NovelToon NovelToon
Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Keluarga Chandra membuang Lukas dengan alasan ia miskin dan tidak beruntung, tanpa tahu bahwa selama ini mereka menutupi jejak identitas aslinya yang sesungguhnya. Saat Lukas sudah tak punya tempat tujuan, Kirana datang—bukan untuk memberi belas kasihan, melainkan untuk mencarinya. Sebagai CEO yang sedang menyelidiki persaingan bisnis kotor, Kirana tahu Lukas adalah kunci dari semua misteri yang terjadi di lingkaran elit.

Pernikahan mereka adalah topeng untuk menyusup ke dalam rahasia besar. Di sela-sela kehidupan mewah yang tak pernah ia miliki, Lukas mulai menemukan fakta mengejutkan: pengusirannya dari rumah bukan sekadar karena ia miskin, melainkan upaya untuk menyembunyikan warisan besar yang seharusnya menjadi miliknya. Dan Kirana… wanita yang mengangkatnya dari keterpurukan, ternyata memiliki kaitan mendalam dengan musuh terbesar yang merampas haknya sejak dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Suasana di dalam mobil sedan hitam itu hening namun tidak menyesakkan. Kabinnya luas dan sunyi, terisolasi dari kebisingan jalanan yang tersisa di luar. Kursi kulit berwarna krem itu empuk menopang tubuh Lukas yang lelah, namun ia tak berani menyandarkan punggungnya sepenuhnya—seolah ia tak pantas menikmati kenyamanan setinggi ini. Di sampingnya, Kirana duduk tegak menatap ke depan, tangannya meremas ujung tas kulitnya pelan, seolah sedang menyusun kata-kata yang paling tepat untuk diucapkan.

Lukas menatap keluar jendela. Kota Palu yang melintas di luar kini tampak berbeda—lampu-lampu jalan terlihat lebih terang, gedung-gedung bertingkat tampak lebih gagah, dan ia tak lagi merasa seperti orang asing yang terbuang, meski perasaan itu masih samar tersisa. Ia berusaha menenangkan jantungnya yang masih berdegup tak beraturan. Pertemuan dengan Kirana tadi di bawah jembatan terasa seperti mimpi yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan.

Setelah beberapa saat hening, Kirana akhirnya menoleh ke arahnya. Tatapannya kembali tajam dan serius, seolah ia baru saja selesai memutuskan sesuatu yang sangat penting.

“Lukas,” buka pelan, suaranya tenang namun menuntut perhatian penuh. “Sebelum kita bicara lebih jauh, aku ingin kamu tahu satu hal dengan jelas. Aku tidak membawamu ke sini karena rasa kasihan. Aku tidak akan memberimu sedekah, tidak akan menempatkanmu di tempat perlindungan sosial, dan tidak akan membiarkanmu hidup bergantung pada orang lain tanpa tujuan.”

Lukas mengangguk pelan, sedikit terkejut namun sekaligus lega. Ia paling tidak suka diperlakukan seperti objek belas kasihan—lebih buruk lagi daripada diusir adalah dianggap tidak mampu berdiri di atas kaki sendiri.

“Saya mengerti,” jawabnya pelan. “Lalu… apa yang sebenarnya Anda inginkan dari saya?”

Kirana menarik napas panjang, lalu menatap lurus ke matanya tanpa ragu sedikit pun.

“Aku ingin kamu menikah denganku. Secara resmi, di hadapan negara dan agama. Selama satu tahun penuh.”

Kata-kata itu meluncur begitu tenang, namun dampaknya seolah membuat dunia di sekitar Lukas berhenti berputar sejenak. Ia membuka mulutnya, namun tak satu pun kata yang keluar. Ia menatap wajah cantik dan berwibawa itu, berusaha mencari tanda bahwa wanita ini sedang bercanda—namun tak ada satu pun senyum, tak ada satu pun kedipan mata yang menunjukkan keraguan. Ia sungguh-sungguh bermaksud demikian.

“Menikah…?” ulang Lukas akhirnya, suaranya terdengar seperti bisikan yang tak percaya. “Anda… CEO Grup Kirana? Menikah dengan saya? Anak yang baru saja diusir, tidak punya apa-apa, tidak punya pekerjaan, bahkan tidak punya kartu identitas yang sah? Itu… itu tidak masuk akal.”

Kirana tersenyum tipis, bukan meremehkan, melainkan seolah sudah menduga reaksi itu.

“Aku tahu ini terdengar gila. Bahkan orang terdekatku pun pasti akan menganggapku hilang akal jika mendengarnya. Tapi percayalah, ini adalah satu-satunya cara tercepat dan teraman untuk mencapai tujuan kita berdua.”

Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dan pena dari tasnya, lalu mulai menjelaskan satu per satu dengan tenang.

“Mari kita mulai dari apa yang kamu dapatkan. Selama pernikahan ini berlangsung, kamu akan mendapatkan tempat tinggal yang layak—di kediaman pribadiku, bukan di tempat penginapan sembarangan. Kamu akan mendapatkan perlindungan hukum dan keamanan penuh, sehingga pihak yang menyembunyikan identitasmu tidak akan berani menyentuhmu lagi. Dan yang paling penting: aku akan membukakan semua jalan, semua dokumen, dan semua akses yang kamu butuhkan untuk mengetahui kebenaran tentang siapa dirimu, siapa orang tuamu, dan siapa yang merampas hak warismu.”

Setiap kalimat itu menghantam kesadaran Lukas satu per satu. Semua hal yang selama ini ia impikan namun tak mampu ia raih sendirian—keamanan, jawaban, hak untuk mengetahui asal-usulnya—kini ditawarkan begitu saja di hadapannya. Namun harga yang diminta sungguh tak terbayangkan.

“Dan apa yang Anda dapatkan?” tanyanya hati-hati, berusaha menahan getaran suaranya. “Apa untungnya bagi Anda menikah dengan orang seperti saya?”

Kirana berhenti sejenak, menatap ke arah jalan raya yang gelap di luar jendela. Bayangan lampu jalan melintas di wajahnya, menyoroti garis rahang yang mengeras.

“Persaingan bisnis di kalangan pengusaha besar di Sulawesi Tengah bukan sekadar urusan laba rugi,” jawabnya pelan namun penuh ketegasan. “Ada kelompok yang memegang kendali atas sebagian besar ekonomi wilayah ini, dan mereka tidak segan menggunakan cara kotor—pemerasan, pengancaman, bahkan menghilangkan orang yang dianggap menghalangi jalan mereka. Selama ini aku berusaha menentang mereka, tapi aku selalu kekurangan bukti kunci. Semua jejak kejahatan mereka berujung pada masa lalu keluarga Wijaya—keluargamu.”

Ia kembali menatap Lukas.

“Kamu adalah satu-satunya pewaris sah keluarga Wijaya. Jika kita menikah secara resmi, posisimu akan menjadi setara denganku di mata publik. Kita bisa bergerak bersama menyusup ke lingkaran tertutup mereka, mengakses dokumen yang selama ini tersembunyi, dan memancing mereka untuk melakukan kesalahan yang akan membongkar semua rahasia mereka. Tanpa status yang sah, kamu tidak akan pernah bisa masuk ke ruang-ruang tempat kebenaran itu disimpan. Dan tanpa kamu, aku tidak akan pernah bisa menghancurkan kekuatan yang telah membunuh ayahku.”

Keheningan kembali menyelimuti kabin mobil. Lukas mencerna semua penjelasan itu pelan-pelan. Pernikahan ini bukanlah tentang cinta, bukan tentang menyatukan dua hati. Ini adalah kesepakatan strategis—sebuah topeng yang akan membiarkan mereka berdua melangkah masuk ke dalam dunia yang selama ini tertutup rapat bagi mereka.

Ia memikirkan risikonya. Jika orang-orang yang mereka lawan begitu kejam hingga berani membunuh dan membuang anak kecil demi menguasai kekayaan, maka melibatkan diri dalam perang ini berarti mempertaruhkan nyawanya sendiri. Namun apa yang tersisa baginya untuk hilang? Ia sudah dibuang, sudah kehilangan tempat tinggal, sudah dianggap tidak berharga. Satu-satunya hal yang masih ia miliki adalah keinginan untuk mengetahui kebenaran dan menuntut haknya.

“Satu tahun,” ucap Lukas pelan. “Setelah satu tahun, apa yang terjadi?”

“Setelah satu tahun, jika kita sudah mendapatkan semua bukti dan kebenaran yang dicari, kita akan berpisah secara baik-baik. Aku akan memastikan kamu mendapatkan kembali seluruh aset milik keluargamu, serta membantumu membangun kehidupan baru sesuai keinginanmu. Tidak ada ikatan yang mengikatmu selamanya,” jawab Kirana tegas.

Lukas menatap tangannya yang kotor dan penuh luka ringan—tangan orang yang baru saja tidur di bawah jembatan. Ia membandingkannya dengan tangan wanita di sebelahnya, tangan yang terbiasa memegang kendali atas ribuan orang dan triliunan rupiah. Dunia mereka begitu berbeda, namun takdir entah bagaimana telah menjalinnya menjadi satu.

Ia teringat kata-kata Sari di bawah jembatan tadi: “Jangan pernah berhenti berjalan. Kalau kamu berhenti, berarti kamu sudah kalah.” Ia teringat pesan di balik foto lama itu: “Jangan pernah takut mencari kebenaran, walau jalanmu sepi.”

Jika ia menolak tawaran ini, maka ia memang berhenti berjalan. Ia akan selamanya berjalan tanpa tujuan, selamanya tak tahu siapa dirinya. Jika ia menerima, maka ia harus berani menghadapi bahaya yang tak terbayangkan—namun ia tidak lagi berjalan sendirian.

Lukas menarik napas panjang, mengembuskan perlahan seolah membuang segala keraguan yang menyelimutinya. Ia menatap mata Kirana lekat-lekat, memastikan bahwa wanita ini jujur, bahwa ia tidak sedang berjalan ke dalam perangkap lain. Dan di balik tatapan tajam itu, ia melihat ketulusan yang tersembunyi—seorang wanita yang juga sedang berjuang melawan ketidakadilan yang merenggut orang yang dicintainya.

“Baiklah,” ucap Lukas akhirnya. Kata itu terdengar sederhana, namun mengandung keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya selamanya. “Saya terima penawaran ini. Saya akan menikah dengan Anda selama satu tahun. Saya akan membantu Anda membongkar semua rahasia itu. Dan saya akan mengambil kembali apa yang telah dirampas dari keluarga saya.”

Sudut bibir Kirana terangkat, kali ini senyumnya tampak lebih ringan, seolah beban berat yang dipikulnya selama bertahun-tahun sedikit berkurang. Ia mengulurkan tangan kanannya kepada Lukas.

“Terima kasih, Lukas. Aku berjanji padamu: aku tidak akan membiarkanmu terluka sia-sia. Kita akan berjuang bersama, dan kita akan keluar sebagai pemenang.”

Lukas meraih tangan itu kembali. Genggaman mereka erat dan mantap, menandai dimulainya sebuah perjanjian yang tak terduga. Sebuah pernikahan tanpa cinta di awal, namun penuh dengan tujuan yang mulia sekaligus berbahaya.

Mobil hitam itu kini melaju memasuki kawasan perumahan elit di ketinggian kota, tempat gedung-gedung bertingkat berdiri gagah memandang seluruh kota Palu. Di kejauhan, samar terlihat atap kediaman keluarga Chandra—tempat yang baru saja mengusirnya, dan tempat yang kelak akan melihatnya kembali bukan sebagai anak yang tak berguna, melainkan sebagai suami dari wanita paling berkuasa di wilayah ini, serta pewaris yang selama ini disembunyikan.

Lukas kembali menyandarkan punggungnya ke kursi, memejamkan mata sejenak. Ia belum tahu apa yang menanti di depan pintu kediaman Kirana, belum tahu bagaimana caranya menjalani kehidupan yang asing baginya. Namun satu hal yang ia yakini: ia tidak lagi berjalan dalam kegelapan sendirian. Penawaran yang tak masuk akal ini ternyata adalah satu-satunya jalan yang benar untuk pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!