Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.
Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.
Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.
Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Kejutan di Tengah Kecanggungan
Zhao Fei masih telentang di atas permukaan tanah sambil menatap langit malam yang bertabur bintang. Sementara Liu Xue berdiri tepat di atas kepalanya, membelakangi cahaya bulan sehingga paras ayunya sedikit terlindungi oleh bayangan kegelapan. Kemarahan yang sempat meluap-luap dari gadis itu kini telah menguap seluruhnya, digantikan oleh tatapan mata yang teramat dingin, apalagi menusuk.
"Kamu, kan...?" tanya Liu Xue, membiarkan kalimatnya terputus begitu saja.
Zhao Fei tidak langsung memberikan jawaban lisan. Dia berusaha untuk bangkit dan mengambil posisi duduk secara perlahan. Namun, sebelum telapak kakinya sempat menumpu tanah dengan kokoh untuk berdiri, sebuah kilatan logam berkelebat cepat di depan pandangannya. Ujung pedang Liu Xue yang sangat tajam telah terhunus, menempel tepat di kulit lehernya.
Satu pergeseran kecil saja dilakukan, bilah senjata itu pasti akan menggores kulitnya dan membuat darah segar mengalir.
"Berlutut. Letakkan kedua tanganmu di atas kepala," perintah Liu Xue, menyuarakan nada yang teramat datar tanpa emosi. "Jawab pertanyaanku dengan jujur. Untuk apa kau mengintipku di tempat sepi seperti ini?"
Zhao Fei terpaksa menuruti perintah itu, mengambil posisi berlutut dengan kedua tangan terangkat di samping telinga. Meski sudah jelas, jauh di dalam lubuk hatinya, mantan Yang Mulia Petir Abadi itu tertawa kecut melihat nasib tubuh barunya. Sungguh sebuah ironi yang menggelikan bagi seorang penguasa tertinggi Alam Dewa harus berakhir dalam posisi memalukan di hadapan seorang gadis. Kendati demikian, dia berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap terlihat tenang dan tidak mencurigakan.
"Aku sama sekali tidak memiliki niat untuk mengintip," jawab Zhao Fei, menyusun alasan logis dengan cepat. "Aku kebetulan sedang berada di sekitar sini dan mendengar suara benturan yang sangat keras dari kediaman Tabib Wen. Karena itulah, aku memutuskan untuk datang ke mari guna memeriksa situasi, khawatir ada bahaya yang mendekat."
Liu Xue menyipitkan sepasang mata indahnya, memandang penuh kecurigaan ke arah pemuda itu. "Kediaman Tabib Wen? Jarak dari pondok itu ke tempat ini terbilang cukup jauh, setidaknya setengah mil perjalanan menembus hutan lebat. Bagaimana mungkin pendengaranmu bisa setajam itu?"
Zhao Fei merasakan lidahnya sedikit kaku saat menyadari titik lemah dari argumennya. "Aku memang sedang melakukan beberapa latihan fisik di area sekitar sini sebelum suara itu terdengar. Aku sungguh-sungguh datang atas perintah untuk menjaga rumah Tabib Wen selama beliau pergi beberapa hari ini."
Gadis di hadapannya memiringkan kepala, tidak melepaskan pandangan tajamnya dari wajah Zhao Fei seolah mencari celah kebohongan, sebelum akhirnya berhenti untuk menghubungkan berbagai informasi yang tersimpan di dalam kepalanya.
"Tabib Wen?" Liu Xue menjeda kalimatnya, merenung dalam diam. "Apakah kau... orang yang menyembuhkan para pasien di halaman pondok tadi siang? Tabib muda misterius yang sedang ramai dibicarakan oleh orang-orang desa?"
Zhao Fei cukup kaget karena tidak mengira kabar itu akan menyebar dengan begitu cepat hingga mencapai telinga cucu tetua sekte. "Bagaimana kau bisa mengetahuinya?"
Mendengar konfirmasi tersebut, Liu Xue perlahan menurunkan bilah pedangnya, lalu memasukkan kembali senjata itu ke dalam sarungnya dengan satu gerakan mulus yang anggun.
"Aku tidak sengaja mendengar obrolan beberapa warga yang sedang berjalan pulang saat aku melewati gerbang bawah sekte," ungkap Liu Xue, ketegangannya sedikit mengendur. "Mereka terus membicarakan perihal seorang pemuda ajaib yang dianggap sebagai murid langsung dari Tabib Wen."
Zhao Fei hendak membuka mulutnya untuk memberikan penjelasan tambahan, tetapi Liu Xue telah kembali berbicara. Seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri guna merangkum seluruh keanehan yang dia temukan pada diri pemuda itu.
"Kau datang ke Sekte Garuda Putih tanpa mengenakan seragam resmi. Asal-usul dirimu tidak diketahui dengan jelas oleh siapa pun. Kemudian, kau berhasil mengalahkan dua puluh calon murid dalam ujian seleksi tanpa memancarkan energi qi sedikit pun." Sepasang mata Liu Xue kini beralih, menatap lurus ke arah area pinggang belakang Zhao Fei. "Kau juga menyelesaikan tugas berat tingkat murid senior seorang diri. Lalu sekarang, kau tiba-tiba memiliki kemampuan luar biasa untuk menyembuhkan penyakit menahun."
Pandangan gadis itu kini tertuju sepenuhnya pada sebilah pedang yang sejak tadi coba disembunyikan oleh Zhao Fei di balik punggungnya.
"Pedang itu. Benda itu jelas tidak terlihat seperti senjata murahan yang bisa ditemukan di pasar biasa."
Zhao Fei mencoba untuk mengelak dari kecurigaan yang semakin menumpuk. "Ini hanya sebuah pedang tua yang aku bawa dari rumah..."
Liu Xue tidak membiarkan kalimat itu selesai. Tangan kanan gadis itu bergerak dengan kecepatan yang sangat luar biasa, merebut gagang pedang Pemutus Awan dari balik punggung Zhao Fei sebelum pemuda itu sempat melakukan tindakan pencegahan.
Gadis itu kini memegang pedang Pemutus Awan, mengamatinya dengan saksama di bawah siraman cahaya bulan. Jemari tangannya yang halus menyentuh permukaan sarung hitam legam itu dengan penuh kehati-hatian. Nalurinya sebagai seorang kultivator berbakat mengatakan bahwa benda yang dipegangnya saat ini memiliki misteri yang sangat besar, memancarkan aura yang teramat samar namun pekat.
"Pedang ini... dari mana sebenarnya kau mendapatkan benda seindah ini?" tanya Liu Xue, menuntut jawaban tegas.
Mendapatkan pertanyaan yang begitu mendesak, lidah Zhao Fei mendadak kembali kaku. Kalimat yang keluar dari mulutnya terdengar terbata-bata dan berputar-putar tanpa arah yang jelas. "Aku mendapatkannya dari... seseorang. Di atas gunung yang tinggi saat aku tersesat. Saat itu aku sedang berjalan, lalu aku menemukannya... maksudku, seorang pria tua misterius yang memberikannya kepadaku secara cuma-cuma..."
Liu Xue kembali memiringkan kepalanya, menyipitkan mata melihat kegugupan yang ditunjukkan oleh pemuda di depannya.
Tidak lama kemudian, gadis itu menghela napas panjang dan menyerahkan kembali pedang pusaka itu ke dalam genggaman Zhao Fei dengan ekspresi sedikit kecewa.
"Lupakan saja. Lagipula, tidak mungkin bagi seorang pemuda dengan latar belakang fana sepertimu bisa memiliki senjata tingkat atas yang asli. Benda ini pasti hanya replika yang dibuat dengan sangat baik oleh pengrajin ahli."
Zhao Fei memilih untuk mengunci mulutnya saat menerima penilaian keliru itu. Dia memang tidak berniat untuk membantah ataupun membenarkan argumen Liu Xue, karena kesimpulan merendahkan dari gadis itu justru sangat menguntungkan bagi keamanan identitas aslinya.
Liu Xue menatap Zhao Fei cukup lama sebelum melanjutkan. "Apa pun yang sedang kau rencanakan di tempat ini, sebaiknya kau selalu berhati-hati," nadanya kembali berubah serius. "Pihak dewan sekte serta beberapa tetua penting mulai menjadikan dirimu sebagai topik pembicaraan hangat. Dan ketahuilah, tidak semua opini yang beredar di dalam aula pertemuan itu bernada positif."
Zhao Fei menggerakkan kepalanya sedikit ke bawah, menatap tanah tempatnya berlutut sejenak sebelum kembali memberanikan diri menatap sepasang mata gadis itu.
"Mengenai perihal rencana perjodohan yang dikatakan oleh tetua utama..."
Liu Xue tidak membiarkan pemuda itu menyelesaikan kalimatnya. Gurat wajahnya yang sempat melunak seketika berubah menjadi sedingin es abadi, menutup rapat ruang untuk pembahasan lebih lanjut mengenai hubungan mereka.
"Aku mendengar kabar bahwa ibumu saat ini telah sembuh total dari penyakit parahnya," sela Liu Xue, mengalihkan topik pembicaraan dengan sangat tegas alih-alih membahas masalah pernikahan. "Apakah kesembuhan itu terjadi berkat ramuan obat yang kau racik sendiri?"
Zhao Fei menggelengkan kepala, mengikuti skenario aman. "Tidak, itu sepenuhnya terjadi berkat ramuan khusus yang telah dipersiapkan oleh Tabib Wen sebelum beliau pergi melakukan perjalanan medis."
Gadis itu tidak memberikan respons lisan tambahan atas jawaban tersebut. Dia berbalik membelakangi posisi Zhao Fei berdiri di bawah naungan pohon.
"Jangan pernah menceritakan apa pun yang kau saksikan di tempat ini kepada kakekku, ataupun kepada orang lain di lingkungan sekte."
Zhao Fei menggerakkan kepalanya ke bawah, memberikan isyarat setuju. "Aku berjanji akan menjaga rahasia ini dengan rapat."
Liu Xue mulai mengayunkan kaki, bersiap untuk melangkah pergi meninggalkan area lapangan kecil itu. Namun, setelah berjalan beberapa langkah, dia mendadak menghentikan pergerakannya sejenak.
"Segera kembalilah ke area sekte setelah seluruh tugasmu dari Tabib Wen selesai dilakukan. Jangan menghabiskan waktu terlalu lama di luar sini sendirian."
Zhao Fei baru saja membuka mulut untuk membalas ucapan penuh perhatian yang terselubung itu, ketika sesuatu yang berbahaya tertangkap oleh sudut matanya.
Sebuah pantulan cahaya logam yang sangat tipis berkelebat dari arah kegelapan hutan yang pekat. Objek itu bergerak dengan ukuran yang teramat kecil namun memiliki kecepatan ekstrem yang mengancam jiwa.
Nalurinya yang telah terasah selama ribuan tahun sebagai seorang dewa pertempuran seketika mengambil alih kendali penuh atas raganya. Tanpa berpikir panjang, tubuh Zhao Fei bergerak sendiri dengan gerakan spontan yang luar biasa cepat saat dirinya melompat ke depan, merengkuh erat pinggang ramping Liu Xue, lalu menjatuhkan tubuh mereka berdua ke atas permukaan tanah yang keras. Mereka pun berguling beberapa kali di atas hamparan tanah, membuat serpihan daun kering beterbangan di sekitar posisi mereka.
Adapun tiga bilah jarum sepanjang sumpit melesat ekstrem tepat di ruang udara tempat kepala mereka berada beberapa detik yang lalu. Senjata rahasia itu menancap kuat pada batang pohon besar yang berada di belakang mereka. Dalam sekejap mata, dedaunan hijau yang berada di sekitar titik tancapan jarum langsung layu dan berubah warna menjadi hitam pekat.
Itu adalah sejenis racun korosif yang teramat mematikan.
"Oalah, sayang sekali seranganku meleset."
Ucapan itu terdengar dari balik kegelapan malam, sebelum dari balik rimbunnya pepohonan hutan, beberapa bayangan hitam mulai bergerak keluar dari tempat persembunyian. Jumlahnya genap enam orang manusia yang muncul dengan mengenakan pakaian serba hitam dan kain penutup wajah yang rapat, hanya menyisakan celah kecil untuk sepasang mata yang memancarkan aura pembunuh yang dingin.
Enam orang penyerang misterius itu dengan cepat menyebar, mengambil posisi strategis guna membentuk sebuah lingkaran pengepungan yang rapat di sekitar Zhao Fei dan Liu Xue yang saat ini masih terduduk di atas tanah.
"Ada enam orang, semuanya memiliki aura kultivasi yang stabil," bisik Liu Xue, berusaha mempertahankan ketenangan suara kendati situasi saat ini terbilang sangat tidak menguntungkan.
"Tikus-tikus kecil dari Sekte Garuda Putih," ujar salah satu penyerang yang berdiri di barisan depan. "Siapa sangka kita akan menemukan sepasang muda-mudi yang sedang asyik memadu kasih di tengah hutan malam seperti ini. Sungguh sebuah pemandangan yang teramat mengharukan bagi akhir hidup kalian."
Mendengar ucapan itu, lima penyerang lainnya tertawa sinis yang merendahkan, terdengar sangat menjengkelkan.
"Heh, apakah kau tahu gadis itu?" timpal penyerang yang berada di sisi kanan, matanya berkilat penuh kelicikan. "Dia adalah cucu kesayangan dari tetua utama Sekte Garuda Putih. Jika kita berhasil membawanya pulang dalam keadaan hidup atau mati, ini akan menjadi sebuah kemenangan besar yang sangat menguntungkan bagi sekte kita."
Liu Xue segera bangkit berdiri dengan tumpuan kaki yang kokoh, mengabaikan rasa perih akibat berguling di tanah tadi. Tangan kanannya telah mencengkeram erat gagang pedang, siap untuk menarik bilah logamnya guna melakukan perlawanan sampai titik darah penghabisan.
Begitu pula Zhao Fei yang ikut berdiri di samping gadis itu, membersihkan sisa serpihan kotoran tanah yang menempel pada jubahnya sebelum tangannya sendiri bergerak mantap meraih gagang Pemutus Awan.