Nama gue Zahra pindahan dari Jakarta ke Bandung, semenjak perusahaan Bokap gue bangkrut akhirnya gue dan keluarga putuskan sekolah di Bandung dan menemukan cinta sejati gue di Bandung. yang susah banget meluluhkan hati pria ini sampai gue bisa mendapatkan hatinya. cinta gue penuh rintangan yang harus kita berdua hadapi.. mau tau lanjut ceritanya mampir dulu yuk ke cerita yuli cinta cowok dingin.
happy reading ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli sumarni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6
gue gak menyangka Bima jahat banget sama gue, sekarang gue gak bakal berharap lagi sama Bima. Gue bercerita ke Manda dan Santi, mereka pun mendengarkannya kesal.
"Eh anak Mamah baru pulang? kok wajah kamu murung gitu?" Mamah memegang pipi gue yang cabi.
"Gak apa-apa kok Mah! aku masuk kamar dulu yah!" gue berjalan sambil cemberut dan menahan air mata.
"Sayang makan jangan lupa!" Mamah menyuruhku makan.
kalau begini aku gak bakal nafsu makan. Katanya di sini ada taman wisata kaya danau, cuma 5 ribu naik angkot dari sini. Apa gue ke sana aja yah?
Akhirnya, gue putuskan untuk ke taman wisata itu. Karena sore-sore enak menenangkan diri di danau. Sesampai di taman dekat danau, dengan celana pendek dan kaos oblong, akhirnya sampai juga di pantai.
Ternyata Bandung lebih indah tamannya di banding Jakarta. Suasananya nyaman buat hati yang sedang sedih.
"Hai, sendiri aja? pede banget lagi, pakai celana pendek ke danau, ini kampung mba bukan kota yang seenaknya aja buka aurat.
"Yeee... mas siapa sih? komen aja! mau gue pakai celana pendek kek, panjang kek, siapa lo lagi datang-datang nasehatin gue?" ucap gue marah.
"Ihhh... dasar awewe aneh!" cowok itu malah tambah mengejek gue.
"Ikhh... awewe apaan sih? sekarang lo pergi jangan banyak bacot kalau enggak gue timpuk lo pake krikil! pergi!!" gue kesal rasanya ingin banget menimpuk cowok bawel itu.
"Ikhh... aneh!" pria itu langsung bangun dan berlari sambil berbicara kita bakal bertemu lagi.
"PERGI! PERGI! ogah gue ketemu lo lagi amit amit!" gue langsung mengusap wajah gue.
Ya gusti kenapa sih, gue harus bertemu orang-orang yang ngeselin.
"Lo di sini? tumben?" tiba-tiba Bima datang.
"Bima! lo ngapain di sini?" inget ucapan dia tadi siang, gue jadi muak sama dia. Gue bangun dan berdiri tanpa basa-basi gue melangkah meninggalkan Bima.
Bima pun tidak mengejar gue atau memanggil gue sedikit pun. dia malah santai dan merenung tanpa menengok ke arah gue. Mungkin gue terlalu berharap sama dia, gue akan lupain dia. Gue aja yang gr.
kenapa sih gue **** banget, terlalu berharap sama dia. Jelas-jelas dia cuek, sombong gitu.
Maafin gue Ra, untuk saat ini gue gak mau dekat dengan siapa pun termasuk lo. Hati gue masih tertutup buat Cinta lain.
****
"Sayang, kamu dari mana aja sih? kamu belum makan lho, makan dulu yah!" Mamah memanggil gue dengan hati yang khawatir.
Gue pun langsung memeluk dan menangis di dekapan Mamah.
"Kok anak Mamah nangis kenapa? cerita sama Mamah sayang!" membelai rambut gue dengan penuh kasih sayang.
"Mah, apa aku gak pantas dapat cowok? apa aku gak pantas punya pacar? hiks-hiks-hiks." Gue menangis di dekapan Mamah.
"Hmm... Anak Mamah sudah mulai jatuh cinta yah? semua orang itu, berhak punya pendampingnya masing-masing, begitu juga dengan kamu sayang." Mamah sambil membelai rambutku.
"Tapi Mah, baru kali ini aku suka sama cowok, tapi cowok itu dingin Mah." Gue menatap Mamah dengan serius.
"Mungkin dia sedang ada masalah, atau dia sedang tidak memikirkan pacar dulu, sayang dengar yah! Mamah gak mau kamu sakit hati soal Cinta dan itu bisa mengganggu belajar kamu!" Mamah sambil menatap dan memegang pipiku yang cabi.
Mamah menasehatiku, dan benar juga kata Mamah aku harus fokus belajar dan fokus kuliah nanti, jika aku sukses baru aku pikirin cinta. Cinta pun akan datang sendirinya karena tuhan sudah mempersiapkannya entah kapan itulah yang di bilang Mamah.
Tidak terasa waktu cepat berlalu, sampai akhirnya, gue kembali lagi ke sekolah.
"Lo mau lewat? silakan!" Bima berdiri mempersilakan gue lewat.
"Anto tukaran tempat dong! lo di belakang sini yah!" gue mencoba menyuruh Anto yang agak culun untuk tukar posisi.
"Hmmm... kata Bu Sarmi gak boleh tukaran, duduk harus cewek-cowok!" Anto tidak mau tukar posisi dan membenarkan kacamatanya.
"Manda mana?" tiba-tiba Manda datang.
"Man lo duduk sini yah! gue duduk sama Anto ya Man!" gue memohon pada Manda yang baru saja datang.
"Kenapa emang?" Manda mengedipkan mata ke arah Bima.
"Udah gak usah banyak tanya Man, ya please..." Gue memohon ke pada Manda sambil memelas.
"Ya sudah." Manda ngerasa gak enak pada Bima.
Bima hanya memperhatikan tanpa komen apa-apa dan tidak peduli sama sekali sama gue.
mungkin lo marah sama gue Ra, maafin gue Ra. Seberapa kuat gue menutup hati gue. Dan seberapa kuat gue dingin sama lo. Gue udah nyimpen perasaan sama lo Ra, tapi gue masih belum bisa.
****
Bel pun berbunyi, seperti biasa gue ke kantin bersama Manda dan Santi. "Hai Ra, boleh gabung?" tanya Anjar.
"Hmmm... terserah!" gue sambil melamun memikirkan Bima.
Bima pun lewat meja gue, gue berusaha panas-panasin Bima. "Oh iya, njar pulang bareng yah!" saat Bima melihat gue, gue langsung berdiri dan balik ke kelas.
"Gue duluan ya Man, San!" sambil mengambil botol aqua di meja.
"Eh Ra, ntar jadi pulang bareng kan?" Anjar tersenyum.
"Gak jadi, gue cuma pura-pura!" gue langsung melangkah kembali ke kelas.
"Ha-ha-ha....upshh." Manda dan Santi tidak sengaja tertawa lepas.
"DIAM! BRENGSEK!" Anjar memukul meja membuat Manda dan Santi kaget.
Saat gue berjalan tidak sengaja gue menabrak siswa lain, tumpahan es kopi mengotori baju gue. Dia pria kelas 3b sekelas dengan Anjar.
"Sory! sory yah! gue gak sengaja." Gue meminta maaf ke pria itu.
"Gak apa-apa, kenalin gue Tio!" sambil menjabat tangan ke arah gue.
"Sory ya, gue buru-buru!" gue langsung berlari ke toilet untuk membersihkan baju gue.
"Cantik juga, ha-ha." Tio tersenyum dan terpesona.
Saat gue masuk kelas, Manda ternyata sudah ada di kelas, dan dia terkejut lihat gue yang penuh noda kopi, dan duluan Manda yang sampai ke kelas. Gue menjelaskan semua ke Manda depan Bima. Bima hanya melirik dan terdiam.
****
Bel pulang pun berbunyi, gue bersiap-siap pulang. saat gue berdiri dan berjalan gue menabrak Bima yang ikut berjalan juga. Tapi gue cuek aja tanpa meminta maaf padanya. Bima hanya menatap gue.
"Hai, ke arah mana pulangnya? bareng yuk!" gue bertemu Tio dan tersenyum ke gue.
"Makasih, gue naik angkot aja! duluan yah!" gue langsung berjalan. Sedangkan Bima melihat Tio mengajak gue pulang bareng.
"WOY! ngapain lo dekatin Zahra? awas lo macam-macam sama gue! gue itu suka sama dia." Anjar datang dan menegur Tio. Lalu Tio mengabaikan Anjar dan pergi.
"Songong lo! orang lagi ngomong di cuekin!" sambil mengenggam tangannya sendiri.
*BERSAMBUNG*
tetap semangat ya neng💪💪