"Di kantor, Aruna adalah pemenang. Namun di rumah, ia adalah orang asing yang kehilangan tempat. Ketika mantan suaminya kembali membawa 'istri sempurna', hidup Aruna mulai retak.
Satu per satu barangnya hilang, ingatannya mulai dikhianati, dan putranya perlahan menjauh. Apakah Aruna memang ibu yang gagal, atau seseorang sedang merancang skenario untuk membuatnya gila?
Menjadi ibu itu berat. Menjadi ibu yang waras di tengah teror... itu mustahil."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: LABIRIN HALUSINASI
Bab 5: Labirin Halusinasi
Suara pintu kamar Kenzo yang terbuka pelan di tengah kegelapan apartemen itu terdengar seperti suara dentang lonceng kematian di telinga Aruna. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya dengan ritme yang menyakitkan. Ia masih membeku di depan layar laptop, cahaya biru dari layar tersebut adalah satu-satunya sumber cahaya yang menerangi wajah pucatnya. Di layar, rekaman CCTV itu masih menyala menunjukkan Tyas dan sosok wanita misterius yang memakai gaun tidurnya.
"Mama... kenapa gelap sekali?" Suara Kenzo terdengar lagi, kali ini lebih dekat.
Aruna memaksakan dirinya untuk menoleh. Di ambang pintu kamar, Kenzo berdiri sambil memeluk boneka pemberian Siska. Namun, di belakang Kenzo, di dalam kegelapan lorong yang pekat, Aruna bersumpah ia melihat ujung gaun lilac yang melambai tertiup angin dari jendela yang terbuka.
"Kenzo, ke sini, Sayang. Berdiri di dekat Mama," bisik Aruna dengan suara parau yang nyaris tidak keluar.
"Tante Siska bilang Mama lagi sakit," Kenzo tidak bergerak. Matanya yang bulat menatap Aruna dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara takut dan bingung. "Tante bilang kalau Mama mulai bicara sendiri, Kenzo harus masuk kamar dan kunci pintu. Mama... Mama bicara sama siapa tadi?"
Darah Aruna seolah membeku. Siska tidak hanya merusak karier dan kewarasannya, tapi perempuan itu sudah mulai meracuni pikiran Kenzo dari dalam rumahnya sendiri. Aruna bangkit berdiri, tangannya meraba-raba meja untuk mencari ponselnya, tapi benda itu tidak ada di sana.
Srek... srek... srek...
Suara gesekan logam itu terdengar lagi, kali ini berasal dari arah dapur. Aruna memberanikan diri berjalan menuju saklar lampu utama. Dengan tangan gemetar, ia menekannya berkali-kali. Nihil. Listriknya benar-benar diputus dari luar.
"Kenzo, ikut Mama sekarang!" Aruna menyambar tangan Kenzo dan menariknya menuju pintu keluar apartemen. Ia harus pergi dari sini. Ia harus membawa Kenzo ke tempat aman, mungkin ke rumah ibunya atau ke hotel sekalian.
Namun, saat ia membuka pintu apartemen, Bimo sudah berdiri di sana. Kali ini ia tidak sendiri. Ada dua orang pria berseragam medis di belakangnya.
"Aruna, syukur kamu baik-baik saja," ucap Bimo dengan nada suara yang sangat tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang datang di tengah malam saat listrik padam. "Pak Satpam telepon aku, katanya dia dengar teriakan dari unit kamu. Dan lihat ini... kamu mau bawa Kenzo lari ke mana malam-malam begini tanpa lampu?"
"Bimo, mereka masuk ke sini! Tyas dan Siska masuk ke apartemenku! Aku punya buktinya di CCTV!" Aruna berteriak histeris, menunjuk-nunjuk ke arah laptopnya di meja.
Bimo memberikan isyarat kepada petugas medis itu untuk masuk. "Run, tenang dulu. Kita lihat CCTV-nya bareng-bareng, oke?"
Bimo berjalan menuju laptop Aruna. Aruna dengan penuh percaya diri menunjukkan rekaman yang tadi ia lihat. Namun, saat video itu diputar, napas Aruna mendadak tercekat. Di dalam rekaman itu, pada pukul 14.15, pintu apartemen memang terbuka. Namun, tidak ada Tyas. Tidak ada Siska.
Hanya ada Aruna sendiri.
Di dalam rekaman itu, Aruna terlihat masuk ke apartemen, berbicara sendiri di depan cermin, lalu ia sendiri yang mengambil gelas minumnya dan memasukkan sesuatu ke dalamnya. Aruna di dalam video itu kemudian berjalan menuju lemari, mengambil gaun tidurnya, dan menggunting-gunting udara kosong dengan tangan kosong—seolah sedang memegang gunting yang tidak kasatmata.
"Nggak... nggak mungkin! Tadi bukan ini yang kulihat! Videonya sudah diganti!" Aruna menjerit, ia mencoba merebut laptop itu, tapi Bimo menahannya.
"Aruna, cukup," suara Bimo sekarang terdengar tegas. "Kenzo melihat semuanya. Kamu bicara sendiri, kamu tertawa sendiri. Kamu sakit, Aruna. Halusinasi kamu sudah sampai tahap membahayakan Kenzo."
Aruna menatap Kenzo yang kini sudah berada di pelukan Bimo. Anak itu menangis sesenggukan. "Mama seram, Papa... Mama gunting-gunting baju sambil panggil nama Tante Siska..."
Dunia Aruna seolah runtuh. Ia menatap telapak tangannya sendiri. Apakah ia benar-benar melakukannya? Apakah obat yang ditaruh Tyas—atau siapa pun itu—begitu kuat hingga ia melakukan semua itu tanpa sadar? Atau apakah Bimo dan Siska memiliki teknologi untuk memalsukan rekaman CCTV secara real-time?
"Bawa dia ke klinik," perintah Bimo pada petugas medis. "Pastikan dia mendapatkan penenang yang cukup."
Saat petugas medis memegang lengannya, Aruna sempat melihat Siska muncul dari balik lift. Siska tidak memakai gaun lilac. Ia memakai baju olahraga santai, memegang botol air minum seolah baru pulang dari *gym*. Siska menatap Aruna dengan tatapan iba yang dibuat-buat, namun saat Bimo membelakangi mereka, Siska menggerakkan tangannya di depan leher—sebuah simbol "mati"—sambil tersenyum sangat lebar.
Siska tidak perlu menggunakan gunting untuk membunuh Aruna. Dia hanya perlu mencuri kenyataan dari mata Aruna sendiri.
...****************...
Bersambung...
Bab 6: Rehabilitasi atau Penjara?