Cerita Ini bersifat fiktif belaka!
Kais Arfan Syailendra melakukan kesalahan satu malam dengan Anisa Syafa sekertaris nya sekaligus sahabat dari istrinya.
Kais menjerat Anisa dalam hubungan rumit dengan tujuan membongkar pengkhianatan yang di lakukan Marsya istri Kais bersama Bagas tunangan Anisa.
Bagaimana Kais membuat Anisa tetap disisinya dan membongkar rahasia masalalu mereka? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anisa & Bagas ( Revisi )
Setelah hari di mana Kais kembali menyentuh nya, Anisa kini di buat lega karena beberapa hari ini akan terbebas terlepas dari Kais yang harus keluar negeri bersama asistennya Rendi.
Hari weekend pun akhirnya datang juga. Marsya menemui Anisa di sebuah cafe di sebuah mall tak jauh dari tempat kost nya.
"Hai Nis, uuuhhh...kangen banget deh.." Marsya memeluk Anisa dan keduanya cipika cipiki seperti biasanya.
"Kamu bisa saja, kita bahkan tiga hari lalu ketemu loh, lebay!" mendengar ucapan sahabatnya, Marsya terkekeh.
"Tapi tetap saja aku kangen. Apalagi Kais nggak ada di rumah. Rasanya rumah sepi banget." Mengingat kembali soal Kais, Anisa merasakan hatinya tak tenang. Apalagi dengan apa yang di lakukan dengan Kais di belakang Marsya.
"Tapi kan malam ini dia balik dari Singapore kan? Kamu bisa kangen-kangenan sama suami kamu." Anisa melihat raut wajah sahabatnya itu seketika berubah.
"Kenapa, apa ada masalah?" Anisa kembali bertanya mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
"Kais bilang dia kembali besok. Nggak jadi hari ini." mendengar jawaban sahabatnya itu, Anisa mengerutkan keningnya.
"Aneh, bukannya jadwal penerbangan nya sore ini.." Anisa hanya bisa berkata dalam hati tentang kepulangan Kais dari Singapore. Sepengetahuan nya Kais akan kembali dengan penerbangan sore ini dari Singapore. Jika memang ada penundaan, pastinya Rendi akan konfirmasi padanya.
"Mungkin ada pekerjaan yang belum selesai Sya, tenanglah.." Marsya menghela nafas panjang.
"Dia bilang begitu Nis, tapi kenapa hati ku nggak tenang ya?" Anisa mengusap punggung sahabat nya mencoba untuk melapangkan hati sahabatnya.
"Sudahlah, jangan overthinking. Positif thinking saja Sya, suami mu itu orang super sibuk. Untuk sekedar makan saja dia harus buru-buru dan lanjut meeting lagi." mendengar ucapan Anisa, Marsya pun langsung memeluk tubuh sahabatnya itu.
"Terimakasih ya Nis, kamu selalu bisa membuat hatiku tenang." Anisa merasakan sesak di dadanya mendengar ucapan sahabatnya itu. "Aku percaya kamu pasti bisa menjaga Kais jika aku nggak sama dia." Anisa mengernyitkan dahinya mendengar penuturan Marsya.
"Sya, jangan bilang begitu.. Pak Kais orang yang selalu menjaga dirinya. Bahkan untuk berinteraksi dengan lawan jenis hanya sekedar nya." tersenyum pada Anisa.
"Iya, aku percaya Nis.."
Hati Anisa merasa tambah bersalah saat mengingat pengkhianatan yang sudah dia lakukan di belakang sahabatnya itu.
...----------------...
Malam harinya, Anisa sudah membuat janji dengan Bagas tunangannya. Mereka saat ini sedang makan malam bersama disebuah restoran.
"Cepat habiskan, waktu ku cuma sebentar Nis.." Anisa yang sedang menikmati makanan nya Mendongakkan kepalanya menatap ke arah Bagas.
"Apa ada jadwal operasi malam ini? Bukannya kamu sudah bebas tugas?" Bagas menggelengkan kepalanya dan menatap Anisa serius.
"Aku memang sudah selesai jam tugas. Tapi kamu ingat aku jadi pembimbing buat koas yang baru dua minggu ini datang kan? ." Anisa menganggukan kepalanya mengingat cerita Bagas beberapa minggu lalu yang mengatakan dia menjadi dokter pembimbing untuk beberapa koas di Rumah Sakit tempat dia tugas.
" Baiklah, aku sudah selesay. Kita langsung pulang."
Bahkan Anisa langsung beranjak dari tempat duduk nya. Bagas mengangguk dan dengan cepat ikut beranjak dari tempat duduknya dan segera ke meja kasir untuk segera membayar makan malam kali ini.
Mobil milik Bagas membawa mereka ke pemukiman dimana Anisa tinggal di sebuah kost-an yang di sebuah gang.
Bagas membukakan pintu mobil dan dengan senyum tipis Anisa turun dari mobil itu. Bagas mengusap lembut rambut terurai Anisa dan mengecup kening gadis itu. Dengan rasa berat Anisa pun membiarkan Bagas pergi. Namun sebelum benar-benar pergi, Bagas memeluk tubuh Anisa dengan erat.
"Kamu hati-hati di jalan ya, kabari aku kalau sudah sampai Rumah Sakit." Bagas mengangguk dan tersenyum sembari mengacak rambut Anisa dengan gemas.
"Gas, rambut aku !!" dengan wajah kesal Anisa memprotes tindakan tunangannya itu.
Bagas terkekeh mendengar suara manja Anisa. "Baiklah sayang, habisnya aku gemas sama kamu. Langsung masuk ke kostan ya, kalau ada apa-apa telpon aku." Anisa mengangguk dan dengan rasa berat hati Anisa melepas Bagas untuk pergi meninggalkan dirinya.
Anisa melihat mobil Bagas semakin menjauh dan hilang dari pandangan matanya. Anisa pun menghela nafas panjang dan kemudian membalikkan tubuhnya ingin melangkah menuju kost miliknya. Walaupun memang ada sedikit rasa kecewa yang timbul di hati Anisa karena mereka tidak bisa berlama-lama bertemu.
Tapi baru saja dia ingin melangkah, tiba-tiba saja seseorang membekap mulutnya dan menyeret tubuh nya dan memaksanya masuk ke dalam mobil. Anisa berusaha memberontak untuk melepaskan diri namun tenaganya tak seberapa di banding orang yang saat ini membekap mulutnya.
"Jangan takut, ini aku.." bisikan seseorang membuat Anisa berhenti memberontak. Suara yang terdengar familiar di telinga nya.
Tapi, keningnya mengernyit saat mengingat ucapan sahabatnya yang mengatakan jika Kais tak jadi pulang hari ini. Tapi kenapa dia sekarang ada disini? Pertanyaan itu berputar di dalam otaknya.
Otaknya yang sedang sibuk memikirkan bagaimana Kais bisa ada disini, tiba-tiba Anisa terkejut memintanya untuk masuk ke dalam mobil.
"Masuk!" pintu sebuah mobil terbuka dan dengan sedikit mendorong paksa tubuh Anisa ke dalam mobil.
Anisa dengan terpaksa masuk ke dalam mobil dan saat Anisa berusaha untuk keluar dari dalam mobil itu, ternyata Kais sudah mengunci pintu mobil itu.
"Buka pintunya. Aku mau pulang. Kamu mau bawa aku kemana! Mas, kenapa kamu tiba-tiba ada di sini bukannya kamu masih di Singapore dan pulang besok?"
Kais tak mengindahkan ucapan Anisa. Mobil itu perlahan bergerak dan meninggalkan daerah kost milik Anisa. "Kamu mau bawa aku kemana mas, jawab !!" dengan wajah panik Nisa mencoba untuk bertanya pada Kais dengan nada yang lumayan tinggi.
Kais menoleh sekilas ke arah Anisa. "Duduk diam dan kamu akan tahu nanti." dengan suara datar Kais bicara pada Anisa.
Tatapan mata Kais seolah sedang menahan amarah yang siap meledak kapan saja.
Mobil itu bergerak cepat membelah jalanan yang di lewati. Kawasan apartemen mewah Mobil itu masuk ke sebuah basement.
Mobil mewah itu terparkir dengan mulus dekat dengan pintu masuk menuju sebuah lift di salah satu unit apartment. Dengan wajah yang masih terlihat dingin Kais membuka pintu mobil.
Saat Anisa keluar dari dalam mobil, tiba-tiba saja tangan Anisa di tarik Kais dengan lumayan kencang membuat Anisa tersentak. Kais melangkah dengan lebar menuju sebuah lift. Langkah Anisa sedikit tertatih karena berusaha mengikuti langkah Kais yang membawa tubuh Anisa dengan paksa.
"Pelan-pelan jalannya, ini apartemen siapa mas? Kamu jangan macam-macam ya, aku bisa teriak!!" mendengar ancaman Anisa tak membuat Kais takut.
Wajahnya tetap biasa, namun Anisa bisa merasakan genggaman tangan Kais semakin erat di pergelangan nya. Saat pintu lift terbuka, tubuh Anisa Kais dorong masuk ke dalam lift dan saking kencangnya, dorongan itu membuat tubuh Anisa membentur diding lift dan membuat tubuh itu terpojok saat Kais berdiri tepat di depan Anisa menatap dengan tajam.
Bersambung.