Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kursi kosong 1
Riuh tepuk tangan memenuhi aula sekolah.
Acara demi acara telah selesai dilaksanakan dengan lancar. Kini tibalah momen yang paling dinantikan seluruh siswa, yaitu pemberian selempang kelulusan dan medali berlogo sekolah sebagai simbol berakhirnya perjalanan mereka di bangku sekolah.
Lampu aula memantulkan cahaya hangat ke seluruh ruangan. Di setiap sudut, para orang tua telah bersiap dengan kamera di tangan. Beberapa siswa tampak merapikan pakaian mereka, sementara yang lain sibuk tersenyum ke arah keluarga yang sejak tadi melambaikan tangan dari kejauhan.
Di atas panggung, pembawa acara mengambil mikrofon.
"Baik, hadirin yang kami hormati. Kini kita memasuki prosesi pemberian selempang dan medali kelulusan kepada seluruh siswa."
Suasana aula mendadak menjadi lebih tenang.
"Apabila terdapat siswa yang berhalangan hadir, medali dapat diwakilkan oleh anggota keluarga yang hadir. Kepada nama-nama yang kami panggil, dipersilakan maju ke depan."
Satu per satu nama mulai disebutkan.
Tepuk tangan kembali terdengar setiap kali seorang siswa menaiki panggung. Ada yang berjalan bersama kedua orang tuanya, ada yang memeluk ibunya setelah menerima medali, bahkan beberapa ayah tampak tak malu mengusap air mata saat melihat anaknya resmi lulus.
Di bangku deretan tengah, Haseena duduk diapit oleh Wafiza dan Aretha.
Namun pandangannya tidak benar-benar tertuju ke panggung.
Tatapannya justru mengembara ke sekeliling aula.
Ia melihat seorang ibu membetulkan letak selempang anaknya sebelum dipakaikan guru.
Di sisi lain, seorang ayah sibuk mengatur posisi kamera sambil berkali-kali berkata, "Senyum dulu, Nak."
Beberapa keluarga bahkan sudah berdiri di depan panggung, tak sabar mengabadikan momen yang hanya datang sekali seumur hidup.
Tanpa sadar, sudut bibir Haseena ikut terangkat.
Namun senyum itu hanya bertahan sesaat.
Bayangan dua minggu yang lalu kembali melintas di kepalanya.
"Bu, nanti kita pakai baju warna apa?"
"Kalau menurut Ibu, yang senada aja biar bagus difoto."
"Aku maunya pink!"
"Husna pasti milih warna biru."
Percakapan sederhana itu...
Kini hanya tinggal kenangan.
"Seen..."
Suara Wafiza memecah lamunannya.
Haseena tak bereaksi.
"Seen!"
Kali ini Wafiza menyenggol pelan lengannya.
"Hah?"
Haseena menoleh cepat.
"Kamu kenapa? Dari tadi melamun terus."
Haseena memaksakan senyum tipis.
"Nggak apa-apa."
Aretha yang duduk di sebelah kirinya ikut memperhatikan wajah sahabatnya.
"Abang kamu belum datang?"
Haseena menggeleng pelan.
"Belum."
Jawabannya singkat.
Terlalu singkat.
Namun cukup membuat Aretha mengerti bahwa Haseena sedang berusaha menahan banyak hal sekaligus.
Tak lama kemudian, suara pembawa acara kembali terdengar.
"Berikutnya..."
"...Zafran El Rayyan bin Bapak Rayyan Syamil."
Jantung Haseena seolah berhenti berdetak sesaat.
Nama itu bergema di seluruh aula.
Ia menoleh ke arah pintu masuk.
Berharap...
Sangat berharap...
Zafran tiba-tiba muncul sambil berlari kecil karena terlambat.
Namun hingga beberapa detik berlalu...
Tak ada siapa pun yang datang.
Haseena menarik napas panjang.
"Aku dulu ya."
Ia berdiri pelan.
Wafiza menggenggam tangannya sekilas.
"Semangat."
Haseena mengangguk kecil, lalu melangkah menuju panggung.
Setiap langkah terasa lebih berat dari biasanya.
Bukan karena medali yang akan ia terima.
Melainkan karena ia sadar...
Hari ini, ia kembali mewakili seseorang yang seharusnya berdiri di tempat itu.
Guru yang bertugas tersenyum hangat ketika Haseena tiba di hadapannya.
"Oh..."
"Kamu adiknya Zafran, ya?"
"Iya, Bu."
Haseena menundukkan kepala agar guru dapat memakaikan medali di lehernya.
"Loh, Zafran nggak bisa hadir?"
"Belum bisa, Bu."
Jawabannya lirih.
Guru itu mengangguk pelan.
"Kalau nanti sudah bertemu, sampaikan ya... sekolah menunggu dia untuk mengambil beberapa berkas kelulusan."
"Iya, Bu."
Guru itu kemudian menepuk pelan bahu Haseena.
"Yang kuat, ya."
Hanya tiga kata.
Namun Haseena tahu...
Guru itu tidak sedang membicarakan Zafran.
Ia sedang membicarakan kehilangan yang baru saja menimpa keluarganya.
"Ibu turut berduka atas kepergian almarhumah ibu kamu... dan semoga kakakmu segera ditemukan."
Haseena tersenyum tipis.
Senyum yang nyaris tak sanggup ia pertahankan.
"Terima kasih, Bu."
Ia membungkukkan badan singkat sebagai tanda hormat, lalu berbalik meninggalkan panggung.
Medali itu menggantung di lehernya.
Bukan atas namanya.
Melainkan atas nama seseorang...
Yang bahkan hingga hari itu belum juga pulang ke rumah.