NovelToon NovelToon
WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

WARUNG KECIL MILIK SANG KONGLOMERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Theurgist

Setelah meninggal karena kelelahan bekerja, Arga terbangun di masa lalu sebagai dirinya yang berusia delapan belas tahun.

Dengan ingatan tentang masa depan, ia bertekad mengubah nasib keluarganya dan menyelamatkan warung kecil yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Dimulai dari usaha sederhana di pinggir jalan, Arga melangkah menuju dunia bisnis yang penuh peluang, persaingan, dan pengkhianatan.

Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

"Jika diberi kesempatan kedua, bisakah sebuah warung kecil melahirkan seorang konglomerat?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theurgist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 – Orang Baru, Cara Baru

Pagi itu, suasana warung terasa sedikit berbeda.

Bukan karena jumlah pelanggan.

Bukan karena proyek jalan.

Melainkan karena pembicaraan semalam masih memenuhi pikiran semua orang.

Mencari bantuan baru.

Keputusan yang terdengar sederhana, tetapi sebenarnya cukup penting.

Selama beberapa bulan terakhir, keluarga Arga berhasil mengembangkan usaha mereka dengan tim yang sama.

Ayah.

Ibu.

Bu Rina.

Dan Arga sendiri.

Sekarang situasinya berubah.

Bu Rina masih akan membantu, tetapi tidak sesering sebelumnya.

Artinya mereka membutuhkan solusi.

Dan solusi itu tidak boleh hanya menyelesaikan masalah hari ini.

Harus membantu usaha berkembang di masa depan.

Saat Arga keluar dari kamar, ia melihat ibunya sudah berada di dapur bersama Bu Rina.

Keduanya sedang menyiapkan bahan seperti biasa.

Namun kali ini ada satu orang lain di sana.

Seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahun.

Rambutnya diikat sederhana.

Wajahnya terlihat sedikit gugup.

Begitu melihat Arga, gadis itu langsung berdiri lebih tegak.

"Oh, ini Arga," kata Bu Rina.

"Yang sering saya ceritakan."

Arga tersenyum sopan.

"Selamat pagi."

"Pagi."

Jawabannya terdengar pelan.

"Maya."

Bu Rina kemudian memperkenalkan keponakannya.

Ternyata ibunya tidak menunggu lama.

Setelah diskusi semalam, ia langsung meminta Bu Rina mengajak Maya datang untuk melihat kondisi warung.

"Dia memang sedang mencari pekerjaan," jelas Bu Rina.

"Tapi belum tentu cocok."

Maya mengangguk.

"Saya cuma ingin melihat dulu."

Arga menyukai jawaban itu.

Tidak berlebihan.

Tidak langsung meminta pekerjaan.

Tidak juga terlalu pasif.

Hari itu Maya membantu pekerjaan ringan.

Mengupas pisang.

Menyiapkan kemasan.

Membersihkan meja.

Sementara Arga memperhatikan dari jauh.

Bukan untuk mencari kesalahan.

Melainkan untuk melihat sesuatu yang lebih penting.

Apakah sistem yang mereka buat selama beberapa hari terakhir benar-benar berguna?

Menjelang siang, hasilnya mulai terlihat.

Biasanya Bu Rina harus menjelaskan banyak hal kepada orang baru.

Namun kali ini berbeda.

Karena sebagian besar proses sudah ditulis.

Takaran.

Urutan kerja.

Cara penyimpanan.

Semuanya ada dalam catatan sederhana yang dibuat Arga.

Memang belum sempurna.

Namun cukup membantu.

Bahkan Bu Rina terlihat terkejut.

"Biasanya butuh waktu lebih lama."

Arga hanya tersenyum.

Karena itulah tujuan sebenarnya.

Kalau orang baru bisa belajar lebih cepat, berarti usaha mereka mulai memiliki sistem.

Bukan hanya mengandalkan kebiasaan.

Saat istirahat siang, Maya duduk bersama keluarga Arga.

Awalnya suasana sedikit canggung.

Namun perlahan mulai mencair.

Ayah Arga yang paling banyak bertanya.

"Tinggal di mana?"

"Di kampung sebelah."

"Jauh?"

"Tidak terlalu."

"Naik motor sekitar lima belas menit."

Percakapan sederhana.

Tetapi cukup untuk mengenal satu sama lain.

Dari obrolan itu, Arga mengetahui bahwa Maya pernah membantu usaha makanan kecil milik bibinya beberapa tahun lalu.

Tidak terlalu berpengalaman.

Namun juga bukan benar-benar pemula.

Informasi yang cukup melegakan.

Sore harinya, Arga pergi ke minimarket Rudi.

Ia ingin melihat perkembangan kerja sama mereka.

Begitu masuk, ia langsung melihat rak tempat gorengan ditaruh.

Hari itu hampir kosong.

Hanya tersisa beberapa porsi.

Melihat itu, Rudi tersenyum.

"Sepertinya kita perlu bicara."

Arga langsung waspada.

"Ada masalah?"

"Bukan."

Rudi tertawa kecil.

"Masalah yang menyenangkan."

Kemudian ia menunjukkan catatan penjualan.

Penjualan gorengan meningkat dibanding minggu pertama.

Tidak melonjak drastis.

Tetapi cukup stabil.

Yang lebih menarik, beberapa pelanggan mulai menanyakannya ketika stok habis.

Artinya produk mereka mulai memiliki pembeli tetap.

Kabar itu membuat Arga senang.

Namun juga memunculkan kekhawatiran.

Karena peningkatan penjualan berarti peningkatan produksi.

Dan peningkatan produksi berarti tekanan baru pada operasional.

"Aku tidak akan meminta tambahan sekarang."

Rudi seolah bisa membaca pikirannya.

"Tapi cepat atau lambat kita harus membahasnya."

Arga mengangguk.

Ia tahu itu.

Dan justru karena tahu, ia tidak ingin terburu-buru.

Malam hari, keluarga kembali menghitung hasil usaha.

Sudah menjadi kebiasaan baru.

Setiap beberapa hari, mereka akan melihat angka penjualan dan mengevaluasi keadaan.

Dulu kegiatan seperti ini hampir tidak pernah dilakukan.

Sekarang justru menjadi bagian penting dari rutinitas.

"Ada kabar baik."

Ayah Arga terlihat bersemangat.

"Apa?"

"Pemasukan bulan ini lebih baik dari perkiraan."

Ibunya tersenyum lega.

Bu Rina juga terlihat senang.

Beberapa bulan lalu, mereka hanya berharap warung bisa bertahan.

Sekarang mereka mulai berbicara tentang pertumbuhan.

Namun Arga tidak langsung ikut bergembira.

Ia justru memperhatikan rincian angka.

Dan beberapa menit kemudian menemukan sesuatu.

"Pengeluaran juga naik."

Ruangan langsung menjadi lebih tenang.

Ayahnya melihat kembali catatan.

Benar.

Biaya bahan baku meningkat.

Biaya transportasi meningkat.

Dan beberapa kebutuhan operasional ikut naik karena proyek jalan.

Keuntungan memang bertambah.

Tetapi tidak sebesar yang terlihat pada pandangan pertama.

"Masih bagus."

Kata ibunya.

"Benar."

Arga mengangguk.

"Tapi kita tidak boleh terlena."

Kalimat itu membuat semua orang kembali fokus.

Karena mereka tahu satu hal.

Banyak usaha gagal bukan saat sedang susah.

Melainkan saat merasa semuanya sudah aman.

Dua hari kemudian, Maya kembali membantu.

Lalu datang lagi keesokan harinya.

Dan hari berikutnya.

Perlahan-lahan ia mulai memahami alur kerja warung.

Bahkan beberapa tugas yang sebelumnya hanya dilakukan Bu Rina mulai bisa ia kerjakan sendiri.

Melihat itu, Arga merasa cukup puas.

Namun ia tetap mencatat setiap kesalahan kecil yang muncul.

Bukan untuk menyalahkan.

Melainkan untuk memperbaiki sistem.

Ada bahan yang diletakkan di tempat yang salah.

Ada catatan stok yang lupa diperbarui.

Ada kemasan yang tidak sesuai standar.

Kesalahan-kesalahan kecil.

Tetapi justru dari sanalah perbaikan dilakukan.

Pada suatu sore, saat Maya sedang menyusun kemasan, ia tiba-tiba bertanya kepada Arga.

"Mas."

"Iya?"

"Kenapa semua hal dicatat?"

Arga tersenyum.

Pertanyaan yang bagus.

Karena beberapa bulan lalu keluarganya juga menanyakan hal yang sama.

"Dulu aku pikir orang sukses bekerja lebih keras dari orang lain."

Maya memperhatikan dengan serius.

"Ternyata tidak selalu."

"Lalu?"

"Sering kali mereka hanya membuat kesalahan yang sama lebih sedikit."

Maya tampak berpikir.

Sementara Arga melanjutkan.

"Kalau kita mencatat, kita bisa tahu apa yang berhasil dan apa yang tidak."

Untuk beberapa saat gadis itu hanya mengangguk.

Kemudian kembali bekerja.

Namun Arga bisa melihat bahwa ia mulai memahami cara berpikir yang sedang dibangun di warung tersebut.

Malam itu, setelah semua orang tidur, Arga duduk sendirian di depan warung.

Buku catatannya terbuka di atas meja.

Ia melihat kembali perjalanan beberapa bulan terakhir.

Warung yang hampir tutup.

Pisang goreng.

Pesanan acara.

Masalah arus kas.

Proyek jalan.

Paket pekerja.

Kerja sama dengan minimarket.

Dan sekarang orang baru mulai bergabung.

Perjalanannya jauh dari mudah.

Tetapi hasilnya nyata.

Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, Arga mulai merasa bahwa masa depan yang berbeda benar-benar mungkin diwujudkan.

Namun tepat saat ia hendak menutup buku catatan, sebuah mobil pikap berhenti di depan minimarket Rudi.

Sudah cukup larut malam.

Terlalu larut untuk pengiriman biasa.

Dua orang pria turun dari mobil dan masuk ke minimarket.

Lampu dalam toko kembali menyala.

Rudi muncul beberapa menit kemudian.

Mereka berbicara cukup lama.

Sesekali menunjuk ke arah jalan utama yang sedang diperbaiki.

Lalu menunjuk ke beberapa bangunan di sekitar area tersebut.

Termasuk arah warung keluarga Arga.

Jantung Arga berdetak sedikit lebih cepat.

Instingnya kembali muncul.

Ada sesuatu yang sedang dipersiapkan.

Sesuatu yang mungkin akan memengaruhi seluruh lingkungan usaha mereka.

Dan entah kenapa, ia merasa perubahan berikutnya akan jauh lebih besar daripada proyek jalan.

1
Dewiendahsetiowati
gak ada jari emas kah ini atau sistem gitu thor
Dewiendahsetiowati: ok Thor dan ditunggu up selanjutnya
total 2 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!