NovelToon NovelToon
Rimba

Rimba

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: A.T. Setiawan

Apakah kembali ke rimba bersama perempuan masa laluku menyenangkan ?
Jika bukan karena uang yang sedang kubutuhkan, Aku memilih untuk tak akan kembali ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Dari Lembah Ke Gunung

Jam 7 malam, Angga menelepon Wulan. Mengabarkan dirinya sudah bersama John dan Rey di Timika menunggu kedatanganku besok sore.

Mendengar nama John dan Rey disinggung dalam pembicaraan mereka berdua, tubuh tinggi besar dengan otot yang kuat melintas lagi di ingatanku.

Dua sosok yang sangat kukenal saat sama-sama satu kelas di SMP Paniai dulu. Bruder Pet seorang misionaris Belanda membawa keduanya dari kampung asalnya untuk bersekolah di tempat ayahku mengajar.

Sifat John sedikit keras dan tegas seperti kebanyakan marga suku Moni yang datang ke Paniai di masa lampau, sedangkan Rey yang lebih ramah berasal dari marga suku Mee yang merupakan suku mayoritas asli Paniai.

Kampung Rey ada di dekat danau Tigi yang berada di lembah Paniai, sedangkan kampung John ada di pegunungan tengah yang masuk wilayah Taman Nasional Lorentz.

Selama bersekolah, kedua kawanku itu tinggal di asrama yang dikelola Bruder Pet tak jauh dari rumahku.

Aku berpisah dengan mereka ketika harus pindah ke Surabaya meneruskan SMA-ku di tempat nenek.

Barulah setamat kuliah dan pulang ke Paniai, Aku bertemu lagi dengan mereka yang sudah menikah dan masih tetap tinggal di asrama membantu Bruder Pet.

Tak lama setelah Aku diterima bekerja di Puncak Jaya, Aku mengajak John dan Rey menyusulku bekerja di sana.

Kemampuan John yang menguasai beberapa bahasa marga suku setempat, dan Rey yang pandai membaca petunjuk alam sangat kubutuhkan ketika Aku memetakan hutan yang dikelola perusahaan penebangan kayu tempatku bekerja.

Aku tak bisa membayangkan betapa sulitnya melintasi wilayah pedalaman saat meminta ijin kepada beberapa tetua adat setempat tanpa didampingi John, mengingat bahasa setiap suku di sana berbeda satu sama lain.

Begitu juga dengan kemampuan Rey yang sangat membantuku menentukan arah jalan pintas lewat jejak kaki binatang, aliran sungai atau tanda alam yang dikuasainya.

"John ingin berbicara denganmu mas." Tiba-tiba saja Wulan menyodorkan ponsel-nya ke arahku. Bibirnya melepas senyum, seakan tahu Aku akan bernostalgia dengan kenangan masa laluku.

"Sudah selesai bicaramu dengan Angga ?" Aku menerima uluran ponsel dari tangannya.

"Sudah .... Mereka barusan selesai makan malam di mess .... Kutinggal mandi dulu ya mas." Beranjak ke kamarnya, Wulan membiarkan Aku berbicara dengan John.

***

Ada sekitar 5 menit Aku mengobrol dengan John sembari menunggu Wulan selesai berdandan.

Salah satu obrolan kami adalah awal mula Aku bersikeras melibatkan John dan Rey pada salah satu syarat proposal pekerjaan yang kukirimkan lewat email-email ke Wulan.

"Tidak mungkin menembus belantara Papua tanpa persiapan dan peralatan pendukung yang mumpuni hanya dalam waktu dua minggu, walaupun sudah jelas titik mana yang akan dituju. Cuaca di sana begitu dinamis, menyulitkan siapa saja yang mengabaikannya." Kataku dalam salah satu email yang kukirimkan kepadanya.

Tenggat dua minggu akhirnya kusepakati setelah Wulan menegaskan kewajibanku hanyalah sampai ke lokasi itu. Melaporkan apa yang ada di sana, dan meninggalkannya jika tak ada tanda-tanda jejak jatuhnya helikopter yang dimaksud.

Kesanggupan John membantuku juga menjadi salah satu pertimbanganku setelah Aku yakin tidak adanya potensi bahaya keselamatan timku.

"Jika benar helikopter itu jatuh di sana ?" Aku menanyakan kemungkinan yang lain.

"Amankan box muatannya dan tunggu tim perusahaan menyusul untuk evakuasi,' jawab Wulan di akhir percakapan email. Hal-hal itu kutegaskan lagi lewat percakapanku dengan John.

Setelah John memastikan semuanya baik-baik saja , Aku lalu mematikan ponsel bersamaan dengan Wulan yang menghampiriku mengajak makan malam di luar.

***

Jogja di waktu malam sangat menyenangkan. Wulan sengaja menyuruhku membawa Honda CB peninggalan ayahnya yang masih terawat baik ketika kami berboncengan menelusuri lorong-lorongnya.

Dari rumahnya di Condong Catur dia menyuruhku berjalan pelan saat melintasi tepian jalan ring road.

"Masuk ke rumah itu mas !" Tangannya menunjuk sebuah gerbang rumah makan bergaya joglo yang terbuka lebar.

Tak berapa lama kami sudah duduk di salah satu sudut rumah itu.

Seperti yang kuduga, Wulan cukup sabar menanti kelanjutan kisah jejakku di lembah dan gunung Papua. Melihatku merasa nyaman menikmati suasana joglo sambil menunggu makan malam yang disiapkan, dia menagih kelanjutan cerita itu.

Berharap akan secepatnya menemukan potongan sebab Aku menghilang darinya .... Tak menolak keinginannya, kuteruskan potongan ceritaku.

Kali ini tentang awal tahun 1995 setelah menganggur cukup lama di Paniai.

Ya .... Salah satu kesepakatan dengan ayah Wulan yang harus Aku jalani adalah Aku, Angga, dan John seolah-olah tidak pernah bertemu di Puncak Jaya sebelum dan sesudah insiden itu.

Ada berita yang mengatakan Aku dan John diculik tentara, dan ada lagi yang mengatakan Aku dan John bergabung dengan gerombolan bersenjata.

Simpang siur itu akhirnya mereda setelah kepulanganku ke Paniai berganti dengan berita Aku berhasil selamat setelah tersesat yang kukarang untuk menghilangkan jejak Angga.

Dari jaringan Bruder Pet akhirnya Aku berhasil bertemu kembali dengan John yang sama seperti diriku, terpaksa bersembunyi menghindari Puncak Jaya menunggu simpang siur berita penembakan yang menimpa di sana mereda.

Selama ini dia memilih menetap di salah satu kerabatnya tak jauh dari Paniai.

"Lalu kenapa mas tak mengabariku?" Pertanyaan Wulan tak ayal membuat degup jantungku berdebar tak beraturan.

"Jika saja kisah itu tak berlanjut membuat kesialan berikutnya. Aku pasti lekas menghubungimu, " kataku lirih.

Kuceritakan lagi ketika akhirnya John mengajakku berpetualang di sepanjang aliran sungai Ajkwa, setelah menganggur cukup lama di Paniai.

Sama-sama butuh uang, tawaran bekerja di sana dari pendulang emas Degeuwo kami terima tanpa pikir panjang. Apalagi istri John akan melahirkan anak pertamanya.

Bayaran membuka jalan bagi penambang liar yang akan memasuki aliran sungai Ajkwa yang dijaga ketat tentara sangatlah besar, walau resiko yang dihadapi juga sebanding.

Sekali tertangkap patroli, tak hanya logistik yang hilang dijarah. Pada beberapa kasus penambang liar yang terpergok patroli, ada yang sampai kehilangan nyawa karena memilih menceburkan diri ke jeram sungai itu atau tertembak.

Bagusnya, kemampuan John melobi suku Amungme, Komoro, dan Sempan yang bertebaran di sepanjang sungai itu untuk melintasi wilayahnya selalu berhasil meloloskan penambang liar yang memakai jasa kami.

"Hmmmm .... Jadi itulah kenapa mas berkeras mengajak John dalam proyek ini?" Wulan mulai mendapat potongan cerita tentang John.

"Ya .... Sampai kemudian amukan alam membuat Aku dan John ambruk terkena malaria .... Hehehe ...." Aku terkekeh menceritakan kesialan kami berikutnya. Setidaknya, tawaku menutupi siksaan yang kualami di depan kilatan tajam perempuan cantik yang menatap penuh selidik ke arahku.

Satu bulan lebih terbaring menggigil menyembuhkan malaria di hutan lebat yang kualami benar-benar menguji kekuatan fisik.

Belum lagi air bersih yang sulit diperoleh karena kandungan logam berat dan bahan kimia beracun seperti merkuri, arsenik, dan sianida dari limbah tailing Freeport yang dibuang ke sungai Ajkwa benar-benar semakin menyulitkanku.

"Bagaimana Aku bisa menghubungiku, sementara untuk bergerak dan berbicara saja Aku tak mampu." Aku masih belum membuka kepingan sebab yang lain ketika pesanan makanan yang diantar ke meja mengalihkan keingintahuan Wulan, "Makanlah dulu dik ... Masih banyak waktu setelah ini," kataku lagi.

"Karena itu, menginaplah di rumahku, ... aku ingin tahu sebab itu sebelum mas terbang besok." Wulan mengulangi lagi kemauannya.

"Hahaha .... Pantaslah kamu mengajakku naik motor Sang Jendral .... Supaya Aku harus mengembalikannya tanpa goresan." Aku tertawa lepas menguji isi hati Wulan. Wajahnya memerah, sepertinya membenarkan tebakanku kali in .... Dan tak ada alasan bagiku untuk membantah keinginan perempuan keras kepala yang sejujurnya masih mengisi hatiku.

***

1
SenandikaMaret
aku padamu kak 🙂
Wawan: ... 🤣🤣🤣😍
total 1 replies
penulismisterius
oalah ternyata masih kenalannya Rey
penulismisterius
siapa ya yang terluka itu?
penulismisterius
lanjut thor/Determined/
penulismisterius: iyaa thor, sedang sibuk sibuknyaa ini😞
total 2 replies
SenandikaMaret
nyawa tetap yg utama 😣
Wawan: Begitulah Papua ✍️
total 1 replies
Wawan
Hidup adalah suatu pilihan 😄✍️💪
SenandikaMaret
takut bangt sama pilihannya 🥲
penulismisterius
nasi telah menjadi bubur ya, Yos😞
T28J
iye bener tuh, mending sebat dulu, daripada bikin puyeng ye kan 😂
Wawan: Gaaas 🤣🤣🤣
total 1 replies
SANG
Lanjutkan
SenandikaMaret
siapa ya kira-kira bikin takut aja 😫
SANG
Mantap banget ya dek👍💪
penulismisterius
lanjut, thor🐳🐳 bunga mawar untuk update selanjutnya🐳
SANG
Lanjut dek💪👍
SANG
Sembilan belas bunga untukmu dek/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Wawan: Ahahaha ... 💪✍️
total 1 replies
SANG
Semangat ya dek💪👍
SenandikaMaret
ceritanya sangat menarik 💫
Wawan: tengs
total 1 replies
penavana
/Rose//Rose//Rose/
SenandikaMaret
makin ga sabar untuk bab selanjutnya 😄
Wawan: Tengs.... ✍️
total 1 replies
+AuntyMamoth+
Halo kak celineee salam kenal semangat terusss💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!