Bercerita tentang seorang wanita bernama Anita Sheila, seorang gadis yang memiliki sifat cuek terhadap hal yang menurutnya tak penting. Fokus terhadap nilai dan prestasinya semasa sekolah, justru membuatnya tak memiliki teman dan susah bergaul.
Namun pandangan Anita berubah ketika suatu hari ia bertemu Zain Azriel. Zain yang memiliki sifat berkebalikan dengan Anita memberi kisah baru dalam romansa tersebut.
Zain merupakan lelaki yang ceria, suka bermain, nakal dan bahkan dihari pertama sekolah ia bertengkar dengan seniornya, walau sebenarnya ia lelaki jenius dalam mata pelajaran.
Hubungan keduanya terbentuk ketika pertama kali Anita mengunjungi Zain untuk mengantarkan sebuah catatan. Namun saat itu juga Anita melihat sisi berbeda Zain dari rumor yang selama ini ia dengar. Dari situlah pertemanan keduanya dimulai.
Saat ini hubungan mereka semakin dekat, namun keduanya bingung dengan ikatan tersebut karena belum pernah memiliki pengalaman sebelumnya.
bagaiman kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R_picisan03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Imut Wanita
Tak lama setelahnya, Aku pergi keluar ruangan meninggalkan Alea yang masih giat belajar dengan Zain. Pergi keluar ruangan sekedar menikmati sepotong roti sekaligus memandangi rintihan hujan sore hari.
"Hem, kenapa selalu begini?" gumamku mengunyah potongan roti.
Tak lama setelahnya Zain menghampiri, berada di sampingku mengulurkan tangan di bawah rintihan hujan.
"Ba-bagaimana, proses belajarnya?" ujarku melirik Zain.
"Sekarang sudah telat kalau mau bertukar tempat denganku! Akulah yang ikut kopdar bareng dia!" pekik Zain menatap sinis.
"Siapa juga yang mau," singkatku kemudian terduduk di anak tangga teras.
"Lagian, apa itu memang hal yang penting? Kamu dan Alea sama-sama aneh. Memang apa ruginya kalau ada yang gak suka dengan kalian?" lanjutku memangku dagu masih menatap Zain.
Peryataan dariku, tanpa sadar membuat raut wajah Zain yang tadinya suram mulai sedikit tersenyum.
"Kamu memang hebat ya, Anita."
"Apa-apaan ekspresi wajahnya barusan?" batinku mengalihkan pandangan dari Zain.
"Apa kau pernah merasakan hampa?" tanya Zain ikut terduduk.
"Ha?"
"Merasakan hampa kayak gak ada apa-apa dan cuma dipenuhi kegelapan," jelas Zain menatap lurus pandangan.
Peryataan Zain tersebut, sedikit membuatku penuh tanya dalam pikiran, seberapa kelam masa hidup yang ia jalani.
"Itulah yang bikin aku takut," lanjut Zain tersenyum tipis.
Zain perlahan bangkit berdiri masih dengan senyuman tipisnya, "Ah tapi sekarang udah gak lagi, soalnya kamu ada di dekatku."
Zain berjalan masuk kembali ke ruangan, menghampiri Alea dan melanjutkkan aktivitasnya membantu Alea belajar.
Hanya berselang beberapa menit, Aku juga bangkit untuk sekedar mengintip kegiatan mereka dari sisi jendela transparan.
"Waktu Zain bilang begitu, matanya seolah menunjukkan kalau dia gak bisa melihat apa-apa walau aku berada tepat di hadapannya," batinku memperhatikan Zain berdiri di samping Alea yang sedang menulis.
"Mengerti? Jadi begitulah yang di maksud dengan lubang hitam," pekik Zain mengajar Alea.
Keesokan harinya di perpus sekolah.
"Ternyata memang ada yang aneh denganku. Padahal sebelumnya, Aku gak pernah merasakan hal yang begini. Aku juga gak perduli dengan apa yang di pikirkan orang lain," batinku menoleh ke sisi jendela ruangan.
"Aku harus belajar, ujian akhirnya tinggal sebentar lagi. Ujian, ujian, ujian. Aku gak bisa fokus karena sekelilingku berisik sekali," lirihku membungkukkan badan menempelkan kepala di meja perpus.
Terdengar suara gemuruh anak lelaki dari sisi luar ruangan perpus, "Ah gerah sekali, senior-senior memang pada hebat."
Kemudian...
"Anita.." ucap seorang siswa tersenyum membuka jendela perpus lengkap dengan seragam bisbol yang ia kenakan.
Meski terasa berat untuk menolehkan kepala, dengan lembut, kembali ku menoleh ke sisi jendela ruangan.
"Siapa kamu?" jawabku kembali menegakkan tubuh.
"Eh? Seenggaknya ingat-ingat wajah temen sekelasmu dong! Aku Razi, kau boleh menanggilku Azi ataupun lainnya," jelas Azi tersenyum.
"Oh. Terus, ada perlu apa?"
"Bukan hal yang penting kok, Aku cuma tertarik padamu saja."
"Kenapa bisa tertarik?"
"Soalnya aku menyukaimu."
Memalingkan pandangan dari Azi, menghela nafas perlahan, "Bohong."
Azi tertawa terbahak-bahak, "Wah ketahuan ya? Habisnya aku lihat, kau sering jalan dengan si Zain. Jadi ya aku penasaran, kau ini wanita seperti apa."
"Hem?"
"Hei, ngomong-ngomong bagaimana caramu bisa membujuk si monster itu kembali ke sekolah?" lanjut Azi.
"Entahlah, Aku sendiri juga gak tau jalan pikirannya. Mungkin dia cuma mau punya teman, entah siapapun orangnya," singkatku kembali memandang buku pelajaran di atas meja.
"Aku ini, satu SMP dengan Zain. Kau tahu gak? Selama tiga tahun itu, dia gak pernah datang kesekolah loh."
Mendengar peryataan Azi sedikit membuatku bingung. Apa iya ada hal yang seperti itu? Namun yang ada di kepalaku, sekalipun hal itu terlihat sangat mustahil, akan menjadi mungkin bila itu, Zain.
"Kalau menurutku sih, bukan entah siapapun orangnya, tapi salah seorang yang spesial buatnya," lanjut Azi tersenyum memicingkan pandangan.
"Azi, kita harus balik lagi nih!" Teriak salah seorang lelaki dari sedikit kejauhan.
"Oke!" sahut teriakan Azi.
"Sampai nanti, Anita," lanjut Azi kemudian berlalu pergi.
Aku segera bangkit berdiri dari kursi ruangan, berjalan menuju jendela, menoleh ke sisi kiri menatap Azi yang sedang berjalan bersama keempat rekannya, "Azi..."
Azi terhenti berbalik badan menatapku.
"Boleh aku minta tolong sesuatu?" singkatku.
Setelah hal tersebut, Aku kembali duduk di bangku kelas.
Keesokan harinya.
Setibanya memasuki ruangan kelas, Aku mendapati Alea seorang diri telah terkapar, kepala tertidur menunduk di atas meja lengkap dengan buku pelajaran yang sangat berserakan.
"Sedang apa kamu, Alea?"
"Gak usah perdulikan aku, Aku lagi berendam dalam bak keputusasaan," lirih Alea.
Tiba-tiba terdengar suara bising dari halaman sekolah.
"Zain!!!" pekik bu Dewi.
"Diam!"
"Sudah berapa kali ibu katakan, kamu gak boleh bawa ayam kesekolah!"
"Ah rewel banget sih!"
"Jangan lari, Zain!"
"Tamat sudah riwayatku, Aku sama sekali gak ngerti tentang apa yang dia ajarkan padaku. Ditambah lagi waktunya udah mepet begini," lanjut Alea merintih masih menundukkan kepala di meja.
"Lagian, kewajiban pelajar itu ya memang buat belajar sih," sautku.
Alea membangkitkan pandangan menatapku sinis, kemudian membuang pandangan ke sisi kanan lengkap bergimik angkuh, "Huh! Perduli setan dengan sekolahan! Aku yang asli adalah aku yang ada di internet!"
Memang benar, jika di dalam internet atau yang biasa di kenal dunia maya, Alea selalu dikelilingi banyak teman. Tak sedikit dari teman temannya yang selalu bisa ia andalkan. Baginya, Ia hanyalah gadis yang punya masalah dengan model rambut saja.
"Bukannya itu cuma kehidupan yang penuh dengan kepalsuan saja?" balasku singkat.
"Gak perlu di bahas lagi," gumam Alea merengutkan senyuman.
"Hem?"
"Lagian, orang pintar dan penuh kelebihan sepertimu gak bakal bisa mengerti aku," lanjut Alea.
"Bu-bukan begitu juga..."
"Biarin aja walau semua itu palsu. Perlu kamu tau, yang kuinginkan cuma selalu bisa dekat dengan orang lain. Aku merasa kesepian karena di jauhi banyak orang," lirih Alea kembali menidurkan kepala.
Melihat Alea terus menghakimi diri sendiri, tanpa sadar tangan ini bergerak mengambil buku pelajaran di atas mejanya, kemudian terduduk di hadapan dirinya, "Yang ini, ini dan ini, kalau kamu fokus ke bagian ini, kemungkinan besar kamu akan berhasil."
Alea mendongakkan pandangan, kemudian menatap buku di atas meja yang sedang aku tunjukkkan.
"Sikit banyak, Aku udah ngerti pola yang di gunakan dalam soal ujiannya. Jadi, kamu gak akan gagal selama fokus ke poin yang aku tandai," jelasku menandai lingkaran di buku Alea.
"A-A-anita..." ucap Alea sedikit sumringah.
"Aku memang masih belum bisa mengerti apa yang mereka pikirkan. Tapi, sepertinya aku masih bisa mengerti apa yang mereka rasakan," gumamku dalam hati.
Sementara itu, Zain masih terus bermain kucing-kucingan bersama bu Dewi hingga kelelahan.
"Zain! Kamu masih ingin pergi ke kopdar?" ucapku sedikit keras dari sisi jendela menatap halaman bawah sekolah menghentikan langkah Zain.
"Pastinya!" balas Zain berlari pergi kembali.
Kemudian, Aku kembali menatap sisi Alea, "Yak, karena dia sudah memutuskan buat tetap ikut, jadi kamu gak boleh gagal di remedial nanti."
"Remedialnya diadakan besok, apa aku masih sempat?" balas Alea terlihat panik kembali.
****
Sampai disini dulu kak akak, tetaplah putus asa dan jangan semangat sampai impian terwujud menjadi beban keluarga, kita lanjut.
biasanya berhati lembut dan penyayang 🙄
sebenarnya kenapa zain bisa di cap pembuat onar😑
hanya karna game nya kalah😤
pasti ada sebab akibat nya tak mungkin mencelakai orang tanpa alasan 🚶♀️🚶♀️🚶♀️🚶♀️🚶♀️
peristiwa berdarah apa 😧
Segala rasa membelenggu jiwa