Zhou memang sangat cantik," ujarnya pelan.
Yuan seperti kehilangan kata-kata. Dia bahkan tidak bisa menghindar saat jemari tangan Kaisar Qin yang berada di dagunya berpindah menyentuh pipi kanannya dengan lembut.
Tetapi tiba-tiba sentuhan lembut itu menjadi sebuah cengkeraman yang sedikit menyakitkan. "Kamu sangat berani mengambil resiko," katanya.
"Mo—mohon ampun, Yang Mulia. Saya tidak sepenuhnya salah di sini. Jenderal kerajaan Wei itu yang memaksaku. Saya benar-benar tidak terlibat."
"Tidak masalah. Permaisuriku ini juga tidak terlalu buruk."
Yuan meringis pelan. "Tidak. Tidak. Yang Mulia, saya tidak pantas menerima gelar ini. Saya hanya putri dari kerajaan kecil. Yang Mulia Kaisar adalah pemimpin yang adil dan bijaksana, bisakah menegakkan keadilan untuk hamba?"
Kaisar itu tersenyum tipis. "Apa kamu sangat tidak ingin menikah denganku? Tidakkah kamu tau berapa banyak wanita bangsawan yang menginginkan posisimu? Atau saya terlalu buruk untukmu?" Sambil berbicara, dia mendekatkan wajahnya pada Yuan.
Gadis di depannya ini memang tidak buruk, bahkan dia terlihat sangat cantik dan polos.
Napas Yuan tercekat. Merasa pria di depannya ini semakin mendekatinya, dia refleks menahan dada pria itu agar berhenti. "Y—Yang Mulia, itu bukan kekuranganmu, tetapi saya yang terlalu buruk untukmu," katanya gugup.
"Bagaimana jika aku yang menginginkanmu? Apakah kamu akan menolak?" Saat berbicara, napas hangatnya menerpa wajah Yuan.
"Itu—itu tidak boleh. Saya sudah memiliki pertunangan," katanya pelan.
"Tapi kami sudah menjadi pasangan yang sah." Tangannya bergerak ke belakang leher gadis itu. Memberikan usapan ringan di sana. "Kamu sudah masuk. Tidak ada jalan untuk kembali. Jadi menurutlah padaku. Jika tidak—" Mata pria itu jatuh pada bibir merah Yuan lalu menatapnya.
Yuan membelalakan matanya. Sebuah benda kenyal dan dingin menempel di bibirnya. Dia juga merasakan sesuatu menggigit bibir bawahnya sebelum terlepas.
"Jika tidak, kamu tidak akan pernah bertemu keluargamu lagi. Ingat, walaupun kamu dipaksa olehnya, tetapi kamu juga telah menipuku. Kalian berdua terlibat," ujarnya seraya mengusap sudut bibirnya.
"Omong-omong, bibirmu sangat manis. Aku menyukainya." Setelah itu, dia meninggalkan Yuan yang masih mematung.
"Ciuman pertamaku! Kurang ajar!"
......▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎......
Tàihòu [太后]:Ibu Suri, tetapi bisa juga di sematkan pada gelar janda permaisuri. Gelar ini diberikan kepada Istri Kaisar/Istri Kaisar terdahulu yang masih hidup. Tetapi di beberapa dinasti, jika Kaisar meninggal maka Permaisurinya akan dikubur bersama. Ada juga yang tidak.
Huángdì[皇帝]:Kaisar
Huánghòu [皇后]:Permaisuri Kaisar yang sekarang menjabat.
sayang ga berlanjut 😭