Diantha dan Althaf saling mengenal dan menjadi sahabat di bangku SMA..
di sekolah, mereka benar benar tidak terpisahkan, bahkan satu sekolah mengira mereka pacaran.
sebenarnya mereka sama sama memiliki perasaan cinta, hanya saja , mereka sepakat untuk selalu menjadi sahabat dan tidak akan pernah pacaran, agar persahabatan mereka langgeng..
Sayangnya Diantha tidak sanggup untuk menahan perasaannya lagi hingga membuat jarak di antara meraka..
bagaimana kisah Diantha dan Althaf dalam cinta yang rumit dan persahabatan yang ingin di jaga..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liana29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkeliling
Diantha ragu sejenak..
namun akhirnya mengulurkan tangannya dan menyambut jabat tangan Althaf.
Sentuhan hangat tangan cowok itu mengirimkan sengatan halus yang membuat jantungnya kembali berdegup kencang. "Diantha," ucapnya lirih.
Setelah melepaskan tautan tangan mereka, Diantha segera berdiri. Suasana kelas yang canggung ini membuat pipinya terus-menerus merona, ia butuh udara segar.
Lagipula, sebagai murid baru, ia benar-benar penasaran ingin melihat-lihat lingkungan sekolah barunya.
Namun, langkah Diantha langsung terhenti..
Althaf, yang duduk menyilang di kursi sebelah, masih memposisikan tubuhnya sedemikian rupa hingga menghalangi jalan keluar dari barisan bangkunya.
Cowok itu mendongak, menatap Diantha dengan binar jenaka yang seolah sengaja mengujinya.
Diantha menghela napas pelan, mencoba mengumpulkan keberaniannya. "Permisi, Althaf. Aku mau lewat," ucapnya formal, berusaha menyembunyikan kegugupan.
Althaf terkekeh, lalu bangkit berdiri dengan gerakan santai yang terkesan lambat, memberikan ruang yang pas-pasan bagi Diantha untuk melintas.
" Silahkan " ucap Althaf dengan gerakan seperti seorang pelayan yang mempersilakan tuannya..
Saat Diantha melangkah maju, Althaf tiba-tiba memiringkan kepalanya dan bertanya, "Nggak ngajak aku nih?"
Diantha menghentikan langkahnya tepat di ambang barisan meja. Ia menoleh, menatap Althaf dengan dahi berkerut heran. "Memangnya kamu tau aku mau kemana?" tanya balik Diantha, menantang.
Althaf tersenyum lebar, menyisir rambut depannya dengan jari-jari tangan senada dengan gayanya yang santai. "Kamu kemana aja, aku ikut."
Kalimat sederhana itu sukses membuat pertahanan Diantha goyah lagi. Demi menyembunyikan senyum yang hampir terbit di bibirnya, Diantha langsung berbalik dan berjalan cepat keluar kelas.
Di belakangnya, terdengar suara tawa renyah Althaf yang dengan setia mengekor di tiap langkahnya.
Mereka berdua berjalan menyusuri koridor lantai dua.
Angin siang berembus sepoi-sepoi, membawa aroma pepohonan dari taman tengah sekolah. Diantha mengedarkan pandangan ke sekeliling—menatap deretan laboratorium, ruang guru, hingga lapangan basket di bawah yang ramai oleh riuh murid-murid bermain bola.
Althaf berjalan di sisinya, sesekali memberikan penjelasan kecil layaknya pemandu wisata amatir, menceritakan mitos kantin yang katanya punya siomay paling enak, hingga ruang seni yang sering dikunci.
Interaksi itu mengalir begitu saja. Rasa canggung yang tadi menggelayuti Diantha perlahan melebur, berganti dengan obrolan ringan yang sesekali diwarnai perdebatan kecil yang manis. Diantha menyadari bahwa di balik sifat menjengkelkannya, Althaf adalah sosok yang hangat dan sangat seru untuk diajak bicara.
Kringgggggg!..
Bel panjang kembali berbunyi nyaring, memutus tawa mereka di dekat tangga lantai satu. Waktu tiga puluh menit rasanya menguap begitu cepat.
"Yah, udah bel aja," keluh Althaf sambil melirik jam tangan hitam di pergelangan kirinya. "Padahal gue belum nunjukin gazebo belakang yang adem."
"Kan bisa besok-besok lagi," sahut Diantha sambil tersenyum tipis, mulai melangkah menaiki tangga untuk kembali ke kelas.
"Janji ya, besok keliling lagi?" Althaf menyamakan langkah kakinya di samping Diantha, menatapnya dengan tatapan penuh harap.
Diantha tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mengangguk kecil sambil mempercepat langkahnya karena koridor mulai kembali padat oleh murid-murid yang berlarian masuk kelas.
Ketika mereka berdua melangkah melewati pintu kelas bersamaan, beberapa pasang mata langsung menatap mereka penuh selidik dan bisikan menggoda.
Diantha segera berjalan menuju bangkunya dengan jantung yang kembali bertalu, sementara Althaf berjalan ke mejanya di dekat jendela sambil melempar kedipan usil ke arah Diantha sebelum duduk. Hari pertama orientasi yang awalnya mendebarkan, kini berubah menjadi hari yang paling Diantha syukuri.