"Di kehidupan sebelumnya, Siti Aminah meninggal di tangan suami dan keluarganya. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke awal pernikahannya. Mengetahui semua pengkhianatan yang akan terjadi, Aminah tak lagi tinggal diam.
Hal yang pertama ia lakukan adalah memberi pelajaran kepada anak tirinya, mempermalukan ibu mertuanya, dan menghajar suaminya hingga masuk rumah sakit. Tak hanya itu, Aminah juga memastikan keluarganya sendiri hancur sebagai bayaran telah menjual dirinya ke dalam pernikahan ini!
Kali ini, Aminah akan memastikan dirinya bahagia di atas penderitaan musuhnya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Hari-hari pertama Aminah kembali ke rumah orang tuanya terasa ganjil. Rumah itu sama seperti yang ia ingat—dinding kayu yang dipernis cokelat tua, lantai yang berderit di beberapa sudut, dan aroma minyak kayu putih yang selalu tercium menjelang malam. Namun, ada yang lain.
Di kehidupan sebelumnya, setiap kali ia kembali ke rumah ini, ia otomatis mengambil alih pekerjaan rumah. Menyapu halaman, mencuci pakaian, memasak untuk semua orang, seolah statusnya sebagai anak tiri membuatnya wajib menebus keberadaan dengan kerja tanpa henti.
Sekarang, tidak lagi.
Pagi-pagi sekali, sebelum ayam jantan berkokok, Aminah sudah keluar rumah. Udara subuh masih dingin dan tipis kabut menggantung di jalan desa. Ia mengenakan pakaian olahraga sederhana—kaus longgar dan celana panjang yang memudahkan bergerak.
Ia mulai berlari.
Langkahnya mula-mula berat, napasnya terengah setelah beberapa ratus meter. Tubuhnya yang muda memang kembali, tetapi ia tahu kekuatan fisik bukan hanya soal usia. Ia harus melatih daya tahan, melatih refleks, melatih ketahanan rasa sakit.
Ia berlari mengitari desa, melewati sawah dan sungai kecil di ujung kampung. Ketika matahari mulai naik, keringat sudah membasahi punggungnya.
Setelah itu, ia menuju taman kecil tak jauh dari rumah. Di sana, ia mengambil sebatang kayu bakar panjang yang biasa digunakan warga untuk memasak. Kayu itu ia pegang seperti tongkat, lalu mulai mempraktikkan gerakan yang ia ingat dari tontonan lama dan pengamatan sekilas pada latihan bela diri di pasar malam.
Pukulan lurus.
Tendangan rendah.
Ayunan horizontal.
Ia membayangkan wajah Andre di depannya.
Ia membayangkan tangan yang pernah mencekiknya.
Gerakannya semakin cepat.
“Kamu salah menempatkan tenaga.”
Suara berat dan tenang itu membuat Aminah menghentikan ayunan kayunya. Ia menoleh dan melihat seorang pria paruh baya berdiri beberapa meter darinya. Rambutnya memutih di pelipis, tubuhnya tegap. Ia mengenakan pakaian longgar khas latihan tai chi berwarna abu-abu.
Aminah menunduk hormat. “Maaf, Om. Saya mengganggu?”
Pria itu tersenyum tipis. “Tidak. Saya hanya melihat kamu melatih diri setiap pagi. Semangatmu bagus, tapi gerakanmu terlalu terbuka.”
Ia melangkah mendekat, mengambil sebatang ranting kecil dari tanah. “Banyak orang mengira bela diri tradisional hanya indah dilihat. Padahal, seni bela diri itu diciptakan untuk bertahan hidup.”
Ia mendemonstrasikan satu gerakan sederhana—pukulan pendek ke arah perut, lalu tusukan cepat ke arah mata imajiner.
“Meninju bagian bawah, menyodok mata, memutar lengan lawan hingga sendinya terlepas—itu semua bukan untuk pertunjukan. Itu untuk situasi darurat.”
Aminah menahan napas, menyimak setiap kata.
“Di arena pertandingan, gerakan seperti itu dilarang. Terlalu berbahaya. Tapi di kehidupan nyata, ketika nyawamu terancam, kamu tidak sedang bertanding. Kamu sedang bertahan.”
Kalimat itu terasa seperti ditujukan langsung ke jantungnya.
“Om bisa mengajari saya?” tanya Aminah tanpa ragu.
Pria itu menatapnya lama, seolah membaca sesuatu di balik sorot matanya. “Kenapa kamu ingin belajar?”
Aminah tidak menjawab panjang. “Agar saya tidak dipukul lagi.”
Jawaban itu cukup.
Pria itu mengangguk pelan. “Baik. Panggil saya Pak Harun. Mulai besok, datang lebih pagi. Kita mulai dari dasar.”
Sejak hari itu, rutinitas Aminah berubah. Ia tidak hanya berlari dan mengayun kayu secara asal. Ia belajar posisi kaki yang stabil, cara mengalihkan tenaga lawan, titik-titik lemah tubuh manusia.
Setiap gerakan disertai penjelasan singkat namun tajam.
“Jangan ragu,” kata Pak Harun suatu pagi ketika Aminah menahan pukulan tiruan. “Keraguan membuatmu kalah sebelum bertarung.”
Aminah menyimpan kalimat itu dalam hati.
Beberapa hari kemudian, Pak Joko memutuskan pergi ke pabrik baja untuk mencari Andre. Ia ingin memastikan situasi sebenarnya dan—diam-diam—mengamankan janji pekerjaan yang pernah diucapkan menantunya.
Namun ia pulang dengan wajah kecewa.
“Andre sedang tugas luar kota,” katanya saat makan malam. “Katanya baru kembali minggu depan.”
Meja makan malam terasa canggung. Maria menyendok nasi ke piring Budi dengan penuh perhatian. Di tengah meja, semangkuk sup telur masih mengepul.
Pak Joko menatap Aminah. “Kamu juga jangan keluar terus. Bantu ibumu membuat tas dari kertas. Lumayan buat tambah uang.”
Aminah mengangkat wajahnya perlahan. “Ibumu tidak bekerja. Dia bisa melakukannya sendiri. Kenapa Ayah tidak bilang padanya?”
Sendok di tangan Maria berhenti di udara.
“Apa maksudmu?” tanyanya dingin.
Tanpa menjawab, Aminah meraih mangkuk sup telur dan memindahkannya ke hadapannya sendiri. Ia menyendok satu sendok penuh dan meniupnya perlahan.
Maria langsung berdiri. “Sup itu untuk Budi! Dia butuh nutrisi!”
Aminah menatapnya datar. “Oh ya? Kenapa dulu Ibu tidak pernah membuat sup telur untukku dan Kak Rio?”
Suasana membeku.
Nama Rio—kakak kandungnya yang sudah lama merantau—jarang disebut di meja makan ini.
“Selama bertahun-tahun,” lanjut Aminah, suaranya tetap tenang, “Ibu hanya peduli pada anak kandungmu sendiri. Kami cuma pelengkap.”
Pak Joko mengerutkan kening. “Jangan kurang ajar!”
Aminah menoleh pada ayahnya. “Ayah tidak pernah melihat? Atau pura-pura tidak tahu?”
Maria menggertakkan gigi. “Kamu ini keterlaluan!”
Aminah berdiri perlahan, mangkuk sup masih di tangannya. “Setidaknya ibu kandungku tidak selingkuh seperti kamu.”
Kalimat itu jatuh seperti bom.
Wajah Maria memucat. Pak Joko berdiri dengan kursi terdorong keras ke belakang. “Apa yang kamu katakan?!”
Di kehidupan sebelumnya, Aminah tidak pernah berani mengungkit rahasia itu. Ia pernah melihat sendiri Maria bertemu pria lain di pasar malam, tangan mereka terlalu dekat untuk disebut kebetulan. Ia menyimpan rahasia itu demi menjaga rumah tetap utuh.
Sekarang, ia tidak lagi merasa perlu melindungi siapa pun.
Pak Joko melangkah maju dengan tangan terangkat hendak menampar.
Namun Maria cepat-cepat menahannya. “Sudah! Jangan!” bisiknya tergesa. “Tetangga bisa dengar!”
Tapi Aminah tahu alasan sebenarnya bukan itu.
Maria masih membutuhkan pekerjaan dari Andre.
Jika hubungan mereka retak sekarang, janji kuota di pabrik baja bisa lenyap.
Pak Joko terengah, tangannya gemetar menahan amarah. Ia menurunkannya perlahan.
Aminah kembali duduk dan melanjutkan makan sup telur dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
Di dalam dirinya, ada perasaan aneh—bukan bahagia, bukan puas sepenuhnya, tetapi semacam keseimbangan yang mulai tercapai.
Ia tidak lagi diam.
Ia tidak lagi menjadi sasaran empuk.
Di luar rumah, malam turun perlahan. Angin berembus membawa suara serangga dari sawah.
Aminah tahu, konflik ini belum selesai. Ketika Andre kembali, konflik yang sebenarnya baru akan dimulai.
ᴛᴏᴘ ᴍᴀʀᴋᴏᴛᴏᴘ...👍👍
ʙᴇɴᴇʀᴀɴ ᴋɪsᴀʜ ɴʏᴀᴛᴀ sᴇᴘᴇʀᴛɪɴʏᴀ...
katana dina dan siti itukan 2 orang anak perempuan jadi 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan empat orang anak kan 🤔🤔