Angan Kaina hancur ketika sosok Zidan muncul dan masuk ke kehidupannya. Imajinasi indah yang selama ini ia dambakan, hancur seketika.
Takdir mempermainkan perasaannya dengan kejam. Ia harus hidup dalam pernikahan yang tak diinginkan. Tidur satu ranjang dan berbaring bersama dengan laki-laki asing.
Setelah ia mulai bisa menerima situasinya, sekali lagi—takdir mempermainkannya. Hati nya dipatahkan, rasa percayanya dikhianati oleh orang yang selama ini ia sukai.
Sosok suami yang tak dicintai selalu ada, memberi dukungan, menyalurkan rasa aman dan nyaman. Perlahan Kaina sadar, Zidan adalah takdir dari Tuhan yang seharusnya ia cintai sepenuh hati.
Jalan hidup tak selalu mulus, seringkali lubang yang sangat dalam menyapamu di depan.
Lubang apa yang akan menyapa Kaina di masa depan?
Siapa yang akan bersama Kaina pada akhirnya?
Joshua?
Zidan?
Ataukah Hanif?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Możhe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minimarket
"Gimana kerjaan hari ini?" tanya Lazuardi pada Kaina yang sibuk bermain ponsel.
"Biasa aja."
"Ngomong-ngomong, cincin mu itu bagus." puji Lazuardi dengan motif dibaliknya. Sebenarnya dia sudah beberapa hari ini memperhatikan cincin yang tersemat di jari manis Kaina sebelah kiri itu. Tapi baru hari ini ia sempat membahasnya.
"Ya emang, kalo ngga bagus mana mungkin aku pake." seloroh Kaina masih fokus menatap layar ponselnya.
"Kapan beli?" tanya Lazuardi lagi. Ia berusaha memancing Kaina untuk buka mulut. Lazuardi sangat yakin bahwa cincin itu bukan pembelian Kaina sendiri, karena adiknya itu bukanlah orang yang menyukai perhiasan.
"Ngga beli." singkatnya.
"Terus?"
"Dikasih temen." jawab Kaina.
"Dalam rangka?"
"Buat kenangan aja." katanya.
"Yakin cuma buat kenangan? Kayaknya itu ngga murah loh." ujar Lazuardi tak berhenti membuat Kaina buka mulut untuk mengatakan yang sejujurnya.
"Iya~"
"Kenapa sih, Bang Ardi kapo banget?!" sengit Kaina.
"Abang cuma pengen tahu aja. Ngga kepo."
"Itu sama aja Bang -_-."
"Temennya cowok atau cewek yang ngasih?"
Kaina enggan menjawab pertanyaan yang dilontarkan Lazuardi, karena semakin di jawab akan semakin banyak pertanyaan menunggu di belakangnya.
"Bang berhenti!!" seru Kaina saat mobil Lazuardi melewati sebuah minimarket ternama.
"Isss, kenapa ngga bilangnya dari tadi sih, Na!" omel Lazuardi.
"Bisa bikin celaka orang tau ngga?!"
"Lupa." jawab Kaina dengan entengnya.
"Mau jajan apa lagi sih emang?"
"Beli pembalut, mau?" tanya Kaina dengan cengengesan, kemudian keluar dari mobil.
"Ngga sopan!"
Kaina masuk ke dalam minimarket, meraih keranjang belanja kemudian berjalan menuju rak pembalut dan mengambil beberapa kemudian memasukkannya ke dalam keranjang. Tak lupa tentunya ia menarik beberapa makanan ringan di rak yang ia lewati menuju kasir. Sampai tak terasa keranjang terisi penuh.
Kaina mengantri di belakang seorang laki-laki bertubuh jangkung. Pakaiannya sangat rapi dan wangi.
"Maaf Pak, sedang terjadi gangguan transaksi dengan kartu." kata kasir ketika laki-laki itu mengeluarkan credit card nya.
"Tapi saya tidak punya uang cash juga." kata laki-laki itu memberi tahu.
"Mbak, digabungkan aja sama punya saya." kata Kaina menyela, bukan bermaksud menjadi pahlawan ataupun untuk mencari perhatian bahkan pujian. Semata-mata Kaina hanya berusaha menolong dengan ketulusan.
Laki-laki itu menatap Kaina tanpa mengatakan sesuatu.
"Tolong tulis nomor rekening kamu di sini." pinta laki-laki itu ketika Kaina akan keluar dari minimarket itu.
Laki-laki itu tidak menyentuh tangan Kaina, melainkan menyentuh ujung pakaian Kaina untuk menahannya.
"Bapak tidak perlu menggantinya, saya ikhlas kok Pak"
"Itung-itung ini bentuk rasa syukur saya karena mendapat pekerjaan setelah beberapa waktu menganggur." lanjutnya.
"Mari Pak." pamit Kaina.
Begitu Kaina keluar dari minimarket, Lazuardi tampak bersiap keluar. Kemudian laki-laki itu berkacak pinggan dan siap mengomeli Kaina.
"Tadi bilangnya beli apa?"
"Pembalut." jawab Kaina.
"Terus kenapa kamu keluar dengan banyak makanan ngga sehat gitu?!" Lazuardi mengomeli Kaina seperti ibu-ibu yang sedang mengomeli anaknya yang nakal.
"Ya kan sekalian."
"Masa belinya cuma pembalut aja? Kan malu"
"Sini kasih ke Abang!" Perintah Lazuardi, dengan terpaksa dan tidak ikhlas, Kaina menyerahkan kantung belanjaannya pada kakaknya itu.
Lazuardi membagikan makanan ringan yang Kaina beli pada orang-orang yang kebetulan berada di luar minimarket.
"Bang, sisain satu lah!" rengek Kaina.
"Bang~~~"
Teracuhkan.
Kaina kesal, ia menunjukkan bibir manyunnya dan enggan menatap Lazuardi.
"Dosa kalo marah sama, Abang." ucap Lazuardi di tengah perjalanan pulang.
Tidak ada tanggapan dari Kaina. Gadis itu benar-benar sedang ngambek dengan kakaknya.
mampir juga yuk ke karyaku Human's Adventure & Preman Cantik 🤗
mampir juga yuk di Kisah Cinta Syakila
aku tunggu