“Aku hanya membutuhkanmu untuk melahirkan pewarisku. Tidak lebih!”
Itulah kata paling menyakitkan yang diucapkan Duke Cassian Clyvedon kepada Elowen Whitmore. .
Semua orang di kerajaan tahu bahwa Duke Clyvedon adalah pria yang ditakuti, dingin, kejam, dan tak pernah mempercayai siapa pun.
Sementara Elowen Whitmore hanyalah putri kedua dari keluarga bangsawan yang hampir bangkrut… seorang gadis yang bahkan tidak bisa berbicara.
Ia tidak seharusnya menjadi pengantin sang duke.
Namun ketika kakaknya melarikan diri dari perjodohan yang telah diatur kerajaan, Elowen dipaksa menggantikan posisi itu demi menyelamatkan kehormatan keluarganya.
Kini ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan pria paling menakutkan di kerajaan.
Semua orang yakin pernikahan ini hanya akan berakhir dengan kehancuran.
Tapi tidak seorang pun menyadari satu hal, bahwa sang duchess bisu mungkin adalah satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hati sang Duke.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farchahcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Clyvedon Abbey Chapel terlihat megah sekali. Elowen sampai tidak mengedipkan matanya saat memasuki tempat dimana pernikahannya akan berlangsung.
Kali ini dia datang bersama saudara-saudara laki-lakinya sebagai jemaat, untuk mendengarkan pengumuman pernikahannya dengan sang Duke of Clyvedon.
Andai saja Cleona tidak kabur, pasti dia yang akan berada di sini. Mendengar namanya dan nama sang duke diumumkan.
Setelah pengumuman tanggal pernikahan itu, beberapa orang berbisik di luar kapel.
“Siapa sebenarnya Lady Elowen Whitmore? Apa kamu pernah mendengarnya di masyarakat?” ujar salah satu wanita muda kepada teman-temannya.
Mereka serentak menggeleng.
“Kudengar dia wanita biasa dari keturunan Baron. Seorang yatim piatu. Apa kau percaya ini?”
“...benar-benar tidak bisa dipercaya. Sebelum ini Duke Cassian menolak perjodohan dengan Putri Lyorine dari Ravenhearst. Tapi malah memilih seorang wanita yang bukan siapa-siapa.”
“Kenapa Duke Cassian memilih orang biasa daripada seorang putri dari kerajaan Ravenhearst?”
“Entahlah.”
Tanpa mereka sadari, Elowen berada tepat di belakang mereka. Mendengar semua gosip tentang dirinya sendiri. Tidak ada yang mengenalnya, karena memang Elowen tidak pernah benar-benar dianggap di keluarga Whitmore.
Padahal setiap wanita di Arvendale selalu diundang untuk pesta dansa. Sayangnya, Elowen tidak pernah ikut ke pesta dan memilih untuk menutup dirinya di kamar.
Cleona yang selalu datang bersama saudara-saudaranya. Sedangkan, Elowen tidak pernah ikut serta dalam pesta apapun. Bukan karena tidak mau, tapi saudaranya yang merasa malu dengan dirinya yang tidak bisa bicara.
Elowen menekan bibirnya sampai membentuk garis tipis. Benar kata para wanita muda itu, dia memang bukan siapa-siapa.
Sambil menundukkan kepala, Elowen melewati kumpulan wanita-wanita itu. Tenang, tanpa mengundang perhatian.
Tapi, tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang dari belakang. Elowen mendongak. Alisnya bergerak. “Duke Cassian?” ucapnya dalam hati. “Sedang apa dia…?”
Entah sejak kapan Cassian ada di sana, tapi menatapnya dari samping seperti ini membuat jantung Elowen berdetak begitu kencang. Semoga pria itu tak mendengar degup jantung Elowen sekarang.
Setelah melingkarkan tangan Elowen ke lengannya. Cassian menoleh ke arah Elowen.
“Tegakkan dagumu!” ujar Cassian pada Elowen.
Elowen tidak mengerti maksudnya, tapi tetap menurut.
Cassian mengeratkan pegangan Elowen padanya. Lalu berjalan ke arah sekumpulan wanita yang sedang bergosip tadi.
“Selamat siang, Nona-nona,” sapa Cassian.
“Selamat siang, Your Grace,” balas Lady Cavendell membungkukkan dirinya. Kemudian diikuti wanita-wanita di belakangnya.
“Sepertinya kalian belum mengenal calon istriku, ya?” sindir Cassian. “Lady Elowen Whitmore,” ucap Cassian memperkenalkan Elowen dengan sangat terhormat.
“Oh!” seru Lady Cavendell tertahan. “Selamat siang, Lady Elowen Whitmore.”
Seperti yang diharapkan Cassian, wanita-wanita itu terdiam dan membungkuk sopan di depan Elowen.
Elowen sampai menahan napasnya mendapat penghormatan dari mereka. Dia pun membalas dengan membungkukkan tubuhnya sambil tersenyum.
Tidak ada suara yang terucap dari bibir Elowen. Membuat semua wanita itu berpandangan. Mereka belum tahu kalau calon istri sang duke adalah seorang putri bisu.
Suasana menjadi hening.
“Meski belum resmi, wanita ini yang akan menjadi Duchess of Clyvedon. Jadi, kuharap kalian bisa lebih menyayangi leher kalian.” Cassian mengambil alih percakapan, agar para wanita itu tidak berpikir macam-macam lagi tentang Elowen.
Tatapan tajam Cassian tertuju pada setiap wanita di sana.
Elowen baru ingat, pelayannya pernah bercerita kalau Duke of Clyvedon adalah orang yang tidak berbelas kasih. Banyak sekali melakukan hukuman tanpa ampun.
Tapi, mengancam seperti itu kepada para wanita sangatlah kejam. Elowen ikut merinding jadinya.
Para wanita itu langsung terbungkam begitu saja. Dan, satu per satu menjauh dari mereka.
“Kau tidak perlu bersembunyi,” ucap Cassian pada Elowen saat itu. Setelah mengucapkan kata-kata dingin pada calon istrinya, Cassian pergi begitu saja.
Elowen menaiki kereta kudanya dan kembali ke rumah. Besok adalah hari pernikahannya. Dan, malam ini hari terakhir dia berada di kediaman Whitmore.
***
Seperti pertama kali dia pergi ke kapel, Elowen selalu dibuat takjub dengan kapel Clyvedon Abbey. Hari pernikahannya dengan Duke Cassian akhirnya datang juga.
Dengan gaun sederhana berwarna keperakan, Elowen berjalan menuju ke altar didampingi oleh Adrian. Di sana Adrian sudah menunggu dengan gagahnya.
Janji suci pernikahan disampaikan, begitu terburu-buru dan kasar. Seolah Cassian tidak ingin berlama-lama menjadi pusat perhatian.
Pendeta mengesahkan pernikahan mereka.
Ditariknya Elowen ke keluar dari kapel setelah resmi menjadi istrinya. “Ke kastil sekarang!” ucapnya pada kusir di atas kereta kuda.
Elowen melipat bibirnya ke dalam. Suara Cassian begitu kasar dan tajam. Apa dia bisa tahan dengan suami seperti itu?
Sejenak Elowen mencuri pandang ke arah Cassian. Tidak senyum di wajah pria itu, pandangannya tajam mengarah ke depan seolah di sampingnya tidak ada yang menarik.
Kenapa hati Elowen terasa seperti dihantam batu besar.
Pria yang resmi jadi suaminya beberapa jam lalu itu tidak menyukainya. Lihat saja, pria itu tak melihatnya sama sekali. Padahal mereka berada di dalam kereta kuda bersama.
Tak ada kata-kata, hanya sunyi.
Elowen menundukkan kepalanya, sedikit kecewa dan mulai tahu diri.
“Apa yang kuharapkan dari pernikahan dadakan ini?” ucap Elowen dalam hati. Kemudian meremas lipatan gaunnya sendiri.
Namun, setelah begitu banyak detik terbuang. Cassian kembali bersuara.
“Karena kau tidak bisa berbicara. Bagaimana aku bisa berkomunikasi denganmu?” ucap Cassian.
Elowen mengeluarkan sebuah catatan kecil yang selalu dia bawa. Elowen menuliskan sesuatu di sana, lalu memperlihatkannya pada Cassian.
“Anda bisa berbicara langsung dengan Saya, Your Grace. Dan, saya akan membalasnya seperti ini.”
Cassian terdiam sesaat, kemudian dia melirik menatap mata Elowen. Lama, sampai kemudian pria itu mengangguk dan membuang wajah ke arah lain.
Kereta berhenti tepat di depan kastil yang sangat megah dan mewah. Ketika Cassian turun, matanya melihat ke arah Elowen. Tangan pria itu terulur pada Elowen, menawarkan bantuan untuk istrinya menuruni kereta.
Elowen menyambutnya.
Kakinya menapak tanah, kemudian kepalanya mendongak. Betapa terkejutnya Elowen dengan para pelayan yang sudah berdiri dengan khidmat.
Cassian berdehem singkat, menarik pinggang Elowen agar lebih merapat padanya.
“Ini Jimmy, Kepala Pelayan,” ucap Cassian menunjuk ke arah pria paruh baya di sisi kanan. Jimmy mengangguk hormat. Elowen membalasnya dengan sedikit tersenyum.
“Ini Nyonya Wilson, Pengurus Rumah Tangga.” Kali ini Cassian memperkenalkan Elowen dengan wanita paruh baya di sisi kiri. Nyonya Wilson tersenyum ramah sambil mengangguk menatap Elowen.
Elowen pikir Nyonya Wilson adalah wanita yang sangat baik hati.
Cassian melanjutkan kata-katanya, “Dan, ini Duchess of Clyvedon.” Cassian menunjuk Elowen. Semua pelayan serentak memberikan hormat pada Elowen.
“Nyonya Wilson, akan memenuhi semua kebutuhanmu.” Kata Cassian pada Elowen.
Elowen menunduk. Tanpa berlama-lama Cassian langsung pergi begitu saja meninggalkan Elowen bersama Nyonya Wilson.
“Anda mau berkeliling istana terlebih dahulu, atau ingin diperlihatkan ruangan-ruangan yang nantinya bisa anda gunakan, Your Grace?”
Elowen terdiam sejenak, kemudian ia mengeluarkan catatan kecilnya, dan kembali menulis.
Nyonya Wilson terlihat mengerutkan kening. Heran dengan sikap sang Duchess.
Setelah selesai menulis, Elowen mengangkat catatan kecilnya untuk Nyonya Wilson.
“Bolehkah saya beristirahat sejenak? Anda bisa memperlihat ruang jamuan untuk malam nanti kepada saya.”
Nyonya Wilson akhirnya tersenyum dan mengangguk. “Tentu, Your Grace. Silahkan lewat sini.”
Entah Elowen bisa bernapas lega atau tidak. Tapi, tanggapan dari Nyonya Wilson saat dia memberikan catatan kecil begitu ramah.
Sepertinya Nyonya Wilson memang wanita yang baik, pikir Elowen. Semoga saja.
***
klo di rupiah kan setara dgn berapa kah...?
auto lsg tanta mbh gogle
you're amazing writer