Hanya sebuah kisah tentang seorang remaja laki-laki bernama Jasver Alistair yang akhirnya merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta untuk pertama kali setelah enam belas tahun hidup di dunia. Di sekolah, Jasver dikenal sebagai playboy kelas kakap. Bukan karena ia gemar mengejar perempuan, melainkan karena setiap gadis yang menyatakan perasaan kepadanya selalu ia terima tanpa banyak berpikir. Hidupnya berjalan baik-baik saja hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis dari sekolah yang sama. Gadis itu menatap Jasver seolah sedang melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. Sejak pertemuan yang tidak disengaja itu, takdir seakan terus mempertemukan mereka. Dan tanpa Jasver sadari, gadis yang selalu memasang wajah dingin itu perlahan menjadi alasan mengapa seorang playboy kelas kakap akhirnya mengenal arti cinta untuk pertama kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5
Pagi hari di sekolah selalu memiliki aroma yang khas. Perpaduan antara wangi lantai yang baru di pel, embun yang menguap dari lapangan rumput, dan riuh rendah tawa murid-murid yang baru datang. Namun bagi Jasver, pagi ini beraroma bahaya.
Ia berjalan di koridor lantai dua bersama Ren dan Bumi. Sejak turun dari transportasi umum tadi, Ren tidak berhenti bersenandung jahil sambil menyenggol-nyenggol bahu Bumi. "Duh, yang semalam tidurnya nyenyak banget habis di chat tuan putri kepang satu," goda Ren dengan nada berbisik yang sengaja dikeraskan.
"Berisik, Ren," sahut Bumi tenang, meski daun telinganya sedikit memerah.
"Halah, sok tenang lo! Bilang aja dalam hati lo lagi jedag-jedug–"
"Ren, diem!" Jasver tiba-tiba menarik kerah seragam Ren dari belakang dengan kasar, membuat langkah cowok bermulut ember itu terhenti seketika.
"Apaan sih, Ver? Lepas, lecek nih baju gue!" protes Ren.
"Lihat ke depan, bego!" desis Jasver panik, matanya melotot menatap ujung koridor.
Di depan sana, sekitar sepuluh meter dari mereka, dua orang siswi sedang berjalan bersisian menuju kelas X-A. Yang satu berambut panjang terurai dengan tas pastel, pacar Jasver. Dan yang satu lagi memiliki rambut kucir ekor kuda yang rapi dengan tas hitam, Aery. Mereka tampak asyik mengobrol, bahkan sesekali tertawa kecil bersama.
"Waduh," gumam Ren, mendadak sadar situasi. Dia melirik Jasver, lalu melirik Bumi dengan cengiran lebar. "Wah, komplotan rahasia lo lagi reuni, Ver."
Sebelum Jasver sempat berbalik arah untuk kabur, pacarnya rupanya sudah menyadari kehadiran mereka.
"Jasver! Bumi!" panggil pacarnya sambil melambaikan tangan ceria, lalu mempercepat langkahnya menghampiri mereka. Aery menyusul di belakangnya dengan langkah yang lebih anggun.
Jasver terpaksa memasang senyum paling manis yang sebenarnya terlihat seperti orang sedang menahan sakit gigi. "Eh... hai, Sayang. Pagi banget datengnya?"
"Iya, soalnya mau piket kelas," jawab pacarnya riang.
Di sebelah pacarnya, Aery berdiri dengan tenang. Matanya menyapu ketiga cowok itu satu per satu. Saat tatapannya mendarat pada Bumi, seulas senyum tipis yang sangat lembut terukir di wajahnya. "Pagi, Bumi," sapa Aery lirih.
"Pagi, Ry," balas Bumi ramah, lengkap dengan senyuman hangatnya.
Ren yang melihat interaksi singkat itu langsung menyikut pinggang Bumi berkali-kali di balik punggung Jasver, menahan tawa jahilnya agar tidak meledak di depan pacar temannya itu.
Sementara itu, mata Aery beralih menatap Jasver. Dalam sekejap, senyuman manisnya tadi menguap, digantikan oleh tatapan dingin dan sedikit geli yang biasa dia berikan pada cowok ceroboh itu. Pandangan Aery turun perlahan, sengaja menatap ponsel yang sedang digenggam erat oleh Jasver.
Di balik softcase transparan ponsel Jasver, kini benar-benar kosong melompong. Aery kemudian meraba saku rok seragamnya sendiri, memastikan PC hologram "jarahan"-nya aman di sana, lalu kembali menatap Jasver dengan tatapan penuh kemenangan.
"Loh, Ry," pacar Jasver mendadak menyadari sesuatu, menatap Aery dengan heran. "Lo kenapa senyum-senyum lihat HP-nya Jasver?"
Detak jantung Jasver rasanya langsung berhenti berdetak selama beberapa detik. Dia menatap Aery dengan tatapan memohon yang amat sangat, seolah berkata: 'Gue mohon, tolong jangan sebut soal PC hologram itu!'
Aery diam sesaat, sengaja menjeda jawabannya untuk menikmati kepanikan di wajah Jasver yang kini sudah pucat pasi. "Engga," jawab Aery akhirnya, suaranya terdengar sangat santai. "Cuma ngerasa... case HP cowok kamu hari ini kelihatan bersih banget. Ngga rame kayak kemarin-kemarin."
Pacar Jasver menoleh ke arah ponsel pacarnya, lalu mengangguk-angguk setuju. "Oh, iya juga ya! Akhirnya lo copot juga ya, Ver, kartu anime aneh lo itu? Bagus deh, kemarin-kemarin norak banget tau ngga keliatannya."
Jasver hanya bisa tersenyum kecut, hatinya menjerit menangis darah mendengar koleksi berharganya disebut norak, sekaligus harus berterima kasih karena Aery tidak membongkar rahasianya. "I-iya... bosen aja polosan gini ternyata lebih estetik," sahut Jasver dengan suara yang agak bergetar.
Ren yang sudah tidak tahan lagi langsung menepuk pundak Jasver keras-keras. "Iya, bener! Estetik banget! Seestetik dompetnya yang langsung kempes!"
Sebelum pacar Jasver sempat bertanya lebih jauh tentang maksud ucapan Ren, bel masuk sekolah berbunyi dengan nyaring, menyelamatkan Jasver dari interogasi lebih lanjut. "Eh, udah bel. Kami masuk kelas dulu ya, guys!" pamit pacar Jasver. "Yuk, Ry!"
Aery mengangguk, lalu berbalik menyusul pacar Jasver. Namun, sebelum benar-benar menjauh, dia sempat menoleh sekilas ke arah Bumi, memberikan lambaian tangan kecil yang sangat manis, mengabaikan Jasver yang masih mengelus dadanya karena hampir terkena serangan jantung.
"Sumpah..." desis Jasver dengan napas terengah-engah. "Gue mending disuruh lari keliling lapangan bola sepuluh kali daripada harus berdiri diantara mereka berdua lagi."
Ren tertawa puas sambil merangkul leher Jasver. "Nikmatin aja, Bro. Ini baru hari pertama asuransi pacaran lo berjalan!"
♧♧♧
Suasana kelas kelas X-E siang itu cukup bising karena guru mata pelajaran sejarah berhalangan hadir dan hanya meninggalkan tugas merangkum. Sebagian murid memanfaatkan momen ini untuk tidur berbantalkan tas, sementara yang lain, seperti Ren, asyik bergosip di pojok kelas.
Jasver sendiri sedang mencoret-coret buku tulisnya dengan gusar, masih meratapi nasibnya yang hampir terkena serangan jantung tadi pagi. Sementara itu, Bumi duduk tenang di kursinya. Tugas merangkumnya sudah selesai sejak sepuluh menit yang lalu. Cowok itu menatap layar ponselnya yang menyala, menampilkan kolom obrolannya dengan Aery yang terakhir kali aktif semalam.
Ibu jari Bumi mengetik beberapa kata dengan cepat, menghapusnya sekali karena merasa terlalu formal, lalu mengetik ulang kalimat yang lebih santai.
Bumi: Nanti jam istirahat sibuk? Mau makan siang bareng di kantin belakang?
Setelah menekan tombol kirim, Bumi meletakkan ponselnya di atas meja. Biasanya, dia bukan tipe orang yang suka menunggu balasan pesan dengan tidak sabar. Namun hari ini, matanya sesekali melirik layar yang masih gelap itu.
Hanya butuh waktu kurang dari dua menit sampai ponselnya bergetar pelan.
Aery Brooklyn: Boleh. Tapi jangan di kantin utama, ya. Di sana rame banget. Di gazebo dekat perpustakaan aja gimana? Aku sekalian mau balikin sisa buku kemarin.
Sudut bibir Bumi otomatis terangkat membaca balasan itu. Ternyata, selain karena tidak suka keramaian, Aery tampaknya cukup peka untuk menghindari kantin utama agar mereka tidak sengaja bergabung dengan pacar Jasver, yang bisa berujung membuat Jasver jantungan lagi.
Bumi: Oke, deal. Aku yang beli minumannya, kamu mau es teh manis juga?
Aery Brooklyn: Boleh. Makasih ya, Bumi.
Bumi tersenyum tipis, lalu mengunci ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku celana hitamnya.
"Ekhem."
Suara dehaman yang dibuat-buat berat itu membuat Bumi menoleh. Jasver rupanya sudah memperhatikan gerak-gerik Bumi sejak tadi. Cowok jangkung itu menatap Bumi dengan mata menyipit penuh kecurigaan.
"Senyum lo makin mencurigakan dari hari ke hari, Bum," selidik Jasver pelan, agar suaranya tidak terdengar sampai ke barisan depan kelas. "Lo... ngga lagi merencanakan konspirasi baru sama si kepang satu–eh, maksutnya kucir satu, kan?"
Bumi hanya menaikkan sebelah alisnya dengan wajah super lempeng. "Engga. Cuma janjian makan siang."
Mendengar kata "makan siang", kepala Ren yang tadinya bersandar di meja sebelah langsung tegak dengan kecepatan cahaya. "Hah?! Janjian makan siang sama siapa? Aery?!"
"Sstt! Pelanin suara lo, bego!" Jasver refleks membekap mulut Ren dengan telapak tangannya, membuat Ren meronta-ronta kesal. Setelah memastikan tidak ada anak kelas lain yang memperhatikan mereka, Jasver melepas bekapannya dan menatap Bumi dengan histeris. "Bum! Serius lo?! Lo mau makan siang bareng dia?"
"Iya," jawab Bumi santai tanpa beban. "Di gazebo dekat perpus."
Jasver langsung mengembuskan napas lega yang amat sangat panjang, tangannya mengelus dadanya sendiri. "Oh... untung di perpus. Bagus deh, jauh-jauh dari kantin utama. Setidaknya pacar gue ngga bakal liat kalian berdua."
Ren mengusap sisa bekas tangan Jasver di mulutnya sambil mencibir geli. "Cih, dasar bucin penakut. Tapi keren juga lo, Bum. Belum ada seminggu kenal udah bisa ngajak jalan bareng–eh, makan bareng maksudnya. Pelet lo jenis apa, sih?"
"Ngga pakai pelet, Ren. Cukup pakai komunikasi yang baik," sahut Bumi tenang seraya berdiri dari kursinya begitu mendengar bel tanda istirahat kedua mulai berdentang nyaring di koridor.
Bumi menepuk pundak Jasver yang masih tampak trauma. "Gue duluan ya, Ver. Titip absen kalau nanti guru jam berikutnya masuk duluan."
"Iya, iya! Sana pergi! Yang penting rahasia gue aman!" usir Jasver sambil kibas-kibas tangan, meski matanya tetap menatap punggung Bumi yang berjalan keluar kelas dengan perasaan campur aduk antara heran, iri, dan lega.
Sambil melangkah menyusuri koridor yang mulai ramai oleh murid-murid yang kelaparan, Bumi berjalan menuju koperasi sekolah untuk membeli dua cup es teh manis segar, bersiap menemui gadis berkucir ekor kuda yang sudah menunggunya di sudut sekolah yang cukup sunyi.
♧♧♧
"Ver, cepetan dikit langkah lo. Keburu antrean batagornya mengular sampai gerbang depan," gerutu Ren sambil menarik lengan seragam Jasver yang jalannya lambat seperti siput.
Mereka berdua sedang berjalan menyusuri koridor lantai satu menuju kantin utama. Namun, fokus Jasver jelas tidak pada urusan perut. Matanya sesekali melirik ke arah jendela luar koridor, menembus lapangan tengah yang langsung mengarah pada perpustakaan tua yang jalurnya berlawanan dari kantin.
"Ren," panggil Jasver pelan, dahinya berkerut.
"Apa lagi? Jangan bilang lo mau meratapi PC lo lagi, ya. Bosen gue dengernya."
"Bukan, bego," desis Jasver. "Gue cuma... kepikiran aja. Si Bumi sama Aery lagi ngapain ya di gazebo perpus? Maksud gue, mereka kan baru kenal kemarin lusa. Kok bisa-bisanya langsung seakrab itu sampai makan siang berdua?"
Ren menghentikan langkahnya, menatap Jasver dengan tatapan tidak percaya yang bercampur geli. "Astaga, Jasver. Lo kepo? Atau... lo cemburu?"
"Sialan, ya kagak lah! Gue cuma heran aja," sanggah Jasver cepat, wajahnya agak memerah.
Belum sempat Ren membalas dengan ledekan yang lebih parah, sebuah suara cempreng yang familier mendadak memotong obrolan mereka dari arah belakang.
"Jasver!"
Jasver refleks menegakkan punggungnya. Ketika dirinya berbalik, sosok Clara sedang berjalan menghampiri mereka dengan senyum lebar. "Eh, Clara sayang," sapa Jasver, langsung otomatis mengubah mode wajahnya menjadi pacar yang ramah dan siaga. "Mau ke kantin juga?"
"Iyalah, tadi aku ke kelas kamu tapi kata anak kelas, kamu udah turun," ucap Clara sambil melangkah alami ke sisi Jasver, langsung menggandeng lengan cowok itu dengan santai. Dia kemudian menoleh ke arah Ren. "Eh, ada Ren juga. Bumi mana? Kan biasanya kalian bertiga mulu kayak Upin Ipin."
Ren menggaruk rambutnya. "Sejak kapan Upin Ipin bertiga?"
"Ah, itu... Bumi lagi..." Jasver mendadak gagap, otaknya langsung blank.
Ren yang dasarnya cepat tanggap langsung menyambar dengan cengiran tanpa dosa. "Bumi lagi ada urusan spiritual di perpus, Cla. Biasa, anak rajin mau baca buku. Yaudah yuk, ke kantin!"
Clara hanya mengangguk-angguk percaya tanpa curiga sedikitpun. "Oh, pantesan. Yaudah, yuk."
Namun, baru saja mereka berjalan beberapa langkah menuju koridor kantin, Ren tiba-tiba menghentikan langkahnya sendiri. Dia melihat tangan Clara yang masih menggandeng lengan Jasver dengan erat, lalu melirik wajah Jasver yang sekarang sudah pasrah menerima nasib.
Ren berdeham keras, memasang wajah penuh arti. "Eh, bentar deh. Gue baru inget kalo ada janji sama anak-anak kelas sebelah mau mabar bentar sambil nunggu batagor."
Jasver langsung melotot ke arah Ren, memberi kode keras lewat matanya: 'Jangan tinggalin gue, kampret!'
Bukannya takut, Ren justru mengedipkan sebelah matanya jail. "Gue misah dulu ya, Cla. Ogah gue jalan bertiga, berasa jadi nyamuk diantara orang pacaran. Dah, Ver! Selamat menikmati makan siang estetik lo!"
"Eh, Ren! Gapapa bareng aja!" Clara mencoba menahan, tapi Ren sudah berbalik arah dan setengah berlari menuju kerumunan kantin dengan tawa tertahan yang sangat menyebalkan di telinga Jasver.
Jasver hanya bisa mengembuskan napas pasrah dalam hati, meratapi nasibnya yang ditinggal kabur oleh kedua sahabatnya. Sekarang, dirinya hanya berdua dengan Clara. Di satu sisi dia senang bisa pacaran, tapi di sisi lain, matanya tetap tidak bisa berhenti melirik ke arah koridor sunyi yang menuju ke gazebo perpustakaan. Tempat dimana cewek yang memegang kartu as nya sedang duduk berdua dengan Bumi saat ini.