NovelToon NovelToon
Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Transmigrasi Dokter Forensik Jadi Anak Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Sinnox

Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.

Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.

Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.

Yaitu mati.

Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Bukan Cacing!!

(Biar lebih gampang sekarang, Amelia kita panggil sebagai Eve aja biar gak bingung😭🙏🏻)

...****************...

Lelaki tua itu menelan ludah sebelum akhirnya mengangkat tangan dengan ragu. Jarinya menunjuk ke arah Lily yang berdiri di tengah barisan.

"Di sana, Yang Mulia. Anak itu," katanya terbata-bata.

Eve yang berdiri tepat di belakang Lily ikut menegang. Jari-jarinya masih mencengkeram ujung pakaian Lily, sementara anak perempuan itu sendiri terlihat pucat dan tidak berani mengangkat kepala.

Lucien Valois melepaskan kerah lelaki tua itu begitu saja dengan kasar. Tanpa berkata apa-apa, dia mulai berjalan menuju Lily. Setiap kali sepatunya menyentuh lantai kayu, Eve semakin berharap dirinya bisa menghilang saja dari tempat itu.

'Jangan lihat gue. Please.'

Lucien berhenti tepat di depan Lily. Tatapannya turun kepada anak perempuan itu, badan Lily tampak mengigil ketakutan, bahkan bernapas pun rasanya susah. Namun tatapan itu hanya berlangsung beberapa detik.Kemudian tatapan Lucien perlahan bergeser ke belakang bahu Lily.

Tepat kepada Eve.

Eve yang sejak tadi berusaha bersembunyi langsung membeku. Mata merah tua itu menatapnya dari atas ke bawah. Lucien memperhatikan rambut putihnya yang berantakan, wajah pucatnya, kemudian tubuh kecil yang sebagian masih tertutup oleh Lily.

Beberapa detik berlalu.

Lucien akhirnya mengeluarkan satu kalimat dengan nada datar.

"Seperti cacing."

Eve terdiam.

"..."

Matanya berkedip dua kali, rasanya seperti dipukul palu mainan yang besar tepat di kepalanya.

'HAH? ni manusia bilang apa?' Rasa takutnya seketika berubah menjadi kesal.

'Siapa yang cacing?!' Tangan Eve mengepal keras.

Kalau bukan karena pria di depannya adalah seorang Duke yang tingginya hampir lima kali lipat dari tubuhnya sekarang, Eve mungkin sudah menyemprotkan seluruh isi kepalanya ke wajah pria itu.

'Dasar bangsawan si*lan. Baru ketemu udah ngatain orang. Matanya merah, rambutnya hitam, mukanya juga nyebelin. Cocok banget jadi penjahat, kayak badut, badut sial*n'

Eve menggerutu dalam hati sambil menatap Lucien dengan wajah masam. Namun sebelum sempat melakukan apa pun, tangan Lucien tiba-tiba bergerak. Dia meraih bagian belakang pakaian Eve dan mengangkat tubuh kecil itu begitu saja. Kedua kaki Eve langsung terangkat dari lantai. Tubuhnya menggantung di udara. Eve menatap ke bawah, Lalu menatap wajah Lucien.

'Dia ngangkat gue?!'

Lucien bahkan tidak terlihat kesulitan. Dia mengangkat Eve dengan satu tangan seperti seseorang yang baru saja memungut anak kucing dari lantai.

"Tu-lunn aku mau tulun!" Eve refleks meronta, suaranya yang kecil dan cempreng membuat beberapa anak di sekitar mereka menoleh.

Lucien tetap diam, Eve semakin kesal.

'Turunin, bangs*t.'

Dia mencoba menarik pakaian yang dicengkeram Lucien, tetapi percuma. Tubuh kecilnya terlalu ringan untuk melawan tenaga pria dewasa, terlebih tangannya saja pendek, tentu saja tidak akan sampai. Kakinya hanya bergerak-gerak di udara tanpa menyentuh apa pun. Lily yang berdiri di bawah hanya bisa menatap Eve dengan mata membesar. Eve sendiri sudah tidak peduli lagi pada anak-anak lain yang memperhatikannya. Harga dirinya sebagai orang dewasa telah hancur total.

Pertama bangun di tubuh anak kecil, Kedua dipanggil Eve. Ketiga dibandingkan dengan cacing, sekarang diangkat seperti kucing oleh bangsawan yang baru saja dia kenali sebagai salah satu tokoh antagonis dalam novel favoritnya.

Eve menatap Lucien dengan kesal.

'Kalau nanti gue bisa turun, gue sumpahin lu tersedak tulang ayam.'

"Tulunnnn! Aku mawu tulunnn!" Eve meronta semakin keras. Kedua kakinya menendang udara tanpa arah, sementara tangannya berusaha mendorong lengan Lucien yang sama sekali tidak bergeser. Tubuhnya terlalu kecil untuk melakukan apa pun terhadap pria itu. Bahkan ketika dia berusaha menarik pakaiannya sendiri agar terlepas dari genggaman Lucien, yang bergerak hanya kain bajunya.

Eve mengangkat kedua tangannya dan meraih sesuatu yang paling dekat dengannya. Jarinya langsung mencengkeram rambut hitam yang tertata rapi itu. Kepala Lucien sedikit tersentak. Beberapa helai rambutnya yang semula rapi langsung bergeser.

Ruangan mendadak sunyi. Eve membeku sepersekian detik, tetapi kemudian rasa puas justru muncul di dalam hatinya.

'Nah.'

Dia menariknya lagi.

'Rasain.'

"Aku bukan cacing! Aku manucia!"

Lucien akhirnya menurunkan pandangan kepadanya.

Eve balas menatap tanpa rasa takut, setidaknya, dia berusaha terlihat tidak takut. Karena sebenarnya telapak tangannya mulai berkeringat.

'Jangan takut. Jangan takut. Dia cuma manusia. Manusia yang bisa membunuh orang dengan satu tangan, tapi tetap manusia.'

Tatapan Lucien mengarah pada tangan kecil Eve yang masih mencengkeram rambutnya. Kemudian naik kembali ke wajah Eve. Eve berhenti menarik, mereka saling menatap, beberapa detik. Eve mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

'...Kenapa dia lihat gue kayak gitu? mau adu tatap hah'

Di belakang Lucien, Vins yang sejak tadi berdiri dengan sikap tegak tiba-tiba memalingkan wajah. Bahunya bergerak sedikit.Bibirnya sampai terkatup rapat, tetapi sudut mulutnya tetap sempat terangkat. Seumur hidupnya, Vins belum pernah melihat siapa pun memperlakukan Duke Valois seperti itu. Apalagi seorang anak kecil, biasanya para anak kecil hanya bisa menangis ketakutan ataupun berteriak karena Duke yang sangat menyeramkan di mata merka.

Eve sama sekali tidak menyadarinya. Dia justru semakin sibuk merusak rambut Lucien.

'Rambut lu rapi banget. Sini gue acak-acak sekalian.'

"Aku bukan cacing!" protes Eve dengan suara cadelnya sambil kembali menarik rambut Lucien. "Aku manucia!"

Vins buru-buru menundukkan kepala untuk menyembunyikan ekspresinya.

'Kok dia diem?!' Eve menarik sekali lagi.

Eve masih belum menyerah. Dia menggerutu sambil menarik rambut itu sedikit demi sedikit, seolah sedang berusaha memberi pelajaran kepada orang dewasa yang menurutnya benar-benar tidak tahu sopan santun.

"Jaat." Dia menariknya lagi.

"Dak bole angkat olang." Di tarik lagi

Vins akhirnya menutup mulut dengan satu tangan, Bahu pria itu kembali bergetar.

Disisi lain Lucien tatapannya bergeser ke arah Vins.

Vins langsung berhenti. Dia menurunkan tangan dan kembali memasang wajah serius seolah tidak terjadi apa-apa.

"Maaf, Yang Mulia," katanya dengan suara yang sedikit tertahan.

Eve melirik Vins.

'Dia tadi ketawa?'

Namun belum sempat dia memikirkan itu, Lucien kembali menatapnya. Membuat gadis itu terdiam, seperti nya dia sudah kelewatan. Ada sesuatu dalam tatapan pria itu yang membuat tangannya perlahan berhenti bergerak.

'...Oh.'

Namun harga dirinya tidak mengizinkan Eve meminta maaf. Dia hanya menatap balik dengan wajah kesal.

"Lepaskan." Suara itu terdengar sangat datar, Eve mengerucutkan bibir.

"Dak mawu."

Vins kembali menundukkan wajahnya.

Lucien menghela napas pendek.

Kemudian, tanpa peringatan, tangan yang memegang pakaian Eve bergerak.Tubuh kecil itu tiba-tiba terangkat lebih tinggi.

"Eh?"

Eve bahkan tidak sempat memahami apa yang terjadi.

Lucien melepaskan tangannya, tubuh Eve seketika melayang ke depan.

"AAAAAA!"

Vins langsung bergerak.

Dia menangkap tubuh Eve dengan kedua tangan sebelum anak itu jatuh ke lantai. Tubuh kecil Eve terhempas ke dalam pelukannya. Rambut putihnya berantakan menutupi wajah. Eve terdiam, matanya membesar, shock, jantungnya hampir meledak. Beberapa detik dia hanya menatap kosong ke depan.

Kemudian perlahan dia mengangkat kepala dan menatap Vins. Pria itu menatapnya balik. Pria itu tampak jauh lebih muda daripada Lucien. Rambutnya berwarna cokelat gelap dan wajahnya terlihat tenang, meskipun sekarang ada sedikit keterkejutan di matanya karena tiba-tiba harus menangkap seorang anak yang dilempar oleh atasannya.

"..Nona tidak apa-apa?" tanya Vins akhirnya.

Eve tidak menjawab. Dia justru menoleh perlahan ke arah Lucien. Duke itu sudah berdiri seperti sebelumnya. Rambutnya memang sedikit berantakan akibat ulah Eve, tetapi wajahnya tetap tenang.

'Dia beneran lempar gue, dengan muka tanpa dosa gitu?.' Eve menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.

'Gue ini manusia, bukan bola!' Kemarahannya kembali naik.

"Tulun aku mawu tulun!" Eve langsung kembali meronta dalam pelukan Vins.

"Nona, jangan bergerak terlalu banyak." Vins mempererat pelukannya agar Eve tidak jatuh.

"Tulun!"

"Kalau kau turun sekarang, Anda bisa jatuh." Kemudian Vins melirik Lucien, seakan meminta perintah lebih lanjut. Duke itu sedang merapikan rambutnya dengan tangan.

"Vins."

"Ya, Yang Mulia?"

"Urus cacing itu." Lucien menunjuk Eve dengan dagunya.

'MASIH CACING?!' Eve langsung membeku, wajahnya memerah.

"AKU BUKAN CACING!" Dia kembali meronta dengan tenaga penuh.

Beberapa anak yang sejak tadi ketakutan mulai saling pandang. Salah satu dari mereka bahkan tidak sengaja mengeluarkan tawa kecil sebelum buru-buru menutup mulut.

Eve tidak peduli. Dia terus mengomel sambil memelototi Lucien. Vins menahan napas, kali ini dia benar-benar hampir tertawa. Dia memalingkan wajah sedikit sambil membawa Eve menjauh dari Lucien.

"Bawa dia," ujar Lucien datar. "Mulai hari ini, dia akan menjadi putri bungsu keluarga Valois."

Langkah Vins terhenti, lalu ia menundukkan kepala dalam-dalam. "Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."

Eve perlahan mengangkat wajah dari dada Vins. Tatapannya berpindah kepada Lucien yang masih berdiri beberapa langkah di belakang mereka.

'Putri bungsu keluarga Valois?' Otaknya seperti berhenti bekerja selama beberapa detik.

'Tunggu... gue?'

1
Nisa Nisa
wadau lucu kali ngomong nya siapa jadi capa🤣
Nisa Nisa
belum tentu bunuh diri juga kan bisa jdi dia di bunbun🤭
Myz Pena
eve dan ape atau epe ?? 🤣🤣🤣
Myz Pena
wkwkkwkwk tunggu thor aku ngakak ya Allah 🤣🤣🤣
Myz Pena
banyak banget makanannya.. emang bia dihabisin ??🤧
Myz Pena
ya Tuhan,, bukannya kemarin di bilang mirip cacing.. sekarang pendek lagi 🤣🤣
ginevra
jangan2 kamu yang dicari Mel... wah auto kaya raya
Myz Pena
sudah dibilang kamu cari alasan aja biar nggak makan sama tuh orang 🤧
ginevra
Amelia nggak bakalan takut soalnya jiwanya kan orang dewasa
ginevra
namanya makanan bayi ya hambar donk... kalau pakai Masako nanti tenggorokan sakit
Cimol krispy
tapi Ave dan eve beda tipis aja kok
Cimol krispy
tapi apa eve bisa makan itu semua
Cimol krispy
ya jelas ada dia lah eve, orang memang dia yg bawa kamu kesini
Cimol krispy
mau bilang eve kurus kan lo
Cimol krispy
ya iyalah mau dimandiin. kan baru 4 th
Cimol krispy
kamu harus bisa jadi pawang buat Lucien
🩷 ⃟🌴⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA℘ℯ𝓃𝓪
hoo iya nama jangan di ganggu gugatt, mantapp Evelyn 🤣
Xlyzy
mungkin ceritanya udah melenceng semenjak kehadiran kamu
Xlyzy
ya enakan kamu lah berubah jadi anak kicik lagi bisa manja manja lagi weh🤣
Xlyzy
Sabar ya tunggu 10 tahun lagi nanti balas dendam 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!