Ternyata, Aku Cinta Pertamanya!
Bagi Lettu Kowad dr. Shaneen Kamila Mari, cinta adalah masa lalu yang penuh luka dan benteng pertahanan yang harus dijaga ketat. Namun, dunianya yang kaku dan perfeksionis seketika runtuh saat Letnan Kolonel Reyes Adrian Miguel—seorang Komandan Batalyon raksasa, dingin, dan berkuasa—datang membawa taktik perang kilat untuk melamarnya secara resmi.
Shaneen mengira ini hanyalah perjodohan birokrasi militer biasa. Ia tidak pernah tahu, di balik ketegasan dan perlindungan senyap sang Letkol, ada rahasia besar yang tersimpan rapat sejak masa berseragam putih-abu-abu. Di balik labirin berkas pernikahan dinas yang kaku, Shaneen akhirnya harus menghadapi kenyataan manis yang tak pernah ia duga seumur hidupnya bahwa pria tangguh itu tidak sedang mampir, melainkan sedang menjemput takdir yang sempat tertunda.
Sebab bagi Letkol Reyes, Shaneen bukanlah sekadar pilihan. Sejak awal, ia adalah satu-satunya misi yang harus dimenangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Pengawal Bayangan dan Titik Terang di Rumah Utama
Langit di penghujung sore mulai berubah warna menjadi jingga keunguan, memantulkan sisa-sisa panas yang perlahan meredup di atas aspal kompleks militer terpadu Kesatrian Satria Yudha. Jam dinding digital di ruang kerja komandan sudah menunjukkan waktu pulang bagi sebagian besar personel staf. Namun, bagi Letkol Reyes Adrian Miguel, waktu pulang adalah variabel dinamis yang sepenuhnya berada di bawah kendali mutlaknya sendiri.
Hari ini, sang Letkol sengaja menunda kepulangan ke rumah utamanya hingga lebih dari dua jam. Di balik meja kerjanya yang rapi, dia berpura-pura sangat sibuk memeriksa lembar evaluasi latihan batalyon dan memantau pergerakan dari balik jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah koridor utama Polkes Pusdikmil yang letaknya bersebelahan.
Ajudan dan pengawalnya yang berdiri tegap di luar ruangan hanya bisa saling lirik dalam diam, tidak berani mempertanyakan mengapa sang komandan yang biasanya sangat efisien dengan waktu, mendadak menjadi begitu betah menatap halaman markas selama berjam-jam. Mereka tidak tahu bahwa radar perhatian sang singa markas sedang terkunci pada satu titik.
Tepat ketika sosok wanita berusia dua puluh delapan tahun dengan seragam PDL loreng tanpa hijab yang dibalut jas putih khas dokter itu melangkah keluar dari gedung pemeriksaan, tubuh Reyes bergerak otomatis. Dia meletakkan pulpennya, menegakkan tubuh, dan membetulkan posisi baret hijaunya dengan gerakan kaku namun terencana.
Tanpa sepatah kata pun kepada bintara jaga, Reyes melangkah lebar menuju area parkir khusus perwira menengah. Gerakannya begitu cepat dan tak terduga, hingga saat ajudannya berlari kencang untuk membukakan pintu mobil dinas Sport hitam miliknya, Reyes sudah lebih dulu membuka pintu itu sendiri dan menyelinap masuk ke bangku belakang.
"Jalan," perintah Reyes pendek kepada kopral yang bertindak sebagai sopir pribadinya. "Ikuti Dokter Shaneen dari jauh. Dia mau kembali ke Mess Kowad."
Sebelum mesin mobil menderu pelan, netra tegap milik Reyes bergerak lurus, melirik ke arah luar jendela samping. Di sana, beberapa puluh meter di depan, Dokter Shaneen sedang berjalan kaki dengan langkah anggun namun tegas di sepanjang selasar aspal kompleks menuju area flat khusus perwira wanita. Beban lelah yang menggelayuti pundak Reyes setelah seharian penuh berkutat dengan rapat komando dan urusan birokrasi, seolah menguap begitu saja tanpa sisa. Hanya dengan melihat siluet tubuh tegap wanita itu dari kejauhan, energi di dalam tubuh Reyes kembali terisi penuh.
Ada letupan emosi yang teramat kuat di dalam dada Reyes. Sebuah dorongan insting yang sangat purba, yang membuatnya ingin sekali berlari keluar, merengkuh tubuh lelah dokter militer itu ke dalam pelukannya, dan menghirup aroma tubuh khas Shaneen yang selalu menenangkan jiwanya. Namun, ego, pangkat, dan pembawaannya yang terikat pada aturan formalitas militer yang kaku menahan semua itu. Dia masih saja menjadi Reyes yang kaku, yang hanya berani menyalurkan perasaan besarnya lewat jentikan dahi di koridor dan sepasang sepatu lars yang sengaja disenggolkan di bawah meja.
Mobil dinas Reyes bergerak merayap sangat pelan, menjaga jarak aman beberapa meter di belakang Shaneen yang sedang menyusuri jalanan pangkalan yang mulai sepi.
Di depannya, Shaneen yang sedang berjalan sesekali melirik pantulan dari kaca spion deretan mobil yang terparkir di pinggir jalan selasar. Sudut bibirnya berkedut tipis, membentuk sebuah lengkungan senyum yang teramat samar. Dia tahu. Dia sangat tahu bahwa kendaraan gagah dengan pelat dinas nomor tentara di belakangnya itu adalah milik Letkol Reyes yang sengaja berjalan merayap mengikutinya dari belakang. Hal seperti ini bukan lagi sebuah kebetulan setiap hari, tanpa absen, skenario yang sama selalu berulang bagaikan ritual wajib penutupan dinas.
Jika pada bulan-bulan awal Shaneen merasa risih dan menganggap tindakan ini sebagai bentuk intimidasi dari atasan yang kurang kerjaan, kini persepsinya telah bergeser total. Di tengah remang lampu kompleks militer yang mulai menyala dan langit yang kian menggelap, kehadiran mobil Reyes di belakangnya tidak lagi terasa mengancam. Sebaliknya, Shaneen merasa seolah-olah dia sedang dikawal oleh sebuah perisai tak kasatmata yang siap melindunginya hingga dia benar-benar masuk ke pintu Mess Kowad Pusdikmil dengan aman.
Kata-kata Ayu di ruang periksa tadi siang mendadak terngiang kembali di kepalanya, memecah kesunyian malam pangkalan. “Manusia itu tidak selalu sama, Nin. Kamu tidak bisa menyamakan semua pria berseragam dengan masa lalumu.” Shaneen menghela napas, merapatkan jaket dinasnya. Mungkin Ayu benar. Mungkin sudah saatnya dia berhenti melihat dunia dengan kacamata trauma masa lalu yang buram.
Setelah memastikan Shaneen berbelok aman memasuki gerbang penjagaan Mess Kowad, Reyes menyuruh sopirnya untuk mengalihkan rute keluar dari pangkalan terpadu. Tujuan perjalanannya malam ini bukan menuju apartemen mewah atau rumah pribadinya yang terletak di kawasan elite Ibu Kota Pusat Timur—sebuah aset berharga yang dia beli dari hasil keringatnya sendiri dan keuntungan bisnis keluarga. Malam ini, Reyes harus pulang ke rumah utama keluarga besar Miguel.
Permintaan itu datang langsung dari sang nenek, wanita tertua di keluarga yang titahnya bahkan tidak bisa ditolak oleh seorang Letnan Kolonel sekalipun.
Setibanya di pelataran rumah utama—sebuah kediaman megah dengan arsitektur klasik yang kokoh dan halaman luas yang dijaga ketat—Reyes turun dengan langkah tegap. Begitu melangkah masuk ke dalam ruang keluarga yang hangat, aroma masakan rumah dan keharuman teh melati langsung menyambutnya. Namun, bersamaan dengan itu, Reyes sudah bisa menebak drama apa yang akan terjadi selanjutnya. Percakapan lama yang diulang-ulang bagaikan kaset rusak, sebuah topik yang paling dia hindari selama dua tahun terakhir.
Di ruang tengah, sang ibu, Sofia, sudah duduk anggun di sofa bersama sang nenek yang bersandar nyaman dengan segelas teh hangat di tangannya.
"Reyes? Mau sampai kapan kamu begini?" tanya ibunya langsung tanpa basa-basi, begitu Reyes selesai mencium tangan kedua wanita di depannya dan mengambil tempat duduk di kursi tunggal.
Reyes mengembuskan napas pendek, memijat pangkal hidungnya yang mancung. Ketegangan kaku khas militer kembali menyelimuti wajahnya. "Ibu... Bisakah kita berhenti membahas ini? Bisakah Ibu berhenti menjodohkan aku kepada siapa pun itu? Gadis anak kolega Ibu, anak rekan bisnis Kak Rivera, aku tidak peduli. Mau dia sebaik apa pun, seberpendidikan apa pun, aku tidak mau, Ibu."
"Tapi Reyes! Usiamu sudah tiga puluh satu tahun. Pangkatmu sudah Letkol, kariermu cemerlang, perusahaan keluarga kita stabil. Kurang apa lagi? Ibu hanya ingin melihatmu didampingi wanita yang tepat sebelum Ibu menutup mata," potong ibunya dengan nada suara yang mulai meninggi karena frustrasi menghadapi sikap keras kepala putra bungsunya.
Belum sempat ibunya melanjutkan rentetan omongannya, suara dehaman pelan dari sang nenek memotong perdebatan tersebut. Wanita tua itu menatap cucu laki-laki kesayangannya dengan pandangan teduh namun penuh tuntutan.
"Reyes?"
Reyes menegakkan punggungnya, menatap ibu dan neneknya bergantian dengan tatapan mata yang kaku namun memancarkan ketegasan mutlak dari seorang pria dewasa yang tidak bisa lagi didikte.
"Ibu, Nenek? Tolong, kali ini, keputusan ini milik Reyes. Bukan keputusan Ibu ataupun Nenek," ucap Reyes, suaranya berat, rendah, dan berwibawa, membuat suasana ruangan seketika hening. "Ibu pengen aku berprestasi di militer kayak almarhum Ayah? Oke, Reyes sudah buktikan. Nenek pengen aku tetap urus dan pantau perusahaan di balik layar? Oke, Reyes lakukan bersama Kakak sampai perusahaan berkembang. Tapi soal pendamping hidup, soal ini... ini keputusan mutlak milik aku sendiri."
Sofia terdiam, dadanya naik turun menahan emosi. Sementara neneknya tampak tersenyum tipis, mengagumi ketegasan cucunya yang sangat mirip dengan karakter almarhum putranya.
Ibunya menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam egonya sebagai orang tua. Dia menatap tajam mata putra bungsunya itu, mencari celah kebohongan, namun yang dia temukan hanyalah sebuah kesungguhan yang teramat pekat.
"Oke," kata ibunya akhirnya, menyerah kalah pada ketegasan Reyes. "Kalau memang itu keputusanmu, katakan sekarang juga kepada Ibu. Siapa wanita yang kamu sukai? Katakan namanya dengan jelas, biar besok Ibu sendiri yang akan datang melamarnya untukmu. Jangan biarkan kami menebak-nebak seperti orang buta!"
Reyes terdiam selama beberapa detik. Sebuah senyuman kaku, tipis, namun penuh dengan rasa kemenangan yang telah dia simpan selama bertahun-tahun perlahan terukir di sudut bibirnya. Ini dia. Ini adalah pertanyaan yang paling Reyes tunggu-tunggu sejak lama. Momen di mana dia akhirnya memiliki alasan kuat untuk melegalkan obsesi indahnya.
"Shaneen. Iya, Shaneen," jawab Reyes mantap, tanpa ragu sedikit pun.
Nama itu meluncur begitu saja dari lisan Reyes, bergaung di ruang tengah rumah utama. Ibunya seketika menghentikan gerakan tangannya, matanya membulat sempurna karena terkejut.
"Shaneen? Dokter Shaneen maksud kamu? Keponakan Jenderal Aydan?" tanya ibunya memastikan, suaranya sedikit bergetar menahan syok.
"Iya, Ibuku sayang," balas Reyes, nada suaranya mendadak melunak, kembali menjadi sang putra bungsu yang hangat bagi keluarganya.
"Tapi kan, dia...?" Ibunya menggantung kalimatnya, otaknya mencoba memproses informasi yang teramat masif ini. Jenderal Aydan adalah sahabat karib almarhum suaminya semasa hidup. Hubungan keluarga mereka sebenarnya sangat dekat di tingkat atas, namun mereka tidak pernah menyangka bahwa radar asmara Reyes tertuju ke sana.
Reyes menumpukan kedua tangan di atas lutut, menatap ibunya dengan tatapan paling jujur yang pernah dia tunjukkan seumur hidupnya. "Bu... Shaneen itu, Reyes sudah lama suka sama dia. Sejak kami masih di bangku SMA."
Sofia membekap mulutnya sendiri, benar-benar syok mendengar pernyataan mengejutkan tersebut. Nenek bahkan sampai meletakkan cangkirnya, ikut melangkah mendekat dengan wajah tidak percaya.
Untuk pertama kalinya, baru kali ini dalam tiga puluh satu tahun hidupnya, Reyes mau terbuka, jujur, dan berbicara dengan penuh gairah soal perasaannya terhadap seorang wanita. Selama bertahun-tahun, Reyes dikenal sebagai anak laki-laki yang sangat baik, hangat, dan patuh pada keluarga, namun dia tidak pernah sekalipun membiarkan wanita mana pun masuk ke dalam ruang pribadinya. Dia selalu menutup diri dari segala bentuk perjodohan, membuat keluarganya sempat mengira bahwa separuh hatinya telah mati.
Ternyata, anggapan mereka salah besar. Hati Reyes tidak mati. Hati pria itu telah lama dibawa dan dikunci rapat oleh seorang gadis bernama Shaneen Kamila Mari, sejak masa remaja mereka di SMA, jauh sebelum takdir mempertemukan mereka kembali di bawah naungan seragam militer yang sama. Selama ini, Reyes hanya sedang menunggu waktu yang tepat, mengawal gadis itu dari balik bayangan, menanti dengan sabar di sisi jalan yang sama hingga sang waktu mengizinkannya untuk melangkah maju.
Melihat kesungguhan dan binar cinta yang begitu hidup di mata putra bungsunya, pertahanan Sofia runtuh. Rasa haru dan bahagia perlahan merayap di dadanya.
"Baiklah," ucap ibunya sembari tersenyum lebar, air mata kebahagiaan tampak menggenang di sudut matanya. "Kalau memang Dokter Shaneen yang selama ini mengunci hatimu, Ibu tidak punya alasan untuk menolak. Ibu dan kakakmu yang akan mengatur pertemuan resmi dengan keluarganya secepat mungkin."
Reyes bersandar kembali di kursinya. Dia menatap langit-langit rumah utama dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Siasat pertamanya telah berhasil. Langkah awal untuk membawa sang dokter militer masuk ke dalam hidupnya secara legal kini telah terbuka lebar, dan Letkol Reyes tidak akan membiarkan operasi hatinya kali ini mengalami kegagalan.