NovelToon NovelToon
Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:954
Nilai: 5
Nama Author: Hello Ketty.

Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.

Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

"Paman... Kapan Paman datang?" tanya Adrian terbata-bata.

"Kenapa? Apa aku tidak boleh datang ke rumahku sendiri?"

"Ah... bukan begitu maksudku, Paman..."

"Apa yang kalian lakukan berdiri berkerumun di sini?" tanya pria itu tanpa ekspresi.

Mendengar ucapan Sean, semua orang seketika bergerak gelisah.

Sean kemudian menatap tajam ke arah Martha.

"Kau sudah lupa statusmu di rumah ini?"

"M-maafkan saya, Tuan. Saya akan segera masuk ke dalam," jawab Martha menunduk hormat, lalu segera melangkah pergi. Begitu juga Alena yang tak berani bersuara, langsung mengikutinya pergi.

"Adikku... Kapan kau kembali?" tanya Rika sambil menghampiri Sean dan mencoba menyentuh lengannya.

Namun Sean langsung menarik lengannya menjauh.

"Ingat baik-baik, ini kediamanku. Jangan pernah kau buat keributan di sini," ucapnya datar dan dingin, membuat Rika mengepalkan tangan kesal namun tak berani berkutik, lalu berbalik pergi menjauh.

"Maaf, Tuan," ucap Bik Siska sambil menunduk, lalu segera kembali ke halaman.

Kini hanya tersisa Sera yang berdiri diam menatap sosok pria itu.

Tanpa sadar ia terpesona. Wajah tampan yang biasa hanya pernah ia lihat di majalah atau layar kaca ternyata jauh lebih menawan dan berwibawa saat dilihat secara langsung. Sean sungguh berbeda dari apa yang ia bayangkan, membuatnya tertegun tak sanggup mengalihkan pandangan dari sosok tampan itu.

"Sejak kapan kau berani menatapku begitu?" tegur Sean tiba-tiba.

Sera tersentak sadar, segera menundukkan pandangan. Wajahnya sedikit merona, namun ia berusaha menyembunyikannya.

Sean melewatinya begitu saja, lalu berjalan naik ke lantai atas.

Aroma maskulin yang sangat menyengat tercium kuat dari tubuh pria itu, seketika menguasai indra penciuman Sera. Tak heran, siapa pun wanita yang berada di dekatnya pasti akan meleleh.

Tanpa sadar Sera menelan ludah. Ia tak menyangka bahwa pria yang berniat ia jadikan alat balas dendam ternyata begitu dingin namun memikat, hingga ia seakan tak sanggup mengalihkan pandangan dari wajah tampan yang memancarkan wibawa luar biasa itu.

Sera bahkan masih menatap punggung pria itu yang menjauh.

Menarik sekali... kedatangannya saja langsung membuat suasana seketika tenang... batinnya tersenyum miring.

Pantas saja Kakak merasa aman selama dia ada di rumah ini.

Sera segera mengembalikan raut wajahnya menjadi datar begitu teringat tujuan utamanya datang ke sana.

Ingat, Sera. Tujuanmu datang ke sini bukan untuk jatuh hati atau merayu asmara. Tujuanmu hanya satu: mengambil kembali hak yang dirampas dan menghancurkan mereka semua.

Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan perasaannya yang tiba-tiba terguncang hebat saat melihat sosok Sean.

Sera melangkah hendak naik ke lantai atas menuju kamar, namun tiba-tiba dia dihadang oleh seorang pelayan. Wanita muda berusia sekitar 35 tahun itu berdiri tegak menghalangi jalannya.

"Kau mau ke mana?" tanya wanita bernama Bianca itu.

Sera menoleh ke kiri dan kanan, menyadari hanya ada mereka berdua di sana. Melihat pakaian yang dikenakan wanita itu, jelas sekali ia hanyalah seorang pembantu.

"Kau bicara denganku?" tanya Sera tenang.

Bianca langsung melipat kedua tangannya di dada dengan gaya angkuh. "Memangnya kau pikir aku bicara pada siapa? Pada semut sepertimu?"

Sera tersenyum miring dalam hati. Ia hampir lupa, di rumah itu masih ada satu orang lagi yang kerap menindas dan menyiksa kakaknya.

"Jadi begitukah cara seorang pelayan bicara dengan istri majikannya?"

"Cih! Jangan merasa hebat. Sebentar lagi Tuan Adrian pasti akan menceraikanmu!"

"Benarkah? Kau yakin begitu?"

Wajah Bianca seketika berubah bengis. "Kau berani melawanku?!"

"Sstt... pelankan suaramu. Kau sudah tahu apa belum? Tuan Sean sedang ada di sini. Kalau sampai dia mendengar kau berteriak-teriak begitu, kau yang akan celaka," bisik Sera sengaja mengancam.

Benar saja, wajah Bianca seketika berubah pucat pasi. Ia baru pulang berbelanja bahan makanan dan belum tahu jika sang pemilik mansion ternyata sudah kembali.

"Kau... kau beruntung," geram Bianca pelan, lalu segera berbalik pergi meninggalkan Sera.

Sera tersenyum tipis, lalu kembali melangkah menaiki anak tangga. Namun belum jauh ia melangkah, suara Bik Siska kembali terdengar memanggil.

"Non Sarah!"

Sera menghela napas pelan. Masih saja ada yang menghalangi.

"Ya, Bik?" jawabnya sambil berbalik badan.

"Maaf, Non... Non mau ke mana?" tanya Bik Siska dengan raut cemas.

Sera sedikit mengerutkan dahi. "Mau ke kamar, Bik."

"Apa Non sudah lupa? Kamar Non sudah lama dipindahkan ke belakang, bersama kamar para pelayan..."

Sera terdiam sejenak.

"Ah... iya, Bibi lupa. Tapi sekarang kan Tuan Sean sudah ada di rumah... seharusnya tidak apa-apa kalau Non naik ke atas. Dulu... setiap kali Tuan Sean datang, Non selalu diperintahkan Tuan Adrian untuk tetap berada di lantai atas..."

Bahkan kakakku pun ditempatkan tidur di kamar para pelayan, dan hanya diizinkan masuk ke kamar laki-laki bejat itu, kalau ada pemilik rumah? Benar-benar sampah yang berkelakuan kayak sampah!

Batin Sera semakin terbakar hebat oleh api dendam. Ia tak menyangka, selain disiksa secara fisik dan batin, kakaknya pun diperlakukan bagaikan orang asing, disingkirkan, dan bahkan dipaksa tidur di bagian belakang rumah, bersama para pelayan.

Sera terpaksa melangkah menuju kamar para pelayan.

Saat membuka pintu, keinginan untuk menghabisi mereka semua semakin meluap-luap.

Bagaimana tidak? Ruangan itu sama sekali tak layak disebut kamar. Semakin jauh ia melangkah masuk dan membuka lemari kakaknya, semakin ia terpukul—hanya tersisa tumpukan baju dan kain yang sudah lusuh dan kotor di sana.

Padahal kakaknya adalah pemilik perusahaan tekstil yang cukup sukses. Bagaimana bisa seorang yang pernah memegang kendali bisnis sukses itu, kini hidup begitu menyedihkan?

Kamar itu bahkan tak pantas dihuni oleh seorang pengemis sekalipun. Seluruh pakaian kakaknya terlihat kusam, seolah sudah bertahun-tahun tak pernah diganti dengan yang layak. Bahkan pakaian dalamnya pun semua sudah robek dan berserakan.

Sera berusaha sekuat tenaga menahan tangis, namun hatinya terasa seperti diremas.

Setetes demi setetes, air matanya akhirnya jatuh bebas. Selama ini ia mengira kakaknya hidup bahagia dan tenang. Ia tak pernah menyangka kenyataannya sekejam ini—bahkan pakaian yang melekat di tubuh kakaknya pun tak layak disebut pakaian, melainkan hanya sepotong kain lap.

Sera menangis terisak.

Selama ini ia hidup berkecukupan, bahkan lebih dari itu. Dengan kariernya yang cemerlang, ia mampu membeli apa saja yang ia inginkan—mobil, bahkan rumah megah sekalipun.

Dulu ia sengaja menyerahkan sebagian besar hartanya agar kakaknya bisa mengelola dan hidup makmur. Namun apa yang ia saksikan sekarang? Hanya rangkaian penderitaan yang tak berkesudahan.

Sampai-sampai hal sekecil pakaian layak pun tak sanggup mereka berikan.

"Kenapa kalian tega..." isaknya tak tertahan lagi.

Sera segera mengusap air matanya dengan kasar. Ia masuk ke kamar mandi, menyiram tubuhnya dengan air dingin untuk menenangkan diri.

Saat ia memeriksa rak sabun dan sampo, semuanya kosong melompong. Entah kapan terakhir kali kakaknya benar-benar bisa membersihkan diri dengan layak di tempat ini.

Hatinya semakin hancur, ia menangis sejadi-jadinya membayangkan betapa beratnya perjuangan kakaknya bertahan hidup di sana.

Setelah puas meluapkan segala kesedihannya, Sera kembali menguatkan hati. Ia mengambil beberapa helai pakaian yang ia bawa di tas kecil, lalu memakainya.

Sera mengenakan celana panjang berwarna hitam, dipadukan dengan kaos biru berlengan pendek. Rambut panjangnya diikat ke belakang, menyisakan beberapa helai rambut yang jatuh berantakan di sisi wajahnya.

Ia merapikan wajahnya, memberikan sedikit polesan tipis agar bekas tangis dan bengkak di matanya tak terlihat.

Setelah merasa cukup, ia melangkah keluar dari kamar—tanpa sengaja berpapasan dengan Bik Siska yang membawa nampan berisi kopi.

"Bik, itu kopi untuk siapa?" tanya Sera.

"Ini untuk Tuan Sean, Non," jawab Bik Siska.

"Biar saya yang antar," ucap Sera.

"Baiklah, Non," Bik Siska pun menyerahkan cangkir itu tanpa ragu.

"Ini mau diantar ke mana Bik?"

"Ke ruang kerja Tuan Sean, Non,"

"Baik, Bik."

Sejenak Bik Siska mengerutkan kening. Matanya tak sengaja menangkap bagian leher dan lengan wanita di hadapannya—tidak ada bekas memar sedikit pun.

Padahal yang dia tahu, hampir seluruh tubuh Sarah dulu penuh dengan bekas luka. Ada sesuatu yang aneh... batinnya, namun ia segera menepis perasaan itu lagi.

Sera perlahan melangkah menaiki tangga menuju lantai atas.

Sebenarnya ia sama sekali tidak tahu di mana letak ruang kerja Sean, karena ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di rumah itu.

Tadi dia berniat ingin bertanya pada Bik Siska, namun ia urungkan niatnya. Mustahil rasanya jika Sarah yang sudah tinggal lima tahun di sana tidak tahu letak ruangan itu—takut nanti Bik Siska mulai curiga.

Terpaksa ia mengedarkan pandangan mencari sendiri. Hingga akhirnya matanya tertuju pada sebuah pintu berwarna keemasan yang berdiri megah di ujung lorong. Tanpa ragu, Sera menduga itu adalah ruang kerja Sean.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!