"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."
Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.
Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.
kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.
Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Pertemuan di Sudut Restoran.
***
Aroma khas panggangan daging berpadu dengan wewangian aromaterapi mewah yang menenangkan menyelimuti seisi ruangan The Peak Restaurant.
Restoran ini terkenal sebagai tempat bertemunya para eksekutif muda dan konglomerat untuk melakukan negosiasi bisnis bernilai miliaran rupiah. Di bagian tengah, alunan musik jaz instrumen mengalun lambat, menciptakan atmosfer yang elegan dan eksklusif.
Namun, di sudut paling pojok restoran yang berbatasan langsung dengan dinding kaca raksasa berlatar pemandangan langit Jakarta, suasananya terasa sedikit berbeda.
Tiga orang remaja berseragam putih-abu-abu tampak duduk melingkari meja kayu bundar. Di atas meja tersebut, laptop milik Rendy terbuka, dikelilingi oleh tumpukan lembar cetak jurnal, buku catatan, dan beberapa gelas es lemon teh yang sudah mencair.
Freya, Rendy, dan Sella sengaja memilih tempat ini setelah jam pulang sekolah usai. Mereka mendapatkan tugas kelompok berskala besar untuk menyusun sebuah artikel ilmiah populer tentang sosiologi perkotaan yang harus dikumpulkan esok pagi.
"Frey, coba lihat paragraf ketiga ini. Kalimat pembukanya sudah pas belum untuk analisis interaksi sosialnya?". Tanya Rendy, memutar posisi laptopnya agar menghadap ke arah Freya.
Freya memajukan tubuh sintalnya, menopang dagu dengan kedua tangannya yang lentik sembari membaca barisan kalimat di layar komputer.
"Hmm... sebenarnya sudah bagus, Ren. Tapi kalau kata 'signifikan' diganti dengan kata yang lebih baku, artikel kita pasti akan terlihat jauh lebih profesional di mata tim penilai."
"Tuh, dengar apa kata calon istrimu, Ren! Dia kan juara kelas, ikuti saja teorinya!". Goda Sella dengan nada berbisik yang jenaka, sukses memecah konsentrasi mereka.
"Ih, Sella! Mulutmu itu benar-benar tidak bisa direm, ya!". Protes Freya dengan wajah cemberut yang teramat menggemaskan, wajah cantiknya seketika bersemu merah yang tipis akibat godaan sahabatnya itu.
Ia memukul lengan Sella dengan gulungan kertas artikel, membuat Rendy yang duduk di hadapan mereka tertawa lepas.
"Hahaha! Tidak apa-apa, Frey. Ucapan Sella itu mengandung doa yang sangat baik, jadi diaminkan saja”. Timpal Rendy jahil, melayangkan senyuman hangat dengan lesung pipitnya yang memikat, membuat Freya semakin salah tingkah dan menundukkan kepalanya dalam-dalam demi menyembunyikan detak jantungnya yang berpacu cepat.
Tepat pukul lima sore, pintu kaca di lobi depan restoran bergeser terbuka secara otomatis.
Langkah kaki yang tegap, berat, dan sarat akan otoritas mutlak melangkah masuk memasuki ruangan.
Galen Danendra berjalan di barisan paling depan, memancarkan aura seorang CEO raksasa yang teramat dingin, dominan, dan tak tersentuh. Kemeja formal biru navy yang melekat di tubuh kekarnya tampak berpadu serasi dengan setelan jas hitam mahal yang tersampir rapi di lengannya.
Di belakangnya, Ferdi—sang asisten pribadi berjalan dengan langkah teratur membawa tas dokumen, mengekor di belakang bosnya menuju meja VIP yang telah dipesan untuk pertemuan dengan klien penting asal Singapura.
Galen mendudukkan tubuh tegapnya di atas kursi kulit mewah yang menghadap ke arah dalam restoran. Klien dari Vanguard Holdings belum tiba, dan Ferdi segera meletakkan berkas kontrak kerja sama di atas meja marmer untuk ditinjau ulang oleh Galen sebelum negosiasi dimulai.
Namun, baru dua menit Galen menatap lembaran kertas putih berisi angka-angka saham di depannya, fokus pria berusia dua puluh sembilan tahun itu hancur berantakan menjadi abu.
Sepasang mata elangnya mendadak mendeteksi sebuah siluet yang teramat akrab di sudut paling pojok restoran yang temaram.
Dari kejauhan, Galen menangkap sosok Freya.
Darah di dalam tubuh sang duda berdarah dingin seketika mendidih sempurna dalam hitungan detik. Rahang tegasnya mengetat begitu rapat hingga urat-urat di sepanjang leher dan pelipisnya menegang kaku.
Melalui balik tatapan matanya yang sedingin es, Galen menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Freya sedang duduk begitu dekat, bertukar senyum yang teramat manis, dan tertawa lepas bersama bocah laki-laki berjaket denim yang pagi tadi melingkarkan tangan Freya di perutnya.
Melihat tawa bahagia Freya yang begitu lepas dan lepas tanpa beban didepan pria lain, sebuah gemuruh amarah kejam dan rasa posesif meletup secara brutal di dalam rongga dada Galen. Ia merasa harga diri dan otoritas mutlaknya sebagai pemilik tunggal atas hidup Freya sedang diinjak-injak secara lancang di depan umum.
Fokusnya mati total, matanya menatap tajam ke arah sudut meja Freya dengan kilat kebencian yang mendalam, mengabaikan dokumen miliaran rupiah di hadapannya seolah itu hanyalah kertas sampah yang tidak berguna.
Ferdi yang duduk di sampingnya menangkap perubahan drastis pada gestur tubuh atasannya. Ia melihat jemari Galen mencengkeram pulpen logamnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, dan arah mata elang bosnya tidak lagi membaca kontrak, melainkan menghujam lurus ke arah pojok restoran.
Menyadari situasi yang berbahaya dan waktu kedatangan klien penting yang tersisa kurang dari lima menit, sang asisten pribadi membisikkan sesuatu tepat di dekat telinga Galen dengan nada suara yang teramat rendah, profesional, dan penuh dengan penekanan yang berhati-hati.
"Maaf mengganggu, Tuan Galen... Pihak klien dari Vanguard Holdings baru saja mengabari lewat sekretaris mereka bahwa mobil mereka sudah memasuki area lobi”. Bisik Ferdi, matanya melirik sekilas ke arah berkas kontrak di meja. "Saya mohon, mari kita tetap fokus pada peninjauan klausul pasal utama ini terlebih dahulu, Tuan. Pertemuan ini sangat krusial bagi proyek ekspansi kita bulan depan."
Bisikan profesional dari asisten kepercayaannya itu seketika bertindak seperti siraman air dingin yang menyentak kesadaran Galen dari kegilaannya.
Galen menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan dari balik hidungnya yang mancung untuk meredam gemuruh panas di dadanya.
Pria itu memaksa sepasang mata elangnya untuk beralih, kembali menatap lembaran kertas kontrak di atas meja marmer dengan rahang yang masih mengetat kaku. Otoritas dewasanya sebagai pemimpin tertinggi Danendra Group memaksanya untuk kembali fokus pada urusan bisnis, mengubur sejenak amarah gila yang hampir membuatnya kehilangan kendali didepan umum.
Namun, didalam lubuk hatinya yang paling dalam, gumpalan rasa tidak rela dan kejengkelan tetap membakar batin sang CEO muda. Galen menggeram kasar di dalam hatinya, mengutuk pembangkangan tak kasat mata yang dilakukan oleh gadis remaja di sudut sana.
"Damn it... You really have no shame, Freya Anindita”. Umpat Galen berbisik didalam batinnya dengan nada yang dingin dan kejam. "Kau pikir… you can play behind my back… dan tertawa bersama sampah itu didepan umum?! Just wait until tonight... Aku sendiri yang akan memastikan kau membayar setiap senyuman yang kau berikan padanya hari ini. You are mine… dan aku tidak akan pernah membiarkan orang lain menyentuh apa yang menjadi milik Danendra!”.
Sementara badai emosi sedang mencengkram batin Galen di meja VIP, di sudut pojok restoran, Freya, Rendy, dan Sella sama sekali tidak menyadari keberadaan sang monster yang sedang mengintai dari kejauhan.
Mereka bertiga tetap fokus pada layar laptop, sesekali berdebat tentang materi artikel, lalu kembali tertawa lepas menikmati sisa sore hari mereka dengan kebahagiaan masa muda yang penuh warna.
***
Setengah jam berlalu dengan cepat di sudut meja bundar tersebut. Fokus Freya mulai terpecah akibat rasa pening yang tiba-tiba menyerang kepalanya setelah terus-menerus menatap layar laptop dan tumpukan kertas jurnal.
"Rendy, Sella, aku ke toilet sebentar, ya. Mau cuci muka dulu supaya segar”. Pamit Freya sembari merapikan sedikit rok seragamnya.
"Oh, iya Frey. Jangan lama-lama ya, tinggal beberapa kesimpulan lagi yang perlu kita sinkronkan”. Sahut Rendy dengan senyuman hangatnya yang dibalas anggukan lembut oleh Freya.
Freya melangkah meninggalkan kehangatan di meja kelompoknya, berjalan menyusuri lorong temaram restoran menuju area restroom eksklusif. Toilet wanita di The Peak Restaurant didesain begitu mewah dengan dinding marmer hitam, cermin besar berhias lampu LED keemasan, dan aroma esensial melati yang menenangkan.
Freya masuk kedalam salah satu bilik, membasuh wajahnya di wastafel dalam, dan mencoba menenangkan detak jantungnya yang entah mengapa mendadak merasa tidak tenang sejak beberapa menit lalu.
Setelah merasa cukup segar, Freya memutar knop pintu bilik toiletnya dan melangkah keluar.
Deg!
Langkah kaki Freya langsung terkunci mati di atas lantai marmer. Seluruh pasokan oksigen di paru-parunya seolah tersedot habis dalam satu kedipan mata. Jantungnya berdentum begitu keras hingga menimbulkan rasa ngilu di dadanya.
Di hadapannya—tepat di depan pintu keluar utama kamar mandi yang kini telah tertutup rapat dan terkunci dari dalam—berdiri sesosok pria bertubuh tegap menembus batas kewajaran.
Galen Danendra.
Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu berdiri tegak dengan aura predator yang teramat pekat. Kemeja navy yang melekat ketat di tubuh kekarnya tampak berantakan dengan dua kancing teratas yang sengaja dibuka, sementara jas mahalnya entah sudah dilempar ke mana.
Wajah tampannya yang biasa datar kini tampak begitu dingin, bengis, dan sarat akan kilat amarah. Sepasang mata elangnya menghujam lurus ke dalam manik mata Freya, mengunci pergerakan gadis remaja itu hingga tak berkutik.
Sebelum Freya sempat membuka mulutnya untuk bersuara atau berteriak, Galen melangkah maju satu langkah. Suara ketukan sepatu pantofelnya terdengar sangat mengintimidasi di dalam ruangan yang sunyi itu.
Ia menundukkan wajahnya, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulin yang pekat bercampur kepulan amarah langsung menusuk indra penciuman Freya.
Dari balik bibir tipisnya yang mengatup rapat, Galen mengeluarkan kata-kata yang teramat kejam dengan nada suara yang rendah, serak, namun menghujam tepat di jantung Freya.
"Kau benar-benar murahan, Freya Anindita”. Bisik Galen dengan kilat kebencian yang mendalam di matanya. "Hanya butuh beberapa jam di luar rumah untuk membuatmu lupa siapa pemilik hidupmu? Tertawa menjijikkan di depan umum dengan sampah jalanan itu... Kau pikir aku membiarkanmu hidup bebas untuk bertingkah seperti pelacur kecil di hadapanku?".
Deg!
***