"Aku melakukan semua ini hanya untuk menguji cintanya. Apa dia dapat bertahan dengan aku yang penderita kanker dan miskin. Kalau tidak dapat bertahan, itu artinya dia tidak tulus. Dan tidak pantas memasuki keluarga Wiguna."
Felicia tertegun mendengar percakapan kekasihnya dengan teman-temannya. Dirinya melakukan dua pekerjaan sekaligus, hanya untuk mengobati kekasihnya yang menderita kanker. Hampir setiap hari memakan mie instan hingga sempat mengalami radang usus.
Tapi dua tahun itu hanya pengujian cinta?
Nona muda yang kabur dari perjodohan hanya untuk kekasihnya ini. Ternyata cintanya dianggap begitu murahan.
Dalam keputusasaan, Felicia mengemasi barang-barangnya. Memalsukan kematiannya agar tuan muda keluarga Wiguna tidak mencarinya lagi.
Dirinya menghubungi keluarganya, untuk pertama kalinya setelah 2 tahun.
"Ayah, aku bersedia menikah dengan Gabriel."
Wanita yang berkemas, akan ada saatnya meninggalkan segalanya.
"A...aku tidak akan mencintainya lagi..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuduhan
Ini sungguh pengujian cinta yang kejam. Felicia menatap ke arah kakaknya, wanita itu tersenyum memberikan segelas minuman. Sedangkan Gabriel menatapnya bagaikan mendamba.
Felicia sedikit mendekat dan berucap.”Kakak, ingat! Sementara waktu hanya boleh menonton dan tidak boleh terlibat. Nanti kalau sudah saatnya, ungkapkan semua bukti. Tapi cemooh pria itu, agar tidak jadi melamar kekasihnya.”
Wanita berpakaian pelayan itu segera melangkah menjauh. Sementara Gabriel kembali menikmati minumannya.”Ini terlalu lama, setelah pesta ini berakhir. Aku akan meningkatkan level permainan. Hingga ke fase pembunuhan…”
***
Romi tidak mengetahui pengujian cinta macam apa yang akan dilakukan oleh Citra lagi. Dirinya hanya menghabiskan waktu dengan teman-temannya.
Sementara perlahan Citra melangkah, wanita yang keluar dari area ballroom. Kemudian mendekati tempat penyimpanan barang bagi orang-orang yang dipekerjakan pada saat pesta ini.
Mencari barang milik Felicia bukanlah hal yang sulit. Hanya tinggal mencari tas, yang ada gantungan kunci berbentuk boneka beruang berwarna coklat. Tas yang cukup mudah dikenali oleh Citra, pasalnya wanita itu selalu menggunakannya kemanapun jika tengah bekerja.
Kalung berlian dimasukkan oleh Citra ke dalam tas. Wajahnya tersenyum, siapa yang akan tahan jika dianggap sebagai pencuri?
Mungkin itulah yang ada dalam anggapannya. Meninggalkan kalung berlian di dalam tas Felicia.
“Dasar miskin, kamu harus merasakan bagaimana rasanya pem-bully-an kalangan atas. Kalau kamu masih tidak tahu diri juga dan mendekati Romi. Maka aku akan berbuat lebih buruk dari ini.” Citra yang sejatinya ingin membuat wanita itu menyerah.
Wanita yang kembali memasuki area ballroom. Kemudian dengan sengaja berkeliaran di dekat Felicia.
“Felicia, Bagaimana rasanya menjadi seorang pelayan? Kamu harus ingat untuk bekerja dengan baik. Barulah bisa mendapatkan bayaran yang tinggi. Sementara aku bisa bersenang-senang dengan Romi.” Kalimat demi kalimat yang diucapkannya dengan sengaja kepada Felicia.
“Romi sangat mencintaiku…” wanita itu hanya menunduk tidak mengatakan apapun.
“Bagaimana kalau kita taruhan…nanti Romi akan lebih percaya padamu atau percaya padaku. Nanti Romi akan membelaku atau membelamu. Maukah Romi menyatakan statusnya sebagai kekasihmu di pesta ini hanya untuk melindungimu?” Wanita itu tersenyum, menghela nafas kasar.
“Jika Romi lebih membelamu, maka aku yang akan mundur. Tapi jika Romi membelaku, lebih baik wanita seperti melenyap saja.” Citra kemudian melangkah meninggalkan wanita ini.
Felicia hanya menunduk bagaikan seorang wanita yang tidak berdaya. Bibirnya terkatup wajahnya terlihat benar-benar tertekan.
Romi mengamati dari jauh tapi tidak mengetahui apa yang dikatakan oleh Citra kepada kekasihnya. Tapi yang jelas, semuanya hanya pengujian bukan? Untuk menjadi nyonya Wiguna, dan memasuki kalangan atas, Felicia harus rela berkorban deminya.
Beberapa menit berlalu setelah pesta dimulai. Suara teriakan dan tangisan tiba-tiba terdengar. Mengalihkan pandangan semua tamu undangan.
“It’s show time…”
“It's show time…”
Felicia dan Gabriel tidak berada di lokasi yang sama namun berucap hal yang serupa. Setelah mendengarkan teriakan dan tangisan dari seorang wanita.
Diam-diam Felicia tersenyum. Dalam rencana balas dendamnya inilah rencana inti. Rencana dimana dirinya akan membuat semua orang yang membullynya akan merasa bersalah sampai mati.
“Kalungku hilang!” Suara teriakan dan tangisan dari Citra Kirana.
Wanita yang terisak bagaikan merasa ketakutan akan segalanya. Kedua orang tuanya bahkan menenangkannya.
“Coba kamu ingat-ingat. Siapa tahu kalungmu terjatuh.” Kalimat yang diucapkan oleh Jovie pada putrinya.
“Tidak mungkin kalung itu terjatuh. Pengaitnya sudah terpasang dengan kuat, bahkan aku baru saja memperbaharui pengaitnya. Ayah, kamu memberikan itu sebagai hadiah untukku. Harganya bahkan mencapai 600 juta rupiah…” Citra meninggikan nada bicaranya, sengaja menangis dengan keras agar semua orang mendengar harga kalung yang digunakan olehnya.
Semua orang yang ada di tempat pesta cukup terkejut. Nilai kalung yang begitu besar, mencapai 600 juta rupiah.
“Tolong semahal itu hilang. Sudah pasti ada yang mencurinya.”
“Gila! Harganya setara dengan dua rumah di pinggir kota.”
“Andai saja aku bisa seperti Nona Citra memiliki kalung bernilai tinggi seperti itu.”
Itulah yang diucapkan oleh orang-orang yang hadir di tempat ini.
Sedangkan Felicia hanya mengangkat sebelah alisnya. Dirinya pernah hidup benar-benar miskin hanya dapat makan mie instan. Jadi cukup mengetahui nilai uang.
Tapi sebagai Felicia Gunawan, yang uang jajan harian dari kakaknya saja. Maaf salah, nafkah dari kakaknya saja mencapai 230 juta. Kalung seperti itu dapat dibeli dengan mudah.
Lagi pula, setiap perjalanan bisnis ayah dan kakaknya memang sering memberikan perhiasan dengan harga yang lebih tinggi. Perhiasan senilai 600 juta bukanlah hal yang mahal baginya.
Gabriel mengangkat sebelah alisnya, matanya melirik ke arah Felicia. Serius adiknya dituduh mencuri kalung yang tidak mahal?
“Kalung milikku pasti dicuri! Sudah pasti kalung milikku dicuri.” Suara teriakan dan tangisan Citra menggema.
“Lebay…” Felicia berucap dengan suara kecil.
Tapi semua orang yang ada di tempat ini memang terlihat dalam kepanikan. Hingga pada akhirnya security hotel memasuki ruangan.
“Ada apa?” Tanya salah satu dari dua orang security kepada Jovie.
“Anak saya kehilangan kalungnya. Kalung itu bernilai sangat tinggi, 625 juta lebih tepatnya. Saya membelinya dari desainer ternama di Perancis.” Jovie menekankan kata-katanya.
“Kami akan segera melakukan penggeledahan. Tapi sebelum itu semuanya harus atas izin dari bapak dan tamu-tamu yang hadir di tempat ini.” Itulah yang diucapkan oleh sang security.
“Tamu-tamu undangan yang hadir adalah rekan-rekan bisnis saya. Semuanya tidak mungkin mencuri dan keberatan akan digeledah. Tapi sebelum itu saya ingin mengutamakan agar pelayan dan petugas keamanan yang hadir yang digeledah terlebih dahulu. Baru mulai menggeledah para tamu.” Itulah yang diucapkan oleh Jovie memeluk putrinya yang menangis sesegukan.
Benar saja semua orang digeledah satu persatu. Dimulai dari para pelayan yang hadir di perjamuan.
Hingga salah satu security yang menggeledah barang-barang yang dibawa oleh para pelayan di ruangan lain, pada akhirnya menemukan kalung berlian itu. Tas beserta kalung di bawah ke ruang perjamuan.
“Ini tas milik siapa!?” Suara bentakan dari sang security.
Romi membulatkan matanya, bukankah itu tas milik Felicia. Gantungan kunci beruang berwarna coklat yang diingat olehnya. Felicia selalu mengatakan bahwa itu adalah hadiah pemberian dari kakaknya.
“Mi…milikku.” Felicia bagaikan ragu untuk berucap.”Tapi aku benar-benar tidak mencuri…”
“Tidak mencuri!? Buktinya sudah ada jelas di dalam tasmu! Mana mungkin kamu tidak mencuri! Pantas saja kamu berkeliaran di sekitarku, Felicia! Aku sudah menganggapmu sebagai temanku. Aku bahkan menawarkan pekerjaan ini padamu! Tapi tega-teganya Kamu mencuri kalung milikku!” Suara teriakan dengan air mata yang mengalir begitu indah.
Citra menuding ke arah Felicia. Bagaikan wanita itu yang benar-benar sudah mencuri kalungnya.
Romi mengepalkan tangannya. Bukankah ini adalah pembuktian cinta yang keterlaluan? Felicia akan dipermalukan di depan umum. Perlahan Romi melangkah maju, pemuda yang tidak melepaskan topengnya.
Dirinya kemudian berucap…
saya yg tegang