NovelToon NovelToon
The Light We Found

The Light We Found

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: Tr_w

Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.

Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.

Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8

Hari-hari berlalu begitu saja. Bulan demi bulan telah terlewati, tetapi semakin hari Tirta justru semakin merasa nyaman dengan kesendiriannya. Trauma itu kini membuatnya takut untuk jatuh cinta lagi. Jordan sesekali datang menanyakan kabarnya. Pria itu juga selalu datang membawa banyak cerita yang tidak pernah diminta oleh Tirta.

Muak? Tentu saja. Dirinya sudah sangat lelah berusaha memperbaiki hati agar bisa membuka lembaran baru dengan pria lain. Namun setiap kali Jordan datang, rasa percaya yang mulai ia bangun kembali seolah runtuh begitu saja. Tirta ingin sekali keluar dari kontrakan seperti yang disarankan oleh Lala. Sayangnya, ia baru saja membayar uang kontrakan penuh untuk satu tahun ke depan.

Pagi ini, Tirta baru saja mengenakan pakaian cantik yang ia beli kemarin. Dengan kesadaran penuh, ia rela membeli baju yang harganya cukup mahal untuk ukuran kantongnya. Namun sekarang, senyum puas terlukis di wajah gadis itu saat menatap pantulan dirinya di depan cermin.

"Cantik sekali..."

Pujian itu selalu ia ucapkan untuk dirinya sendiri. Tirta tahu betul bahwa tidak akan selalu ada orang yang memujinya. Karena itu, ia memilih memberikan pujian tersebut demi menyenangkan hatinya sendiri.

Gadis itu berputar beberapa kali sambil memperhatikan pakaian yang dikenakannya. Setelah itu, ia menambahkan sedikit riasan dan membiarkan rambutnya tergerai. Ia memang tidak berniat pergi ke mana-mana, tetapi berhias selalu berhasil membuatnya bahagia.

Drttt...

Panggilan telepon dari sahabatnya membuat Tirta mengernyit. Tumben sekali gadis itu menelepon sepagi ini.

"Halo..." Jawabnya saat panggilan itu terhubung.

"Halo, Ta. Aku ada di luar. Keluarlah sebentar." Setelah mengatakan itu, Lala langsung mematikan sambungan telepon.

"Tumben tidak langsung masuk. Ada apa, ya?" gumam Tirta sebelum bergegas keluar karena takut terjadi sesuatu pada sahabatnya.

Ceklek.

"Ada apa, La?" tanyanya panik ketika melihat Lala berdiri di depan rumah sambil membawa tas merah berukuran cukup besar.

"Wow! Ini baju yang kamu beli kemarin?" Pertanyaan itu membuat Tirta mengangguk cepat. Lala langsung mengacungkan jempol sebagai tanda kagum.

"Rok sepaha dipadukan dengan tank top dan cardigan. Cocok sekali sama kamu, jadi kelihatan imut. Tumben beli baju seperti ini. Biasanya bajumu selalu kebesaran dan mirip gembel."

Ucapan itu membuat Tirta semakin ingin mengetuk kepala sahabatnya. Bukannya menjawab pertanyaannya, Lala malah sibuk mengomentari penampilannya.

"Kamu jawab dulu pertanyaanku. Ada apa? Apa kamu diusir keluargamu?" Tatapan Tirta beralih pada tas merah besar yang dibawa Lala.

"Oh, ini? Tentu saja buat kamu. Aku mau minta tolong mengantarkan pesanan makanan dari pelanggan ibuku. Kamu bisa berangkat sekarang, kan?"

"Lalu kamu mau ke mana?"

"Aku mau pergi sama Rico keliling." Jawabnya santai sambil menyerahkan tas merah itu kepada Tirta.

"Pagi-pagi sekali? Kalian mau ke mana?" Rasa penasaran membuat Tirta memicingkan matanya.

"Tentu saja ke tempat-tempat yang sudah kami susun semalam untuk dikunjungi. Butuh waktu lama untuk mendatangi semuanya. Sekarang pakai sepatumu." Tirta hanya duduk sambil merengut. Kisah percintaan sahabatnya memang selalu berhasil membuat dirinya ikut direpotkan. Lala masuk ke dalam rumah, lalu keluar lagi sambil membawa tas dan ponsel milik Tirta.

"Bawa ini. Rumahmu nanti aku yang kunci, lalu kuncinya akan kutaruh di tempat biasa. Lihat, sudah ada taksi. Jadi gadis cantik ini tidak kepanasan naik motor." Lala mendorong pelan tubuh sahabatnya agar berjalan menuju taksi yang memang sudah menunggu.

"Ibumu tidak tahu, kan? Kalian keluar diam-diam lagi?" tanya Tirta dengan yakin. Lala hanya nyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya.

"Dan tugasmu adalah menutupinya. Cuma hari ini. Besok aku akan bicara sama Ibu dan membantu mengantar pesanan lagi." Lala mengatakannya dengan penuh keyakinan karena tadi pagi ibunya memang sudah mulai curiga ketika dirinya tidak protes saat diminta membawa makanan. Usaha katering milik ibu Lala sudah berdiri sejak wanita itu masih muda. Kini usahanya semakin besar hingga menerima pesanan dari kalangan orang-orang elit.

"Baiklah. Hanya kali ini aku menurut."

"Tirta!" Panggilan seorang pria dari kejauhan membuat Lala buru-buru mendorong Tirta masuk ke dalam taksi.

"Harimu bakal sial kalau bertemu pria itu." Setelah berkata demikian, Lala menutup pintu mobil dengan keras. Taksi langsung melaju tepat ketika pria itu sampai di sampingnya.

"Terlambat! Memang seperti inilah hubungan kalian." Lala berkata dengan wajah serius, lalu berbalik masuk ke rumah Tirta.

...****************...

Mobil berhenti di depan sebuah rumah yang cukup mewah dengan taman bunga tulip menghiasi halaman depannya. Hanya dengan memandanginya saja hati terasa tenang, seolah rumah itu dipenuhi kedamaian.

Tirta menekan bel yang berada di depan pagar sambil menunggu pemilik rumah keluar membukakan pintu. Entah mengapa, jantungnya tiba-tiba berdegup sangat kencang.

"Tirta!" Panggilan itu bahkan sudah ia kenali tanpa perlu menoleh. Siapa lagi kalau bukan Jordan yang kembali mengikutinya sampai ke tempat ini.

"Ada apa lagi? Berhentilah mengikutiku!" Kesal terpancar jelas dari wajahnya. Tirta benar-benar merasa telah salah memilih saat dulu memutuskan bersama pria di depannya. Jordan menatap Tirta dengan takjub. Gadis yang dulu pernah menjadi kekasihnya kini terlihat jauh lebih manis sekaligus seksi.

"Tirta, kita bisa bicara sebentar? Kita selesaikan semuanya baik-baik." Tatapan memohon itu kembali diperlihatkan Jordan. Namun kali ini, cara tersebut tidak lagi mempan bagi Tirta yang sudah benar-benar memutuskan mengakhiri hubungan mereka.

"Semuanya sudah berakhir, dan tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Aku sudah berkali-kali mengatakan hal itu padamu."

"Tapi—"

Ceklek!

Pintu bercat hitam itu terbuka, menampilkan seorang pria yang terasa sedikit dikenalnya. Sepertinya mereka pernah bertemu sebelumnya.

"Ada yang bisa saya bantu?" Pria itu tersenyum ramah. Ia tentu mengenali gadis yang kini berdiri di depannya sambil membawa tas merah.

"Saya datang untuk mengantarkan makanan pesanan Nyonya Asmirah. Apa benar ini rumah beliau?" Tirta memastikan agar tidak salah alamat, meski rumah inilah yang paling mencolok dibanding rumah-rumah lainnya.

"Oh, benar. Itu ibu saya. Silakan masuk, beliau sedang ada di dalam." Pria itu membukakan pintu lebih lebar.

"Aku ikut denganmu." Jordan langsung menyela.

"Berhentilah memberikan perhatian palsu seperti ini. Aku benar-benar tidak ingin berteriak di sini karenamu." Bisik Tirta dengan wajah penuh amarah.

"Aku akan menunggumu di sini." Tirta memilih masuk tanpa menjawab lagi. Sementara pria pemilik rumah sama sekali tidak mempersilakan Jordan masuk. Ia justru segera menutup pintu rumah setelah Tirta berada di dalam.

Bagian dalam rumah itu terlihat sangat rapi dan mewah. Rasanya, semua barang yang ada di sana tidak mungkin bisa dibeli dengan uang yang sedikit. Tirta dipersilakan duduk di ruang tamu ditemani pria tersebut.

"Hai, saya Arga. Sepupu Marchel. Pria yang pernah kamu ajak bertengkar beberapa bulan lalu." Arga menyapa sambil mengulurkan tangan. Tirta segera menyambut uluran tangan itu dan menjabatnya. Kini ia benar-benar ingat dengan wajah pria tampan yang sejak tadi terasa tidak asing.

"Oh, hai. Saya Tirta, teman dari putri pemilik katering ini." Sapanya ramah. Arga juga terlihat sangat terbuka menerima kehadirannya.

"Ibu sedang ada di rumah belakang. Kamu boleh ikut kalau mau." Ajaknya tanpa ragu, seolah sama sekali tidak khawatir Tirta akan berbuat hal-hal yang tidak diinginkan di rumahnya.

"Sepertinya kita belum cukup akrab untuk saling terbuka soal rumah Anda." Sahut Tirta sambil tersenyum canggung. Ia takut ucapannya justru terdengar tidak sopan dan malah menyinggung perasaan pria di depannya.

...****************...

💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!