Zeya diam terpaku ketika melihat suaminya sedang jalan bergandengan tangan dengan wanita yang tak Zeya kenal.
Ryan yang kebetulan juga melihat Zeya melengos tanpa mau menyapa istrinya tersebut, malah Ia bergegas meninggalkan Zeya.
Menikah dengan Ryan keputusan hidup yang Zeya sesali, manis di awal ternyata hanya kedok belaka, agar bisa menikah dengan mantan kekasihnya.
Zeya menerima perceraian itu dan melanjutkan hidupnya dengan pindah ke kota besar.
Akankan Zeya menemukan kebahagiaannya sendiri, atau Zeya terus di bayang bayangi oleh masa lalunya.
Dan bagaimana kehidupan rumah tangga Ryan setelah menikah dengan mantan kekasihnya itu?, Kenapa dia kembali mengejar cinta nya Zeya?
Pergulatan batin Zeya dimulai di saat tuan Gatra ingin menikahinya sedangkan mantan istri Gatra ingin kembali rujuk dengan Gatra, ditambah lagi dengan Ryan yang kembali membayangi hidupnya…
Akankan keputusan Zeya akan merubah semuanya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mande Qita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 5 Awal Pertemuan
Pertemuan dengan Zea…
“Selamat siang, maaf mengganggu!” Ryan yang sedang berada di halte sebuah bis menyapa seorang wanita yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Ryan ingin menanyakan alamat perusahaan yang akan di kunjungi, karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan Ryan dengan perusahaan tersebut.
Melihat reaksi wanita itu Ryan merasa tak enak hati karena ia merasa di abaikan, tapi Ryan nggak bisa menyalahkan sikap wanita tersebut, karena Ryan tidak menyapa dengan memanggil nama wanita itu, jadi wajar kalau wanita itu tidak menoleh padanya.
“Maaf kak, saya mau tanya alamat perusahaan ini, kira kira kakak tau nggak perusahaan ini berada dimana, karena saya baru datang di daerah ini”
Ryan yang melihat ada perempuan yang berjalan di sampingnya, Ia langsung saja menanyakan alamat yang ada di kartu nama yang Ryan pegang.
“Oh alamat perusahaan ya?” wanita yang dimintai tolong oleh Ryan menghentikan langkah kakinya lalu menatap ke arah Ryan yang mengulurkan tangannya yang sedang memegang kartu nama.
“Ini kak alamat perusahaan, maaf ya mengganggu waktu anda” ucap Ryan dengan wajah sungkan.
“Nggak apa apa kok mas, maaf ya kartu namanya saya ambil” wanita tersebut mengambil kartu nama yang Ryan sodorkan padanya, dengan cepat dia membaca alamat yang tertera di sana.
“Iya kak, terima kasih…!” Ryan mengucapkan terima kasih pada perempuan tersebut yang mau meluangkan waktunya sejenak untuk membantunya, mencari alamat perusahaan yang ada di kartu nama tersebut.
Tidak berapa lama kartu nama tersebut dikembalikan pada Ryan oleh wanita tersebut, lalu menjelaskan kemana arah Ryan pergi agar sampai di perusahaan yang ditujunya.
“Dari sini nggak jauh kok mas…” wanita itu menjelaskan cukup detail arah jalannya pada Ryan, yang mendengarkan dengan serius.
“Oke kak, terima kasih banyak bantuannya…” Ryan kembali mengucapkan terima kasih setelah wanita tersebut menjelaskan arah jalan menuju ke alamat yang Ryan tanyakan tadi.
“Sama sama mas, sukses ya…!” wanita tersebut mengulas senyum manisnya mendengar kata terima kasih dari Ryan, pria yang mencegatnya karena kesulitan mencari tempat yang akan ditujunya.
Setelah itu Ryan dan juga wanita tersebut berpisah dan melanjutkan perjalanan mereka masing masing.
*
Bertemu kembali…
Dari jauh Ryan sudah melihat keberadaan wanita yang pernah membantunya pada saat di halte bis tersebut.
“Kamu yang pernah membantu saya pada saat di halte bis itu kan?” tanya Ryan yang datang menghampiri seorang wanita di sebuah pusat perbelanjaan.
“Oh iya, masih ingat wajah saya mas” seloroh wanita tersebut
“Masih dong kak, terima kasih loh berkat pertolongan anda pada saat itu, saya sampai di perusahaan itu tidak telat dan meeting saya berjalan dengan lancar dan yang lebih penting proyek pertama saya saya dapatkan, terima kasih ya kak” ucap Ryan sambil tersenyum tipis pada wanita tersebut.
Hari itu Ryan memang sedang mengejar waktu dengan naik transportasi umum, agar cepat sampai di tempat meeting yang telah Ryan dan kliennya sepakati bersama.
“Wah selamat ya…” wanita itu terlihat senang mendengar apa yang Ryan katakan padanya barusan.
“Terima kasih, oh iya ngomong ngomong anda jalan sendirian di pusat perbelanjaan ini?” tanya Ryan.
“He he he iya mas…” sahut wanita tersebut sambil tertawa kecil.
“Oh iya kita belum kenalan, perkenalkan nama saya Ryan” ucap Ryan dia mengulurkan tangannya dan segera di sambut oleh wanita itu sambil mengulas senyum manisnya.
“Zea…” balas Zea, mereka saling melemparkan senyum dan setelahnya tertawa bersama.
“Lucu ya kita, sudah bicara panjang lebar, sudah dibantuin tapi tidak saling tahu nama kita masing masing” Seloroh Ryan yang pada dasarnya dia pria yang gampang bergaul.
“Iya mas Ryan…nggak kepikiran untuk berkenalan ketika saat pertemuan kita pertama kali” sahut Zea, mengingat pertemuan mereka yang sangat cepat.
“Bagaimana mau ingat kenalan Zea, akunya sedang panik mencari alamat perusahaan dan ketika itu aku dikejar waktu meeting yang mepet sekali, maaf ya Zea kalau saat itu aku kurang sopan”
Ryan teringat ketika dia sedang kebingungan mencari alamat perusahaan yang akan didatanginya, padahal pada saat itu bisa saja Ryan naik ojek online pasti dia tak akan kebingungan seperti pada saat itu.
Karena ada kecelakaan beruntun yang menyebabkan macet total akhirnya Ryan memutuskan untuk naik transportasi umum dengan naik bis.
“Nggak apa apa mas Ryan” balas Zea
“Kebetulan aku juga sendiri bagaimana kalau kita jalan bareng saja, saya mau mentraktir anda Zea, hitung hitung ucapan terima kasih karena kamu sudah bantu aku pada saat itu” ajak Ryan, dia berkeinginan untuk mengajak Zea malam siang bersama.
“Wah terima kasih loh mas Ryan, mau traktir aku makan, hati hati loh mas kalau mau ajak aku makan di restoran” seloroh Zea.
“Memangnya ada apa Zea, kok aku harus hati hati” tanya Ryan penasaran.
“Nanti kantong kamu langsung tipis mas, makan aku banyak loh mas ryan, yakin mau ajak aku makan” goda Zea sambil terkekeh geli.
“Oh kalau soal itu gampang Zea” sahut Ryan santai
“Beneran mas Ryan nggak akan menyesal traktir aku sekarang?” tanya Zea lagi.
“Ha ha ha beneran Zea, lagian kalau uangku nggak cukup kan masih ada kamu untuk bayarin kekurangannya” canda Ryan dia tergelak kencang melihat wajah Zea yang langsung nyengir.
“Kalau begitu ceritanya, sama saja bayar makan sendiri dong mas he he he” Zea tertawa kecil mendengar jawaban Ryan.
“Ha ha ha bercanda dong Zea, nggak mungkin lah aku menyuruh wanita yang sudah membantuku untuk bayar sendiri makanan yang telah dimakannya, kejam banget akunya tau, anak orang di ajak makan lalu di suruh bayar sendiri” gurau Ryan, Ia tertawa lebar setiap mendengar jawaban dari Zea.
Tanpa mereka sadari berdua, ternyata mereka bisa cepat akrab dan pembicaraan mereka nyambung membuat mereka berdua merasa sudah lama berkenalan.
“Ayo kita ke restoran yang disana! kamu suka kan makan di restoran itu” ajak Ryan dan tangannya menunjuk ke arah restoran Jepang yang cukup terkenal karena makannya yang enak dan segar.
“Aku pemakan semua makanan mas, jadi nggak usah khawatir mas Ryan, aku nggak akan menolak ajakan untuk makanan di restoran jepang yang ada disana, sejujurnya saya tadi memang ingin mencoba makan di restoran itu”
jelas Zea, dan memang benar adanya, Ia memang ingin mencoba makan disana yang kata orang orang disana makanannya enak enak, mumpung kemarin Zea habis terima gaji, jadi Zea segera meluncur ke restoran yang sedang viral ini.
“Kalau begitu ayo kita kesana…” ajak Ryan lagi.
“Oke mas Ryan, terima kasih ya…” sahut Zea
Kemudian mereka berdua melangkahkan kakinya menuju ke restoran jelang tersebut, yang kebetulan suasana tidak terlalu ramai.