Seraphine merupakan anak adopsi dari keluarga besar Vane. Sera mendapatkan perlindungan total dan kemewahan, tetapi ia mungkin kehilangan kebebasannya. Sang kakak, Alaric Vane telah merencanakan segalanya agar Sera tidak pernah lepas darinya, protective yang mengubahnya menjadi obsesi. Perasaanya bukan hanya sebatas kakak pada ‘adik’ namun lebih dari itu. Demi keluar dari sangkar emas keluarga Vane, Sera memilih bersekolah di imperial royal, Veridion Academy. Tidak main-main, ia enggan merepotkan keluarga Vane. Sera membuktikan mampu mengambil jalur beasiswa penuhnya. Tanpa disadari ini menjadi hal pembullyan disekolahnya. Demi dapat sekolah dengan nyaman hingga kelulusan, Seraphine bertemu dengan Yunkai Shenzar. Bangsawan berdarah biru murni, seorang Pangeran yang sedang bertaruh akan tahtanya setelah kelulusan sekolah. Dari musuh menjadi kekasih. Mereka menjalin aliansi, kerja sama saling memanfaatkan. Seraphine enggan bernaung pada keluarga Vane memilih memanfaatkan kekuatan mutlak sang Pangeran. Yunkai sendiri tahu siapa jati diri Sera sebelum diadopsi, dan memanfaat Sera untuk membuat tuan besar Vane menyokong dirinya menaiki tahta kerajaan. Sera tidak tahu siasat itu justru membawanya terjerumus terlalu dalam membentuk hubungan yang lebih serius dan kekacauan besar antara Tuan besar Vane dengan anaknya, Alaric Vane. Kini, Sera terjebak di antara dua kekuatan besar: obsesi Alaric yang menyesakkan atau cinta sang pangeran yang menawarkan kebebasan namun penuh risiko politik. Di antara bayang-bayang masa lalu keluarga Vane dan kemilau mahkota kerajaan, siapakah yang akhirnya akan dipilih oleh Sera?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bernaung pada sang Naga
Pertandingan dimulai. Di bawah tatapan intens Yunkai, Sera menarik busurnya dengan gerakan yang mengejutkan—begitu presisi, seolah ia telah menghitung setiap derajat kemiringan angin di ruangan itu.
SLAAASH!
Satu per satu, anak panah Sera menancap di area kuning. Memang bukan bullseye yang sempurna, tapi konsistensinya mematikan. Sebaliknya, kelima lawannya tumbang satu per satu dalam kegagalan yang memalukan.
Anak panah sipemuda pertama melesat jauh karena tangannya gemetar. Si pria berkacamata gagal fokus karena keringat berlebih di jarinya membuat senar busur tergelincir. Si pria tegap meringis saat tarikan busur memicu cedera tendon lamanya. Dan si kembar? Begitu satu dari mereka gagal, ritme keduanya hancur berantakan.
Kelima elit itu tertunduk kaku, wajah mereka merah padam karena malu, tidak berani mengangkat wajah di hadapan Yunkai.
Yunkai melangkah turun dari podium, langkah kakinya yang berat memecah keheningan yang mencekam. Ia berhenti tepat di hadapan Sera, mengabaikan lima pengikutnya yang kini tampak seperti pecundang di bawah kaki mereka.
"Lima lawan," ujar Yunkai pelan, suaranya mengandung nada kekaguman yang berbahaya. "Bagaimana kau bisa begitu yakin? Dari ratusan orang di sini, bagaimana kau tahu mereka berlima bahkan tidak bisa menjaga stabilitas tarikan busur?"
Sera meletakkan busurnya perlahan, lalu merapikan kemejanya tanpa sedikit pun rasa jemawa.
"Kemenangan tidak selalu tentang siapa yang paling kuat menarik tali busur, Yang Mulia," sahut Sera dingin. "Aku hanya membaca data. Pria pertama memakai jam tangan mewah namun kulit di bawahnya tidak memiliki kapalan atau bekas tekanan senar—dia hanya penonton berpakaian pemain. Pria kedua memiliki hyperhidrosis; keringat di jemarinya adalah musuh utama stabilitas. Pria ketiga? Cara dia memijat tangannya menunjukkan cedera tendon yang belum pulih."
Sera melirik si kembar sekilas sebelum kembali menatap Yunkai.
"Dan si kembar tidak punya kepercayaan diri individu. Di kelas akselerasi, kami diajarkan untuk tidak membuang tenaga pada variabel yang sudah pasti kalah. Aku hanya memilih lima orang yang sudah kalah sejak mereka bangun pagi tadi."
Yunkai terdiam, matanya mengunci mata Sera. Ada kilatan pengakuan di sana—sebuah apresiasi terhadap kecerdikan yang lebih mematikan daripada kekuatan fisik.
"Kau bukan sedang bermain panahan, Seraphine," bisik Yunkai rendah, menginvasi ruang pribadi Sera hingga aroma kayu cendana dari tubuhnya tercium jelas. "Kau sedang melakukan bedah anatomi pada mereka."
Sera tidak mundur. Ia justru menyunggingkan senyum tipis—senyum tajam yang membuat Yunkai merasa seolah dialah yang sedang dipelajari. "Kalau begitu, pastikan kau tidak menjadi objek bedahku berikutnya, Yang Mulia."
Yunkai tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat puas. Ia meraih tangan Sera, bukan untuk menjabat, tapi untuk memeriksa ujung jemari gadis itu. "Keluarga Kane mungkin berpikir mereka mendapatkan seorang putri. Tapi aku merasa, aku baru saja melihat seorang predator yang sedang menyamar."
Yunkai tidak segera melepaskan tangan Sera. Ibu jarinya bergerak pelan, mengusap ujung jemari Sera yang halus dengan gerakan yang hampir terasa seperti sebuah klaim. Keheningan di aula itu terasa begitu pekat, hingga suara detak jam tangan mewah milik para elit di sana seolah terdengar seperti dentuman jantung yang gugup.
"Kau menang, Seraphine," bisik Yunkai. Suaranya serak, memberikan efek getaran yang hanya bisa dirasakan oleh Sera. "Sesuai kesepakatan, aku tidak akan mengganggumu... untuk saat ini."
Yunkai melepaskan genggamannya, namun tatapannya tetap terkunci pada manik mata Sera. Ia berbalik perlahan, menatap lima pengikutnya yang masih mematung seperti patung marmer yang retak.
"Keluar," perintah Yunkai singkat. Satu kata itu cukup untuk membuat kelima elit tersebut bergegas pergi tanpa berani menoleh sedikit pun.
Kini hanya tersisa mereka berdua di tengah aula luas yang diterangi cahaya temaram. Sera tetap berdiri tegak, meski ia bisa merasakan adrenalin yang mulai surut, meninggalkan rasa lelah yang tersembunyi di balik topeng ketenangannya.
"Kau tahu," Yunkai mulai berjalan mengitari Sera, seperti seekor serigala yang mengitari mangsa yang baru saja menunjukkan taringnya. "Veridion tidak pernah ramah pada orang yang terlalu menonjol. Dengan mempermalukan mereka, kau baru saja menggambar target besar di punggungmu."
Sera memutar tubuhnya, mengikuti pergerakan Yunkai. "Target itu sudah ada di sana sejak kau memberikan koin perak itu padaku, Yang Mulia. Aku hanya memastikan bahwa jika seseorang ingin menembakku, mereka harus berpikir dua kali setelah melihat apa yang terjadi malam ini."
"Selamat datang di permainan yang sesungguhnya, Seraphine Kane. Koin itu adalah tiketmu, tapi kecerdikanmu malam ini adalah senjatamu. Jangan pernah menumpulkannya, karena di luar sana... lawanmu berikutnya tidak akan membiarkanmu memilih siapa yang akan berdiri di garis tembak."
"Terima kasih atas pelajarannya, Yang Mulia. Tapi aku bukan bidak yang bisa kau gerakkan sesukamu. Jika ini adalah permainan catur, pastikan kau ingat... terkadang bidak paling kecil bisa membuat Raja mati kutu."
Sera berbalik dan melangkah pergi, suara sepatunya yang tegas bergema di lantai kayu ek, meninggalkan Yunkai yang berdiri sendirian dalam kegelapan aula, menatap punggung gadis itu dengan senyum yang tak lagi dingin—namun penuh dengan antisipasi yang berbahaya.
...****************...
Pagi berikutnya di Veridion Academy, atmosfer di koridor berubah total. Jika kemarin Sera adalah orang asing yang kehadirannya dipertanyakan, hari ini ia adalah teka-teki yang ditakuti. Kabar tentang apa yang terjadi di Sanguine Ruby menyebar seperti api di atas tumpahan bensin.
Versinya beragam—mulai dari Sera yang mengalahkan lima elit sekaligus, hingga rumor bahwa sang Pangeran sendiri yang melatihnya secara pribadi di balik pintu tertutup.
Sera melangkah masuk ke kelas akselerasi dengan ekspresi datar yang sudah menjadi ciri khasnya. Saat ia melewati deretan meja, para siswa yang biasanya sibuk berbisik sinis mendadak sibuk dengan buku masing-masing. Tidak ada lagi kaki yang sengaja dijulurkan untuk menjegalnya, tidak ada lagi tawa mengejek tentang "anak angkat tanpa nama."
Ia duduk di kursinya, meletakkan tasnya dengan tenang. Gilly mendekat dengan wajah yang masih menyimpan sisa keterkejutan semalam.
"Sera," bisik Gilly pelan, matanya melirik ke sekeliling untuk memastikan tidak ada yang mendengarkan. "Satu sekolah membicarakanmu. Mereka bilang... kau adalah 'favorit' baru Pangeran Yunkai. Bahkan para senior di dewan siswa menarik kembali rencana mereka untuk merundungmu."
Sera membuka buku catatannya tanpa menoleh. "Baguslah. Itu menghemat energiku untuk tidak perlu berurusan dengan orang-orang bodoh."
"Tapi Sera, apa itu benar? Hubunganmu dengan dia?" tanya Gilly penasaran.
Sera hanya menyunggingkan senyum tipis yang ambigu—senyum yang sengaja ia pelajari untuk menyesatkan orang lain. Ia tidak mengiyakan, namun juga tidak membantah. Biarlah rumor itu menjadi perisai tak kasat mata baginya. Di sekolah yang penuh dengan predator seperti ini, bernaung di bawah bayang-bayang predator puncak adalah strategi bertahan hidup yang paling masuk akal.
...****************...
Sore harinya, Sera diminta untuk mengambil beberapa dokumen administrasi di Galeri Kaca—sebuah jembatan tertutup yang menghubungkan perpustakaan dengan sayap utama sekolah. Ruangan itu berdinding kaca penuh, memperlihatkan pemandangan taman akademi yang tertutup salju tipis di bawah langit yang mulai menggelap.
Di tengah jembatan itu, ia melihat sosok yang paling tidak ingin—sekaligus paling ia duga—temui.
Yunkai berdiri di sana, menatap hamparan salju di bawah. Ia mengenakan mantel panjang berwarna biru tua yang memberikan kesan sangat formal dan berkuasa, seragam khas asrama Noctis Draconis. Tanpa suara, Sera melangkah mendekat, namun ia berhenti pada jarak tiga meter.
"Kau menggunakan namaku dengan sangat baik, Seraphine," ujar Yunkai tanpa berbalik. Suaranya dingin, namun ada nada geli yang tersembunyi.
"Aku hanya membiarkan mereka percaya pada apa yang ingin mereka percayai," jawab Sera tenang. "Bukankah kau sendiri yang bilang, dunia ini dibangun di atas persepsi?"
Yunkai berbalik, menyandarkan tubuhnya pada bingkai baja galeri. "Menggunakan sang Pangeran sebagai pelindung untuk mendapatkan kenyamanan... itu langkah yang sangat berani. Tapi kau tahu, perlindunganku tidak gratis."
Sera melangkah satu tindak lebih dekat, menatap langsung ke mata Yunkai. "Aku sudah memenangkan taruhanmu semalam, Yang Mulia. Itu seharusnya sudah cukup untuk membayar ketenangan ini."
"Itu membayar koin perakmu," potong Yunkai cepat. "Tapi rumor yang kau biarkan berkembang hari ini... itu adalah hutang baru."