NovelToon NovelToon
Mendadak Hamil

Mendadak Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.

Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Pernikahan yang Berawal dari Kesepakatan

Malam itu hujan turun cukup deras di kota London.

Tetesan air membasahi jendela besar ruang kerja Alexander Dimitri yang berada di lantai tiga mansion keluarga Dimitri.

Pria itu duduk sendirian di balik meja kerjanya.

Di hadapannya terdapat beberapa berkas penting yang seharusnya sudah selesai ia periksa sejak satu jam lalu.

Namun hingga sekarang, tidak satu pun berkas itu disentuh.

Pikirannya sedang tidak fokus.

Entah kenapa wajah Rubi terus muncul di kepalanya.

Lebih tepatnya, Rubi yang sekarang.

Rubi yang terbangun setelah demam tinggi beberapa hari lalu.

Alexander mengusap pelipisnya perlahan.

Sejak awal pernikahan mereka, Rubi bukan wanita yang banyak bicara.

Ia selalu menjaga jarak.

Bahkan terkadang terlihat takut ketika berada di dekatnya.

Karena itulah Alexander tidak pernah berusaha mendekat.

Pernikahan mereka memang tidak dibangun atas dasar cinta.

Mereka hanya menjalankan kesepakatan yang saling menguntungkan.

Namun sekarang...

Wanita itu berubah.

Sangat berubah.

Cara berbicaranya berbeda.

Cara tersenyumnya berbeda.

Bahkan sorot matanya berbeda.

Alexander tidak tahu harus menjelaskan bagaimana.

Tetapi ia bisa merasakannya.

Seolah Rubi yang sekarang bukan Rubi yang dulu.

Pria itu menghela napas pelan.

Matanya tanpa sadar tertuju pada sebuah foto lama yang tersimpan di dalam laci meja.

Foto itu diambil dua tahun lalu.

Hari ketika dirinya pertama kali bertemu Rubi.

---

Dua tahun yang lalu.

Saat itu Alexander sedang berada di rumah sakit untuk menjenguk salah satu anak buahnya yang terluka.

Hari itu suasana rumah sakit cukup ramai.

Alexander berjalan melewati lorong dengan beberapa pengawal di belakangnya.

Sampai sebuah suara tangisan menarik perhatiannya.

Tangisan seorang wanita.

Alexander sebenarnya tidak peduli.

Namun saat melewati ruang tunggu, langkahnya berhenti.

Di sana duduk seorang gadis muda yang menangis sendirian.

Tubuhnya gemetar.

Matanya merah.

Pakaiannya sederhana.

Sangat sederhana.

Di pangkuannya terdapat sebuah map berisi dokumen rumah sakit.

Alexander tidak tahu kenapa dirinya berhenti.

Biasanya ia tidak pernah peduli pada urusan orang lain.

Tetapi ada sesuatu dari gadis itu yang membuatnya memperhatikan.

Mungkin karena ia terlihat sangat sendirian.

Salah satu bawahannya segera mendekat.

"Tuan?"

Alexander mengangguk ke arah gadis itu.

"Cari tahu."

Bawahannya langsung bergerak.

Tidak sampai sepuluh menit, semua informasi sudah berada di tangan Alexander.

Namanya Rubi Casandra.

Berusia dua puluh satu tahun.

Mahasiswi sambil bekerja paruh waktu.

Dan hari itu...

Ia baru saja kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan lalu lintas.

Alexander membaca laporan itu tanpa ekspresi.

Namun saat melihat detail kecelakaannya, alisnya sedikit berkerut.

Mobil yang menabrak orang tua Rubi ternyata milik salah satu musuhnya.

Orang yang sedang berusaha menjatuhkan dirinya.

Meski kecelakaan itu tidak disengaja, tetap saja ada keterlibatan seseorang yang ia kenal.

Alexander kembali melihat ke arah Rubi.

Gadis itu masih menangis.

Tidak ada keluarga.

Tidak ada kerabat.

Tidak ada siapa-siapa yang menemaninya.

Entah kenapa pemandangan itu terasa mengganggu.

Sejak kecil Alexander sudah terbiasa melihat darah dan kematian.

Namun tetap saja...

Ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

Hari itu untuk pertama kalinya Alexander mendekati Rubi.

"Namamu Rubi?"

Gadis itu terkejut.

Ia mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.

Mungkin karena wajah Alexander terlalu tampan atau terlalu menyeramkan, Rubi terlihat gugup.

"I-iya."

Alexander duduk di kursi seberangnya.

"Aku tahu apa yang terjadi pada orang tuamu."

Mata Rubi langsung memerah lagi.

"Kalau Anda datang untuk mengasihani saya, tidak perlu."

Alexander menatapnya beberapa saat.

Lalu berkata,

"Aku datang membawa tawaran."

---

Awalnya Rubi mengira pria itu sedang bercanda.

Siapa yang menawarkan pernikahan kepada orang asing yang baru ditemui?

Tetapi ternyata Alexander serius.

Sangat serius.

Saat itu kondisi Rubi memang sangat buruk.

Ia kehilangan kedua orang tuanya sekaligus.

Biaya rumah sakit menumpuk.

Rumah mereka hampir disita.

Dan tidak ada keluarga yang bisa membantu.

Di saat itulah Alexander memberikan bantuan.

Semua biaya rumah sakit.

Semua utang.

Tempat tinggal.

Masa depan yang aman.

Sebagai gantinya...

Rubi harus menikah dengannya.

Saat itu Rubi sempat menolak.

Tentu saja.

Mana mungkin ia menikah dengan pria yang bahkan tidak dikenalnya?

Namun kehidupan sering kali tidak memberikan banyak pilihan.

Beberapa minggu kemudian, setelah mempertimbangkan segalanya, Rubi menerima tawaran tersebut.

Dan sejak hari itulah pernikahan mereka dimulai.

Pernikahan tanpa cinta.

Pernikahan tanpa perasaan.

Pernikahan yang hanya didasari kebutuhan masing-masing.

---

Alexander menutup kembali foto itu.

Tatapannya menjadi lebih dalam.

Alasan utama ia menikah memang bukan karena cinta.

Saat itu kakeknya sedang sakit.

Posisi ketua keluarga Dimitri menjadi rebutan banyak orang.

Beberapa anggota keluarga bahkan diam-diam berusaha menyingkirkannya.

Kakeknya hanya memberikan satu syarat.

Menikah.

Dan memiliki pewaris.

Karena hanya pewaris langsung yang bisa memperkuat posisinya sebagai calon ketua keluarga berikutnya.

Alexander tidak pernah tertarik pada hubungan romantis.

Karena itu ia memilih cara paling praktis.

Menikah.

Memiliki anak.

Selesai.

Namun kenyataannya tidak sesederhana itu.

Perlahan pikirannya kembali mengingat Rubi yang sekarang.

Wanita itu sering tersenyum pada para pelayan.

Mengobrol dengan tukang kebun.

Menghabiskan waktu membaca buku.

Bahkan beberapa hari lalu ia melihat Rubi membantu pelayan dapur menghias kue.

Hal yang tidak pernah dilakukan Rubi sebelumnya.

Alexander menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Apa yang sebenarnya terjadi padamu..."

gumamnya pelan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa penasaran pada seseorang.

---

Sementara itu.

Di kamar.

Rubi baru selesai mandi.

Ia duduk di depan cermin sambil mengeringkan rambutnya.

Hari ini tubuhnya terasa lebih ringan dibanding biasanya.

Mungkin karena kehamilannya mulai stabil.

Namun saat melihat pantulan dirinya di cermin, pikirannya kembali melayang.

Tentang masa lalu.

Tentang kehidupannya yang lama.

Tentang orang tua Rubi asli.

Dari ingatan yang ia dapatkan, wanita pemilik tubuh ini ternyata memiliki kehidupan yang tidak mudah.

Kehilangan kedua orang tua.

Menikah karena keadaan.

Dan hidup di tengah keluarga yang tidak benar-benar menerimanya.

Rubi menghela napas panjang.

"Ternyata hidupmu juga berat ya..."

Ia berbicara pada bayangan dirinya sendiri.

Entah kepada dirinya yang lama.

Atau kepada Rubi yang asli.

Terkadang ia merasa bersalah.

Karena sekarang ia menjalani hidup yang seharusnya menjadi milik orang lain.

Tok.

Tok.

Tok.

Suara ketukan pintu membuatnya tersadar.

"Masuk."

Pintu terbuka perlahan.

Dan Alexander masuk ke dalam.

Rubi langsung menegang.

Meskipun sudah beberapa hari tinggal bersama, ia tetap belum terbiasa.

Alexander melirik rambut Rubi yang masih setengah basah.

"Kau belum tidur?"

"Belum."

Alexander mengangguk pelan.

Kemudian matanya tertuju pada sebuah buku yang berada di atas meja.

"Kau membaca lagi?"

Rubi tersenyum kecil.

"Iya."

Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.

Suasana menjadi canggung.

Namun kali ini Alexander tidak langsung pergi seperti biasanya.

Pria itu berdiri di sana beberapa detik.

Seolah sedang memikirkan sesuatu.

Sampai akhirnya ia bertanya,

"Rubi."

"Hm?"

"Kalau suatu hari nanti hidupmu berubah..."

Rubi mengernyit.

"Maksudnya?"

Alexander sendiri tidak tahu kenapa ia menanyakan itu.

Namun kata-kata itu sudah terlanjur keluar.

"Kalau kau diberi kesempatan memulai hidup dari awal."

Tatapan mereka bertemu.

"Apa yang akan kau lakukan?"

Jantung Rubi langsung berdebar.

Untuk sesaat ia merasa seperti tertangkap.

Seolah Alexander mengetahui rahasia terbesarnya.

Namun tentu saja itu mustahil.

Rubi tersenyum tipis.

Lalu menjawab dengan jujur.

"Aku akan berusaha hidup lebih baik."

Alexander terdiam.

"Aku nggak bisa mengubah masa lalu."

Lanjut Rubi pelan.

"Tapi kalau diberi kesempatan kedua, aku nggak mau menyia-nyiakannya."

Untuk pertama kalinya malam itu, Alexander tidak bisa mengalihkan pandangannya.

Karena entah kenapa...

Jawaban itu terasa sangat tulus.

Dan tanpa disadari keduanya, benih-benih perasaan yang seharusnya tidak ada mulai tumbuh perlahan di antara mereka.

1
Alia Chans
like + 🌹+ komen semangat thor ✍️🤭





kalo sempat mampir ya thor🤭😉
wulaniii
gais jangan lupa like dan komen kalo bisa nonton iklanya 🤭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!