NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Dan Rasa

Belenggu Janji Dan Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: "Emy"

seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Di balik pintu kamar VIP yang sedikit terbuka, Amelia mendengar dengan sangat jelas bagaimana Dino mengucapkan kalimat pembelaan yang begitu dewasa untuk menjaga kehormatan kakaknya di hadapan Alden. Air mata Amelia kembali menetes, namun kali ini bukan hanya karena sedih, melainkan karena rasa haru yang teramat sangat. Di tengah kemiskinan dan usia mereka yang masih sangat muda, anak-anak ini memiliki hati yang begitu murni dan saling melindungi.

Tuan Ganesha yang berdiri di samping istrinya mengangguk perlahan, memberikan izin bisu. Amelia kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan. Tanpa memedulikan status sosialnya sebagai nyonya besar, ia langsung mendekat dan memeluk erat tubuh Dino dan Nina sekaligus ke dalam dekapannya.

"Maafkan Mama... Maaf karena Mama baru tahu perjuangan kalian dan Kak Rara selama ini," isak Amelia dengan suara parau sembari mengusap punggung Nina yang kembali bergetar.

Alden yang berdiri di dekat pintu hanya bisa menyaksikan adegan emosional itu dengan tatapan mata yang semakin meredup. Hatinya terasa begitu perih, melihat sang Mama kini telah menerima keluarga Rara sepenuhnya, sementara dirinya sendiri harus mengubur cinta pertamanya dalam-dalam.

Tak lama kemudian, Bagas dan Evan kembali ke ruangan setelah berganti pakaian yang bersih. Tuan Ganesha langsung menugaskan kedua pria kepercayaannya itu untuk menjaga ketat ruangan VIP karena hari sudah mulai larut malam.

Melihat jarum jam sudah menunjukkan waktu istirahat, Tuan Ganesha mendekati kedua anak kembar itu.

"Fino, Nina... malam ini sebaiknya kalian pulang dulu ke rumah baru untuk beristirahat. Biar Bagas dan Evan yang menjaga kakak kalian di sini." Namun, Fino dan Nina kompak menggelengkan kepala dengan tegas.

"Nggak, Om. Kami mau tetap di sini sampai Kak Rara dan Mas Athur sadar," tolak Fino dengan pandangan mata yang tidak bisa dibantah.

Melihat keras kepalanya si kembar yang mirip dengan watak Athur, Tuan Ganesha akhirnya menghela napas pendek dan memperbolehkan mereka untuk bermalam di sofa panjang ruangan VIP tersebut.

Keesokan paginya, sinar matahari fajar menyelinap masuk menembus celah gorden kamar VIP Rumah Sakit Medika Utama. Rara, yang sudah tenang setelah disuapi oleh Nina dan ditenangkan oleh Evan, tampak duduk bersandar di ranjangnya. Kedua tangannya yang diperban tebal diletakkan di atas bantal kecil. Matanya yang sayu terus menatap lurus ke arah ranjang sebelah.Tiba-tiba, terdengar suara lenguhan rendah yang sangat berat dari ranjang Athur.

“Agh...”

Jemari tangan kanan Athur yang bebas dari infus tampak bergerak pelan, mencengkeram kain seprai rumah sakit. Perlahan tapi pasti, sepasang kelopak mata elang milik sang bos mafia terbuka. Pandangannya sempat mengabur akibat sisa obat bius operasi, namun insting utamanya langsung bekerja mencari keberadaan satu orang yang paling ia cemaskan.

Athur memutar kepalanya dengan lemah ke arah samping. Detik itu juga, sorot matanya yang tajam langsung mengunci sosok Rara yang sedang menatapnya dengan air mata yang kembali berlinang di pelupuk mata.Namun, dahi Athur seketika mengernyit dalam. Rahangnya mengeras samar menahan gejolak emosi di dadanya saat melihat perubahan drastis pada penampilan fisik istri kecilnya.

Rambut panjang hitam kesayangan Rara yang biasanya ia usap lembut, kini sudah terpotong pendek berantakan sebatas bahu akibat kegilaan gunting Jesika kemarin. Belum lagi sudut bibir dan pipi Rara yang masih menyisakan lebam keunguan yang kontras.Athur mencoba mengangkat tubuh tegapnya untuk bangkit, namun luka tusukan di pinggang rampingnya langsung menarik sarafnya, memicu rasa sakit yang menusuk.

"Jangan bergerak dulu, Mas!" pekik Rara panik dari ranjangnya. Suaranya bergetar hebat melihat suaminya memaksakan diri.

"Luka di pinggangmu masih baru, Mas... tolong jangan bangun dulu."Athur mengabaikan rasa perih di pinggangnya. Ia mengulurkan tangan kanannya di udara, mencoba menjangkau ranjang Rara yang terpisah jarak satu meter.

"Rara... kemari," bisik Athur dengan suara serak yang sangat dalam, matanya memancarkan amarah yang teredam sekaligus rasa bersalah yang teramat sangat karena gagal melindungi keindahan rambut istrinya. Fino yang melihat kakak iparnya sudah siuman langsung bergerak cepat. Menggunakan gaya tengilnya yang sengaja dimunculkan untuk mencairkan ketegangan, Fino langsung menggeser posisi ranjang Rara agar menempel rapat tanpa jarak dengan ranjang Athur.

"Nah, silakan bermanja-manja ria wahai pasutri siri spek premium. Gak usah pakai drama ulurkan tangan segala, biar kasurnya gue satukan biar afdol!" celetuk Fino sambil menyengir lebar, meski matanya sendiri tampak berbinar lega melihat Athur akhirnya selamat dari maut.

Begitu kedua ranjang bertautan, Athur langsung menggenggam erat pergelangan tangan Rara yang bebas dari perban, lalu menarik tubuh mungil istrinya agar condong mendekat ke dadanya yang hangat. Rara hanya bisa menangis sesenggukan, menyandarkan keningnya di pundak tegap Athur sembari menikmati detak jantung suaminya yang kembali berdegup normal di dalam ruangan VIP yang sunyi tersebut.

Momen pelukan hangat dan penuh haru antara Athur dan Rara di dalam ruangan VIP mendadak terhenti oleh sebuah suara geseran pintu yang berbunyi perlahan.

Sreeet...

Tuan Ganesha dan Mama Amelia melangkah masuk ke dalam kamar rawat inap dengan raut wajah yang masih dipenuhi sisa kecemasan mendalam. Pasangan paruh baya itu sengaja datang pagi-pagi sekali karena belum tahu jika anak sulung mereka sebenarnya sudah melewati masa komanya dan siuman sejak fajar menyengat.

Namun, begitu pandangan mereka lurus menatap ke arah tengah ruangan, langkah kaki kedua orang tua itu seketika terhenti. Tuan Ganesha dan Mama Amelia mendapati pemandangan yang sama sekali tidak mereka duga. Dua ranjang pasien yang tadinya terpisah jarak kini telah menyatu rapat tanpa cela, memperlihatkan sosok Athur yang tengah mendekap erat tubuh mungil Rara ke dada bidangnya.

Menyadari ada langkah kaki orang lain yang masuk, Rara seketika membelalakkan matanya yang sembap. Jantungnya berdegup kencang karena rasa terkejut dan canggung yang luar biasa langsung mendera dadanya. Ia buru-buru menarik tubuhnya menjauh dari dekapan Athur, mencoba memberi jarak meski kedua telapak tangannya yang terbebat perban tebal membuatnya sedikit kesulitan bergerak di atas kasur. Rara langsung menundukkan kepalanya sedalam mungkin, menyembunyikan wajahnya yang mendadak merona merah padam bercampur malu di bawah tatapan sepasang orang tua berwajah elite itu.

"M-Mas... lepaskan dulu, ada orang tua kamu..." cicit Rara dengan suara yang sangat pelan dan terbata-bata, meremas pelan ujung selimut rumah sakit.

Berbeda dengan Rara yang salah tingkah setengah mati, Athur justru bersikap sangat santai. Genggaman erat tangan kanan kekarnya pada pergelangan tangan Rara sama sekali tidak dilepaskan, seolah sedang menegaskan kepemilikan mutlak di depan orang tuanya sendiri. Pria 27 tahun itu memalingkan wajah datarnya yang kaku, menatap lurus ke arah pintu masuk dengan sepasang mata elang yang kini tampak jauh lebih hidup.

"Papa... Mama..." ucap Athur dengan suara beratnya yang masih terdengar serak dan dalam pasca-operasi.

Mendengar suara serak anak sulungnya, air mata Mama Amelia yang sejak kemarin tertahan kembali luruh membasahi pipinya yang kusam. Rasa syok dan canggung yang sempat menggantung di udara seketika menguap, digantikan oleh rasa syukur yang luar biasa karena Athur telah selamat dari maut.

Amelia langsung melepaskan pegangan tangan suaminya, lalu berlari kecil menghampiri sisi ranjang Athur. "Athur! Ya Tuhan, Nak... kamu sudah sadar?!" tangis Amelia pecah seketika saat ia mengusap rambut anak sulungnya dengan jemari yang gemetar hebat.

Tuan Ganesha yang berdiri di belakang istrinya hanya bisa mengembuskan napas panjang yang sarat akan kelegaan yang teramat sangat. Sudut bibir pria paruh baya yang berwibawa itu terangkat tipis, menyunggingkan sebuah senyuman hangat yang jarang ia perlihatkan.

Ia melirik sekilas ke arah Rara yang masih menunduk malu seperti kelinci ketakutan di samping tubuh tegap anaknya. Ganesha mengangguk perlahan, memberikan restu bisu yang sangat menenangkan bagi jalinan asmara baru kedua pasang suami istri yang baru saja bertaruh nyawa bersama-sama itu.

1
Embhul82
bagus ceritanya q suka
Emy: makasih sudah mau mampir. Jangan lupa kritik dan saran
total 1 replies
Embhul82
up lagi kak 🤭
Brigita
kurang paham di ini sih
Emy: makasih bnyak kak sudah di koreksi. sebagai manusia pasti tetap ada kesalahan. Alhamdulillah kak sudah di perbaiki
total 1 replies
Brigita
lanjutt truss kakk😍👍💪
Emy: terimakasih kak
total 1 replies
Brigita
semangat kakkk💪💪💪👍😍
Emy: Makasih sudah hadia kak. kritik dan sarannya y kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!