NovelToon NovelToon
Takdir Di Ujung Janji

Takdir Di Ujung Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: NonaAns

Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.

***

Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 : Janji Pria Sejati

Baskara menemani Aira hingga pemakaman Hendra usai. Baskara bahkan membantu membawa peti jenazah hingga ke liang lahat. Kemunculan Baskara memberikan tanda tanya besar terlebih pada rekan-rekan Aira yang ikut hadir melayat. Namun, mereka sama sekali tidak berani menanyakan perihal Baskara karena waktunya kurang tepat.

Sesampainya di rumah Aira, Baskara membersihkan diri ia mengganti pakaiannya dengan kaos baru dan mengembuskan napas kasar mana kala lukanya kembali mengeluarkan darah segar.

"Ah, kenapa belum kering," gumam Baskara.

Ia melepaskan kembali kaosnya dan membuka perbannya. Baskara mulai berjalan di sekitar kamar mandi, mencari kotak P3K, tapi tidak ketemu. Disaat bersamaan, Aira yang hendak mengambil segelas air mineral terperanjat saat melihat Baskara berlalu lalang tanpa atasan.

"Kamu ngapain, Bas?" tanya Aira bingung.

"Eh, itu ... anu ...."

Belum selesai Baskara mengatakan maksud hatinya, Aira sudah lebih dahulu melihat luka menganga di pinggang Baskara.

"Astaga! Kamu luka? Itu robek kenapa?" tanya Aira sedikit panik.

"Oh, ini ... kecantol kawat waktu latihan kemarin," jawab Baskara sekenanya seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

Aira mengembuskan napas panjang. Ia pun mengambil kotak P3K yang ada di dalam laci beserta Hecting Set, seperangkat peralatan bedah dan jahit luka ringan.

Aira mengenakan handsglove, lalu membersihkan darah di sekitar luka dengan menggunakan cairan infus. Aira juga mengoleskan gel LET (Lidocaine- Ephinephrine- Tetracaine) pada luka yang telah dibersihkan sebelum mengambil jarum dan benang untuk menjahit.

"Kamu pernah kena luka tembak juga?" tanya Aira saat melihat bekas luka lain di tubuh Baskara.

Baskara mengerutkan dahi, lalu mengangguk tipis.

"Kamu pernah lihat luka tembak sebelumnya?"

Aira mengangguk. "Waktu koas di stase bedah. Kebetulan ada polisi yang kena luka tembak di perutnya."

Baskara mengangguk paham.

Aira dengan hati-hati menjahit luka Baskara. Ia tampak fokus dan hal itu tanpa sadar membuat Baskara tersenyum kecil. Aira menutup luka itu dengan perban usai seluruh prosedur menjahit selesai.

"Itu luka tembak waktu pertama kali dapat misi operasi. Karena menyelamatkan anak kecil. Beruntung masih diberi hidup," jawab Baskara seraya tersenyum kecil.

"Jadi, kamu sering perang?"

Baskara mengenakan pakaiannya, lalu sedikit menaikkan alis kanannya.

"Aku lebih suka menyebutnya latihan. Terkadang, perang itu terlalu menyeramkan."

Aira terdiam. Ia membereskan peralatan dan sampah medisnya, lalu kembali fokus menatap Baskara.

Baskara mengerutkan dahi. "Ada apa? Ada yang sedang dipikirkan?" tanya Baskara kemudian.

"Aku kadang bingung. Kenapa orang-orang mau jadi tentara? Mereka latihan keras, kadang tugasnya jauh dari keluarga, kehilangan masa muda untuk belajar dan latihan fisik. Apa emang kalau bapaknya tentara, anaknya juga pasti jadi tentara?"

Baskara tersenyum. Ia sedikit berpikir. "Justru yang buat aku pengen jadi tentara karena aku lihat ayah."

"Om Gunawan?"

Baskara mengangguk mantap. "Aku lihat ayah gagah waktu pakai seragam loreng, walaupun kami sering pindah-pindah tempat, dan ayah sering tugas jauh, tapi karena motivasi yang selalu ayah berikan, makanya aku pengen jadi tentara."

Aira mengangguk-angguk. "Susah ya jadi kamu, Bas?"

Baskara menaikkan satu alisnya.

"Maksudnya?"

"Ya, kamu dari kecil udah pindah-pindah rumah, udah pasti nggak punya teman dekat, terus kamu juga harus pintar, lebih dari yang lain karena kamu anak KASAD. Kalau prestasimu nggak bagus nanti dikatain, lolos masuk jadi tentara karena titipan bapaknya. Kalau kamu berprestasi dan menonjol nanti julid lagi, dibilang pantes aja terpilih pasti karena anak KASAD," ucap Aira dengan bibir sedikit manyun membuat Baskara tersenyum geli melihatnya.

"Ya gimana? Aku, kan, nggak bisa milih mau lahir di keluarga mana. Aku juga nggak bisa milih mau jadi anaknya siapa. Anggap aja itu previlage yang bisa dimanfaatkan. Walaupun kadang agak nyusahin."

"Nyusahin gimana?"

"Ya, kadang ada aja orang yang manfaatin karena aku anak ayah. Ada yang deketin buat cari muka, dikiranya aku bakal bilang ke ayah kali kalau dia baik dan bantu-bantu aku, padahal, kan, enggak. Kamu tanya-tanya gini kenapa, Aira?"

"Eh, ya, enggak apa-apa. Mau tahu aja," ucap Aira.

Ia menunduk, sesekali mempermainkan jari jemarinya. Seolah ragu ingin mengatakan sesuatu.

"Udah malam. Kamu istirahat dulu, Aira. Aku mau pulang. Makasih untuk treatmentnya. Aku butuh balik buat kontrol nggak?"

Aira tersenyum. Ia mengambil beberapa tablet paracetamol dan antibiotik, lalu ia berikan pada Baskara.

"Ini obatnya diminum teratur. Kontrolnya kurang lebih minggu depan buat lihat lukanya. Banyak-banyak makan protein, ya. Bisa bantu luka biar cepet kering."

"Wah, kalau gini kamu kayak dokter betulan," ucap Baskara seraya menerima obat dari Aira.

"Lho, aku, kan, memang dokter,Bas!"

Baskara beranjak dari tempat duduknya ia berjalan menuju pintu belakang usai berpamitan dengan Rahma dan saudara-saudara Aira yang lain.

"Jadi, kita ketemu lagi minggu depan?"

Aira terdiam. Ia memandang Baskara cukup lama tanpa sepatah kata pun. Hal itu membuat Baskara sedikit bingung.

"Aira?"

"Bas ... papaku udah nggak ada, kayaknya soal perjodohan kita perlu dipikir ulang,deh," ucap Aira seraya menggigit bibir bagian bawahnya.

Baskara mengerutkan dahi.

"Kenapa harus dipikir ulang?"

Aira kembali diam. Air matanya sudah mengambang di pelupuk mata dan tiba-tiba meluncur bebas begitu saja.

"Kan, yang minta perjodohan ini udah nggak ada, Bas. Jadi, kamu nggak ada kewajiban buat ...."

Baskara membuang napas kasar. Ia menatap Aira seraya bersedekap. Baskara lemah saat melihat perempuan menangis. Baskara meletakkan kedua tangan di pundak Aira, lalu menatap Aira lekat-lekat.

"Kamu dengar aku baik-baik, Aira. Aku sudah janji sama Om Hendra untuk menerima perjodohan ini. Aku juga sudah janji di hadapan beliau, kalau aku akan jagain kamu. Janji laki-laki itu bukan sembarang janji, Aira. Janji pria sejati harus ditepati. Aku berusaha jadi pria sejati itu dan aku akan berusaha menepati janjiku, ada atau nggak ada Om Hendra."

Baskara mengacak puncak kepala Aira, lalu melambaikan tangannya.

"Aku pulang dulu."

***

Aira berlarian di koridor rumah sakit seraya membawa beberapa kantong darah. Hari ini keadaan IGD tempat Aira berdinas benar-benar chaos. Ini adalah hari pertama Aira berangkat usai cuti selama tujuh hari setelah kepergian Hendra. Aira merasa belum siap untuk bekerja, tapi hatinya terasa lebih sedih jika tetap berada dirumah tanpa melakukan apa-apa.

"Code blue!"

Keadaan IGD benar-benar sibuk, mereka kedatangan pasien kecelakaan beruntun di jalan tol dan Aira harus memilah pasien yang datang berdasarkan tingkat kedaruratannya. Aira memasangkan gelang pada pasien usai memeriksa dan melakukan diagnosa awal.

Aira mengembuskan napas panjang saat pasien yang baru saja datang sudah tidak lagi bernapas. Gelang hitam segera Aira sematkan.

"Pisahkan di sebelah utara ya, Mas," ucap Aira pada petugas ambulance.

Satu ambulance datang lagi, membawa dua orang pasien. Satu seorang anak kira-kira berusia enam tahun, mengalami patah kaki. Dan seorang anak laki-laki remaja yang dapat berjalan normal seperti layaknya orang yang tidak terluka.

"Fraktur femur (patah tulang paha). Hubungi Dokter ortopedi segera!" teriak Aira pada perawat yang bertugas.

Ia kemudian mendekati remaja laki-laki yang duduk di kursi ruang tunggu.

"Kamu kecelakaan juga?" Tanya Aira.

Remaja itu mendongak. Ia mengangguk.

"Saya dan adik saya ada di bus yang terguling. Kaki adik saya patah," ucapnya dengan napas yang sedikit tersengal.

Aira memperhatikan sepintas, ada yang tidak beres dengan napas remaja itu, dengan cekatan Aira segera mengambil stetoskopnya dan mulai memeriksa. Tak lama, remaja itu jatuh pingsan. Tidak sadarkan diri.

Aira membenarkan posisi remaja itu agar tetap lurus. Ia membuka kemeja yang dikenakan pemuda itu. Ada memar cukup besar di bagian dada. Aira mulai meraba tubuh remaja itu untuk memeriksa jika terdapat indikasi patah tulang. Karena tidak kunjung menemukan permasalahan pada tulang, Aira menempelkan lagi stetoskop itu di bagian dada pasien.

Aira memejamkan mata. Ia berkonsentrasi guna mendiagnosa bagian tubuh mana yang perlu segera mendapat pertolongan.

"Dok, tekanan darah dan saturnasi oksigennya rendah!" ucap Alma.

Napas Aira memburu, ia harus berjuang melawan waktu untuk mendiagnosa keadaan pasien.

"Dok!"

Aira menahan napas. "Tamponade jantung! Siapkan jarum untuk mengeluarkan cairan dari jantungnya!" ucap Aira penuh keyakinan.

Aira bernapas lega manakala ia dapat melewati masa darurat dari remaja tadi. Ia pun duduk di selasaran IGD seraya memijat-mijat kaki dan tangannya. Wajah Aira tampak lusuh, terlihat lesu, dan capek. Rambutnya saja terlihat sedikit berantakan. Aira membuang napas kasar seraya meletakkan kepala di atas lutut yang ia tangkupkan.

"Minum dulu," ucap Dokter Genta seraya memberikan sebuah minuman kaleng pada Aira. Ia pun duduk tepat di samping Aira.

"Capek, Ra?" tanya Dokter Genta seraya menatap Aira yang dengan lahap meneguk minuman dingin yang diberikan padanya.

"Nggak nyangka bakal dapat jackpot," ucap Aira lirih.

"Pasien tamponade jantung tadi bisa selamat. Operasinya berjalan lancar," ucap Genta.

Aira menatap seniornya itu. Wajahnya tampak sumringah dan merasa sangat lega mendengar berita baik itu.

"Syukurlah!"

"Kerja bagus, Dokter Aira."

Aira tersenyum.

"Kamu berani melakukan Pericardiocentesis sendirian. Hebat!" puji Genta.

Aira tersenyum canggung. Agak malu juga karena dipuji oleh senior sekaligus atasannya.

"Semua berkat Dokter Genta juga. Selama di IGD, saya belajar banyak dari dokter," ucap Aira seraya tersenyum.

Genta mengangguk puas. Ia menatap ke area tuang tunggu lobi. Ia melihat Baskara sedang berdiri dengan kedua tangan bersedekap seraya memperhatikan Aira.

"Sepertinya, ada yang udah nungguin kamu dari tadi, tuh," ucap Genta sembari menunjuknke arah Baskara.

Aira melongok. Ia terkejut saat melihat Baskara sudah berdiri di sana. Aira segera bangkit dan berlari menghampiri Baskara.

"Kamu ngapain ke sini?" tanya Aira bingung.

"Kan, kita janjian ketemu hari ini."

"Ha?"

"Cek luka, Aira."

Aira seketika memejamkan mata. Ia sama sekali lupa soal yang satu itu karena kondisi chaos tadi.

"Oh,iya! Ya ampun, sorry banget aku lupa kalau janjian mau lihat luka kamu. Mau dilihat sekalian aja di IGD?"

Baskara menggeleng. "Kamu udah kerja keras hari ini. Jaganya selesai jam berapa? Aku antar pulang sekalian makan."

Kruyuuukk ... kruyuuuk ....

Tiba-tiba suara perut Aira berbunyi.

"Astaga, maaf. Aku seharian ini belum sempat makan. Kalau makan di kantin aja mau nggak?"

Baskara menatap ke arah kantin yang sudah sepi. "Udah pada sepi."

"Ada Pop Mie."

Aira menyeduh dua bungkus pop mie, sembari memesan kopi dan susu cokelat. Aira menyantap pop mie dengan sangat lahap, hal itu membuat Baskara kembali tersenyum.

"Laper banget, Neng?"

"Iyaaah! Banget ... nget ... nget ... parah! Aku hari ini cuma sarapan roti. Ini makanan keduaku."

Baskara menggeleng heran. Sesibuk itu hingga untuk makan saja sulit. Baskara menatap Aira sejenak.

"Selain mau cek luka, aku emang sengaja mau ketemu kamu untuk bilang kalau bulan depan kita pengajuan nikah."

Uhuk!

Aira tersedak mie yang baru saja akan ia telan hingga terbatuk beberapa kali.

"Kok mendadak?"

"Nggak mendadak, dong. Kan, masih bulan depan, Ai."

Aira mengerjapkan mata beberapa kali. Ia melihat kalender pada ponselnya dan seketika matanya membulat.

"Lah, ini,kan, udah akhir bulan, Bas. Besok udah ganti bulan! Whaaat? Kamu yakin mau pengajuan sekarang? Nggak ada niat nunggu beberapa bulan lagi gitu?"

Baskara menggeleng. "Ini permintaan ayahku. Ah, bukan, tapi perintah ayahku. Beliau bilang kalau kita menikah lebih cepat lebih baik. Aku udah minta mama kamu buat siapkan semua berkasnya. Besok pagi, Pak Agus bakal datang ke rumah ambil berkas-berkasnya."

Whaaat?

______________________

1
Ema Soleha
ceritanya bagus,tapi iklanya MasyaAllah....bikin nyebut,iklanya udah ngelebihi apliksi novel berbayar
Ana Dww
/Sob/maaf bas, wanita punya prinsip sedia payung sebelum hujan walau itu kemarau
NonaAns: 🤣 iya lagi wkwkwkwk
total 1 replies
Nasyya
👍🏻👍🏻
Nasyya
wadidauw 🤣
Ana Dww
waittt!
Ana Dww
kalau nggak, paling parah jelita hamil anak orang😶
Ana Dww
ya emang jelita bohong!
Ana Dww
/Determined/
Ana Dww
😭😭😭😭 Istri lo abis ngamukkk
Ana Dww
tetap negatif thinking jelita bohong karena suka ibasss
Ana Dww
😭😭😭
Agustinus Wisnugroho
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!