NovelToon NovelToon
Cinta Yang Menunggu Waktu

Cinta Yang Menunggu Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Single Mom
Popularitas:508
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kata Dokter Yang Meruntuhkan

"Ada apa, Kak? Kok tumben ngajak ketemu?"

ucap Renaldi pada kakaknya.

"Kamu ceraikan aja istri kamu itu. Gak guna!

Kawin itu buat cari anak. Ini udah enam tahun kalian belum punya anak juga,"

ucap Imel dengan emosi. Matanya melot.

"Mbak, anak itu pemberian Tuhan. Bukan sesuka hati kami.

Kalau sampe sekarang kami belum punya anak, ya mungkin belum waktunya aja.

Ini rumah tangga kami. Kami udah sepakat nunggu aja. Gak mempermasalahkan,"

jawab Renaldi. Suaranya udah mulai kesal.

"Iya, tapi sampe kapan? Mbak aja malu! Masa kamu anggap biasa aja, Renal!"

potong Imel. Suaranya makin tinggi.

"Mbak, kalau ngajak saya ketemu cuma buat bahas ini terus,

ya udah jangan ketemu. Cara Mbak gini bisa bikin hubungan persaudaraan kita renggang.

Mbak tau nggak, aku sama istri aku juga pengen punya anak.

Kami udah usaha, tapi belum dikasih. Mau gimana lagi, Mbak?

Ibaratnya, apa Mbak mau minta sama Tuhan biar Mbak cepet mati?"

jawab Renaldi. Napasnya berat.

"RENAL! Kurang ajar kamu! Kenapa nyumpahin Mbak?

Apa kamu mau Mbak ini mati, hah?!"

sambar Imel. Dia emosi banget, mukanya merah.

"Hati Mbak sakit, kan? Nah, itu yang aku sama istri aku rasain, Mbak.

Jadi tolong, jangan bahas apalagi nyindir-nyindir Andira lagi,"

ucap Renaldi dingin.

Abis itu Renaldi berdiri. Dia jalan ninggalin Imel sendirian di meja makan.

Imel cuma bisa bengong, tangannya masih gemetar.

*_**_***

Seperti biasa, Renaldi sama Andira ngabisin waktu di teras depan rumah.

Sambil nikmatin teh panas sama pisang goreng buatan Andira.

"Mas, kita ke dokter ya buat pemeriksaan lengkap,"

ucap Andira pelan. Dia nyender ke bahu suaminya.

"Iya, Sayang. Maaf ya sampe kamu dihina terus.

Mas juga mau kita periksa biar tau masalahnya di mana.

Terus kita sama-sama cari jalan keluar," jawab Renaldi.

Dia genggam tangan istrinya kenceng.

Andira sama Renaldi sepakat. Besok mereka ke rumah sakit.

Buat cek lengkap berdua.

"Ya udah, kita istirahat ya. Ini udah larut malam.

Besok pagi kita izin ke tempat kerja, terus ke rumah sakit,"

pinta Renaldi sambil ngecup kening Andira.

Kayak biasa, pagi-pagi mereka sibuk sama kerjaan rumah.

Beres-beres, cuci piring, masak sarapan.

Andira ngerjain semuanya dengan santai dan telaten.

Renaldi bantuin. Dia yang nyuci piring, Andira yang masak.

Meskipun belum punya anak, mereka saling cinta.

Saling bantu. Kompak banget ngerjain rumah.

Jam 7 pagi, Andira udah rapi di sekolah.

Dia ketok pintu ruang kepala sekolah.

"Tok tok... Permisi, Pak," ucap Andira.

"Masuk," jawab suara dari dalam.

"Assalamualaikum, Pak. Saya izin pagi ini ke rumah sakit dulu ya.

Aku sama suami mau pemeriksaan lengkap di rumah sakit.

Buat tau kenapa sampe sekarang aku belum hamil juga,"

jelas Andira sambil nunduk sopan.

"Kepala sekolah senyum. "Bagus itu, Andira.

Semoga hasilnya memuaskan ya."

"Iya, Pak. Makasih," jawab Andira.

Andira keluar ruangan. Dia nunggu di gerbang.

Renaldi juga tadi izin ke kantornya ke pimpinan.

Sampe di Rumah Sakit Permata Hati, mereka langsung daftar.

Terus nunggu di depan ruang Poli Kandungan dulu.

Abis itu baru ke Poli Andrologi buat cek kesehatan Renaldi.

"Kandungan Ibu sehat aja. Gak ada yang salah.

Nanti Ibu sama Bapak ke Poli Andrologi ya buat cek lengkap kesehatan Bapak,"

ucap dokter kandungan setelah USG.

"Iya, Dok. Makasih," jawab Andira sama Renaldi bareng.

Mereka balik nunggu lagi. Deg-degan.

Pas nama Renaldi dipanggil, mereka masuk ruangan bareng.

Di sana dokter mulai pemeriksaan.

Cek darah, cek sperma, tanya riwayat. Rangkaian tes lengkap.

Andira genggam tangan suaminya terus.

Dia liatin Renaldi yang mukanya tegang tapi berusaha tenang.

Tiba waktunya denger hasil. Dokter buka map hasil lab.

"Melalui hasil pemeriksaan, mohon maaf ada sedikit masalah

dengan kesuburan Bapak. Sehingga membuat sperma ini kurang bagus.

Itu yang bikin Bapak sama Ibu sampe sekarang belum punya anak.

Yang mana Bapak sendiri yang... mandul,"

ucap dokter hati-hati. Suaranya pelan.

Dunia Andira sama Renaldi seakan runtuh saat itu juga.

Mereka saling pandang. Mata Andira langsung berkaca-kaca.

Renaldi nunduk. Tangannya mengepal di atas paha.

Dia nahan napas, nahan malu, nahan sakit.

Andira langsung peluk lengan suaminya.

"Mas..." bisiknya. Gak ada kata lain yang keluar.

Renaldi narik napas panjang. Terus dia balas genggam tangan Andira.

"Gak apa-apa, Sayang. Kita hadapi bareng ya," ucapnya.

Suaranya serak, tapi tetep menguatkan istrinya.

Dokter lanjut jelasin, "Ini bukan akhir dari segalanya, Pak, Bu.

Masih ada terapi, ada program bayi tabung.

Yang penting Bapak jangan stres. Ibu juga harus support."

Andira angguk pelan. Air matanya jatuh.

"InsyaAllah, Dok. Kami usaha lagi."

Pas keluar ruangan, kaki Renaldi kayak lemas.

Dia diem aja sepanjang jalan ke parkiran.

Di motor, Andira peluk pinggang suaminya dari belakang.

"Mas, maafin aku ya," bisiknya.

"Ngapain minta maaf, Sayang? Yang sakit aku, bukan kamu.

Kamu gak salah apa-apa," jawab Renaldi. Suaranya pelan.

Andira nangis di punggung suaminya.

"Mas gak mandul. Mas cuma... lagi diuji aja."

Renaldi diem. Dia nyetir pelan.

Di lampu merah, dia muter badan, ngecup tangan Andira.

"Udah, kita pulang ya. Kita sholat, minta sama Allah.

Kalo Tuhan kasih, Alhamdulillah. Kalo belum, kita tetep berdua," ucap Renaldi.

Malam itu mereka gak banyak ngomong.

Cuma sholat bareng, terus sujud lama banget.

Andira sujud sambil nangis.

"Ya Allah, kalo Mas aku yang diuji, kasih aku kuat buat jagain dia ya Allah."

Renaldi sujud sambil bisik, "Ya Allah, kalo aku yang kurang,

jangan ambil istri aku. Dia cukup buat aku."

Mereka runtuh bareng. Tapi bangunnya juga bareng.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!