Kisah seorang puteri yang diasingkan namun tiba-tiba harus menikah dengan seorang raja yang tidak mencintainya.
Sehari setelah pernikahannya, Raja segera mengangkat kekasihnya menjadi selir yang lebih disayanginya.
****
Cerita ini tidak hanya seputar konflik cinta segitiga tapi juga terdapat persahabatan dan petualangan seru untuk disimak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layla Mulhayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Menjadi Tahanan
"Kasus ini jangan sampai terdengar keluar. Selidiki dari mana Ratu Gita mendapatkan Kitab Iblis itu!" Perintah Sang Raja kepada pengawal pribadinya yang biasa menjalankan tugas rahasia.
Kemudian Raja menemui Ratu Gita yang terbaring di ranjangnya dalam keadaan syok berat. Wajah wanita itu pucat dan pandangan matanya kosong menatap langit-langit. Rambut hitamnya yang biasanya tergerai indah kini kusut dan agak lengket terkena air mata.
"Untuk sementara kau tidak boleh meninggalkan wisma ini. Bahkan untuk keluar dari pintunya pun, jangan pernah kau mencoba untuk melakukannya!" Raja berkata dengan suara rendah namun tegas.
Sebenarnya dia merasa tidak tega melihat keadaan istrinya yang terlihat menyedihkan itu. Namun sebelum dia bisa membuktikan hal yang sebaliknya dari tuduhan itu, Raja tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya.
Ratu Gita hanya terdiam, bahkan dia tak mau memandang suaminya itu. Dia merasa seluruh hidupnya sudah berakhir. Dibiarkannya pria itu pergi diam-diam.
Terbayang dibenaknya saat pertama kali menginjakkan kaki di istana ini. Ada harapan yang sempat tersemai di hatinya melihat kemegahan dan keindahan rumah barunya. Harapan menemukan kasih sayang dan perlindungan yang tak pernah dia dapatkan. Namun tak berselang lama keadaan berubah menjadi lebih buruk. Sekali lagi kehidupan menghianatinya. Kini bahkan dia berada di titik terendah dalam hidupnya. Posisinya sebagai Ratu kini berubah menjadi seorang pesakitan.
Para pelayan pribadi Ratu merasa sedih melihat keadaan majikannya. Sebenarnya ada hal yang janggal terhadap kasus yang menimpa Ratu Gita. Seperti misalnya gambar Pentagram itu. Mereka yakin simbol itu belum ada saat mereka membersihkan kamarnya tadi pagi, sedangkan Ratu seharian ini belum sempat masuk ke kamarnya. Juga sapu tangan bernoda darah itu, bukankah waktu itu dibawa Selir Utama untuk membebat jarinya yang terluka?
Namun semua kecurigaan itu hanya mereka simpan diam-diam tanpa berani mengungkapnya. Mereka tahu posisi Ratu sangat lemah tanpa dukungan Raja. Jika mereka bertindak gegabah, bisa-bisa nyawa mereka sendiri taruhannya.
Esme dan Talitha bersama-sama membantu Ratu Gita mandi dan berpakaian. Dengan hati-hati mereka menyisir rambut hitam majikannya, berusaha agar tidak menarik terlalu kencang dan menyakiti pemiliknya.
*****
"Yang Mulia Ratu, saya membawakan bubur ayam dengan taburan kacang kedelai." Pagi itu Esme datang membawa sarapan dengan suara ceria.
"Aku tidak merasa lapar." Ratu menjawab dengan suara lemah, punggungnya bersandar pada kepala ranjang.
"Ayolah Ratu cantik, jangan kecewakan pelayanmu ini..." Bujuk gadis itu dengan membuat wajah lucu.
Ratu tertawa melihat tingkah pelayannya itu dan tidak tega mengecewakannya. Ratu mengangguk dan meraih mangkuk bubur. Ditelannya beberapa suap meskipun lidahnya tidak merasakan nikmat. Setelah bubur itu habis, Esme mendekati Ratu Gita sambil membawa kotak yang dibungkus cantik.
"Ini ada titipan dari Eldrige si penjaga perpustakaan." Esme menyerahkan kotak itu sambil tersenyum-senyum.
"Terimakasih kasih ya." Ratu tersenyum dan membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebotol minuman herbal berwarna hijau transparan dan sebuah buku cerita anak bergambar. Ratu tersenyum geli membuka buku yang menceritakan kisah gadis gembala yang hendak dimakan serigala.
Dibacanya buku itu dan tanpa sengaja dia meraba sesuatu yang terasa seperti kertas tak kasat mata terselip di halaman terakhir. Ratu mengambilnya meskipun tidak melihat benda itu. Tiba-tiba Ratu merasa benda itu melesat terbang dan tanpa diduga didepannya terlihat sebuah kertas mengambang berisi tulisan yang berkilauan. Ratu menangkap kertas itu dan segera membacanya. Ternyata itu surat dari Eldrige.
Kepada Yth: Ratu Gita
Lama tak berjumpa, saya berharap Yang Mulia dalam keadaan sehat. Saya kirimkan sebotol ramuan herbal terbuat dari Rosemary dan kelopak bunga Echinacea untuk menjaga stamina tubuh. Ingatlah Ratu, jangan pernah putus harapan. Semoga tak lama lagi Yang Mulia dapat segera berkunjung kembali ke perpustakaan.
Salam, Eldrige
Begitulah surat dari si penjaga perpustakaan. Ketika Ratu selesai membacanya, secara ajaib kertas itu musnah tanpa jejak. Ratu bersyukur meski hidupnya menyedihkan namun ternyata masih ada beberapa orang yang peduli padanya. Ratu kemudian beranjak ke jendela dan memandangi bunga-bunga yang beraneka warna di luar sana. Diteguknya minuman pemberian Eldrige, rasanya enak dan segar membuat suasana hatinya agak membaik.
*****
Di kediamannya Raja berbicara dengan pengawal pribadinya secara rahasia. Pengawal melaporkan fakta-fakta yang dia temukan terkait penyelidikannya perihal Ratu Gita. Raja mendengarkannya dengan seksama. Dahinya berkerut.
"Kamar Ratu selalu langsung dibersihkan setelah waktu sarapan, jadi rasanya mustahil jika Ratu membuat gambar Pentagram sejak semalam. Karena gambar itu pasti akan ditemukan oleh petugas kebersihan." Pengawal pribadi Raja mulai membaca catatannya.
" Pada hari itu, banyak saksi mata yang melihat bahwa Ratu Gita selalu berada bersama para pelayannya di ruang tamu. Para pelayan itu juga sudah memberi kesaksian bahwa Ratu tidak pernah menyerang Selir Utama, namun sebaliknya justru Selir Utama yang mendorong Ratu Gita. Bukan hanya itu, Selir Utama bahkan menginjak-injak bunga pemberian Ratu. Untuk hal ini, bahkan para pengawalnya pun membenarkannya." Ucapnya lagi, membuat Raja terbelalak kaget. Pria itu sulit mempercayai kenyataan bahwa justru kekasihnya itu yang menyerang Ratu.
" Kitab Pikatriz itu juga sangat mustahil untuk dimiliki oleh Ratu. Karena pada saat Ratu datang ke istana ini, semua barang-barangnya sudah diperiksa oleh petugas dan tidak pernah ditemukan barang yang mencurigakan. Eldrige juga berani menjamin bahwa di perpustakaan, tidak ada buku-buku terlarang." Setelah memberikan laporan pengawal itu langsung pergi.
Jika menilai dari laporan itu, seharusnya Ratu Gita tidak bersalah dan ada seseorang yang mencoba menjebaknya, tapi siapa?
Terbersit sejenak kecurigaan pada Selir Mayang, namun segera ditepisnya. Mana ada orang yang mau mencelakai dirinya sendiri? Wanita itu adalah korban. Dia menyerang Ratu mungkin karena cemburu. Kondisinya saat ini meski sudah pulih namun masih menyisakan trauma. Berarti jika Selirnya itu tidak bersalah, pasti ada seseorang yang telah mencelakainya.
Belakangan baru diketahui bahwa penyebab Selir mengalami bengkak dan bintik-bintik merah berasal dari racun pohon Elk. Sedangkan di istana tidak terdapat pohon tersebut. Raja berpikir keras untuk menemukan jawabannya dan juga memikirkan nasib Ratu Gita yang sedang menjalani tahanan rumah.
"Tapi masih ada yang meragukan tentang Ratu Gita, yaitu kenapa sapu tangan miliknya yang terdapat darah Selir Mayang bisa ada di Pentagram itu. Dan diantara semua orang, hanya Ratu yang akan merasa terancam dengan kehadiran Selir Mayang." Gumam Raja. Kepalanya pusing memikirkan masalah ini, tanpa sadar tangannya mengacak-acak rambut nya hingga awut-awutan.
"Bisa saja wanita bar-bar itu menyuruh seseorang untuk melakukannya." Raja berbicara sendiri.
"Tapi siapa?" Raja berpikir keras.
"Wanita itu baru datang kesini dan belum mengenal siapapun, jadi mana mungkin ada orang yang mau bekerjasama dengannya."
"Apakah pelayan dan pengawal pribadinya mau melakukan hal itu?"
"Tidak mungkin..." Raja menggeleng.
Di dalam hatinya Raja berharap Ratu Gita tidak bersalah. Namun kejadian mengerikan yang menimpa Selir Mayang juga tidak bisa diabaikan.
Satu-satunya harapan adalah orang kepercayaannya bisa segera mengungkap dalang dari semua kejadian ini. Oleh karena itu mau tidak mau terpaksa Raja harus bersabar.
Malam harinya saat tidur, seperti biasa Raja bermimpi tentang Selir Mayang yang cantik. Suaranya yang merdu memanggil-manggil namanya dengan mesra, namun tak terlihat wanita itu dimana. Rasanya Raja begitu merindukan selir cantik itu dan sangat takut kehilangannya. Raja berjalan diantara kabut untuk menemui Selir Mayang. Setelah berjalan berputar-putar akhirnya Raja melihat seorang wanita berdiri di dalam kabut. Raja segera berlari mendekatinya dan memeluknya.
"Sayang, akhirnya aku menemukanmu!" Seru Raja dengan perasaan lega.
Ketika tangannya menyentuh wajahnya dan ingin menciumnya, Raja terperanjat karena wanita itu bukan Selir Mayang melainkan Ratu Gita.
Raja tersentak bangun dari tidurnya. Untuk waktu yang lama Raja hanya memimpikan Selir Mayang dalam tidurnya. Ini adalah pertama kalinya dia memimpikan wanita lain, dan itu adalah Ratu Gita!