Cerita ini mengisahkan tentang Mawar. Menikah muda dengan Aditya walaupun sudah di larang oleh kedua orang tuanya.
Setelah berjuang ingin bangkit dari kemiskinan, rela berjualan kripik singkong agar suaminya bisa kuliah. Untuk menepis keraguan orang tuanya.
Namun, setelah berhasil. Apa jadinya jika sang suami malah menikah lagi?
Kita ikuti yuk kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Trisubarti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah putar Shower.
"Mas, aku mandi dulu ya" ucap Mawar berjalan menuju kamar mandi, setelah mengambil handuk dari tangan Adit.
Adit pun membiarkan istrinya melangkah kekamar mandi menatapnya hingga hilang di balik pintu.
Adit kemudian merebahkan tubuhnya di kasur. Ia menatap langit-langit pikiranya traveling. Tetapi, apa yang sedang mengganggu pikiran Adit. Hanya dia yang tahu.
"Mas..." panggil Mawar dari kamar mandi membuyarkan lamunan Adit.
"Iya... ada apa Maw?" tanya Adit berjalan mendekat.
Mawar menyembulkan sebagian kepalanya dari dalam kamar mandi.
"Kok airnya panas?" tanya Mawar, ternyata Mawar tidak tahu cara memutar shower mana air yang hangat, maupun yang dingin, sehingga air yang keluar terlalu panas.
"Oh iya, aku ajari" ucap Adit, lalu menyelonong masuk.
"Ini begini caranya... mau pakai air hangat atau dingin?" tanya Adit sambil memutar kran.
"Air biasa saja" sahut Mawar walau kamarnya pakai AC.
Namun, mandi pakai air dingin membuat kulitnya segar.
Adit balik badan melihat istrinya masih berdiri di dekat pintu hanya berbalut handuk sampai dada.
"Hehehe... kamu ini seperti pengantin baru saja, pakai malu-malu, kita menikah sudah lima tahun loh" ucap Adit mengulas senyum tipis mendekati Mawar.
Mawar tidak menjawab, kemudian berjalan melewati Adit, berniat mendekati kran. Namun, dengan sigap Adit merengkuh tubuh istrinya.
"Ayo aku mandiin" desisnya di telinga Mawar terdengar se xi.
"Aku mandi sendiri aja" Mawar berusaha lepas dari dekapan Adit. Mawar meronta-ronta tapi justeru membuat handuknya terlepas.
Kesempatan itu, tidak di sia-siakan oleh Adit, kemudian mempopong tubuh Mawar menurunkan di bawah shower kemudian mengguyurnya.
"Mas... ahh" ucap Mawar. Namun, tidak di hiraukan oleh Aditya, malah nyengir, menyabuni tubuh istrinya. Jangan di tanya, selama memandikan. Aditya selalu menyentuh anggota tubuh yang sensitif membuat keduanya menginginkan yang lebih.
Adit kemudian membopong tubuh Mawar setelah membalut dengan handuk. Membawanya keranjang menidurkan dan melepas hasrat yang sudah dua bulan ia tahan. ("Bayangkan sendiri")
Mereka tidur dengan nyenyak. Tetapi, jika tidak senggaja menggerakkan badan yang masih polos, dan bersentuhan. Adit bangun, kemudian mengulangi lagi. Seolah tenaga Adit tidak ada habisnya.
Adzan dzuhur berkumandang Mawar kemudian mengerjapkan mata. Tenaganya seolah habis, ia merasa perutnya sangat lapar dan haus. Sebab, ia hanya makan bekal tadi malam ketika di dalam bus bersama Intan.
Mawar memaksakan diri karena tubuhnya seperti tidak bertenaga. Kekamar mandi menjalankan mandi wajib. lima belas menit kemudian, keluar dengan berbalut handuk mencari baju dalam tas setelah memakainya, kemudian shalat.
Ia duduk di sofa membiarkan Adit masih tenggelam dalam mimpi. Melahab sepotong roti sisa cemilan tadi malam.
Setelah habis, Mawar keluar dari kamar ingin kedapur mengambil air minum untuk mendorong roti yang terasa serat di tenggorokan.
"Sudah bangun Non?" tanya Mbok Paijem sedang menata menu makan siang.
"Sudah Mbok, saya mau ambil air minum" ucapnya.
"Oh iya Non dispenser nya di sini" Simbok menunjuk dispenser di dekat meja makan.
"Terimakasih Mbok" ucapnya setelah ambil air putih duduk di kursi meja makan meneguk segelas air hingga tidak tersisa.
Netranya sekilas melihat tampilan menu makan siang terlihat samar karena tertutup dengan tutup saji yang menerawang rasa laparnya pun meningkat.
"Non, mau makan sekarang?" tanya Simbok sambil menyusun piring. Mungkin melihat gelagat Mawar yang kelaparan.
"Nanti Mbok, tunggu Mas Adit"
"Mbok jangan panggil saya Non ya, panggil Mawar saja" Mawar merasa risi setiap Mbok Paijem memanggil dengan embel-embel Non.
"Ya ndak, bisa begitu to Non... nanti kwalat" sahut Simbok.
"Hehehe... simbok ada-ada saja" sahutnya masa hanya manggil nama saja kwalat.
"Mbok sudah lama kerja di sini?" tanya Mawar menyelidik.
"Saya sudah kerja disini sejak Non Silfi lahir Non, sudah 35 tahun" tutur Simbok.
"Siapa itu Non Silfi Mbok?"
"Non Silfi itu putrinya Tuan Johan Non" sahut Simbok sambil menyusun piring dalam rak.
"Oh jadi pemilik rumah ini namanya Tuan Johan Mbok?"
"Iya Non"
"Terus kenapa? suami saya bisa tinggal disini Mbok?" Mawar seperti wartawan yang sedang mewancarai seseorang.
"Kalau itu, saya kurang tahu Non, tapi yang Simbok dengar, supaya rumah ini ada yang menempati."
"Dulu, ketika Non Silfi masih kecil Tuan Johan dan Nyonya Latania tinggal di rumah ini. Semenjak Non Silfi lulus SD, Tuan dan Nyonya pindah kerumah yang besar non"
"Simbok akhirnya yang merawat rumah ini, kadang suka kesepian Non. Sebab, Simbok sudah semakin tua." tuturnya.
"Tapi syukurlah... sekarang Non tinggal di sini, Simbok senang Non" tutur Simbok tersenyum senang akan kehadiran Mawar.
Mawar manggut-manggut mendengarkan penuturan Simbok.
"Non Silfi lahir 35 tahun yang lalu, tapi kok rumah ini seperti masih baru ya Mbok?" tanya Mawar semakin penasaran pandangannya tertuju pada tembok rumah yang masih kokoh tanpa cacat.
"Kan baru selesai direnovasi Non, jadi seperti baru" sahut Simbok.
Perbincangan pun berhenti saat Adit menuruni anak tangga.
Mawar menoleh suaminya rambutnya sudah basah berarti sudah selesai mandi. Mawar melihat jam di tembok saat ini sudah hampir jam dua, berarti ngobrol dengan simbok sudah sangat lama
hampir dua jam.
"Kok nggak bangunin sih!" ucap Adik mengacak rambut istrinya.
"Habisnya Mas pules banget, terpaksa aku tinggal dech." sahut Mawar.
"Sudah makan belum?" tanya Adit sambil membuka tudung nasi.
"Belum" sahut Mawar.
"Makan yuk" ucap Adit, kemudian menarik kursi dan duduk di samping Istrinya.
Adit menyendok nasi untuk istrinya kemudian untuk dirinya sendiri.
"Eh, kebalik dong Mas? harusnya kan aku yang menyiapkan" ucap Mawar tidak enak hati.
"Nggak apa-apa kan? sekali-sekali"
"Sudah... ayo makan" Mereka pun makan, banyak hidangan di meja membuat Mawar bingung.
"Mbok... sini makan dulu" panggil Mawar.
"Silahkan Non, saya sudah makan tadi" sahut simbok saat ini sudah terlihat santai.
Mereka pun makan dengan lahap. Sebab, memang sudah sangat lapar.
"Alhamdulillah... kenyang" ucap Mawar sambil membenahi piring bekas makan kemudian mencucinya.
"Kesini yuk" Adit menarik lengan Mawar kemudian mengajaknya ke taman belakang.
Ditaman belakang, Mawar di dikejutkan dengan tanaman berbagai macam bunga dan bonsai. Ada kolam ikan koi besar memanjakan mata siapapun yang melihat. Kemudian Adit mengajak istrinya duduk di tepi kolam.
"Mas" panggil Mawar sambil melempar sedikin umpan ikan.
"Kenapa?" Adit memeluk pundak Mawar.
"Sebenarnya aku kan ingin jualan, walaupun tidak berkeliling seperti di kampung" suara Mawar tidak bersemangat.
"Jika tinggal di kontrakan di perkampungan, setidaknya aku bisa jualan di teras"
"terus... kalau tinggal di tempat yang sepi begini? bagamana aku mau jualan" keluhnya.