NovelToon NovelToon
Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Suami Tak Berguna / Trauma masa lalu
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sikumbang

Aini terpaku di ruang tamu kontrakannya yang kecil. Suara itu...suara Dimas yang sedang melakukan transaksi dengan seseorang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Diusapnya perut yang sudah besar. Dia sudah hamil delapan bulan dan anak itu...!!! anak yang dia pertaruhkan dengan seluruh jiwa raganya.... kini...!!!! ayahnya sendiri sedang melakukan transaksi penjualan entah dengan siapa. Pandangan perempuan muda itu menggelap......!!!!
Aini meninggalkan rumah, suami...pergi dengan satu tujuan "Menyelamatkan sang Bayi". Menghadang hujan badai dan petir yang sambar menyambar. Ketika hidup mulai berpihak padanya, Aini dihadapkan lagi pada kenyataan...anak yang sudah dia besarkan bertemu Ayah kandungnya. Bisakah Aini meredam semua kebaikan yang sudah dia tanam tetap ada di dalam diri putra semata wayangnya itu??? Bagaimana akhir kisah yang menguras air mata ini? Ikuti saja di "Pembalasan Anak yang Kau Jual"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berbohong Demi Kebaikan.

Syafa duduk disamping Ibunya yang sedang sedang menggoreng tempe.

"Ibu..." panggilnya pelan.

Aini menoleh

" Ya, Nak. Kenapa? Sudah lapar ya?"

Syafa menggeleng dan terus menggoyang- goyang kaki mungilnya pelan. Diperlukannya si Beruang Teddy tak pernah lepas.

"Kenapa kita enggak sama Ayah lagi? Rumah ini kan kecil sekali, enggak ada kasurnya, enggak ada meja makannya... Kita mau tinggal di sini terus ya?"

Pertanyaan sederhana itu langsung membuat tangan Aini yang sedang memegang sendok kayu berhenti bergerak. Hatinya serasa dicubit keras. Bagaimana mungkin ia menjelaskan pada anak berusia empat tahun bahwa ayahnya sendiri yang berniat buruk pada adik bayi dalam kandungannya? Bagaimana menceritakan bahwa mereka lari bukan untuk jalan-jalan, tapi demi menyelamatkan nyawa dan masa depan?

Aini mematikan api kompor, lalu berjalan pelan mendekati Syafa dan berjongkok di hadapannya. Ia mengusap rambut putrinya dengan lembut, berusaha menyusun kata-kata yang aman dan bisa dimengerti oleh anak sekecil itu, meski jauh dari kenyataan sebenarnya.

"Begini, Nak..." jawab Aini dengan suara lembut dan sabar, berusaha tersenyum walau hatinya perih.

"Kita pergi dari rumah dulu karena... Ibu mau menjaga adik bayi yang ada di perut Ibu ini. Di rumah lama, udaranya kurang enak, debunya banyak, takutnya adik jadi sakit. Jadi Ibu ajak Kakak pindah sebentar ke sini, ke rumah Bu Lilis. Di sini udaranya bersih, banyak angin segar, dan aman buat adik."

"Terus Ayah kenapa enggak ikut?" tanya Syafa lagi, dahinya berkerut bingung.

"Ayah kan sayang sama kita. Kemarin saja Ayah belikan kita banyak makanan enak."

Air mata hampir menetes di pelupuk mata Aini saat mendengar ucapan putrinya itu. Syafa masih ingat kebaikan palsu Dimas sebelum kebenaran terungkap. Bagi anak kecil, Dimas masihlah sosok ayah yang menyenangkan saat memberinya makanan.

"Ayah... Ayah ada urusan pekerjaan yang sangat penting. Ayah harus pergi bekerja dulu untuk cari uang," jawab Aini berbohong.....pelan, menelan rasa sakitnya sendiri.

"Jadi sementara waktu, kita tinggal di sini saja sama Bu Lilis ya. Bu Lilis kan baik sekali, sudah kasih kita tempat tidur dan makanan enak. Nanti kalau adik sudah lahir dan besar, kita bicara lagi sama Ayah ya."

Bu Lilis yang sedari tadi mendengarkan sambil menyiapkan piring dan mangkuk, segera ikut mendekat dan duduk di samping Aini. Wanita tua itu paham betul beratnya beban yang dipikul Aini, dan ia pun ikut membantu menjelaskan dengan kata-kata yang lebih sederhana, meski juga tidak sepenuhnya jujur pada kenyataan aslinya.

"Iya betul kata Ibu kamu, Nak," Bu Lilis mencubit pipi Syafa dengan sayang.

"Di sini kan asyik, banyak angin, banyak pohon, nanti sore bisa lihat matahari terbenam di pinggir kali. Di rumah lama kan sempit, panas, dan sering ada orang lewat yang bikin ribut. Di sini tenang, aman, Ibu kamu bisa istirahat banyak-banyak biar adik bayinya lahir sehat dan cantik atau ganteng."

Syafa tampak mulai mengerti sedikit demi sedikit, meski masih ada sisa kebingungan di wajahnya.

"Jadi... Ayah nanti datang menjemput kita ya, Bu? Ayah kan janji mau belikan boneka lagi."

Bu Lilis dan Aini saling bertatapan sekilas. Di mata Bu Lilis tampak rasa iba yang mendalam. Ia tahu benar....cerita Aini semalam, bahwa Dimas bukan sedang bekerja jauh, melainkan sedang berusaha mencari mereka untuk mengambil keuntungan. Bahwa Dimas bukan menunggu untuk menjemput, tapi berusaha menangkap.

Bu Lilis kembali tersenyum lebar pada anak kecil itu, berusaha meyakinkannya dengan nada ceria.

"Tentu saja, Nak. Nanti kalau sudah waktunya, Ayah pasti datang. Sekarang Kakak harus jadi anak pintar, bantu-bantu Ibu ya. Kalau Kakak baik, nanti adiknya senang di dalam perut. Kalau adik senang, nanti pas lahir pasti gembira terus."

Syafa akhirnya tersenyum lebar, rasa khawatirnya hilang. Ia mengangguk semangat.

"Siap, Bu! Syafa mau bantu Ibu. Syafa akan jadi anak yang pintar!"

Aini menghela napas lega, lalu memeluk putrinya itu erat. Ia tahu penjelasan yang diberikan mereka berdua penuh kebohongan. Ia tidak bilang bahwa uang yang dipakai Dimas membelikan makanan itu adalah uang hasil menjual adiknya sendiri.

Waktu berlalu begitu cepat, seakan berkejaran dengan napas Aini. Satu bulan penuh telah mereka lewati di gubuk sederhana milik Bu Lilis. Hidup mereka sederhana, makan seadanya, tidur beralaskan tikar di atas papan kayu, namun damai dan aman. Tidak ada lagi tatapan aneh Dimas, tidak ada lagi rasa takut uang haram itu akan merenggut anaknya. Di sini, di pinggir kali yang jauh dari keramaian, Aini merasa tenang. Tubuhnya makin berat, gerakannya makin terbatas, tapi hatinya makin teguh.

Pagi itu, udara pagi yang sejuk tiba-tiba berubah mencekam. Saat sedang duduk bersandar di tiang rumah sambil mengamati Syafa yang bermain tanah di halaman, Aini tiba-tiba memegang perutnya erat-erat. Rasa nyeri yang tadinya hanya hilang timbul, kini berubah menjadi rasa sakit yang hebat dan berulang-ulang. Keringat dingin seketika membasahi seluruh wajah dan tubuhnya. Napasnya tersengal-sengal, bibirnya pucat pasi.

"Bu Lilis... Bu..." panggil Aini lirih, suaranya bergetar menahan sakit.

Bu Lilis yang sedang menyapu halaman langsung bergegas menghampiri. Melihat kondisi Aini yang mulai meringis dan air ketuban yang perlahan membasahi kain di bawahnya, wanita tua itu langsung paham.

"Aduh, Nak... sudah waktunya! Bayinya mau keluar!" seru Bu Lilis panik namun tetap berusaha tenang. Ia langsung menyangga tubuh Aini agar bisa berbaring dengan nyaman di atas kasar tipis yang sudah disiapkan di dalam rumah. "Tahan dulu ya, Nak! Ibu panggil Bu Bidan, rumahnya cuma di ujung jalan sana, sebentar saja sampai!"

Bu Lilis berlari secepat kakinya yang tua bisa membawa, meninggalkan Aini yang kini bergelut dengan rasa sakit luar biasa. Kontraksi datang bertubi-tubi, membuat Aini harus menggigit kain sarungnya kuat-kuat agar tidak berteriak terlalu keras. Di setiap hembusan napasnya, ia memohon pada Tuhan agar ia dan bayinya selamat. Bayi yang menjadi penyebab ia harus lari, bersembunyi, dan menanggung semua penderitaan ini—bayi yang menjadi harta paling berharga yang kini nyawa taruhannya.

Tak lama kemudian, Bu Lilis kembali bersama seorang wanita paruh baya berwajah tegas, Bu Yati, bidan desa yang memang biasa menangani persalinan di sekitar wilayah itu. Dengan sigap dan cekatan, Bu Yati menyiapkan segala perlengkapan seadanya yang ada.

"Ayo, Bu Aini... semangat! Tarik napas... buang... nanti kalau rasa sakitnya datang, kamu dorong sekuat tenaga ya! Demi anakmu!" perintah Bu Yati dengan suara menenangkan namun tegas.

Perjuangan panjang pun dimulai. Berjam-jam lamanya Aini berjuang melawan rasa sakit yang tak terbayangkan. Tubuhnya yang sempat lemah karena kurang gizi kini mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa. Bu Lilis setia berada di sampingnya, mengusap keringat, memegangi tangan Aini yang mencengkeram kuat, dan membisikkan doa-doa agar segalanya lancar.

Di sudut ruangan, Syafa duduk diam dengan mata terbelalak takut, sesekali menangis pelan melihat ibunya menahan sakit begitu hebat.

"Jangan takut, Nak... Ibu kuat..." bisik Aini di sela-sela rintihannya.

Hingga akhirnya, di tengah teriakan kekuatan terakhir Aini, terdengar tangisan nyaring dan kencang memecah keheningan gubuk itu. Suara itu begitu indah, begitu merdu, dan begitu menyejukkan hati siapa pun yang mendengarnya.

"Alhamdulillah... selamat, Bu! Bayi laki-laki, sehat, kuat, dan tampan sekali!" seru Bu Yati sambil tersenyum lebar, mengangkat bayi mungil itu yang bergerak-gerak aktif.

Aini terbaring lemas, napasnya tersengal berat, seluruh tubuhnya terasa hancur namun hatinya penuh meluap. Air mata bahagia mengalir deras di pipinya yang basah keringat. Ia menatap anak laki-lakinya yang kini sudah lahir ke dunia, aman di tangan ibunya, belum sempat disentuh oleh orang jahat mana pun. Bayi itu bersih, berwajah tampan, kulitnya kemerahan, dan matanya yang mungil sesekali terbuka seolah mengenali ibunya.

Bu Lilis mengusap dada Aini lega. "Syukurlah... Syukurlah, Nak. Tuhan masih sayang sama kamu dan anak-anak. Laki-laki... hebat sekali."

Begitu bayi itu dibersihkan dan dibalut kain, ia didekatkan ke dada Aini. Sentuhan hangat tubuh mungil itu membuat segala rasa sakit yang baru saja ia rasakan seketika hilang terbayar lunas. Aini mencium kening anaknya berkali-kali, penuh kasih sayang, penuh rasa syukur.

Syafa yang tadinya hanya menonton dari jauh, kini berlari mendekat dengan mata berbinar-binar gembira. Rasa takutnya hilang seketika diganti rasa penasaran dan bahagia. Ia mengintip wajah adiknya yang kecil itu dengan antusias.

"Wah... adik laki-laki! Adik ganteng sekali, Bu!" seru Syafa sambil bertepuk tangan riang. Ia menoleh ke arah Aini dengan senyum paling lebar yang pernah dilihat ibunya.

"Ibu... lihat kan? Adik sudah lahir! Sebentar lagi kan Ayah pasti datang menjemput kita ya? Ayah pasti senang sekali kalau tahu adik sudah ada. Ayah pasti akan bawa kita pulang dan belikan adik baju baru yang bagus!"

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut polos anak itu, penuh keyakinan bahwa ayahnya adalah orang baik yang akan bahagia melihat kelahiran anaknya. Syafa masih ingat ucapan-ucapan mereka sebulan lalu, bahwa mereka hanya pergi sebentar, bahwa ayahnya sedang bekerja, dan akan datang menjemput.

Aini tersentak hebat. Senyum di bibirnya perlahan pudar, diganti tatapan kosong dan perih. Ia menatap Syafa, lalu kembali menatap wajah mungil putranya.

Di dalam hati Aini, badai kembali bergulung. Menjemput? batinnya getir. Ayahmu tidak akan datang menjemput untuk menggendong anak ini dengan kasih sayang, Nak. Dia akan datang untuk mengambilnya, untuk menukarnya dengan uang, sama seperti dia mau lakukan sebulan yang lalu.

Aini tidak menjawab. Ia hanya diam. Hening yang panjang menyelimuti mereka. Ia tak sanggup mematahkan harapan polos putrinya. Ia tak sanggup berkata: "Jangan harap Ayah datang, Nak. Ayahmu adalah orang yang mau menjual adikmu ini sebelum ia sempat melihat dunia."

Bu Lilis yang menyadari ketegangan itu, segera mengelus kepala Syafa dan mengalihkan perhatiannya. "Iya, Nak... nanti kalau sudah waktunya pasti Ayah datang. Sekarang biarkan Ibu istirahat dulu ya, Ibu kan baru saja berjuang hebat sekali. Adiknya juga butuh tidur."

Syafa mengangguk patuh, meski matanya masih bersinar ceria membayangkan kedatangan ayahnya.

Aini memejamkan matanya perlahan, memeluk bayi laki-lakinya makin erat ke dadanya.

" Kamu harus jadi anak yang kuat ya..."Satria Halilintar!"

********

1
Ariany Sudjana
makanya kamu jangan egois Arini, kamu menyesal kan ?
Ariany Sudjana
menyesal kan kamu Aini? kamu egois dan bodohnya kebangetan
Putri Sikumbang: 😭 iya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!