Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.
Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."
Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:
*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*
Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.
Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.
*Setiap. Kata.*
Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."
Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.
Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.
Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.
Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: Mata-mata di Rumah Sendiri
Di luar jendela, Menteng menjauh.
Tapi rasanya, rumah itu baru saja mulai menelan kami.
Sepanjang perjalanan pulang ke PIK, aku tidak banyak bicara. Bukan karena tiba-tiba menjadi menantu anggun, melainkan karena otakku terlalu sibuk menyusun daftar ancaman.
Veronica, yang senyumnya lebih tajam daripada pisau buah.
Brandon, pria bermasalah dengan kepercayaan diri setinggi gedung SCBD.
Bibi Susi, mata Veronica di villa.
Dan entah berapa orang lagi yang belum muncul.
[Misi aktif: cari tahu rahasia keluarga Wijaya.]
[Submisi tersedia: audit lingkungan terdekat.]
Aku menatap panel itu.
Lingkungan terdekat.
Artinya rumah sendiri.
Atau lebih tepatnya, rumah Reynard yang sekarang secara hukum juga menjadi tempat tinggalku, walau rasanya aku baru jadi penghuni sementara dalam drama orang kaya penuh jebakan.
Ketika mobil berhenti di PIK villa, Reynard tidak langsung turun. Ia menatapku dari balik Topeng Perak.
"Istirahat."
Perintah pendek.
Tapi setelah seharian ini, aku mulai belajar bahwa pendek bukan berarti kosong.
"Kau mau ke mana?"
"Ruang kerja."
Tentu saja. Pria ini kalau bukan di ruang kerja mungkin sedang berubah menjadi patung es.
Aku mengangguk. "Aku akan istirahat."
Bohong kecil untuk kebaikan besar.
Reynard menatapku dua detik lebih lama.
Di kepalaku, aku sudah menambahkan, setelah aku membongkar sedikit sarang ular di rumahmu, Pak.
Jari Reynard berhenti di gagang pintu mobil.
Ia mendengarnya. Ia benar-benar mendengarnya. Dan yang membuatnya lebih aneh, ia tidak marah.
"Jangan sendirian," katanya.
Aku berkedip.
"Maksudmu?"
"Panggil Sari."
Lalu ia turun, meninggalkanku dengan jantung yang tiba-tiba mengetuk terlalu cepat.
Dia memberi izin? Atau peringatan?
[Interpretasi Si Kepo: dua-duanya.]
Aku menarik napas.
Baik. Kalau begitu, operasi sarang ular dimulai.
Sari datang lima menit kemudian, membawa air hangat dan wajah cemas. "Nyonya Muda mau istirahat?"
"Sebentar lagi." Aku menutup pintu kamar. "Sari, berapa lama kamu bekerja di sini?"
"Baru empat bulan, Nyonya."
"Sebelum aku datang, siapa yang mengatur rumah?"
Sari ragu. "Secara resmi Bibi Susi. Tapi untuk dapur dan belanja harian, biasanya Bibi Yanti."
Nama baru.
Panel Si Kepo langsung membuka daftar.
[Bibi Yanti.]
[Posisi: penanggung jawab dapur dan belanja harian.]
[Catatan: pengeluaran rumah meningkat 37% dalam enam bulan terakhir.]
[Catatan tambahan: transfer rutin ke rekening Dodi.]
[Dodi: anak Bibi Yanti, tidak tercatat sebagai staf resmi, sering masuk area servis.]
Oh.
Jadi ada paket ibu-anak.
"Bibi Yanti orang lama?"
"Iya. Katanya sudah ikut keluarga Wijaya bertahun-tahun." Suara Sari mengecil. "Staf lain agak takut padanya."
"Kamu juga?"
Sari menunduk.
Jawaban tanpa kata.
Aku duduk di tepi ranjang. "Aku butuh lihat daftar staf, jadwal dapur, dan laporan belanja. Bisa?"
Sari tampak panik. "Nyonya Muda, biasanya dokumen itu dipegang Bibi Yanti. Kalau beliau tahu..."
"Kita tidak akan minta." Aku tersenyum. "Kita lihat salinannya."
[Ruang Penyimpanan aktif.]
[Fitur pemindaian dokumen jarak dekat tersedia.]
Aku hampir mencium panel itu kalau tidak takut terlihat gila.
Sore itu, aku memulai dengan alasan paling aman: belajar mengurus rumah.
Bibi Susi tentu saja muncul dalam lima menit.
"Nyonya Muda ingin melihat area servis?" tanyanya, senyum tipis terpasang.
"Iya. Saya baru tinggal di sini. Tidak enak kalau tidak mengenal rumah sendiri."
Kata rumah sendiri membuat mata Bibi Susi bergerak sedikit.
Bagus. Masukkan ke laporanmu, Bi. Tulis besar-besar kalau menantu baru ini mulai sadar punya kaki.
Ia membawa kami melewati dapur bersih, pantry kering, ruang laundry, gudang kecil, dan area belakang tempat staf keluar masuk. Semua tampak rapi, terlalu rapi. Jenis rapi yang disiapkan untuk inspeksi.
Di dapur, seorang perempuan paruh baya bertubuh gemuk menyambutku dengan senyum lebar.
"Aduh, Nyonya Muda akhirnya lihat dapur juga. Saya Bibi Yanti."
Suaranya ramah.
Matanya menghitung.
Di belakangnya, seorang staf muda bernama Rina menunduk, tapi sudut bibirnya bergerak seperti menahan komentar.
"Dapur bersih sekali," kataku.
"Tentu, Nyonya. Tuan Muda tidak boleh makan sembarangan." Bibi Yanti menepuk dadanya. "Saya yang menjaga semuanya."
[Kebohongan terdeteksi: 62%.]
[Catatan: sampel sup herbal di panci kiri mengandung senyawa penurun suhu darah dosis rendah.]
Senyumku nyaris jatuh.
Panci kiri.
Aku melihat ke arah kompor. Ada panci kecil berisi cairan cokelat gelap, baunya pahit seperti jamu tua.
"Itu untuk Reynard?"
"Iya, Nyonya. Ramuan penghangat tubuh. Dari Nyonya Besar."
Veronica.
Tentu saja.
Racun yang diberi nama ramuan. Klasik sekali sampai ingin kuberi tepuk tangan.
Aku berjalan mendekat, mengangkat tutup panci. Uapnya menyentuh wajahku.
[Sampel dapat disimpan.]
Aku mengambil sendok kecil. "Saya ingin tahu rasanya."
Bibi Yanti bergerak terlalu cepat. "Jangan, Nyonya. Pahit sekali. Tidak cocok untuk Nyonya."
Panik.
Terlihat jelas.
Aku tersenyum. "Kalau begitu, masukkan sedikit ke botol kecil. Saya ingin tanya dokter apakah ini aman dicampur dengan obat lain."
Wajah Bibi Yanti berubah pucat.
Bibi Susi langsung menyela. "Nyonya Muda, selama ini Tuan Muda baik-baik saja dengan ramuan itu."
Baik-baik saja? Semalam tubuhnya sedingin mayat hidup, Bi.
"Justru karena saya istrinya sekarang," jawabku lembut, "saya harus memastikan semuanya aman."
Tidak ada yang bisa menolak kalimat itu tanpa terlihat bersalah.
Sari bergerak cepat mengambil botol sampel.
Rina menatapku dengan mata melebar, seolah baru melihat seseorang berani menyentuh wilayah Bibi Yanti.
[Sampel tersimpan.]
[Analisis lengkap membutuhkan waktu.]
Langkah berikutnya adalah catatan keuangan.
Atau dalam bahasa rumah kaya: laporan belanja bulanan.
Bibi Yanti berusaha menahanku dengan alasan dokumen sedang dirapikan. Bibi Susi menawarkan akan mengirim salinan besok. Rina pura-pura tidak tahu letak lemari arsip.
Terlalu kompak.
Berarti dokumennya memang ada.
Aku menunggu sampai malam.
Setelah makan malam, Reynard masuk ruang kerja. Bibi Susi menerima telepon di teras belakang. Bibi Yanti pulang ke kamar staf dengan wajah muram. Rina bertugas membawa sisa piring ke dapur.
Aku duduk di ruang keluarga dengan secangkir teh, tampak seperti istri baru yang sedang menyesuaikan diri.
Padahal Si Kepo menampilkan peta kecil area servis di kepalaku.
[Lemari arsip: ruang administrasi belakang.]
[Kunci: laci meja Bibi Yanti.]
[Rina membawa kunci cadangan di kantong apron kanan.]
Aku melirik Sari.
Sari menelan ludah.
"Nyonya, ini..."
"Aku tidak akan menyuruhmu mencuri," bisikku. "Aku hanya minta kamu mengajak Rina bicara lima menit."
"Bicara apa?"
"Apa saja. Gosip. Diskon skincare. Cowok. Pilih yang paling aman."
Sari tampak bingung, tapi ia pergi.
Lima menit kemudian, Rina sudah sibuk membicarakan pacarnya yang katanya sering membalas chat dengan stiker jempol. Selama itu, aku masuk ke ruang administrasi belakang dengan jantung berlari.
[Pemindaian dokumen dimulai.]
Lemari arsip terbuka.
Folder belanja enam bulan terakhir tersusun rapi. Terlalu rapi untuk orang yang ingin terlihat tidak punya salah. Aku membuka satu per satu, dan angka-angkanya membuat alisku naik.
Beras premium dibeli dua kali lipat dari kebutuhan.
Daging wagyu muncul tiap minggu, tapi meja makan Reynard lebih sering berisi bubur dan sup.
Obat herbal impor dibayar lewat vendor kecil yang alamatnya tidak jelas.
Dan di bagian bawah, ada slip transfer.
Dodi.
Nama yang sama.
[Dokumen relevan ditemukan.]
[Salin ke Ruang Penyimpanan?]
Ya.
Cahaya tipis menyapu kertas. Dalam hitungan detik, salinan digital tersimpan di panel sistem.
Aku baru saja menutup folder ketika suara langkah terdengar di luar.
Tubuhku membeku.
"Siapa di dalam?" suara Bibi Yanti terdengar tajam.
Sial.
Aku memegang folder di tangan.
Panel Si Kepo berkedip cepat.
[Opsi: sembunyi di bawah meja.]
Tidak.
[Opsi: pura-pura tersesat.]
Lebih buruk.
[Opsi terbaik: jadi pemilik rumah.]
Aku menarik napas, membuka pintu, dan menatap Bibi Yanti yang berdiri kaku di lorong.
"Saya," kataku.
Wajahnya berubah dari kaget menjadi panik, lalu cepat-cepat ia menunduk. "Nyonya Muda. Saya kira..."
"Kira siapa yang berani masuk ruang administrasi rumah suami saya?"
Kalimat itu keluar lembut.
Tapi Bibi Yanti pucat.
Aku mengangkat folder belanja bulanan.
"Besok pagi," ucapku, "kita bicara soal ini."
Malam itu, sebelum tidur, aku membuka panel Si Kepo.
[Bukti tersimpan: salinan laporan belanja, slip transfer Dodi, sampel ramuan penurun suhu.]
[Tingkat bukti: cukup untuk konfrontasi awal.]
Aku menatap tulisan itu lama.
Besok, bukan hanya aku yang harus bangun pagi.
Besok adalah hari perhitungan.
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih