NovelToon NovelToon
Aku Bertahan Untuk Membalasmu

Aku Bertahan Untuk Membalasmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mutzaquarius

"Aku bertahan bukan karena masih mencintaimu. Tapi, aku bertahan untuk memastikan kalian menyesal."

Alena selalu berusaha menjadi istri yang sempurna, setia, penurut dan, selalu percaya pada suaminya.

Namun, sejak setahun terakhir, Arsen selalu bersikap dingin padanya. Dia masih bisa berpikir positif, jika semua itu karena pekerjaan. Dan, dia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan sepenuh hati.

Sampai, ia menemukan ponsel kedua milik Arsen dan mengetahui bahwa pria yang ia cintai selama ini ternyata telah mengkhianatinya.

Lucunya, semua orang tahu tentang perselingkuhan itu, kecuali dirinya.

Dan, sejak saat itu, Alena berubah. Ia menghapus air matanya, berhenti menjadi istri yang bodoh. Dan, mulai membangun hidupnya sendiri.

Dalam hati, ia bersumpah akan membalas suami dan selingkuhannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Nasihat Nadia

Nadia keluar dari dapur sambil membawa sebuah nampan berisi dua piring roti panggang dan dua gelas susu hangat.

Ia meletakkan salah satu piring di depan Alena yang sejak tadi hanya melamun sambil menatap kosong ke arah meja.

"Makan dulu," ujar Nadia lembut.

Alena tersadar dari lamunannya. Ia memandang sahabatnya sesaat sebelum memaksakan untuk tersenyum.

"Terima kasih, Nad," balasnya lirih.

Nadia menarik kursi dan duduk tepat di depannya. Ia memperhatikan wajah Alena yang tampak pucat dengan mata sembab akibat menangis semalaman.

Nadia menghela napas panjang. "Kamu sudah benar-benar memikirkannya?"

Alena menunduk. Jemarinya memainkan ujung gelas susu yang masih hangat.

"Setelah melihat semua yang bukti perselingkuhan di ponsel Mas Arsen, aku sangat yakin, Nad," serunya dengan suara bergetar.

Nadia mengangguk pelan. "Tapi, bukannya kemarin kamu bilang ingin membalas mereka?" ucapnya mengingatkan. "Kenapa sekarang malah ingin menggugat cerai Arsen?"

Alena mengangkat pandangannya. "Bukankah dengan bukti perselingkuhan itu aku bisa mendapatkan hak yang lebih besar saat bercerai?"

Nadia langsung berdecak. "Ck. Dasar bodoh." Ia menyandarkan punggungnya ke kursi lalu menyilangkan kedua tangan di depan dada.

"Dengarkan aku baik-baik, Alena. Perceraian bukan sekadar datang ke pengadilan lalu semuanya selesai begitu saja."

Alena terdiam mendengarkan.

"Arsen itu pebisnis besar. Dia punya uang, koneksi, dan pengaruh. Kalau kamu benar-benar ingin melawannya, kamu butuh pengacara yang hebat."

Nadia menatap sahabatnya dengan serius. "Pengacara yang hebat?" ulangnya lirih

"Ya, dan pengacara hebat tidak bekerja dengan biaya murah."

Raut wajah Alena langsung meredup. Dan, Nadia sudah bisa menebak jawabannya bahkan sebelum bertanya.

"Kamu punya tabungan sendiri?"

Alena menunduk lalu menggeleng pelan. "Tidak."

"Punya penghasilan tetap?" tanya Nadia lagi.

Alena kembali menggeleng. "Tidak."

Nadia menghela napas panjang. "Sudah kuduga."

Alena menggigit bibir bawahnya. Perlahan, rasa putus asa kembali merayap di hatinya.

"Aku benar-benar tidak punya apa-apa ya, Nad?"

"Tidak juga. Tapi, kamu punya bukti." Nadia menunjuk ponsel yang berada di atas meja. "Kamu punya bukti perselingkuhan Arsen. Itu jauh lebih berharga dari apapun."

Alena terdiam.

"Tapi, kalau kamu terburu-buru menggugat sekarang, kamu bisa kalah sebelum perang dimulai."

Ucapan itu membuat dada Alena terasa sesak. "Jadi, apa yang harus aku lakukan?"

Nadia langsung meraih tangan sahabatnya dan menggenggamnya erat.

"Mana Alena yang kemarin?" tanyanya. "Mana semangat wanita yang bilang ingin membuat Arsen menyesal?"

Mata Alena mulai berkaca-kaca. "Aku lelah, Nad. Rasanya sakit sekali."

"Aku juga tahu." Nadia menekan lembut punggung tangannya. "Tapi, justru karena sakit, kamu tidak boleh gegabah."

Alena menatap sahabatnya dalam diam.

"Kamu harus kuat," seru Nadia dengan nada tegas. "Bertahanlah sedikit lebih lama."

Alena mengernyit. "Bertahan?"

"Iya. Jangan langsung menunjukkan bahwa kamu sudah tahu semuanya."

Nadia mencondongkan tubuhnya. "Kalau Arsen sadar kamu mengetahui perselingkuhannya, dia akan mulai menutupi jejak. Bisa saja dia memindahkan aset, menghapus bukti, atau melakukan hal lain yang merugikan mu."

Wajah Alena perlahan berubah serius. "Jadi, aku harus berpura-pura tidak tahu?"

Nadia mengangguk mantap. "Untuk sementara, iya. Kumpulkan lebih banyak bukti. Pelajari kelemahan mereka. Dan, yang paling penting, kamu harus mulai membangun dirimu sendiri."

Alena mengernyit. "Maksudmu?"

"Kamu harus punya penghasilan, Lena. Kamu tidak bisa terus bergantung pada Arsen."

Nadia menggenggam kedua tangan sahabatnya. "Mulai sekarang, fokuslah pada dirimu sendiri. Cari pekerjaan, bangun usaha, atau apa pun yang bisa membuatmu mandiri."

Nadia tersenyum tipis. "Percayalah, membalas seseorang bukan selalu dengan amarah. Kadang, balas dendam terbaik adalah menunjukkan bahwa kita bisa hidup jauh lebih baik tanpa mereka."

Kalimat itu membuat Alena terdiam cukup lama. Ia merasa seolah ada secercah cahaya yang muncul di tengah kegelapan yang menyelimuti hatinya.

Mungkin, Nadia benar. Ia memang ingin meninggalkan Arsen. Tapi sebelum itu, ia harus memastikan dirinya cukup kuat untuk berdiri sendiri.

Alena mengembuskan napas perlahan. "Aku akan mencoba," ucapnya pelan.

Nadia tersenyum puas. "Kamu tenang saja. Aku akan membantumu. Kamu mempunyai cukup banyak pengalaman di dunia bisnis. Aku yakin, kamu akan cepat mendapatkan pekerjaan."

***

Setelah sarapan, Nadia tidak membiarkan Alena kembali tenggelam dalam kesedihannya.

Nadia membantu Alena menyusun surat lamaran kerja dan memperbarui CV yang sudah lama tidak digunakan. Mereka juga mencari berbagai lowongan yang sesuai dengan pengalaman dan pendidikan Alena.

Nadia terus menyemangati Alena, sampai akhirnya beberapa lamaran berhasil dikirim ke berbagai perusahaan.

Awalnya Alena merasa bersemangat.

Setidaknya sampai detik itu, ia merasa sedang melakukan sesuatu yang berharga untuk dirinya sendiri.

Tapi, saat sore menjelang dan ia meninggalkan apartemen Nadia, semangat itu perlahan memudar.

Kesepian kembali datang bersama rasa sakit yang sejak semalam berusaha ia tekan.

Alena berjalan menyusuri trotoar yang ramai orang-orang berlalu lalang. Ada yang tertawa bersama teman, ada yang sibuk berbicara di telepon, ada pula pasangan yang berjalan berdampingan sambil bergandengan tangan.

Semua terlihat memiliki tujuan. Sementara dirinya?

Alena akhirnya terhenti di pinggir jalan. Ia memandangi kendaraan yang terus berlalu lalang tanpa henti. Tapi, pikirannya justru kembali pada kejadian semalam.

Alena menundukkan kepala.

"Saat tahu Mas Arsen mengkhianati ku, hatiku benar-benar hancur," batinnya. "Aku ingin berteriak. Aku ingin memaki mereka. Aku ingin melampiaskan semua kemarahan ku. Tapi, sekarang?" Ia mengembuskan napas panjang. "Yang aku pikirkan justru bagaimana caranya bertahan hidup."

Perlahan, ia mengangkat wajah dan menatap langit yang mulai dipenuhi awan mendung.

Angin sejuk berembus pelan menyentuh wajahnya. Dan tanpa bisa dicegah, ingatannya kembali melayang ke masa lalu, di hari saat Arsen melamarnya, menggenggam tangannya dengan penuh cinta.

"Kamu tidak perlu khawatir tentang apa pun. Setelah kita menikah, aku yang akan menghidupi mu. Aku akan bekerja keras untuk membahagiakanmu."

"Aku mencintaimu, Alena."

Dulu, setiap kata itu terdengar begitu tulus dan meyakinkan. Sampai- sampai Alena rela meninggalkan pekerjaannya dan mempercayakan seluruh hidupnya kepada Arsen.

Tapi sekarang, semuanya terdengar seperti lelucon yang kejam.

Alena tersenyum pahit. "Lucu sekali," gumamnya pelan. "Aku menyerahkan hidupku padamu karena percaya pada semua janjimu. Tapi pada akhirnya, aku justru kehilangan diriku."

Ia menarik napas panjang, berusaha menahan air mata yang hampir jatuh.

"Bahkan, sekarang aku harus memulai semuanya dari nol."

Alena menghapus sudut matanya lalu kembali berjalan. Tapi, baru beberapa langkah, tubuhnya mendadak membeku. Kedua matanya membulat sempurna, napasnya tertahan.

Di depan, ia melihat seseorang yang sangat ia kenal. Seseorang yang seharusnya sedang berada di kantor pada jam seperti ini.

Arsen.

Dan, pria itu tidak sendirian. Ia bersama wanita yang Alena lihat di ponsel kedua Arsen.

Alena berdiri terpaku, sementara jantungnya mulai berdetak semakin cepat.

Tapi, begitu jarak mereka semakin dekat, Alena justru berbalik. Arsen dan wanita itu melewatinya begitu saja tanpa menyadari keberadaannya.

Alena mengepalkan tangannya erat. Air matanya kembali membasahi pipinya. Rasanya, ia ingin melakukan seperti yang Nadia katakan, melabrak mereka dan menjambak rambut mereka sampai botak.

Tapi, Alena justru diam. Dia menghapus air matanya, tatapannya berubah dingin. Lalu, ia berbalik, kembali melangkah dengan tekad yang semakin kuat.

1
nunik rahyuni
orang tua klo sdh meraju susah diluluhlan hatinya..kecuali kamu bw istri kenan🤣🤣🤣
nunik rahyuni
dimulai drama ikan terbang hati suami yg terkuyak karena kesadaran istri🤣🤣🤣
klo istrinya bodoh diem damai hatimu..sekaramg istrimu sudah sadar dia pintar dan berguna bukan orng bodoh yg cima diam tak berdaya di perlakukan semena mena..tunggu langkah selanjutnya
atik
Dasar suami durjana, cuekin aja Alena gk penting juga ngobrol ma Arsen
atik
Kamu pasti bisa Alena mengalahkan suami laknatmu itu
nunik rahyuni
baru sadar klo istrimu itu pinter..biarpun kamu kurung dirumah dg berteman sepi klo pinter ya pinter aja✌️✌️
atik
Rasain kamu Arsen
makin seru thor, lanjut...
Ade Chubi
kasihan istri nya di bohongin
atik
Ayolah kenan turuti ja keinginan kakekmu biar kamu bisa bahagia
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Tidak semudah itu 🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
atik
Kapok, ibu mertua tak tau diri dicuekin menantunya semoga segera setruk gara2 darah tinggi
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Pikiranku berkelana karena setruk. Aq pikir tadi Truk kendaraan. 🙏🤧
total 1 replies
atik
Puas2in senyum kalian para penghianat sebelum perselingkuhan terbongkar
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: /Applaud//Applaud//Applaud/
total 1 replies
Mira Hastati
bagus
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Thankiyu, kak💜
total 1 replies
atik
gak sabar nunggu Arsen hancur
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Hohoho... Pelan-pelan aja, kak. banyakin sabar🤭
total 1 replies
atik
Seru
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: thankiyu, kak 💜
total 1 replies
atik
lanjut thor, semangat 💪
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Siyap
total 1 replies
Ma Em
Alena lbh baik pura2 tdk tau saja , semoga Alena cepat mendapatkan pekerjaan dgn gaji yg besar agar Alena bisa cepat berpisah dgn Arsen .
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Cepet dapat CEO kaya juga,🤭
total 1 replies
Neng Saripah
ikut deg2an Thor 🤭🤭
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Itu tandanya kakak sedang jatuh cinta 🤭
total 1 replies
Nining damayanti
nggk buat CS bru thor
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Maaf, kak. soalnya sekarang cs gak bisa kontrak.
total 3 replies
Neng Saripah
belum apa2 udah nyesek euy...kira2 sanggup lanjut ga ya aku 😱
✯أزلان 💜 أديتيا✯ Mutzaquarius: Pasti sanggup, kak. Semangat 💪🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!