Di balik senyumnya, Yovana (17) menyimpan rahasia kelam. Seseorang telah merenggut masa depannya, sementara Bunda—orang yang paling ia cintai—terlalu buta untuk menyadari penderitaannya.
Hingga akhirnya, Yovana memilih menyerah dan mengakhiri hidupnya.
Penyesalan terlambat meremukkan hati Bunda. Namun, kematian Yovana ternyata bukan akhir dari segalanya.
Bunga kamboja yang mendadak membusuk menghitam.
Jejak langkah di lorong rumah saat tengah malam.
Dan aroma khas Yovana yang menyeruak di udara.
Di kota lain, Zain mulai diteror oleh dosa masa lalu yang ia kubur rapat-rapat. Satu per satu orang di sekelilingnya menjadi korban.
Yovana telah kembali.
Bukan untuk mencari pelukan hangat ibunya, melainkan untuk menagih hutang darah dan keadilan.
Sementara Bunda hanya bisa meratapi takdir dalam kehancuran. Karena pada akhirnya, penyesalan tak akan pernah mampu menghentikan dendam yang menuntut bayaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YOVANA
Malam itu, rasa penasaran dan kecurigaan yang membakar dada Dimas membuatnya tidak sanggup lagi hanya duduk diam di dalam kamar. Ia merasa harus tahu kebenaran — apa pun risikonya. Dengan tekad yang sudah bulat, Dimas nekat mengambil kunci mobilnya, keluar dari indekos, dan mengendarai kendaraannya melintasi jalanan lingkar luar kota yang sepi dan gelap, berniat mencari kebenaran dengan caranya sendiri.
Hujan deras baru saja mereda beberapa jam sebelumnya. Aspal hitam di jalanan masih basah dan licin, memantulkan cahaya lampu jalan yang tampak muram dan redup. Langit di atas kelabu pekat, tanpa bintang sedikit pun. Untuk mengusir kesunyian yang mencekam dan rasa gelisah yang terus merayap naik ke tengkuknya, Dimas menyalakan radio mobil.
Namun alih-alih alunan musik atau suara penyiar yang terdengar, speaker mobil hanya mengeluarkan suara desis statis yang menghentak keras dan tajam di telinga.
Krrrrrkkk…
Dimas mengerutkan kening dan menekan tombol pemindah gelombang berkali-kali, mencoba mencari frekuensi yang jernih. Namun desisan itu justru perlahan berubah wujud — menjadi suara perempuan yang terisak pelan dan pilu. Tangisan yang amat ia kenal dari dalam mimpi-mimpinya selama empat malam terakhir.
“Brengsek!” gerutu Dimas kesal sekaligus merinding. Ia langsung mematikan daya radio sepenuhnya. Keheningan kembali menyelimuti kabin mobil, namun kini terasa jauh lebih berat dan menakutkan dari sebelumnya.
Ia menginjak pedal gas lebih dalam, berusaha melaju lebih cepat membelah jalanan yang sepi. Namun tepat di depan, di tengah belokan jalan yang patah dan tajam, seberkas bayangan tiba-tiba berdiri kaku di tengah-tengah jalur aspal.
Seorang gadis bergaun putih yang penuh bercak noda gelap dan basah kuyup. Rambut panjangnya terurai lebat menutupi sebagian wajahnya. Ia berdiri hening di sana, tak bergerak sedikit pun — meski sorot lampu mobil Dimas yang terang benderang mengarah tepat ke seluruh tubuhnya.
Dimas mendelik lebar. Dari jarak yang makin terkikis cepat oleh laju mobilnya, ia sempat menangkap wajah pucat yang asing namun penuh amarah itu. Tatapan mata dingin yang sarat dendam terarah lurus tepat ke manik matanya.
Yovana.
“AAAAARGH!”
Dimas menjerit kaget, refleksnya mengambil alih. Ia memutar kemudi secara mendadak sekuat tenaga ke arah luar. Ban mobil berdecit keras dan panjang memakan permukaan aspal basah, kehilangan cengkeraman seketika. Kendaraan itu meluncur melenceng bebas dari jalur, melompati pembatas jalan beton, lalu terbang sebentar sebelum menghantam batang pohon peneduh besar di pinggir jalan dengan dentuman keras yang mengguncang tanah sekitarnya.
BRAKKK!!!
Kaca depan mobil hancur berkeping-keping menjadi serbuk tajam. Kap mesin terlipat hebat ke dalam, menekan ruang pengemudi. Tubuh Dimas terkulai lemas tak berdaya di atas lingkar kemudi yang kini berlumur darah segar. Kepalanya tertunduk lemah ke samping. Sementara itu, klakson mobil yang tertekan terus melengking nyaring dan panjang — membelah kesunyian malam yang dingin dan kosong, memanggil siapa pun yang mungkin mendengar, namun tak ada jawaban yang datang cepat.
Berita kecelakaan tunggal nahas itu akhirnya sampai ke telinga Zain menjelang fajar — disampaikan oleh suara petugas kepolisian yang terdengar datar namun menghancurkan dunia lewat sambungan telepon.
Dunia Zain seketika runtuh sepenuhnya. Kakinya lemas tak bertulang, membuatnya terjelebak jatuh duduk di lantai kamar hotelnya yang gelap dan dingin. Tatapannya kosong menatap ke dinding cat putih yang kini tampak berputar-putar di matanya. Seluruh persendian tubuhnya seolah lumpuh total. Rasa sakit yang menghantam dadanya jauh lebih tajam daripada senjata apa pun.
“Kenapa…” ratap Zain lirih, air mata mengalir deras membasahi pipinya yang tirus dan pucat. “Kenapa harus anak-anakku? Mereka tidak tahu apa-apa… mereka tidak bersalah… Mengapa Engkau membiarkan semua ini terjadi…”
Tidak ada jawaban dari ruangan itu. Hening.
Tik.
Jarum jam dinding di atas meja mendadak berhenti bergerak — tepat menunjuk angka 12. Pukul 00.00.
Lampu gantung di langit-langit kamar berkedip redup pelan. Sekali. Dua kali. Lalu cahayanya meredup menjadi kekuningan suram.
Dari arah pintu kamar hotel yang tertutup, terdengar bunyi ubin lorong berderit — langkah kaki seseorang yang berjalan teratur, berat, dan basah, mendekat semakin dekat.
Zain memberanikan diri mengangkat wajahnya dan menoleh perlahan ke arah pintu.
Di ambang pintu yang kini sedikit terbuka, berdiri sebuah sosok yang dilingkupi bayangan remang. Yovana ada di sana — tegak, kaku, hening. Ia tidak mengamuk, tidak berteriak, tidak melayang mengerikan seperti hantu dalam cerita. Ia hanya berdiri diam, mengawasi Zain dengan sepasang mata kelamnya yang hampa namun penuh kemenangan yang dingin.
Zain tidak sanggup bangkit. Ia hanya merangkak maju beberapa jengkal, lalu bersujud dalam posisi menyembah di lantai dingin, menghantamkan dahinya ke permukaan ubin keras berkali-kali. “Ambil nyawaku! Tolong… ambil aku saja sebagai gantinya! Jangan sentuh keluargaku lagi! Aku mohon padamu!”
Sosok Yovana di ambang pintu tetap bergeming. Keheningan yang memancar dari dirinya terasa begitu menindas dan berat, seolah menekan napas Zain hingga sesak.
Saat Zain kembali memberanikan diri mengangkat wajahnya yang penuh air mata dan keringat dingin, pintu itu sudah tertutup rapat kembali. Sosok itu telah lenyap. Hanya tersisa sehelai kelopak bunga kamboja putih yang terjatuh melayang pelan dari udara, hinggap lembut tepat di depan wajah Zain yang masih bersimbah air mata di lantai.
Aroma parfum manis milik Yovana merayap lembut ke dalam hidungnya — samar, namun menusuk hingga ke tulang belakang.
Saat itulah Zain akhirnya menyadari kenyataan paling pahit dan kejam dalam seluruh sisa hidupnya: Yovana tidak sedang membunuh anak-anaknya secara acak atau tanpa tujuan. Yovana sedang menyiksanya secara perlahan dan terencana — membuatnya harus menyaksikan setiap orang yang ia cintai hancur dan direnggut satu demi satu dari sisinya, tepat di depan mata kepalanya sendiri, sebelum akhirnya giliran Zain tiba.
Sementara itu, jauh di rumah lama Yovana…
Bunda terduduk sendirian di tepi tempat tidur putrinya yang masih tertata rapi seperti dulu. Di pangkuannya, terdapat bingkai foto Yovana — foto gadisnya saat lulus Sekolah Menengah Pertama, saat wajahnya masih bersih, cerah, dan bisa tersenyum lepas tanpa beban apa pun.
Dada Bunda terasa begitu sesak dan berat, seolah ada beban ribuan ton yang menindih napasnya. Rasa sakit kehilangan yang datang bertubi-tubi kini hampir meruntuhkan sisa kekuatan tubuh tuanya.
“Maafkan Bunda, Nak…” bisik Bunda lirih, suaranya bergetar pecah. Jemarinya yang gemetar dan penuh keriput mengusap perlahan permukaan kaca bingkai foto yang mulai berdebu. “Bunda terlalu lemah… terlalu buta untuk melihat betapa dalam lukamu sebenarnya… Bunda membiarkan semua ini terjadi padamu…”
Angin malam yang dingin bertiup masuk melalui celah jendela kamar yang terbuka sedikit, mengibarkan gorden putih tipis di ruangan itu hingga melambai-lambai pelan.
Bunda menengadah perlahan ke arah halaman luar yang remang diterangi cahaya bulan separuh.
Di bawah naungan pohon kamboja tua di sudut halaman — pohon yang dulu sering dinaiki Yovana saat kecil — daun-daunnya tampak mulai berguguran lebat ke tanah. Dan di sana, berdiri sosok Yovana. Ia menatap ke arah jendela kamarnya dari kejauhan. Tak ada kata-kata. Tak ada jeritan amarah. Hanya raut wajah penuh kepedihan abadi yang tak pernah bisa disembuhkan.
Bunda memeluk foto itu lebih erat ke dadanya, bahunya berguncang hebat menahan tangis yang tak bersuara. Ia tahu betul — perjalanan panjang dendam putrinya belum selesai.
Setelah Lia dan Dimas terenggut dari dunia satu demi satu, kini hanya tersisa satu nama lagi yang berdiri di sisi Zain — satu nama terakhir dalam daftar pembalasan Yovana yang belum dituntaskan sepenuhnya.
Rina.