Han Ji-an rela dicap "mandul" dan dihina mertua demi menutupi aib suaminya, Kang Min-woo, yang tidak subur. Namun, ketulusannya dikhianati. Min-woo berselingkuh dengan sahabat sekaligus dokter kandungan Ji-an, memalsukan rekam medisnya, lalu mendepaknya tanpa sepeser uang pun.
Di titik hancur, Ji-an dinikahi Cha Jin-wook, CEO nomor satu di Korea. Tiga tahun berlalu, Ji-an membuktikan kebohongannya dengan melahirkan dua anak. Kini, ia kembali ke Seoul sebagai Nyonya Besar Cha Group yang elegan, siap menghancurkan karier, rumah tangga, dan harga diri orang-orang yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Jerat yang Mulai Mengencang
Kantor pusat Cha Group yang menjulang tinggi di kawasan bisnis Teheran-ro tampak seperti benteng kaca yang tak tertembus. Di lantai paling atas, di dalam ruang kerja Presdir yang luas dan kedap suara, Cha Jin-wook berdiri di dekat jendela besar yang menampilkan panorama kota Seoul yang sibuk.
Pintu ruangan diketuk dengan ritme yang teratur. Sekretaris Kim melangkah masuk dengan dokumen baru di tangannya.
"Presdir, ini laporan terbaru mengenai pergerakan saham Ilsung Group hari ini," ujar Sekretaris Kim sembari membungkuk hormat. "Saham mereka kembali anjlok hingga mencapai batas bawah harian. Selain itu, beberapa investor minoritas mulai menuntut penjelasan dari Presdir Utama Kang terkait skandal manipulasi medis yang melibatkan putranya."
Jin-wook berbalik, wajahnya yang tegas tidak menunjukkan emosi sedikit pun. "Bagaimana dengan Kejaksaan?"
"Jaksa wilayah yang menangani kasus ini adalah Jaksa Park, rekan lama firma hukum kita. Dia sudah menerima seluruh barang bukti suap dan dokumen rekam medis asli Han Ji-an yang kita kirimkan. Surat panggilan kedua untuk Jung Se-hee dan Kang Min-woo sebagai tersangka akan diterbitkan sore ini."
Jin-wook berjalan ke mejanya, mengambil cangkir kopi hitamnya. "Bagus. Pastikan media terus menggoreng isu ini. Aku tidak mau melihat keluarga Kang memiliki ruang untuk bernapas, bahkan untuk sedetik pun."
"Baik, Presdir. Lalu... mengenai Nyonya Ji-an..." Sekretaris Kim ragu sejenak. "Pagi ini Nyonya pergi ke Rumah Sakit Pusat Seoul."
Mata elang Jin-wook seketika menajam. "Ke rumah sakit? Sendirian?"
"Tidak, Sir. Dua tim pengawal mengawal beliau. Nyonya mengatakan ada 'urusan pribadi' yang harus diselesaikan di sana."
Jin-wook meletakkan cangkir kopinya, kilatan protektif muncul di matanya. "Siapkan mobil. Aku akan menyusulnya."
Di Rumah Sakit Pusat Seoul, suasana di koridor departemen obstetri dan ginekologi tampak tegang. Jung Se-hee berjalan dengan langkah terburu-buru, mencoba menghindari tatapan sinis dari para perawat dan staf medis lainnya. Berita tentang keterlibatannya dalam skandal pemalsuan dokumen sudah menyebar luas di lingkungan rumah sakit.
Saat ia hendak membuka pintu ruang kerjanya, langkahnya terhenti. Pintu itu sudah terbuka, dan di dalam ruangannya, duduk seorang wanita yang sangat ia takuti saat ini.
Han Ji-an.
Ji-an duduk di kursi kebesaran Se-hee, membolak-balik sebuah majalah medis dengan gerakan yang sangat santai. Di belakang Ji-an, dua pengawal bertubuh besar berdiri tegap bagai patung.
"Kau... apa yang kau lakukan di ruanganku?!" pekik Se-hee panik, dengan cepat menutup pintu di belakangnya agar keributan ini tidak terdengar keluar.
Ji-an meletakkan majalah itu, lalu mendongak. Senyuman tipis yang sangat dingin terukir di wajah cantiknya.
"Ruanganmu? Kurasa mulai besok, papan nama di pintu luar tidak akan lagi bertuliskan 'Dokter Jung Se-hee'."
"Han Ji-an! Jangan keterlaluan!" Se-hee berjalan mendekat, mencengkeram tepi meja dengan tangan yang gemetar. "Kau sudah menghancurkan reputasiku di depan keluarga Kang! Kau membuat saham Ilsung hancur!
Apa lagi yang kau inginkan?!"
"Apa lagi?" Ji-an berdiri dari kursi, melangkah perlahan mendekati Se-hee. Sepatu hak tinggi bermerek Louboutin miliknya mengetuk lantai dengan bunyi yang konstan, menciptakan tekanan psikologis yang berat bagi Se-hee.
"Aku menginginkan keadilan yang kau dan Min-woo rampas tiga tahun lalu," bisik Ji-an di depan wajah Se-hee. "Hari ini, dewan etik rumah sakit ini akan mengadakan rapat pleno. Surat pencabutan izin praktik medismu sudah ditandatangani oleh direktur utama. Kau bukan lagi seorang dokter, Se-hee ya. Kau hanyalah seorang kriminal."
"T-tidak... kau tidak bisa melakukan ini!" Air mata Se-hee mulai tumpah.
Karier medisnya adalah segalanya, satu-satunya hal yang membuatnya bisa merasa superior di hadapan wanita lain, termasuk di hadapan Ji-an dulu.
"Ji-an ah, kita dulu bersahabat! Aku mohon... cabut gugatanmu! Aku akan melakukan apa saja!"
"Apa saja?" Ji-an menatap Se-hee dengan pandangan meremehkan. "Kalau begitu, katakan yang sebenarnya padaku. Anak yang kau kandung tiga tahun lalu... anak siapa itu sebenarnya?"
Se-hee seketika membeku. Matanya membelalak panik, dan ia dengan cepat memalingkan wajahnya dari tatapan tajam Ji-an. "A-apa maksudmu? Tentu saja itu anak Min-woo! Tapi... tapi aku keguguran karena stres..."
"Masih mau berbohong?" Ji-an mendengus sinis. "Kang Min-woo menderita azoospermia ekstrem. Hasil tesnya mutlak. Jadi, bagaimana mungkin seorang pria yang tidak memproduksi sperma bisa membuatmu hamil secara alami dalam waktu satu bulan?"
Ji-an merobek sebuah amplop putih dari tasnya dan melemparkannya ke dada Se-hee.
"Itu adalah salinan rekam medis rahasiamu dari klinik aborsi swasta di Incheon, bertanggal tiga minggu sebelum aku diusir," kata Ji-an, suaranya naik satu oktav penuh intimidasi. "Kau tidak pernah keguguran, Jung Se-hee. Kau melakukan aborsi karena kau tahu janin itu bukan anak Kang Min-woo! Kau hanya menggunakan isu kehamilan itu untuk mendepakku dan memeras keluarga Kang agar menikahimu, bukan?!"
Kebohongan terbesar Se-hee akhirnya dikuliti habis. Tubuh wanita itu lemas, dan ia terduduk di lantai, menangis histeris. Selama tiga tahun ini, ia hidup dalam ketakutan bahwa Min-woo akan menyadari hal ini.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa Han Ji-an lah yang akan membongkar boroknya.
"Kau... kau iblis, Han Ji-an..." desis Se-hee di antara tangisnya.
"Aku belajar dari ahlinya," jawab Ji-an dingin.
Ji-an berbalik untuk pergi, namun tepat saat ia membuka pintu ruangan, sosok Kang Min-woo sudah berdiri di sana. Wajah pria itu tampak sangat mengerikan—matanya merah, napasnya memburu, dan ia tampaknya telah mendengar seluruh percakapan di dalam ruangan dari balik pintu.
Min-woo tidak menatap Ji-an. Tatapan matanya yang penuh amarah membara tertuju langsung pada Jung Se-hee yang masih terduduk di lantai.
"M-Min-woo ya..." Se-hee berbisik ketakutan, mencoba merangkak mundur.
Min-woo melangkah masuk ke dalam ruangan dengan cepat, melewati Ji-an. Tanpa peringatan, ia mencengkeram kerah baju Se-hee dan mengangkat wanita itu dengan kasar.
"Kau... jalang sialan!" bentak Min-woo, suaranya menggelegar di dalam ruangan.
"Kau membohongiku?! Kau bilang itu anakku! Karena anak itu, aku membuang Ji-an! Karena anak itu, aku menanggung malu di depan ibuku! Ternyata kau mengandung anak pria lain?!"
PLAK!
Min-woo menampar Se-hee hingga wanita itu tersungkur ke sudut ruangan, menabrak rak dokumen hingga berantakan. Se-hee menjerit kesakitan, memegangi sudut bibirnya yang berdarah.
"Min-woo, maafkan aku! Aku terpaksa! Aku mencintaimu!" ratap Se-hee.
Ji-an berdiri di ambang pintu, menyaksikan pemandangan itu dengan tangan bersedekap.
Tidak ada rasa iba di hatinya. Ini adalah pemandangan yang sangat ia nantikan: dua pengkhianat yang kini saling gigit dan saling menghancurkan karena keserakan mereka sendiri.
"Drama yang sangat menarik," ujar Ji-an dengan nada menyindir.
Min-woo menoleh ke arah Ji-an, matanya dipenuhi air mata penyesalan dan kehancuran. "Ji-an ah... maafkan aku... aku benar-benar buta selama ini... wanita ini yang merencanakan semuanya... aku ditipu..."
Min-woo berjalan mendekati Ji-an dengan tangan terulur, mencoba meraih pengampunan dari mantan istrinya. Namun, sebelum ia bisa mendekat, dua pengawal
Ji-an langsung mengadang langkahnya dengan tegas.
"Jangan pernah mengira dirimu adalah korban di sini, Kang Min-woo," kata Ji-an, suaranya terdengar sangat tenang namun menusuk. "Kau setuju dengan rencana Se-hee karena kau terlalu pengecut untuk mengakui kemandulanmu sendiri. Kau mengorbankan rahimku, nama baikku, dan hidupku demi ego jantismu yang tidak berharga. Kalian berdua sama-sama monster."
Tepat pada saat itu, langkah kaki yang berat dan berwibawa terdengar bergema di koridor rumah sakit.
Cha Jin-wook melangkah masuk ke dalam ruangan dengan aura yang sangat mengintimidasi. Mantel hitam panjangnya berkibar, dan sepasang matanya langsung mengunci sosok Ji-an. Tanpa memedulikan Min-woo atau Se-hee yang berantakan, Jin-wook langsung berjalan ke arah Ji-an, melingkarkan lengannya di pinggang sang istri, dan menariknya ke dalam pelukan
protektifnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Jin-wook, suaranya melembut hanya untuk Ji-an.
"Aku baik-baik saja, sayang. Urusanku di sini sudah selesai," jawab Ji-an sembari menyandarkan tubuhnya pada dada bidang Jin-wook.
Jin-wook menatap Min-woo dengan pandangan menghina. "Wakil Presdir Kang, kurasa kau harus segera pulang ke rumahmu. Jaksa wilayah baru saja mengirimkan surat perintah penangkapan untuk istrimu... dan juga surat panggilan resmi untukmu atas kasus keterlibatan konspirasi medis."
Min-woo terhuyung ke belakang, bersandar pada meja. Kehadiran Cha Jin-wook selalu berhasil membuat harga dirinya yang tersisa menguap tak berbekas.
"Ayo pulang, Ji-an ah. Hyun-woo dan Seo-ah sudah menunggumu di rumah," kata Jin-wook lembut, mengecup pelipis Ji-an di hadapan mantan suaminya yang kini tampak seperti pecundang tak berguna.
Ji-an mengangguk. "Tentu, mari kita pulang."
Mereka berdua berjalan keluar dari ruangan itu dengan bergandengan tangan, meninggalkan suara tangisan histeris Jung Se-hee dan tatapan kosong Kang Min-woo yang kini telah kehilangan segalanya. Jerat balas dendam Nyonya Cha telah mengencang sempurna, dan tak ada jalan keluar bagi mereka yang pernah menumpahkan air matanya.
kutunggu kehadiran kaliam🤗✨️