NovelToon NovelToon
Real Love

Real Love

Status: tamat
Genre:Komedi / Cintamanis / Perjodohan / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Tamat
Popularitas:128.5k
Nilai: 5
Nama Author: Redwhite

Season 1 kisah hubungan antara Sita, Agung dan juga Arum.

Season 2 berkisah konflik rumah tangga Aida dan Rama

"Eh, buset bang, panggilan spesial, emang lu pikir gue mau ma elu?" _Sita.

"Itu panggilan spesial buat dinda"_ Agung.

"Emak kawinin kamu Ta! Biar solehah." _emak Sari.

Perjodohan keduanya dilakukan saat Agung masih memiliki rupa yang menurut kebanyakan gadis tidak enak di lihat, meski dahulunya dia tampan.

Sita berusaha merubah lelaki itu kembali agar mau merubah penampilamnya.

Di tengah kebahagiaan mereka, Arum–sang mantan kekasih, kembali mengharapkan dirinya, bahkan dengan terang-terangan rela di jadikan istri kedua.

Apa, Sita dan Agung bisa menyelesaikan permasalahan rumah tangga mereka, akibat mantan yang selalu mengganggu?

Season 2

Aida yang merupakan adik kandung Agung, memiliki suami yang selalu menyusahkan keluarganya.

Konflik keduanya selalu melibatkan keluarga Sita dan Agung.

Sampai ... sebuah kejadian membuat lelaki pilihan Aida itu menyesal.

Apa mereka akan tetap bisa bersama, atau Aida memilih melepaskan sang suami pada akhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ameliya Kelaparan

Dalam perjalanan, Sita yang biasanya menggunakan kendaraan umum seperti Bus ataupun Kereta, sekarang harus berpanas-panasan menggunakan motor, tentu perjalanan itu membuatnya tambah kesal.

Padahal otaknya sedang memikirkan berbagai cara agar Agung tak mengetahui kontrakannya.

Polusi udara itu sungguh membuat buyar semua ide yang sedari tadi dia pikirkan, hingga saat lampu merah berhenti, Agung menanyakan alamat kontrakan Sita.

"Abis dari lampu merah kemana lagi Dinda?" tanyanya setelah di awal perjalanan Sita memberitahu jalan ke arah tempat tinggalnya.

"Belok kanan Bang, gang samping Masjid Baiturrahman, di situ aja."

"Di situ aja? maksudnya?" tanya Agung yang bingung dengan kalimat akhir Sita.

Sita merutuki dirinya, pikirnya saat ini Agung pasti tersinggung, sebab dia memperlakukan Agung seperti seorang ojol dimana Sita yang mengatur dimana dia akan berhenti.

"Eh nanti deh Bang, Sita jelasin," ucapnya masih berusaha mencari cara agar Agung tak perlu mengantarnya sampai ke kontrakannya.

Setelah sampai di gang menuju kontrakan Sita, Agung melihat sekitar jika, wilayah tempat tinggal Sita sangat sepi, dia jadi khawatir memikirkan nasib Sita saat bekerja dan pulang malam hari.

"Kok berenti di sini Dinda?"

Sita turun dan menyerahkan helmnya kepada Agung, "maaf ya Bang, kontrakan Sita nempel sama yang punya, di sana peraturannya ngga boleh bawa tamu laki-laki," Sita membual berharap Agung akan mempercayainya.

Sebenarnya kontrakan Sita termasuk lingkungan bebas, bahkan yang tinggal satu kontrakan tanpa ikatan pernikahan pun banyak, namun dia tak ingin memperkenalkan Agung kepada Ameliya yang saat ini berada di kontrakan.

"Oh ... ya sudah, ngga papa Dinda, bagus berarti aman kontrakannya, ya udah Abang balik dulu ya," pamit Agung dan kembali tersenyum kepada Sita.

Dia lantas mengikat helm yang di gunakan Sita mengaitkannya di jok belakang.

"Assalammualaiku," lalu berlalu dari hadapan Sita.

"Wa'alaikum salam," ucap Sita lirih, dia mengusap dadanya, senang jika Agung mempercayai kata-kata dustanya.

Sita lantas melanjutkannya dengan berjalan kaki menuju ke kontrakannya.

"Ta!" Ameliya menepuk bahu Sita.

Sita yang terkejut berjengit menghindar, "Astaghfirullah, AMELL!!" pekiknya.

Ameliya menutup kedua telinganya saat mendengar jeritan Sita, "apaan sih lu Ta!"

"Kaget Gomel, lagian ngapain sih pake acara ngagetin segala," sungutnya kesal, mereka melanjutkan kembali perjalanan menuju kontrakan.

"Siapa yang ngagetin, orang gua manggil Ta, kecuali gua bilang DORR! lu aja ngelamun makanya kaget," tukas Ameliya, yang tak terima di salahkan.

"Lu naek kereta Ta," tanya Ameliya, sebab gang yang di lewati amel, berada tak jauh dari stasiun kereta.

"Hemm ..." jawab Sita malas.

"Perasaan gua di kasih tau nyokap belum lama, cepet bener lu dah dapet kereta."

"Lagi untung aja gua, pas nyampe pas ada keretanya," jawab Sita, dia beruntung kedatangannya bertepatan dengan jadwal keberangkatan kereta, keberuntungan di tengah kesialan menurut Sita.

"Tadinya gua pikir lu bakalan naek bis."

Sita mengalihkan pembicaraan mereka, dengan melihat kantung kresek yang di bawa Ameliya, "beras emang udah abis Mel?"

"Iya, perasaan gua lagi diet, ngapa belum gajian dah abis ya?"

Sita berhasil mengalihkan pertanyaan Ameliya tentang kedatangannya.

"Sok-sok an diet, emang beras kemaren tuh agak pera, jadi pas di masak ngga pyar, enak sih, tapi boros jadinya," Sita memberi alasan kenapa beras di kontrakan mereka cepat habis.

"Duit kas masih aman kan?" tanya Sita takut-takut jika uang yang mereka kumpulkan untuk keperluan sudah habis.

Mereka bertiga mengatur pengeluaran dengan sangat detail, dimana Devi yang bertugas mencatan pembukuan, mereka bertiga akan mengeluarkan uang untuk biaya hidup selama sebulan.

Pengeluaran seperti membayar kontrakan, air, listrik, beras bahkan perlengkapan mandi, cuci dan dapur, semua di catat dan di bagi mereka bertiga.

Walaupun bersahabat, pengeluaran seperti itu harus adil, kecuali pengeluaran pribadi seperti make up, dan jajan mereka.

"Masih, tenang aja!" jawab Ameliya sebab uang yang di gunakan bersama itu di letakan di kotak, dan saat salah satu dari mereka menggunakan untuk keperluan, mereka akan menulis laporan.

"Lu bawa apa Ta?" Ameliya melihat jika sahabatnya itu membawa rantang, yang sudah pasti berisi makanan.

"Liat aja entar, Nih pesenan lu!" Sita lantas memberikan tas pembukus jaket Ameliya.

"Thanks."

Ameliya lantas membuka pintu kontrakan mereka, yang terdiri dari tiga petak ruang, ruang pertama, di gunakan sebagai ruang tamu, ruang tengah adalah tempat tidur mereka yang di isi kasur lipat dan lemari kecil tiga buah, sedang ruang belakang terdiri dari kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur.

Jika pintu utama di buka, maka akan tembus lurus kebelakang hingga ke dapur, untuk mensiasatinya Mereka memasang hordeng di setiap sekatnya.

Sita langsung meletakan tas dan rantang bawaannya di karpet yang menghiasi ruang tamu.

Ameliya ikut bergabung dengannya, berjalanan mengitari Sita, dan menyalakan kipas yang menempel di dinding.

Sita duduk menyandarkan tubuhnya di bawah jendela, sedang Ameliya langsung sibuk membuka rantang bawaan Sita.

Setelah berhasil membuka ketiga rantang itu, cacing di perutnya langsung meronta, meminta di beri makan.

Kruyuk ... kruyuk ...

Suara perut Ameliya terdengar hingga ketelinga Sita, "buset dah berapa hari lu kagak makan!" kelakarnya lantas segera bangkit, ingin membersihkan diri, dan mengistirahatkan tubuh sebelum mereka berangkat kerja.

"Elah, makanannya menggugah selera Ta!" Ameliya juga ikut bangkit mengikuti Sita.

Jika Sita masuk ke kamar mandi, Ameliya berhenti di dapur, "Tumben emak tanggal tua masak rendang, banyak duit kayaknya lu Ta!"

"Brisik lu, tinggal makan aja bawel!" balas Sita dari kamar mandi.

"Masak nasi dulu lah, laper banget gua sumpah!"

Ameliya lantas kembali ke ruang tamu, menunggu nasi yang dimasaknya matang.

Sita memilih merebahkan diri di kasur, perjalanan tadi cukup membuat tubuhnya lelah.

"Ta kok rasa masakannya beda?" ucap Ameliya yang masih bisa di dengar Sita.

Sita sangat paham jika Ameliya memiliki lidah yang sangat tajam, dia paham betul rasa masakan, "Di kasih temennya emak," jawab Sita, lantas memejamkan matanya.

Ameliya juga tak mengganggu Sita yang sedang istirahat, dia memilih menghangatkan kembali masakan yang di bawa oleh sahabatnya itu.

.

.

"Ta bangun, gawe oi!" Ameliya yang sudah rapih dengan seragam kerjanya yang tersembunyi di balik cardigan hitam favoritnya.

Sita dengan malas bangun, langsung menuju kamar mandi. Mereka berangkat dalam diam, Ameliya melihat ada yang aneh dengan sahabatnya itu.

Setelah sampai di Mall tempat mereka bekerja, mereka segera memasuki ruang karyawan.

"Lu napa Ta, ada masalah?"

"Kagak, enggak enak badan aja kayaknya," ucap Sita berbohong.

Panggilan rekan kerja mereka yang bernama Tari, menghentikan obrolan mereka.

"Sibuk nih, rame pelanggan," ucap Tari sedikit kesal.

Sita dan Ameliya bergegas ke counter depan, membantu Tari dan Divan.

Namun langkahnya terhenti seketika saat melihat seseorang disana.

"Mampuss!!

.

.

.

tbc.

1
N Wage
Luar biasa
Nayaka
😆😆😆😆
elvi yusfijar
keren, seperti kehidupan sehari2 ga hrs kantoran mulu,,,pokoknya recommend bgt deh
elvi yusfijar
tiba2 tamat aku terkejut ,,,, setela maraton bacanya,,,
akhir dari aida gimana thor,, bonchap dong
~Burberry
iloveyou thor 🥰
~Burberry
yukk aida bisa yukk cari laki lain yukk 😅
~Burberry
ini pilihanan mu ai ..
Vi: Semangat bacanya ka, terima kasih sudah mampir, mampir juga ya ke novelku yang lainnya🥰🙏
total 1 replies
~Burberry
rama kalo lu kaga tobat mending wassalam aja lah
~Burberry
buang aja rama .. biar jodohin sama arum
~Burberry
wahh hidup aida berwarna sekali
~Burberry
orang yg kyk bu lina ini emang menambah warna kehidupan orang yakk 😅
~Burberry
sampe seaching loh gelang keroncong itu gmn bentukannya .. apalagi beli 20 .. alamakk belum lagi disetiap jari ada 2 cincin .. panas panas 🤣
~Burberry
untung sita strong 😅
~Burberry
karma nya apa ya yg cocok buat duo medusa itu ??
~Burberry
bukannya ada bukti chat panjang kali lebar arum ke agung waktu itu?
~Burberry
bikin kesel nya dapet loh 😅
~Burberry
euleuh euleuh buah simalakama eta mah
~Burberry
arum bunga vangke😅
~Burberry
euleuh euleuh ini mah anti ceo ceo an ... top😅
~Burberry
pantes namanya aida 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!