Novel Korean ala Author ❤️❤️
Cheon-Ji-In: Terjebak di Dunia Murim
Aku Diah, tersedak air saat baca novel Cheon-ji-in hingga sadar di dunia Murim sebagai Han So-Bin, cannon fodder yang ditakdirkan mati di tangan pemeran utama pria, Kang Hyu-Jin.
Sadar bakal jadi tumbal, aku milih kabur sejauh mungkin. Tapi alih-alih dibunuh, si pendekar es itu malah ngejar aku separuh mati ke ujung dunia!
Sialnya lagi, bukannya ditebas, aku malah berakhir dicintai setengah mati sama si cowok dingin itu. Rencana awal mau bebas hidup damai gagal total, karena sekarang aku malah jadi pawang si tokoh utama!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memilih Jalan Berbeda di Persimpangan Gangho
Udara malam di perbatasan hutan bambu terasa semakin pekat, membawa serta sisa-sisa aroma ozon dari ledakan kekuatan Lima Elemen yang baru saja kulepaskan. Napasku masih memburu, dan sekujur tubuhku terasa remuk redam seolah habis digiling batu penggiling gandum. Namun, rasa sakit fisik itu sama sekali tidak sebanding dengan kepeningan di dalam kepalaku mendengar ucapan tolol yang baru saja dilontarkan oleh sang Pendekar Es.
(Batin Diah / Han So-Bin): “Hah? Dia bilang apa barusan?! Mau ikut mangkir dari sekte dan jadi pengikutku? Hei, Tuan Muda Kang Hyu-Jin yang terhormat! Otakmu itu geser ke mana, hah?! Aku ini mau kabur darimu supaya tidak mati dipenggal, bukan mau merekrut bodyguard psikopat yang hobi nguntit!”
Aku menarik pergelangan tanganku dari cengkeramannya sekuat tenaga, lalu melangkah mundur beberapa hasta. Mataku menatap tajam ke arah Hyu-Jin, melampiaskan seluruh rasa frustrasi yang sudah menumpuk sejak hari pertama aku terlempar ke dalam novel sialan ini.
Namun, sebelum Hyu-Jin sempat merespons tatapanku yang penuh perlawanan itu, sebuah tangan dengan kipas lipat terukir indah tiba-tiba terulur pelan di sampingku.
Lee Do-Yun melangkah maju dengan gerakan anggun yang sengaja dipamerkan. Pria berambut perak kebiruan itu menatap Hyu-Jin dengan senyum miring yang menyebalkan, lalu mengibaskan kipasnya perlahan untuk menutupi separuh wajahnya. Suasana di antara mereka mendadak berubah menjadi medan perang dingin yang siap meledak kapan saja.
Aku mengalihkan pandangannya, menatap Do-Yun lekat-lekat. Ingatan tentang status pertunangan asli raga ini berputar kembali di benakku. Dibandingkan Kang Hyu-Jin yang karakternya digambarkan sebagai tokoh utama pria dengan obsesi tingkat dewa—yang di akhir cerita aslinya bisa berubah menjadi monster es pembunuh—Lee Do-Yun setidaknya adalah tipe tunangan resmi yang masih bisa diajak kompromi secara rasional. Meskipun menyebalkan, Do-Yun tidak pernah berniat membunuh Han So-Bin di novel aslinya.
Sebuah keputusan nekat dan penuh perhitungan terlintas di dalam kepala batinku. Ini adalah satu-satunya jalan keluar paling logis untuk melepaskan diri dari jeratan maut sang Pendekar Es.
Aku menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungku, lalu melontarkan kalimat yang membuat seluruh makhluk di tempat itu mematung seketika.
"Do-Yun, lebih baik aku bersamamu," ucapku tegas, suaranya membelah keheningan malam tanpa keraguan. "Aku janji tidak akan membatalkan pertunangan ini."
Deg!
Lee Do-Yun tertegun di tempatnya. Kipas lipat di tangannya nyaris terlepas, dan mata pesonanya membelalak lebar, menatapku seolah ia tidak percaya pada pendengarannya sendiri. Di dunia Gangho yang menjunjung tinggi kehormatan marga, seorang wanita bangsawan sekte yang mendadak memilih tunangannya di hadapan publik adalah sebuah pernyataan mutlak yang mengikat seluruh garis keturunan.
(Batin Diah / Han So-Bin): “Maaf ya, Do-Yun, kalau aku terpaksa memanfaatkan status pertunanganmu ini. Tapi di antara dua pilihan toxic ini, kamu jauh lebih mendingan buat dijadikan perisai pelindung!”
Belum sempat Do-Yun memproses keterkejutannya, aku langsung memutar tubuhku sepenuhnya menghadap ke arah Kang Hyu-Jin. Wajah pria itu sudah berubah pucat pasi, dan sepasang mata kelamnya memancarkan badai kepedihan sekaligus kemarahan yang luar biasa gelap.
Aku menatap tepat ke dalam manik mata Hyu-Jin, mencurahkan seluruh unek-unek dari jiwa modern yang benci diperlakukan semena-mena.
"Dan kau, Hyu-Jin," suaraku bergetar tipis, namun sarat akan ketegasan yang mutlak. "Ketika aku mengejarmu dulu, memohon perhatianmu, dan berusaha mendekatimu, kau sama sekali tidak peduli padaku. Kau mengabaikanku seolah aku ini debu yang tidak berharga di bawah kakimu."
Hyu-Jin membuka bibirnya pelan, seolah hendak mengatakan sesuatu, namun suaranya tertahan di tenggorokan.
"Tapi sekarang?" lanjutku tajam, menunjuk tepat ke dadanya. "Ketika aku memilih pergi, melepaskan segalanya, dan ingin hidup tenang... kau malah menarikku kembali dengan dalih omong kosong yang tidak masuk akal. Asal kau tahu saja, Tuan Muda Kang... Aku tidak akan pernah kembali lagi menjadi bahan percobaan atau batu loncatanmu!"
Suaraku menggema di antara reruntuhan pohon bambu.
Choi Min-Hyuk, yang berdiri tidak jauh dari kami dengan tangan bersilang di dada, hanya bisa menghela napas panjang. Senior senioritas tertinggi itu menatap dinamika rumit di antara kami dengan pandangan prihatin. Sebagai orang yang menjunjung tinggi aturan sekte, Min-Hyuk tahu persis bahwa keputusan yang baru saja kuambil akan memicu gempa besar di seluruh dataran tengah Gangho.
Suhu udara di sekitar Hyu-Jin mendadak drop secara drastis hingga titik beku. Kristal-kristal es tajam berhamburan keluar dari telapak tangannya tanpa bisa ia kendalikan. Emosi yang meluap-luap di dalam dada pria itu membuat Naegong-nya mengamuk hebat, mengancam merusak jalur meridian tubuhnya sendiri.
"So-Bin..." Suara Hyu-Jin keluar begitu serak, nyaris seperti bisikan angin yang sekarat. Ada kepedihan yang teramat sangat di balik sorot matanya yang biasanya dingin tanpa celah. "Apa yang kau bicarakan? Waktu itu... aku hanya... aku hanya tidak tahu bagaimana cara menghadapimu..."
"Alasan yang basi," potongku tanpa ampun, menolak untuk luluh oleh tatapan melasnya. "Sudahlah, Hyu-Jin. Kisah kita sudah berakhir malam ini. Anggap saja Han So-Bin yang dulu sudah mati di hutan ini."
Aku kemudian melangkah mendekati Lee Do-Yun, yang langsung menyambutku dengan ekspresi setengah bingung dan setengah menahan senyum kemenangan. Do-Yun merapikan jubah brokatnya, lalu melirik sekilas ke arah Hyu-Jin dengan dagu terangkat bangga.
"Nah, kau dengar sendiri kan, Pendekar Es?" ujar Do-Yun dengan nada songong yang khas. Ia merangkul bahuku secara perlahan, memastikan jarak kami terlihat sangat dekat di mata Hyu-Jin. "Tunanganku sudah memberikan keputusan mutlaknya. Sebagai sesama pria terhormat dari Sekte Pedang Langit Biru, sudah seharusnya kau tahu kapan harus mundur dan berhenti menguntit tunangan orang lain."
Hyu-Jin menatap tangan Do-Yun yang merangkul bahuku dengan tatapan membunuh yang bisa merubuhkan gunung. Aura pembunuh yang pekat mengepul keluar dari tubuhnya, membuat tanah di sekitarnya retak seketika.
"Lepaskan tanganmu darinya, Do-Yun," geram Hyu-Jin pelan, suaranya mengandung ancaman kematian tingkat tinggi. "Atau aku pastikan kepalamu terpisah dari badanmu malam ini."
"Silakan coba kalau bisa," balas Do-Yun santai, meskipun ia sempat meneguk ludahnya pelan melihat keseriusan di mata sahabatnya itu.
Choi Min-Hyuk akhirnya melangkah maju, berdiri di antara Hyu-Jin dan Do-Yun sebelum pertumpahan darah sungguhan benar-benar terjadi di antara kedua murid terkuat sekte mereka.
"Cukup, Hyu-Jin! Jangan membuat kekacauan yang lebih besar lagi!" Min-Hyuk menatap tajam ke arah Hyu-Jin dengan wibawa mutlak seorang pemimpin. "Keputusan So-Bin sudah bulat, dan keterikatan pertunangannya dengan Do-Yun adalah urusan sah secara adat marga. Jika kau terus memaksa, kau bukan hanya melawan Do-Yun, tapi juga melawan seluruh hukum leluhur Sekte Pedang Langit Biru."
Hyu-Jin terdiam kaku. Pengepungan emosi di dalam dadanya tampak mencapai puncaknya. Ia menatapku untuk terakhir kalinya—tatapan penuh luka, obsesi, dan keputusasaan yang begitu dalam hingga membuat dadaku sendiri terasa sesak seketika.
"Kau boleh memilih pergi bersama Do-Bin, dan kau boleh mempertahankan pertunangan itu..." ucap Hyu-Jin pelan, suaranya bergetar hebat namun penuh ketegasan mutlak. Ia memutar tubuhnya perlahan, membelakangi kami. "Tapi ingat satu hal, Han So-Bin. Sampai kapan pun, di ujung dunia mana pun kau bersembunyi... aku tidak akan pernah melepaskanmu."
Syuuuung!
Dalam sekejap mata, sosok Hyu-Jin melesat menembus kegelapan malam bagai badai salju yang menghilang ditelan kabut tebal, meninggalkan sisa-sisa hawa dingin yang menusuk tulang di udara.
Aku menghembuskan napas panjang yang terasa amat berat, melepaskan beban di dadaku yang sejak tadi menghimpit.
(Batin Diah / Han So-Bin): “Fiuh... Untung saja si psikopat es itu pergi duluan. Walaupun ancamannya serem banget, setidaknya untuk malam ini aku selamat dari kutukan umpan meriam!”
Do-Yun melirikku dengan senyum miring yang menyebalkan, lalu menurunkan rangkulannya dari bahuku.
"Wah, wah... Keputusan yang sangat berani, Nona So-Bin," puji Do-Yun sambil membuka kipasnya kembali. "Kau baru saja menolak pendekar terkuat di dataran tengah demi seorang pria tampan nan memesona sepertiku. Apakah kau sudah jatuh cinta padaku selagi aku tidak tahu?"
Aku mendelik tajam ke arah Do-Yun, memutar bola mataku malas.
"Jangan kegeeran, Do-Yun," tukasku ketus sambil melangkah berjalan mendahuluinya keluar dari hutan bambu. "Aku memilihmu bukan karena cinta, tapi karena kamu jauh lebih mudah diajak kerja sama untuk melarikan diri dari teror si psikopat es itu!"
Choi Min-Hyuk menggelengkan kepalanya pelan melihat perdebatan kecil di antara kami, lalu menyusul langkah kami dalam diam di bawah naungan cahaya rembulan Gangho yang mulai bergeser ke arah fajar.
Babak baru dalam pelarianku di dunia Murim resmi dimulai. Dan aku tahu persis, hari esok tidak akan pernah berjalan tenang.