NOVEL INI MENGANDUNG BACAAN DEWASA || PILIHLAH BACAAN YANG BIJAK. DILARANG PLAGIARISME!
JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM: LilyQuinza || info update visual disana yah 🥰❤
"Liora, mungkin ini semua salah mengingat aku Pamanmu, tapi, jika mengingat kita tak sedarah, aku tidak perduli!"
"MarcoI—itu apa?"
"Kau harus membiasakan diri baby, cobalah berkenalan dengannya."
"Gila benda itu tidak akan cukup jika—"
"Ssstttt, Cobalah... "
"Ini sakit!"
"Sial! Kau sangat cantik saat kau tidak memakai kacamata itu!"
"Berhenti menggodaku, aku bisa gila Marco!"
Liora adalah gadis culun yang selalu menyembunyikan kecantikannya di balik kacamata tebal, pakaian sederhana, dan sikap pemalu. Ia hanya ingin menjalani kehidupan kampus dengan tenang tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, semua berubah karena Marco.
Marco adalah adik angkat ibu kandung Liora yang usianya hanya terpaut lima tahun darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Jam menunjukkan pukul lima sore, jam mata kuliah telah selesai.
Liora berjalan pelan melewati lorong gedung, hendak pulang. Namun, langkahnya terhenti, ketika tangan besar dibalik ruangan menariknya.
"Kau harus pulang bersamaku!"
Jelas, ulah siapa itu. Marco yang menariknya, mata Liora membulat.
"Apa? Aku bisa pulang sendiri, lepaskan aku!"
Rahang Marco mengeras, "Jangan membantah! Atau Ibumu akan curiga aku tidak menjaga putrinya dengan baik."
"Pria sinting, siapa yang ingin kau jaga. Aku bisa pulang sendiri."
"Dasar gadis culun."
Liora mencebik kesal. Ia menarik tangannya dengan paksa dari genggaman Marco.
"Lebih baik culun daripada menyebalkan sepertimu."
Marco mendengus pelan. "Menyebalkan? Aku ini pria paling populer di kampus."
"Menurut siapa?"
"Menurut semua orang."
Liora memutar bola matanya. "Kepercayaan dirimu benar-benar tidak ada obatnya."
Angin sore berembus lembut di halaman kampus. Deretan pohon yang mulai menguning bergoyang pelan, sementara para mahasiswa berlalu-lalang menuju halte dan area parkir sepeda.
Marco berjalan di sampingnya dengan kedua tangan masuk ke saku jaket.
"Kau tahu, kalau bukan karena permintaan Kak Mauren, aku juga tidak sudi pulang dengan gadis sepertimu."
Liora menoleh tajam. "Aku juga tidak ingin pulang bersamamu"
Marco menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.
"Kutu buku. Membosankan. Dan terlalu serius."
Liora tersenyum sinis. "Masih lebih baik daripada pria sinting yang berpikir dirinya adalah seperti pusat tata surya."
Marco tertawa kecil. "Setidaknya aku tampan."
"Kau juga narsis."
"Itu fakta."
"Hah! Fakta dari mana?"
"Bercermin."
Liora hampir tersedak mendengar jawabannya.
Pria ini benar-benar tidak tahu malu. Mereka terus berjalan melewati taman kampus. Beberapa mahasiswi yang sedang duduk di bangku langsung melambaikan tangan pada Marco.
"Hai, Marco!"
Marco membalas dengan senyum santai.
Liora langsung mendengus.
"Menjijikkan."
"Apa kau iri?"
"Iri?"
Marco mengangguk santai. "Mungkin kau ingin jadi salah satu dari mereka."
Liora berhenti berjalan lalu menatapnya seolah baru saja mendengar lelucon paling buruk di dunia.
"Dengarkan baik-baik. Bahkan jika kau pria terakhir di bumi, aku tidak akan tertarik padamu."
Marco mengangkat alis. "Kejam sekali."
"Aku hanya berkata jujur."
"Kau tahu? Mulutmu semakin tajam."
"Karena aku sering berhadapan denganmu."
Marco terkekeh. Entah kenapa, mengganggu gadis itu terasa jauh lebih menyenangkan daripada mengobrol dengan siapa pun di kampus.
Sementara itu, Liora justru semakin kesal.
Pria ini selalu berhasil membuat tekanan darahnya naik hanya dalam hitungan menit.
Saat mereka tiba di area parkir, Marco membuka pintu mobilnya.
"Masuk."
"Tidak."
"Masuk."
"Tidak."
Marco menghela napas panjang.
"Liora Colins."
"Aku bilang tidak."
"Lima detik."
"Untuk apa?"
"Kalau kau tidak masuk dalam lima detik, aku akan mengangkatmu masuk."
Mata Liora langsung membulat. "Kau tidak akan berani."
Marco tersenyum tipis.
"Satu."
"Marco!"
"Dua."
"Kau gila!"
"Tiga."
Liora mundur selangkah. Namun Marco justru maju.
"Empat."
Melihat pria itu benar-benar serius, Liora buru-buru membuka pintu mobil dan masuk dengan wajah merah padam. Marco menahan tawa sebelum ikut masuk ke kursi pengemudi.
"Pintar."
"Dasar pria sinting."
"Dasar gadis culun."
"Kau menyebalkan."
"Kau juga."
Dan dari kejauhan, sepasang mata sedang memperhatikan mereka dengan tatapan dingin penuh kebencian.
"Jadi benar..." gumam wanita itu lirih.
Jari-jarinya mengepal kuat.
"Aku tidak akan membiarkan Liora merebut Marco dariku."
Mobil Marco mulai melaju pelan meninggalkan area parkir kampus.
Di dalam mobil, suasana masih dipenuhi adu mulut kecil yang tak pernah benar-benar berakhir.
"Setiap hari kau selalu mengancam orang, ya?" Liora menyilangkan tangan di dada.
"Aku tidak mengancam. Aku hanya memastikan kau tidak kabur dariku," jawab Marco santai.
"Aku bukan tahananmu."
"Kau juga bukan anak kecil yang bisa dibiarkan pulang sendirian."
Liora menoleh cepat. "Aku sudah dewasa."
Marco melirik sekilas. "Dewasa tidak berarti pintar."
"Apa kau baru saja meremehkanku?"
"Aku baru saja berkata jujur."
Liora menghela napas keras, lalu memalingkan wajah ke jendela. Gedung-gedung Amsterdam melintas perlahan, lampu jalan mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya ke kaca mobil.
"Sudah kukatakan, aku bisa pulang sendiri. Berhenti di sini," gumamnya akhirnya.
Marco diam sejenak. "Aku tidak akan berhenti."
Jawaban itu membuat Liora sedikit terdiam. Ia melirik Marco dari samping, mencoba mencari nada bercanda, tapi wajah pria itu tetap datar seperti biasa.
"Turunkan aku," katanya akhirnya.
"Tidak akan."
Hening singkat jatuh di antara mereka. Namun Liora segera mengusir perasaan aneh itu dengan mendengus pelan.
"Kalau begitu kau benar-benar tidak punya kehidupan."
Marco justru tersenyum tipis. "Lebih baik daripada hidupmu yang hanya dipenuhi buku."
Liora langsung menoleh tajam. "Hei! Kau menyebalkan sekali."
"Kau sudah mengatakan itu tiga kali hari ini."
"Dan kau masih sama menyebalkannya."
Marco tertawa pelan, kali ini lebih jelas dari sebelumnya.
Di luar, hujan gerimis mulai turun, membuat lampu kota terlihat seperti blur emas di balik kaca.
Tiba-tiba ponsel Marco bergetar di dashboard. Ia melirik sekilas. Nama yang muncul membuat senyumnya memudar sedikit.
“Rhea.”
Liora tanpa sengaja melihat itu.
"Pasti itu kekasihmu..." tanyanya cepat, tanpa sadar nadanya sedikit lebih tajam.
Marco langsung mengunci layar. "Bukan urusanmu."
Liora mengalihkan pandangan ke jendela lagi, tapi entah kenapa suasana di dalam mobil terasa berubah. Lebih dingin. Lebih sunyi.
"Aneh," gumam Liora pelan.
"Aku tidak aneh."
"Kalau bukan kekasih, kenapa kau tidak menjawabnya?"
Marco menatap jalan di depan, rahangnya mengeras sedikit.
"Karena itu memang bukan urusanmu."
"Ya itu memang benar, itu bukan urusanku. Dan aku tidak pernah ikut campur sepertimu."
"Hey, sejak kapan aku ikut campur urusanmu."
"Tentu saja sejak kau hadir dalam hidupku."
Sial!
Marco terdiam, gadis di hadapannya saat ini benar-benar menyebalkan juga. Kadang ia melihat Liora dan hanya mengejek lalu pulang dan tidak bertemu lagi, dan kali ini mereka satu mobil dan satu rumah.
Marco tidak menjawab lagi. Tangannya tetap menggenggam setir, tapi suasana di dalam mobil sudah berubah seperti kaca yang retak halus—masih utuh, tapi jelas tidak sama.
Liora memalingkan wajah ke jendela, mencoba terlihat acuh. Namun pikirannya justru sibuk sendiri.
Tentu saja itu bukan urusanku, "Dasar pria aneh." gumamnya.
Hujan di luar semakin rapat ketika mobil memasuki jalan mansion yang lebih tenang. Lampu-lampu menyala hangat, kontras dengan udara dingin sore itu.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah mansion dua lantai bergaya klasik.
Mansion yang sekarang mereka tinggali bersama.
Marco turun lebih dulu, lalu membuka pintu sisi Liora tanpa berkata apa-apa.
“Turun,” katanya singkat.
“Aku bisa sendiri,” balas Liora, tetap dengan nada keras kepala, meski tetap keluar juga.
Begitu kaki mereka menginjak halaman, pintu rumah sudah terbuka dari dalam.
Seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu dengan ekspresi tenang dan hangat.
“Sudah pulang?” suara itu lembut.
“Iya, Kak,” jawab Marco lebih dulu.
Liora menyusul pelan. “Bu…”
Mauren Colins tersenyum kecil melihat mereka berdua.
“Kalian pulang bersama hari ini?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi cukup membuat Liora dan Marco sama-sama berhenti sepersekian detik.
“Dia…memaksaku ibu,” celetuk Liora cepat.
Marco meliriknya. “Dia yang tidak mau masuk mobil.”
Mauren menghela napas pelan, seperti sudah terbiasa dengan perang kecil itu.
“Setidaknya kalian tidak bertengkar di jalan,” katanya sambil berbalik masuk. “Ayo, makan malam sudah siap.”
Di ruang makan, suasana mansion terasa lebih hangat. Aroma makanan memenuhi udara, tapi ketegangan kecil di antara dua orang itu tetap ikut duduk di meja yang sama.
Liora duduk di seberang Marco, sengaja menjaga jarak pandang.
Ponsel di saku jaket Marco bergetar lagi. Kali ini ia tidak langsung menutupnya. Nama itu muncul lagi.
“Rhea.”
Liora melihatnya kali ini dengan jelas.
“Dia lagi,” gumamnya tanpa sadar.
Marco menghela napas pelan, lalu berdiri.
“Aku angkat telepon dulu Kak.”
Mauren mengangguk, Marco berjalan ke luar ruangan. Pintu ruang makan tertutup, meninggalkan Liora dan Mauren.
Sunyi.
Mauren menatap Liora sebentar. “Kau tidak suka Marco, ya?” tanyanya tiba-tiba, santai.
Liora tersedak minumannya sedikit. “Apa? Tidak! Siapa yang suka pria menyebalkan seperti dia?”
Mauren tersenyum tipis, seperti menyimpan sesuatu. “Tapi kalian hari ini pulang bersama.”
“Itu karena dia—”
“Karena dia paman angkatmu,” potong Mauren pelan.
Kalimat itu membuat Liora terdiam. Iya. Secara resmi. Marco sudah lama tinggal di mansion ini, dan dirinya baru saja tinggal disini dan bertemu ibunya.
Entah sejak kapan Marco tinggal dengan ibunya, mungkin sejak ia masih kecil dan Liora tidak ingin tahu lagi, terserah apa yang pria itu katakan.