Zhafira Nayara Humaira, gadis berparas cantik, namun yatim piatu. Memiliki kepribadian lembut, ramah dan tegas dalam bersikap. Kini sedang berkuliah lewat jalur beasiswa.
Tak sedikit Mahasiswa yang ingin menjadikan pacar tapi selalu ia tolak secara halus, karena ia tak ingin fokusnya terganggu. Hingga ia menerima Bryan, pria yang selalu ada untuknya. Mereka memutuskan untuk menikah siri dan tinggal di aparteman yang sama.
Setelah wisuda selesai, Bryan izin pulang ke Jakarta, Zhafira sering mual dan muntah. Di tengah ketidaknyamanan, Zhafira tak sengaja menyaksikan siaran langsung di TV. Brian, suaminya sedang melangsungkan pertunangan dengan wanita cantik, elegan.
Seketika dadanya seperti tertusuk jarum besar, perih dan menyakitkan. Bersamaan itu ia baru saja mengetahui kalau dirinya sedang hamil.
Bagaimana ia menghadapi kenyataan pahit itu? Mampukah ia bertahan demi nyawa yang dikandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 PERTUNANGAN BRYAN
SELAMAT MEMBACA !!!
Pagi ini dari subuh perutnya Fira terasa sangat tak nyaman, sering mual-mual. Ia bangun ingin membuat teh jahe hangat untuk mengurangi rasa mualnya.
"Aku kenapa ya, dari subuh sudah mual-mual begini apa gara-gara semalam nggak bisa tidur karena memikirkan Mas Bryan yang sampai sekarang belum kasih kabar ya atau aku masuk angin," ucapnya lirih bicara dengan dirinya sendiri.
Ia merebus air lalu ia menggeprek jahe dan di masukan ke dalam air yang berada di panci. Setelah mendidih agak lama, api dimatikan. Ia mengambil gelas dikasih gula sedikit dan teh celup satu kantong.
Tiba-tiba ia berlari ke kamar mandi menekuk tubuhnya di depan closet dan memuntahkan isi perutnya yang terasa mual. Namun yang keluar hanya cairan bening, tak ada makanan sama sekali.
Ia memejamkan matanya sebentar, lalu berucap, "Kenapa tiba-tiba begini..." bisiknya lirih, dengan wajah yang pucat pasi.
Rasa mual itu datang lagi, memaksa ia harus menekuk tubuhnya kembali di depan closet. Tapi yang dimuntahkan tetap hanya cairan bening.
Ia mengusap perutnya, seketika ia sadar bahwa bulan ini sudah telat mentruasinya, "Ya Allah apa ini pertanda bahwa di dalam perut ini ada kehidupan malaikat kecilku," ucap Fira dengan sedikit tersenyum.
Ia ingin langsung berbagi berita bahagia ini dengan suaminya, lalu ia menekan tombol telepon tapi tersambung dengan operator. Ia mengulang panggilan teleponnya beberapa kali, ia selalu mendapatkan jawaban dari operator.
☆☆☆♡♡♡♡☆☆☆
Sementara di Jakarta di gedung yang mewah sedang diadakan acara tunangan tertutup itu yang di minta Bryan, tapi Mamanya mengundang salah satu TV swasta untuk menayangkan berita pertunangan itu tanpa sepengetahuan suami dan putranya.
Flash back On
"Kamu harus mau tunangan dengan Sintia, Bry. Jika tidak Mama sekarang bisa hancurkan istri sirimu. Bry," ancam Nyonya Dinda.
Bryan dan Tuan Danendra membelalakan matanya tak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Oh mau mengancamku rupanya ya, Ma. Itu tak akan mempan padaku," jawab Bryan menatap sinis kepada Mamanya itu.
Tuan Danendra mengeleng pelan, wajahnya berubah serius, "Sudah cukup, Ma. Jangan tambah masalah dengan ancaman yang kamu lontarkan itu! Kamu itu nggak punya perasaan ya? Bryan itu anakmu sendiri, bagaimana bisa seorang Ibu memaksakan kehendaknya hanya ingin disanjung oleh teman-temannya. Belum tentu juga pilihanmu itu yang terbaik!" seru tegas Tuan Danendra.
Nyonya Dinda tak mau kalah dengan sang suami, ia melanjutkan ancamannya kembali. "Baik, jika itu kemauannya kalian, aku akan menyuruh orang kepercayaanku untuk masuk ke dalam rumahnya. Jangan kira aku tak tau tempat tinggalmu?!"
Nyonya Dinda masih dengan pendiriannya, ia mengambil hapenya dan menghubungi orang kepercayaannya. "Dimana wanita itu?!" tanya tegas, bibirnya tersenyum sinis ke arah putranya itu.
"Dia belum keluar dari rumahnya, Nyonya. Apa perlu aku masuk ke dalam rumahnya, Nyonya?" tanya orang dari seberang telepon.
Nyonya Dinda sengaja memperlambat jawabannya, "Masuklah...,"
Bryan terlihat frustasi mendengar ucapannya Mamanya, "Jangan sentuh dia, atau aku yang akan membunuh anda, Nyonya," seru Bryan matanya sudah memerah menahan emosi yang sebentar lagi akan meledak.
"Lakukanlah Dinda, jika itu membuatmu bahagia, di atas penderitaan putramu sendiri. Jika suatu saat terjadi sesuatu, aku tak akan membela orang yang egois sepertimu, CAMKAN UCAPANKU INI!!" tegas Tuan Danendra terlihat kesal dengan istrinya itu.
Apa dia tak bercermin dengan dirinya sendiri? Dulu dia itu siapa sebelum dinikahi Tuan Muda Danendra.
Dia pun anak dari keluarga kurang mampu. Dulu ia hanyalah seorang pelayan di restoran yang beruntung bisa memikat hati anak terkaya di Jakarta ini. Kini setelah punya gelar Nyonya Danendra jadi berubah sikapnya menjadi egois, ia lupa asal-usulnya sendiri.
"Nyonya, bagaimana? Mau dieksekusi sekarang?" tanya orang di sebarang masih dalam mode panggilan telepon.
Bryan sudah tak bisa berpikir lagi, "Baik aku terima pertunangan ini, dengan syarat harus tertutup dengan awak media. Aku tak mau istriku tau, kalau suaminya bertunangan dengan wanita lain," ujarnya kemudian.
Nyonya Dinda langsung menyuruh orang itu, pulang ke Jakarta. Ia tersenyum penuh kepuasan bisa menekan putranya sendiri.
Flash back off.
Di sinilah Bryan dan kedua orang tuanya dan keluarga besarnya Sintia. Bryan bisa melihat Sintia juga wajahnya seperti terpaksa. Ini bisa dimanfaatkan oleh Bryan untuk bernegosiasi dengan Sintia semoga bisa.
☆☆☆♡♡♡♡☆☆☆
Sementara di Bandung, Fira masih menahan perutnya yang tak nyaman itu. Ia membawa teh jahenya ke ruang tengah.
Ia menyalakan Tv, tapi saat TV itu menyala matanya berkaca-kaca melihat suaminya sedang bertunangan dengan wanita yang cantik dan terlihat elegan.
Seketika dadanya seperti tertusuk jarum besar, perih dan menyakitkan. Bersamaan itu ia baru saja mengetahui kalau dirinya sedang hamil muda.
"Ya Allah...Ujian apa yang engkau berikan kepada hamba ya Allah. Di saat hamba mengetahui ada benih dalam perut hamba, engkau berikan ujian suami hamba sedang mengadakan pesta pertunangan ya Allah," tangis pecah Fira, bagaimana dia akan hidup ke depannya dengan buah hatinya.
Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk dari luar, Fira mengusap air matanya yang sudah menetes di pipinya.
Ceklek pintu dibuka oleh Fira. Di sana ada Zafran dan Nyonya Sintya.
"Kamu tak apa-apa, Sayang?" tanya Nyonya Sintya, lalu memeluk tubuhnya Fira dengan erat.
Tangis pilu Fira memecahkan keheningan pagi itu, membuat hati Zafran ikut perih merasakan pedihnya luka hati adik angkatnya itu. Ia mengepalkan tangannya dengan erat sampai kukunya memutih.
Fira menunduk dalam, bahunya terguncang menahan isak tangis yang tak terbendung. "Apa salahku, Ma... Sehingga Mas Bryan bisa menyakiti hatiku sedalam ini, Ma," ucapnya parau di sela sesegukannya.
Nyonya Sintya mengusap punggungnya Fira, memberikan dukungan kepada Fira. Ia membiarkan Fira meluapkan semua rasa yang bersarang dihatinya. Wanita paruh baya itu ikut meneteskan air matanya, tak tega melihat putri yang ia sayangi hancur begitu.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang, Sayang. Mama, Papa dan Abang-abangmu akan selalu mendukungmu. Apapun keputusanmu, Sayang?"tanya pelan dengan masih memeluk tubuhnya putrinya.
"Tolong bawa aku pergi yang jauh dari sini, Ma, Bang. Aku tak sanggup hidup di sini. Dia pasti akan memberikan alasan yang akan membela dirinya sendiri. Tolong Ma, tolong Bang!" seru Fira setelah tenang dan bisa menenangkan hatinya.
Nyonya Sintya menoleh ke arah Zafran meminta pertimbangan kepada putra bungsunya. "Kamu benar-benar ingin pergi dari sini, Sayang?" tanya Nyonya Sintya ingin meyakinkan putrinya.
Fira mengangguk mantap, "Bukan hanya aku yang akan pergi tapi aku akan membawa pergi calon anakku, Ma. Tolong bantu aku berkemas, Ma!" ajak Fira kepada Nyonya Sintya.
Zafran dan Nyonya Sintya membelalakan matanya menatap lekat wajah Fira. "Apa maksudmu, Dek?" tanya Zafran.
Fira menganggukan kepalanya. "Iya, Bang. Di sini ada benih yang tubuh di dalam perutku," jawab Fira sambil mengusap datar perutnya.
Fira menangis lagi, "Kenapa harus sekarang, Bang... Di saat suamiku sedang mengadakan pesta pertunangan dengan wanita lain. Justru di saat itu juga aku baru mengetahui ada benih yang tumbuh di sini."
Zafran mengambil napas dalam-dalam, "Apa tak sebaiknya nunggu Bryan dan kita bicarakan baik-baik, Dek. Kamu harus memberitahukan calon anak yang tumbuh di perutmu," ujar Zafran tak ingin adiknya melewati kehamilan sendirian.