NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Nona Shanum

Penjaga Hati Nona Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.

Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.

Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.

Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernyataan Defensif Aran

Suasana di lantai basement B2 Al-Maktoum Group terasa sepi dan dingin. Dengung dari ruang generator raksasa menyamarkan setiap suara langkah kaki. Setelah memastikan Shanum naik ke lantai paling atas dikawal oleh petugas keamanan internal, Aran kembali ke area bawah tanah. Insting tempurnya—yang diasah lewat puluhan misi berdarah—memberitahu bahwa pendar cahaya dari atap gedung seberang tadi pagi bukanlah sekadar ilusi.

Aran melangkah tanpa suara di antara pilar-pilar beton yang memanjangkan bayangan hitam. Matanya memindai setiap sudut mati area utilitas, tempat yang paling ideal untuk menanam alat peretas atau pengintai.

Tepat di balik panel listrik utama, seorang pria berseragam teknisi gedung sedang berlutut, jemarinya cekatan memasang sebuah kamera transmisi mikro berukuran sekecil biji kacang.

Aran bergerak seperti hantu. Tanpa helaan napas, tanpa derap sepatu.

Sebelum teknisi gadungan itu sempat menyadari kehadiran orang lain, lengan kekar Aran sudah mengunci leher pria itu dari belakang dalam jeratan yang mematikan. Pria itu bertindak refleks, mencoba meraih pisau lipat di pinggangnya, namun Aran dengan presisi tinggi memutar pergelangan tangan musuh hingga terdengar bunyi krak halus. Pisau itu jatuh ke lantai tanpa suara.

Dalam waktu kurang dari lima detik, penyusup dari faksi liar Viper-4 itu terkulai lemas, kehilangan kesadaran akibat suplai oksigen ke otaknya yang terpotong sementara.

Aran mengambil kamera mikro serta alat komunikasi kecil yang terselip di telinga penyusup tersebut. Dengan tenang, Aran merogoh ponsel khususnya dan menghubungi kepala keamanan internal kepercayaan Rasyid Al-Maktoum.

"Area B2, balik panel listrik empat. Ada sampah yang harus dibersihkan secara senyap," bisik Aran datar, suaranya sedingin es. "Jangan ada satu pun staf kantor atau Mbak Shanum yang tahu soal ini."

"Diterima, Mas Aran. Tim meluncur," jawab suara di seberang.

Aran menyimpan alat komunikasi penyusup itu di saku jasnya, merapikan kemeja abu-abunya yang sedikit kusut, lalu melangkah menuju lift eksekutif dengan wajah netral—seolah baru saja selesai menyeduh cangkir teh.

Di ruang kerja CEO lantai atas, suasana jauh lebih hangat. Shanum baru saja menyelesaikan rapat koordinasi secara daring dengan jajaran direksi. Layar laptopnya sudah ditutup, dan kini wanita itu sedang meregangkan otot-otot lehernya yang kaku.

Mata Shanum melirik ke arah sofa tamu di sudut ruangan. Aran duduk di sana dengan posisi tegap, mematuhi jarak dua meter dari meja kerja Shanum. Namun, ada satu hal ganjil yang menarik perhatian sang CEO.

Pria yang biasanya memegang senjata api atau memindai sudut ruangan dengan pandangan mengancam itu, kini sedang memegang sebuah buku saku kecil bercover hijau pudar. Matanya meneliti lembar demi lembar buku itu dengan dahi berkerut amat serius—seolah sedang memecahkan sandi enkripsi tingkat tinggi milik militer.

Shanum berdiri perlahan, melangkah tanpa suara mendekati sofa. Rasa penasarannya memuncak.

Saat Shanum berada tepat di samping sofa, ia menunduk dan membaca judul di sampul buku kecil tersebut: Buku Panduan Dasar Belajar Membaca Al-Qur'an.

Aran yang baru menyadari jarak mereka mendadak tersentak. Untuk pertama kalinya, refleks tempur Aran gagal mendeteksi gerakan manusia. Dengan gerakan terburu-buru yang teramat canggung, Aran menutup buku itu dan berniat menyimpannya ke saku dalam jasnya.

"T-tunggu dulu!" cegah Shanum cepat, menyilangkan tangan di dada dengan senyum jahil yang merekah lebar di wajah cantiknya. "Apa yang Kamu sembunyikan? Saya tidak salah lihat, kan? Seorang pengawal berdarah dingin Ardebaran sedang belajar Alif-Ba-Ta?"

Aran berdehem keras, menyuntikkan raut wajah sesepuh yang tenang untuk menutupi rasa malu yang luar biasa. Pipi pria itu mendadak menunjukkan rona hangat yang samar sampai ke ujung telinganya.

"Ini... ini hanya bagian dari analisis literatur, Mbak Shanum," alibi Aran kaku, suaranya yang biasa teratur kini terdengar sedikit tersendat. "Saya ingin memahami struktur bahasa dan simbolis yang digunakan oleh masyarakat pesantren. Agar... pengawasan taktis saya lebih komprehensif."

Shanum tak sanggup lagi menahan tawa. Tawa renyah dan lepas meledak dari mulut sang CEO muda, memecahkan keheningan ruang kerja yang biasanya formal.

"Analisis literatur?!" goda Shanum dengan mata berbinar jenaka. "Aran, itu buku Iqro anak-anak yang biasa dipakai santri cilik di Pesantren Al-Ikhlas! Mau bilang analisis literatur sampai bersilat kata bagaimana pun, alasanmu tidak masuk akal!"

Aran menunduk menatap buku kecil di tangannya, lalu menatap Shanum kembali dengan pasrah. Tembok pertahanan dinginnya runtuh total di hadapan tawa Shanum.

"Nasihat Anda kemarin di mobil..." tutur Aran pelan, intonasinya kembali manusiawi dan jujur. "Anda bilang, kalau saya mau memahami ketenangan yang dimiliki orang-orang di pesantren, saya harus mulai mengenal apa yang mereka baca. Jadi... Kyai Syahuri memberikan buku ini sebelum saya berangkat ke Jakarta."

Shanum menghentikan tawanya. Hatinya tersentuh oleh kejujuran polos yang memancar dari mata kelam Aran. Rasa kagum yang hangat menyelusup di dada Shanum. Pria di hadapannya benar-benar sedang berusaha keluar dari kegelapan masa lalunya, merangkak perlahan menuju cahaya.

Namun, gengsi dan sifat jahil Shanum tentu saja tidak membiarkan momen haru itu bertahan terlalu lama.

Shanum menopang dagu dengan satu tangan, menatap Aran dengan pandangan menggoda yang makin menjadi-jadi. "Jujur sama saya, Aran... Kamu serius belajar ini murni karena mau kenal Tuhan, atau karena ketakutan setengah mati waktu saya bilang Ning Layla tidak suka pria yang tidak bisa mengaji?"

Aran tertegun. Pria kekar itu membuang pandangannya ke samping, menggenggam buku Iqro-nya sedikit lebih erat.

"Dua-duanya memiliki porsi kalkulasi yang seimbang, Mbak Shanum," sahut Aran datar, berusaha mati-matian mempertahankan sisa-sisa wibawanya meski mukanya sudah memerah padam.

"Tuh, kan! Tentu saja ada faktor Ning Layla!" ledek Shanum girang seraya menepuk tangannya sekali. "Ternyata es batu yang tidak mempan ditembus peluru ini bisa luluh juga sama bayangan Ning cantik dari pesantren!"

"Mbak Shanum, tolong jaga volume suara Anda. Ini masih di area kantor," potong Aran canggung, yang justru membuat Shanum semakin tertawa geli.

"Baik, baik!" ujar Shanum seraya mengusap sudut matanya yang berair karena terlalu banyak tertawa. Shanum lalu menarik kursi di dekat sofa, duduk berhadapan dengan Aran tanpa jarak dua meter yang kaku.

"Kalau kamu bingung dengan bentuk huruf-huruf di buku itu, tanya saja sama saya," kata Shanum lembut, nada bicaranya melembut hangat tanpa ada sekat antara atasan dan bawahan. "Anggap saja ini balasan untuk teh pahit dua puluh dua derajat Celsius racikanmu setiap pagi."

Aran menatap Shanum. Ada kehangatan tulus yang terpancar dari senyuman wanita itu—sebuah kehangatan persahabatan yang belum pernah Aran rasakan sepanjang hidupnya.

"Terima kasih, Mbak Shanum," bisik Aran tulus. "Atas bantuannya... dan atas tidak melaporkan rasa malu saya hari ini pada Pak Rasyid."

"Rahasiamu aman dengan saya, Pengawal," balas Shanum seraya terkekeh tipis.

Malam harinya, suasana Jakarta dinaungi mendung tebal. Shanum sudah berada di dalam ruang istirahat pribadi di belakang kantornya untuk menyelesaikan beberapa dokumen akhir, sementara Aran berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke luar.

Ruangan itu hening, hanya diisi oleh suara gesekan pulpen Shanum dan ketukan gerimis pertama yang menabrak kaca luar.

Tiba-tiba, di dalam saku jas Aran, alat komunikasi mikro milik penyusup Viper-4 yang disitanya tadi siang bergetar halus secara konstan.

Aran merogoh sakunya, menempelkan penerima suara mikro itu ke telinganya tanpa menimbulkan gerakan mencolok. Dari balik frekuensi radio terenkripsi yang berderit tipis, sebuah suara dingin berbasis pengubah suara terdengar membisikkan kode morse dan pesan singkat:

PROSES PENELUSURAN SELESAI. VIPER-1 TERIDENTIFIKASI DI LANTAI ATAS AL-MAKTOUM. TARGET WANITA TERLACAK. EKSEKUSI TAHAP DUA DILAKSANAKAN BESOK MALAM.

Mata Aran memicing tajam. Aura sejuk manusiawi yang tadi siang menyelimutinya mendadak lenyap tanpa bekas. Sosok pembunuh bayaran tingkat tinggi Viper-1 kembali bangkit di dalam dirinya. Faksi liar tidak lagi sekadar mengintai; mereka sudah bersiap melancarkan serangan berdarah untuk menghabisi Shanum dan dirinya sekaligus.

Aran perlahan membalikkan badan. Matanya menatap Shanum yang sedang fokus bekerja di mejanya, sesekali menyempatkan diri menyeruput teh pahit dingin dengan wajah tenang. Shanum terlihat begitu aman, begitu percaya bahwa pengawalnya akan selalu mampu menahan segala badai di luar sana.

Aran menyunggingkan senyum tipis—sebuah janji sunyi yang terukir di dalam hatinya.

Kalian boleh memburu saya, batin Aran dingin seraya mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Tapi siapa pun yang mencoba menyentuh wanita ini dan kedamaian yang baru saya temukan... akan saya pastikan tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi.

1
Alia Chans
keren😉/Smile/
saling support sabi kali thor🤭
Alnilam Mintaka: bisa banget bang .. makasih udah mampir yakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!