"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Sarapan yang Canggung
"Kamu benar-benar keras kepala dan tidak masuk akal," balas Keysa tajam. Matanya melotot melihat koper peraknya kini bersandar kaku di ujung ranjang berukuran besar milik Arga.
"Dan aku selalu mendapatkan apa yang aku mau. Terutama di dalam rumahku sendiri." Arga membalas tatapan itu tanpa gentar sedikit pun. Tangannya masih memegangi sisi perutnya yang dibalut perban, napasnya sedikit tertahan karena memaksakan diri menarik koper seberat itu.
Keysa mendecak pelan, merutuki nasibnya sendiri. Ia melihat wajah laki-laki di depannya semakin pucat pasi. Keringat dingin kembali mengucur di pelipis Arga. Jika ia terus meladeni perdebatan ini, Arga bisa pingsan atau jahitannya terbuka parah. Keysa tidak sudi membuang waktunya untuk mengurus pendaftaran rumah sakit untuk kedua kalinya dalam satu hari.
"Satu malam," putus Keysa dengan suara sedingin es. Ia melangkah maju, menarik selimut tebal di atas kasur dan menggulungnya memanjang tepat di bagian tengah ranjang, menciptakan sebuah barikade pembatas yang sangat jelas. "Hanya untuk malam ini, sampai efek obat penahan rasa sakitmu habis. Kamu tidur di sebelah kiri, aku di sebelah kanan. Jangan pernah berpikir untuk melewati batas bantal ini sedikit pun. Paham kamu?"
Arga mendengus pelan, seulas senyum tipis yang sarat akan dominasi terbit di bibirnya. Laki-laki itu menjatuhkan tubuhnya perlahan ke sisi kiri kasur tanpa protes lebih lanjut, merasa cukup puas karena berhasil menahan Keysa tetap berada di dalam satu ruangan dengannya.
Cahaya terang matahari menembus celah tirai vertikal ruang tengah apartemen, menyinari area dapur bersih yang terhubung langsung dengan meja makan marmer. Bunyi dengung halus dari mesin pembuat espresso merek BrewVana memecah kesunyian ruangan. Asap tipis mengepul perlahan dari dua cangkir keramik putih.
Keysa berdiri tegap di depan konter dapur. Ia sudah berpakaian rapi dengan kemeja sutra warna krem dan celana kain hitam berpotongan lurus. Tangannya bergerak sangat cepat dan mekanis. Mengiris roti gandum, mengoleskan mentega tanpa garam, dan menyajikan telur setengah matang di atas piring datar. Semuanya dilakukan tanpa ekspresi, seolah ia adalah sebuah robot yang diprogram untuk menyelesaikan tugas memasak seefisien mungkin.
Langkah kaki berat yang terseret pelan terdengar mendekat dari arah lorong kamar utama.
Arga berdiri diam di ambang pintu dapur. Laki-laki itu menyandarkan bahu kanannya pada kusen pintu kayu. Ia sudah memakai pakaian santai, kaus hitam polos dan celana panjang abu-abu. Matanya tidak berkedip menatap Keysa. Ia memperhatikan setiap detail lekuk wajah perempuan itu, dari rahangnya yang tegas, matanya yang selalu fokus pada pekerjaan, hingga gerak tangannya yang tidak pernah membuang waktu secara percuma.
Di dalam kepalanya yang masih kehilangan memori tiga tahun, Arga berusaha keras mencari benang merah. Bagaimana mungkin ia, seorang pria yang selalu menuntut kesempurnaan dan kendali penuh, bisa berakhir menikahi perempuan yang memiliki aura penguasa sehebat Keysa?
Keysa memutar tubuhnya, membawa nampan berisi sarapan dan meletakkannya di atas meja makan. Ia menatap Arga sekilas tanpa senyum.
"Duduk dan makan. Aku harus segera berangkat ke kantor pusat," perintah Keysa datar, nada suaranya persis seperti seorang ibu asrama yang sedang mengawasi muridnya.
Arga menarik kursi pelan-pelan, menahan nyeri di tulang rusuknya, lalu duduk berhadapan dengan istrinya. Ia menatap piring di depannya, lalu menatap cangkir kopi hitam pekat yang asapnya masih mengepul. Tidak ada gula, tidak ada susu. Hanya cairan pekat berbau tajam.
Keysa sudah duduk tenang, mengiris rotinya sendiri dan mengunyahnya tanpa memedulikan tatapan menyelidik dari laki-laki di seberang meja.
Arga mengangkat cangkir keramik itu. Ia meniup permukaannya pelan, lalu menyesap cairan hitam tersebut ke dalam mulutnya.
Satu detik kemudian, Arga langsung terbatuk keras.
"Uhuk! Uhuk!" Laki-laki itu meletakkan cangkirnya kembali ke atas meja dengan bantingan keras hingga sebagian cairannya tumpah mengotori taplak meja. Wajahnya memerah menahan pahit yang luar biasa menyengat lidahnya. "Cairan racun macam apa ini, Keysa? Kamu berniat membunuh suamimu sendiri lewat jalur sarapan?"
Keysa menghentikan kunyahannya. Ia meletakkan garpu di atas piring perlahan, menatap Arga dengan sebelah alis terangkat tinggi. "Itu kopi hitam bubuk murni jenis Arabika panggang gelap. Tanpa gula pasir, tanpa pemanis buatan. Persis seperti yang selalu kamu minum setiap hari."
"Aku tidak minum cairan sepahit empedu ini!" bantah Arga keras, mengusap mulutnya dengan punggung tangan. "Singkirkan ini dari pandanganku. Buatkan aku teh manis hangat. Sekarang."
"Kamu benci teh," jawab Keysa tanpa mengubah posisi duduknya sama sekali. "Kamu pernah memecat dua asisten magang di bulan pertama hanya karena mereka berani menyajikan teh saat kamu sedang membaca laporan keuangan. Kamu bilang teh itu minuman untuk orang sakit, bukan untuk seorang CEO."
"Dan tebak apa kondisiku sekarang, Keysa? Aku sedang sakit!" Arga menunjuk kepalanya yang masih terbalut perban dengan raut wajah kesal tingkat tinggi. "Kepalaku pusing berdenyut-denyut dan tulang rusukku seperti baru saja dihantam palu godam. Aku butuh gula untuk memancing tenaga, bukan kafein murni yang membuat perutku kram. Buatkan aku teh."
Keysa menyilangkan kedua lengannya di depan dada. Ia menatap suaminya dengan pandangan meremehkan yang sama sekali tidak ditutup-tutupi. "Dengar baik-baik, Bapak Arga Dirgantara. Aku ini istrimu di atas kertas kontrak, merangkap tameng perusahaanmu, dan mengurus jadwal kerjamu. Tapi aku bukan asisten rumah tanggamu. Kalau kamu mau minum teh manis, gula ada di rak nomor dua sebelah kiri atas, dan teh celup ada di laci bawah mesin kopi. Buat sendiri."
Udara di ruang makan itu mendadak menjadi sangat padat dan tegang.
Arga menatap Keysa tidak percaya. Di dalam ingatannya tiga tahun lalu, tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang berani menatap matanya dan menyuruhnya membuat minuman sendiri. Semua orang berebut melayaninya. Semua orang menunduk patuh saat ia bersuara. Namun, perempuan di depannya ini justru membalas perintah mutlaknya dengan tatapan merendahkan seolah Arga adalah anak kecil yang sedang merengek tidak jelas.
Anehnya, penolakan Keysa tidak membuat harga diri Arga terluka. Justru sebaliknya. Ada desir aneh yang memacu adrenalin di dalam aliran darah laki-laki itu. Ketegasan Keysa, cara perempuan itu mempertahankan batasannya tanpa rasa takut sama sekali, terlihat sangat memesona di mata Arga.
Arga mendorong kursinya perlahan ke belakang. Bunyi derit kaki kursi beradu dengan lantai marmer terdengar nyaring. Ia bangkit berdiri, mengabaikan denyut nyeri di dadanya. Laki-laki itu melangkah pelan memutari meja makan bundar tersebut, mendekati posisi Keysa duduk.
Keysa tetap diam di tempatnya, menolak menunjukkan rasa gentar walau tubuh besar suaminya kini membayangi pandangannya. Otak rasional Keysa terus mengingatkan bahwa ini hanyalah Arga, laki-laki arogan yang sebentar lagi akan menandatangani surat cerai mereka.
Arga berhenti tepat di samping kursi Keysa. Ia menundukkan tubuhnya, meletakkan kedua telapak tangannya yang besar dan kokoh bertumpu pada pinggiran meja makan, mengurung posisi Keysa dengan tubuhnya. Jarak wajah mereka kini hanya terpaut beberapa inci. Keysa bisa mencium aroma sabun mandi kayu bercampur bau obat samar dari tubuh suaminya.
"Kau selalu bicara padaku dengan nada sedingin ini?" Arga mendekat, mengurung Keysa di antara tubuhnya dan meja dapur. "Atau aku yang membuatmu menjadi sedingin es?"
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..
apalagi Keysa sosok mandiri tangguh dan badass..