[Sedang Mengalami Revisi]
[Sebaiknya baca Modern System selama novel ini direvisi]
"Guru, berarti si cacat Deon tidak akan pernah bisa menjadi seorang Machitis? ... Benar-benar sampah klan Aciel."
Pada awalnya Deon hanyalah pemuda kurang beruntung dari klan terkuat tapi dapat hidup bahagia di kota Nervik.
Semenjak terjadinya suatu peristiwa di kota Nervik kehidupan Deon berubah secara perlahan. Dimulai dari kematian ibunya disusul perubahan sikap seluruh anggota klan kepada Deon.
"Aku memanglah bukan orang pendendam, tapi, aku tidak akan terima jika seluruh anggota klan ku dibantai! Apalagi jika wanita yang paling aku sayangi terluka!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Project, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#06 Mengambil Misi Di Kota Vi Intan
Kota Vi Intan adalah salah satu kota besar di kerajaan Isla. Seperti namanya Intan, kota ini adalah pemasok bahan tambang seperti batu bara, emas, permata DLL terbesar kerajaan isla.
Hal itu membuat kota Vi Intan sebagai kota terkaya di kerajaan Isla bahkan mengalahkan ibu kota Vice. Apa lagi kota Vi Intan dengan Ibu kota Vice hanya berjarak 30 Kilometer di sebelah Utara, hal itu akan mempermudah perdagangan.
Di jalanan kota Vi Intan terlihat Deon dan Felix sedang menelusuri jalanan kota. Mereka berdua sampai di kota Vi Intan saat matahari masih naik sepenggalah.
"Guru, kita akan kemana?" Deon bertanya sambil terus berjalan di samping kanan Felix.
"Pertama kita akan mencari tempat makan, ke-dua kita akan mencari penginapan, ke-tiga kita akan mencari misi di pusat Machitis, ke-empat kita akan mencari perlengkapan dan persenjataan." Felix mengucapkan rencananya.
"Oohh, guru sepertinya makanan di tempat itu enak-enak." Ucap Deon sambil menunjuk salah satu toko.
"Baiklah, ayo kita ke sana." Felix.
Mereka berdua pun langsung berjalan menuju tempat makan itu. Sesampainya mereka di tempat makan itu, Felix langsung memesan dua makanan untuk dirinya dan Deon.
Setelah mereka berdua selesai makan, mereka langsung menjalankan rencana ke-dua Felix yakni mencari penginapan untuk beristirahat di kota ini.
Dan setelah mereka mendapatkan penginapan, mereka langsung mencari lokasi pusat Machitis kota Vi Intan untuk mendapatkan misi dan tentunya uang.
Mereka bertanya kepada warga sekitar dimana lokasi pusat Machitis kota. Setelah mengetahui lokasi pusat Machitis kota, tanpa pikir panjang lagi Deon dan Felix langsung menuju ke tempat itu.
Deon dan Felix berjalan memasuki gerbang pusat Machitis kota Vi Intan. Tujuan pertama mereka di tempat ini adalah, papan misi yang berisi seluruh misi yang ada di kota Vi Intan.
Papan misi itu ada dan menempel di dinding luar yang berjarak tiga meter dari pintu masuk bangunan pusat Machitis kota Vi Intan. Di situ juga ada banyak Machitis dari berbagai kota sedang mencari misi yang sekiranya cocok dengan diri mereka.
"Guru, misi tingkat apa yang akan kita ambil?" Ucap Deon sambil terus mengamati seluruh misi yang ada di papan misi itu.
Misi juga dibagi menjadi empat tingkatan. Tingkat D adalah misi paling rendah bagi Machitis. Misi tingkat D bisanya tidak beresiko terjadi pertarungan. Misi ini bisa diambil oleh Machitis dengan level apapun.
Tingkat C adalah misi dengan presentasi pertarungan mencapai 25% misi ini biasanya berisi tentang tugas penjagaan wilayah setelah terjadi konflik. Misi tingkat C juga bisa diambil oleh Machitis dengan level apapun.
Tingkat B adalah misi dengan presentasi pertarungan 50% misi ini biasanya berisi tugas pengawalan keluar kota maupun kerajaan. Misi tingkat B bisa diambil oleh Machitis dengan level Gamma dan Delta.
Tingkat A adalah misi dengan presentasi pertarungan mencapai 100% bahkan bisa saja mengakibatkan peperangan. Misi ini biasanya berisi tugas yang berkaitan dengan pemimpin wilayah bahkan kerajaan sekalipun. Dan jika keadaan sudah benar-benar tidak terkendali, misi tingkat ini bisa berubah menjadi tingkat S.
Hanya Machitis level Delta yang sudah melaksanakan minimal 10 misi tingkat C dengan sukses yang bisa mengambil misi tingkat A.
"Misi tingkat B." Ucap Felix dengan sangat tenang sambil terus mencari misi tingkat B yang ada di papan misi itu.
"Tapi guru, aku tidak punya plakat Ma-" ucap Deon terpotong.
"Tenang saja! Kamu hanya perlu berani!" Tepat setelah Felix mengucapkan kalimatnya ia langsung mengambil kertas misi yang menempel di papan misi. Felix membawa masuk kertas itu ke dalam bangunan pusat Machitis.
Deon langsung berjalan menyusul Felix yang sudah berjalan terlebih dahulu.
"Apa guru sudah mendapatkan misi yang cocok?" Ucap Deon sambil terus berjalan menuju meja resepsionis misi.
"Ya." Jawab Felix singkat.
Setibanya mereka di meja resepsionis misi Felix langsung menyodorkan kertas misi yang dibawanya ke petugas di yang berjaga.
"Misi tingkat B, boleh perlihatkan plakat Machitis tuan?!" Petugas itu meminta Felix memperlihatkan plakat Machitis miliknya.
Tanpa sepatah kata apapun Felix langsung mengeluarkan plakat Machitis miliknya, dan tanpa ragu sedikitpun Felix langsung menyerahkan plakat Machitis miliknya ke petugas misi itu.
"Felix Xender, Delta Machitis." Petugas itu memeriksa keaslian plakat Machitis Felix. Setelah yakin plakat Machitis Felix asli petugas itu langsung mengembalikan plakat Machitis kepada pemiliknya.
"Misi kalian adalah mengantarkan rombongan keluarga bangsawan Tidelda kembali ke tempat tinggalnya, kota Anta kerajaan Bilfest. Apa kalian menerimanya?" Petugas itu membacakan tugas dari misi yang diambil Felix.
"Ya, kami menerimanya." Ucap Felix dengan sangat tenang dan tanpa meminta persetujuan remaja yang ikut bersamanya.
Petugas itu mengeluarkan gelas yang berisi tinta hitam. "Tolong tuan Machitis celupkan ibu jari tuan ke tinta dan mengecap misi ini dengan ibu jari tuan Machitis!"
Felix segera memalukan apa yang diminta oleh petugas itu.
"Tuan Machitis diharapkan datang ke gerbang kota Vi Intan besok, karena misi tuan Machitis akan segera berjalan besok pagi!" Setelah mengucapkan kalimatnya petugas itu langsung memberikan kertas misi yang sudah dicap Ibu jari Felix kepada Felix.
"Terimakasih." Ucap Felix sambil menerima kertas misi itu. "Ayo Deon kita kembali!" Felix segera membalikkan tubuhnya dan langsung berjalan keluar yang tentu saja langsung diikuti oleh Deon.
Setelah mereka berdua sampai di gerbang pusat Machitis. Deon pun berkata. "Guru, kita akan kemana?"
"Mencari toko penjual persenjataan." Ucap Felix sambil menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
"Bagaimana kalau toko itu?" Ucap Deon sambil menunjuk salah satu toko.
Ya, mereka ada di pusat Machitis. Segala bisnis tentang Machitis pastinya tidak akan jauh dari lokasi bangunan pusat Machitis berada.
"Ayo kita ke sana!" Felix melangkahkan kakinya terlebih dulu kearah toko yang ditunjuk Deon.
Sesampainya mereka di toko persenjataan itu, mereka berdua langsung disambut oleh pelayan wanita di tempat itu. Sambil membungkukkan tubuhnya pelayan itu berkata. "Ada keperluan apa ke-dua tuan Machitis ke toko kami?"
"Aku hanya butuh 20 pisau kecil lima centimeter." Ucap Felix kepada pelayan itu. Lalu Felix menolehkan kepalanya kearah Deon. "Dan kamu Deon, pilih saja sendiri senjata mu!"
"Tapi guru, aku tidak pun-" ucap Deon terpotong.
"Jika aku bilang pilih sendiri, pilih!" Ucap Felix tegas.
Bersambung......
My Project sebagai penulis "Deon Sword of Darkness" mengakui jika terdapat banyak sekali kesalahan dalam penulisan. My Project mohon kepada para senior bisa sedikit membagikan ilmunya kepada penulis ceroboh ini.
Oh iya... My Project harap kepada para pembaca berkenan untuk memberikan
Like
Comment
Vote
Rating 5🌟
Subscribe
Eh... Tapi subscribe gak ada ya? Ya udah Favorit aja.
muehehehe