"Paksu... Calla janji tobat dan bakal jadi istri yang solehot buat Paksu! Asal... jangan taroh Calla di barak militer, Calla enggak mau merangkak dilumpur!"
Demi wasiat Papa, Callanta (21 tahun) terpaksa menikah dengan pria berbaju kumal yang dikira karyawan biasa. Namun pasca-nikah, pria itu membuka jaketnya dan berubah menjadi Komandan Pasukan Khusus berusia 38 tahun yang kaku, galak, dan seumuran pamannya!
Takut dididik fisik di barak karena sifat manjanya, Calla langsung mengeluarkan mode cegil (cewek gila): merayu sang suami dengan janji jadi "Istri Solehot" (Solehah tapi Hot).
Dimulailah perang domestik yang kocak: disiplin militer vs daster mini, tangisan bombay vs bentakan bariton, hingga aksi sang Komandan yang terpaksa lari maraton tengah malam demi menjaga imannya—sementara Calla asyik ronda di pinggir lapangan sambil bawa raket nyamuk listrik!
Mampukah Komandan kaku menjinakkan istri kecilnya? Atau justru ia yang takluk di bawah kuasa raket nyamuk sang Ismut (Istri Imut)?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20
"Paksu... kok dilepas sih? Kan Ismut masih mau bunganya."
Suara Calla terdengar sangat lirih dan terengah-engah, dengan napas yang memburu pendek di depan wajah Alaric. Mata kucingnya tampak sayu dan sayup oleh kabut gairah yang baru saja tersulut. Kedua tangan mungilnya masih mencengkeram erat kerah seragam loreng Alaric yang sudah terbuka setengah.
Alaric menarik kepalanya perlahan dari pagutan intens mereka, menatap bibir Calla yang kini tampak bengkak merah dan basah. Jakunnya naik turun dengan cepat, menahan gemuruh hebat di dalam dadanya.
"Saya harus mandi dulu, Calla," ujar Alaric dengan suara yang teramat serak dan berat, napasnya ikut memburu panas menerpa wajah istrinya. "Badan saya kotor, penuh keringat sisa dinas seharian di lapangan. Tidak nyaman untukmu."
Calla mengerucutkan bibirnya yang ranum, menatap suaminya dengan pandangan merajuk yang teramat manja. "Ih, padahal kan Ismut nggak peduli mau Paksu keringetan atau bau matahari. Bau Paksu tetep seksi tahu."
Alaric tidak bisa menahan senyum tipisnya, ia mengusap pipi Calla yang merona merah dengan ibu jarinya. "Tunggu sebentar, Ismut. Saya tidak akan lama. Duduklah di kasur."
Dengan berat hati, Calla akhirnya melepaskan pelukannya pada leher Alaric. "Ya udah deh, sana mandi yang bersih. Jangan lama-lama ya, awas kalau ketiduran di dalam bak!"
Alaric hanya mendengus geli, lalu berbalik melangkah cepat masuk ke dalam kamar mandi untuk mendinginkan kepalanya yang hampir meledak karena menahan diri.
Dua puluh menit berlalu dengan tempo yang terasa sangat lambat bagi Calla. Gadis itu duduk bersila di tengah ranjang, memainkan ujung daster satin putih tipisnya dengan perasaan campur aduk antara gugup dan tidak sabar.
CEKLEK.
Pintu kamar mandi terbuka, dan sedetik kemudian, Calla mendadak merasa tenggorokannya menjadi sangat kering hingga sulit untuk menelan ludahnya sendiri.
Alaric keluar hanya dengan balutan celana kain hitam panjang tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh bagian atasnya. Rambut hitam pendeknya yang masih basah tampak berantakan, dengan sisa-sisa tetesan air yang mengalir lambat melewati rahang tegasnya, turun ke leher, lalu membasahi dada bidangnya yang berotot tegap dan dipenuhi guratan atletis khas perwira elite.
Astaga, om-om ini kenapa seksinya nggak ngotak sih, batin Calla menjerit girang.
Alaric yang menyadari tatapan lekat dan lapar dari istri kecilnya itu hanya tersenyum tipis. Ia menaruh handuk kecilnya di atas kursi, lalu melangkah lambat dengan sangat gagah menghampiri ranjang, langsung merangkak naik dan mengurung tubuh mungil Calla di bawah kungkungan tubuh besarnya.
"Kenapa menatap saya seperti itu, Ibu Alaric? Hm?" bisik Alaric rendah, suaranya terdengar sangat seksi dan intim di keheningan kamar.
"H-Habisnya... Paksu sengaja banget pamer otot begitu, mau bikin Ismut jantungan ya?" sahut Calla, mencoba mempertahankan mode cegil-nya walau suaranya sudah bergetar halus.
"Ini tubuh suamimu, Calla. Kamu punya hak penuh untuk melihatnya," ujar Alaric parau.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Calla untuk membalas, Alaric langsung menundukkan wajahnya, kembali memagut bibir ranum Calla dengan intensitas yang jauh lebih panas dan menuntut dari sebelumnya. Calla melenguh pelan, langsung menyambut ciuman itu dengan tangan yang bergerak naik meraba pundak lebar Alaric yang kokoh dan hangat.
Alaric perlahan merebahkan tubuh mungil Calla ke atas kasur empuk, tanpa memutuskan tautan bibir mereka sedikit pun. Pagutannya berpindah, mengecup sudut bibir Calla, lalu turun perlahan menyusuri rahang tegas istrinya hingga mencapai leher putih bersih Calla yang menguar wangi stroberi.
Cup... emhh...
"Ahhh... Paksu..." Calla mendesah lirih saat merasakan kecupan-kecupan basah dan gigitan kecil dari Alaric mulai menjelajahi lehernya. Rasa geli dan nikmat yang luar biasa membuat jemari lentik Calla bergerak liar, menyusup ke dalam rambut pendek Alaric yang masih agak basah, meremasnya dengan erat untuk menyalurkan sensasi yang membakar seluruh tubuhnya.
Alaric semakin dalam membenamkan wajahnya di ceruk leher Calla, tangan besarnya mengunci pinggang mungil istrinya di balik daster satin yang mulai tersingkap ke atas. Suasana kamar menjadi sangat panas, dipenuhi deru napas mereka yang saling berkejaran.
Namun, tepat saat gairah keduanya berada di ambang batas tertinggi...
DRRRTTT! DRRRTTT! DRRRTTT!
Suara getaran kencang disertai nada dering ponsel Alaric di atas meja nakas mendadak memotong atmosfer magis di atas ranjang itu dengan sangat brutal.
Alaric mendadak membeku di atas tubuh Calla. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, menghela napas panjang dengan dahi yang berkerut dalam, menahan umpatan yang hampir keluar dari mulutnya.
"P-Paksu... hp-nya bunyi..." bisik Calla terengah-engah dengan wajah yang merah padam sepenuhnya, matanya sayu menatap langit-langit kamar.
"Biarkan saja," gerutu Alaric serak, hendak kembali menundukkan wajahnya ke leher Calla.
DRRRTTT! DRRRTTT!
Ponsel itu kembali berdering untuk kedua kalinya tanpa ampun. Alaric akhirnya menyerah. Dengan sisa-sisa kesabaran militernya, ia menegakkan tubuhnya, berbalik mengambil ponsel pintar itu dengan gerakan kasar. Begitu melihat nama di layar, seluruh gairah Alaric langsung menguap digantikan oleh rasa takzim.
"Mama Diah..." gumam Alaric kaku.
Calla yang mendengarnya langsung ikut terduduk di kasur, merapikan tali dasternya yang sempat melorot dengan wajah panik sekaligus lucu. "Hah? Mama? Angkat, Paksu! Cepat angkat!"
Alaric menggeser tombol hijau lalu menempelkan ponselnya ke telinga. "Siap, halo, Selamat malam, Ma."
"Alaric! Kamu ini kebiasaan ya kalau angkat telepon lama banget! Kamu nggak lagi hukum prajurit kamu tengah malam begini, kan?!" Suara melengking khas Mama Diah langsung terdengar sangat jelas, bahkan sampai terdengar oleh Calla yang duduk di samping Alaric.
"Siap, tidak, Ma. Ada apa malam-malam menghubungi?" tanya Alaric, melirik Calla yang sekarang sedang cengengesan menahan tawa melihat wajah frustrasi suaminya.
"Ini penting! Besok pagi-pagi sekali, kamu sama Calla harus sudah sampai di butik Tante Amara di pusat kota, ya! Jadwal ukur baju terakhir untuk pesta pernikahan kalian sudah keluar!" perintah Mama Diah tanpa bisa dibantah.
Calla langsung memajukan kepalanya ke dekat ponsel Alaric. "Halo Mama sayang! Ukur baju buat pesta yang dua minggu lagi itu ya, Ma?"
"Eh, Calla sayang! Iya, Nak! Duh, maaf ya Mama ganggu waktu istirahat kalian," suara Mama Diah langsung berubah menjadi sangat lembut dan manis dalam sedetik, membuat Alaric hanya bisa memutar bola matanya pasrah. "Pesta pernikahan pedang pora kalian kan tinggal dua minggu lagi, jadi kebayanya Calla sama seragam PDU kamu, Al, harus bener-bener pas di badan. Jangan sampai kekecilan atau kedodoran!"
"Siap, Ma. Besok pagi kami akan ke sana tepat waktu," jawab Alaric formal.
"Bagus! Ya sudah, lanjut istirahat ya kalian berdua. Calla sayang, jangan capek-capek ya, Nak. Sampai ketemu besok pagi!"
PIP.
Sambungan telepon terputus seketika. Alaric perlahan menaruh ponselnya kembali ke meja nakas, lalu menjatuhkan tubuh kekarnya telentang di atas kasur sambil menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
Calla langsung merangkak mendekat, menopang dagunya di atas dada bidang Alaric yang naik turun. Ia menatap wajah kaku suaminya dengan senyum jahil yang teramat lebar.
"Hahaha! Kasihan banget deh Om Kaku kesayangan Ismut," goda Calla, menusuk-nusuk pipi Alaric dengan telunjuknya. "Baru mau berubah jadi macan, langsung ciut gara-gara ditelepon pawangnya."
Alaric melirik Calla dari sudut matanya, lalu dengan cepat menarik tubuh Calla ke dalam pelukannya, membungkus mereka berdua di dalam selimut tebal sampai sebatas dada.
"Tidur, Callanta. Sebelum saya benar-benar melanggar perintah Mama untuk membiarkanmu istirahat malam ini," ancam Alaric rendah, menggenggam erat jemari kaki Calla yang mulai nakal ingin bergerak di atas pahanya.
Calla tertawa kecil, menenggelamkan wajahnya di dada hangat Alaric, menikmati debaran jantung suaminya yang perlahan mulai kembali normal. "Iya, iya, selamat tidur Suami Ibu Alaric... Ismut siap nunggu dua minggu lagi kok!"
resepsi tinggal menghituung hariii detik demi detiik ,,
aseeek aseeek ,, 💃💃💃💃💃
pak komandan udh mulai mencair niiih 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
pengaman tingkat tinggi pak su ,,
jgn lupa kolam air di isi penuhh ,,
sypa tau nnti mlm mau jdi pangeran duyung lgii🤭🤭🤭🤣🤣🤣
kak mksiih buat up ny ,,
sehat selalu
sabar yx pak suu ,,
meski menghadapi calla tu membuat kesabaran setipis tissue 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Perbedaan usia, kepribadian yang bertolak belakang, serta tingkah kocak sang istri menciptakan banyak momen lucu, menggemaskan, sekaligus romantis. Di balik segala kekacauan yang dibuat istrinya, sang komandan perlahan menunjukkan sisi lembut dan posesif yang hanya ia tunjukkan untuk wanita yang dicintainya.
Cocok untuk pembaca yang menyukai romcom penuh tawa, kemesraan pasangan suami istri, dan kisah cinta yang hangat tanpa terlalu banyak drama berat. Selamat membaca dan semoga terhibur!" 💕✨