NovelToon NovelToon
Darah Dibalas Darah

Darah Dibalas Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata-mata/Agen / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:683
Nilai: 5
Nama Author: Kadhitana

Latar belakang Watanabe Miho cuma orang biasa saja. Hanya yang membedakannya adalah ia seorang praktisi ilmu bela diri Ninja. Di umur 22 tahun barulah hidup Miho berubah 180° derajat. Orang-orang yang ia usaha lindungi, dicelakai dan terperangkap rangkaian peristiwa traumatis. Ujian kematian ini terungkap, Miho tidak sendirian melawan sebuah tokoh mitos yang hidup dalam masyarakat selama ratusan tahun.

Ketika utas rahasia masa lalunya terkoneksi, faksi dari Oda Nobuyoshi terancam akan dibungkam mati. Orang-orang kepercayaan Watanabe Toshitsugu juga menutup-nutupi tentang jati dirinya, yang mana mengarahkan rasa penasarannya ke arah sarang harimau.

Berbagai upaya pun Miho lakukan demi bisa bertahan hidup dan membalaskan dendam lewat jejak berdarah yang mereka tinggalkan. Pada akhirnya pertarungan terakhir yang akan menjadi penentu. Mengubur kebenaran di balik punggungnya? Maka, Miho sanggup mengupas tuntas!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kadhitana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rival Dua Kutub

Kursi merah berlokasi dekat dengan pintu masuk utama aula, seorang lelaki muda tengah mengawasi. 

Dia adalah (高谷優太) Takaya Yuta. 

Netranya menatap Ryusho dan Jiro dari jarak jauh. 

Dalam pikirannya, dua orang itu seperti babak masa lalu yang belum usai. Ia tersenyum tipis, bukan karena kagum—tapi karena tahu, konflik seperti itu jarang berakhir damai.

Muncul ketertarikan dengan kemampuan pemuda tersebut menjawab todongan pertanyaan Ryusho yang terkenal kritis. Dari kejauhan Yuta memantau, paras Ryusho dibuat repot oleh kedatangan murid baru tersebut. "Jelas punya kemampuan ..."

Masa orientasi bagi mahasiswa baru. Kurang lebih selama sepekan, berkenalan dengan kampus yang bakal menjadi tempat belajar selama minimal empat tahun ke depan.

Untuk sekarang, panggung adalah tempat pusat perhatian terbaik untuk menggiring opini. Oleh sebab itulah, Matsudaira Ryusho mencoba dengan keras menata ulang pikiran sehatnya kembali.

Sekaligus mengusir kegelisahan di waktu bersamaan. Memori itu mengendap dalam kabut amarah—liar dan tak terjamah oleh logika. Sebaliknya dalam dunia penuh perlombaan, Ryusho memandang si pemuda dengan tatapan memendam emosi dan saraf raga yang membeku. Secepatnya harus bisa menggerakkan jemari di bawah pedoman kesadaran, seperti orang penuh kewaspadaan menghadapi ular kobra di hadapannya.

"Pendapatku bisa diterima, Senior?"

Berangsur-angsur, orang-orang mulai memperhatikan interaksi keduanya dengan serius.

Yang membuat Ryusho tertegun adalah ketegangan yang timbul dan menyebar cepat setelahnya. "Pasti ada yang menginspirasimu untuk memilih jurusan ini." Ryusho memastikan dugaannya benar atau tidak lewat sesi ini. "Cara mengemukakan pendapatmu sangat berbeda dari yang lain. Haruskah saya bilang kalau Anda tidak main-main?"

"Ada yang menginspirasi saya. Dia adalah sosok yang dipenuh energi kreatif," kenang pemuda asing ini mendapat perhatian pertama. "Bukan saya saja. Pasti dari kita semua melalui pengalaman dan ingin berbagi visi lewat sinematografi. Apa benar?" Jiro menyambut tatapan audiens penuh harap.

"Kita semua di auditorium berbagi mimpi yang sama, lalu?" tanggap Ryusho langsung paham ke mana panah pembahasannya mengarah. "Kenapa tidak memasuki jurusan ini sosok yang kau sebut itu?"

Kedengarannya menggelikan, tetapi mereka sedang bernostalgia dengan membicarakan cita-cita yang pernah dimimpikan. "Sebenarnya, dia sudah duluan menjadi seniorku."

"Wah!" Suara kagum pecah di sepanjang barisan penonton menjadi bagian aksi menggali tujuan latar belakangan ketertarikan masuk jurusan.

Bukan rahasia lagi, kalau sejarah di antara Ryusho dan pemuda tersebut menyatu erat di aliran urat nadi. Menjadi titik temu masalah di antara mereka adalah kenapa harus berada di situasi seperti sekarang. Singkat rangkuman, Ryusho berspekulasi bahwa beberapa jadwal kampus pasti ditandai untuk merancang namanya kebetulan yang sesat ini.

Setelah itu otaknya menyesal setengah mati, "Tampaknya Anda memilih orang yang tepat. Jika memerlukan bantuan, pasti sahabat yang Anda mau mengulurkan bantuan." Entah kenapa Ryusho malah memilih kalimat tersebut untuk mengisi basa-basi.

Roman muka pemuda tersebut melembut. "Heee, benar. Pasti ada juga yang sama seperti saya di sini. Apa ada?" Pemuda itu berusaha memungut suara pendukung. Kemudian selusin yang ikut angkat tangan. Memperlihatkan beberapa alasan mahasiswa yang juga punya keterampilan dan jurusan ini ada daya tarik untuk berkarier di bidang yang sama.

"Konsep generasi," ujar Ryusho setuju. "Penggambaranmu soal hasrat di dunia perfilman, sangat menawan."

"Terima kasih Senior!" Dia memamerkan senyuman berderetan gigi putih cemerlang.

"Berarti ambisi kita serupa, tapi fokus utama kita berbeda," ujar pemuda misterius ini mendapat sorot utama.

Dan untuk pertanyaan terpenting. "Dan biar saya ulang pertanyaan tadi, siapa namamu wahai pemuda yang berani mengutarakan alasan kuat?" tanya Ryusho. Jantungnya berdetak amat kuat. Bisa ia sendiri merasakan sekujur sarafnya menegang, padahal untuk urusan berbicara di depan publik merupakan kepiawaian nama keluarga turun-menurun.

"Nama saya Hashiba Jiro, asal Osaka, Senior!" ujar Jiro sembari membungkuk rendah.

Akhirnya setelah lima tahun berlalu, hampir enam tahun. Cecungguk ini akhirnya menunjukkan wajah ke hadapan publik. Gemuruh suara tepuk tangan peserta meredupkan keanehan di antara mereka.

Senyumnya naik sebelah, seperti mencicipi kemenangan kecil. Sorot matanya mengunci Ryusho, menyulut bara yang sejak tadi dijaga tetap padam. Sementara Ryusho tarik paksa seluruh kapasitas oksigen demi mengisi paru-paru yang serasa hendak meledak dari tadi.

Tiada yang menyadari keanehan di antara keduanya. Cuma tertinggal aura ketegangan menular ke benak Murakami. Ia menahan diri untuk ikut campur dan membiarkan bagaimana keputusan Ryusho menyikapi anak baru tersebut.

"Selamat, kau berhak mendapatkan akses hadiah berupa akses fasilitas premium yang dapat Anda nikmati selama Anda menjadi mahasiswa di Universitas Kyushu Art yang telah disiapkan oleh panitia." Ryusho membalas hormat, enggan meneruskan taktik psikologis.

Jiro berdiri semangat dan melantangkan rasa bersyukur, "Terima kasih senior! Saya akan berjuang lebih keras!" Ia menyeringai senyum membungkuk hormat ke tiga mata angin.

"Wah, anak baru itu jelas punya rencana matang."

"Siapa namanya tadi?"

"Hashiba Jiro. Pasang telingamu baik-baik, dia bisa jadi batu sandungan," cetus peserta barisan depan Takaya Yuta. "Tapi dia lumayan, mendapat perhatian orang lain."

"Apanya lumayan? Fasilitas utama kampus jatuh kepada Hashiba Jiro!" sergah orang lain, samping peserta barisan depan Takaya Yuta. "Gagal lagi cari tambahan fasilitas kampus eksklusif ..."

Di panggung, ada satu hal yang perlu mereka ketahui bahwa ia menyamaratakan asal usul seseorang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Namun, untuk kasus Jiro sangat berbeda. Dia adalah lelaki pengecut terhebat. Setelah melarikan diri setelah peristiwa hampir merenggut nyawa seseorang dan lari tanggung jawabnya.

Sesi selanjutnya bertambah tegang.

"Mari kita lanjutkan. Silakan Matsudaira," mulai Murakami menginterupsi.

"Baik! Kawan-kawan sekalian mohon kumpulkan lagi seluruh fokus kalian dalam sesi selanjutnya!" Yang tadinya bising, para calon mahasiswa tersebut mulai menyeimbangi cara Ryusho yang menuntut adil. "Seperti kata pemuda tadi, dia mengambil jalan di fakultas perfilman dan televisi, maka diwajibkan mengambil satu fokus area. Walau begitu kalian semua akan mempelajari soal pengembangan teknologi dalam ruang bioskop, screen writing, bahkan film-film mancanegara yaitu box office international. Contohnya Nona Kajiyama Yuki, yang mengambil fokus screen writing," tunjuk Ryusho dari balik tirai merah.

Semua mata para cowok yang tadi meremehkan Ryusho, langsung berubah tidak berkedip begitu tirai merah di panggung tersibak.

Ketukan sepatu merah maryjane-nya terdengar merdu. Sorot lampu putih menyinarinya dan piawai mengambil banyak perhatian penonton di auditorium.

Seketika memandangi sosok dewi kampus. Senyum bening dan rambut panjang bergelombang, auranya menguasai panggung.

Gadis tersebut setara bersama wibawa Ryusho. "Dunia industri perfilman membuka mata kalian, perempuan bisa menjadi sutradara atau laki-laki bisa menjadi ahli di balik layar," papar Ryusho profesional. "Posisi berubah kapan saja. Jangan mencari jalan pintas."

Inilah putri anggun berdiri di samping Ryusho. Wajah dan kharisma gadis tersebut idaman para lelaki satu aula. Saat mereka tertawa geli soal pangeran kampus, kini giliran pemuda-pemuda bersuit-suit gembira pada kehadiran gadis termanis sekampus.

"Berikan nomor telepon nona Senior!" teriak antusias bersamaan para pemuda-pemudi seangkatannya.

Gadis membungkuk hormat. "Nama saya Kajiyama Yuki, mahasiswi semester 7 dan mengambil minat kepenulisan naskah! Salam kenal semuanya!" Senyuman Yuki merekah bagai semanis permen kapas merah jambu.

Berbanding terbalik dengan Ryusho yang angkuh, tapi penampilan luarnya gagah sekali. "Kalian sudah pasti tahu, saya merasa terhormat berada di sini dan saya memilih fokus area saya, yaitu menulis teknik screen writing." Yuki melambai-lambai dengan anggun seperti artis.

"Nona apa Anda artis!?" Pertanyaan menyerbu dari berbagai arah. Bahkan, Murakami juga sudah pernah memaksa untuk mengubah pilihannya. Entah apa yang dipikirkan oleh Yuki, ketika memilih fokus utama memilih jurusan perfilman.

"Banyak yang bilang wajah saya cocok di layar. Tapi saya lebih suka menggiring cerita, bukan digiring kamera," jawab Yuki tersenyum riang penuh permainan kata.

"Cocoknya berada di layar kaca!"

"Benar! Gadis sepertinya harus bersinar!" puji para cowok-cowok itu, ditanggapi dengan rautan wajah mahasiswi lain ikutan iri hati.

"Hei anak-anak baru! Jangan memberikan kuis yang nyeleneh. Mereka ini senior sekaligus narasumber jurusan, tolong berikan tempat dan waktu," tegur Murakami dari balik podiumnya. "Ayo lanjutkan nona Kajiyama."

Jemari Yuki bertautan dan malu-malu. "Maaf, pasti kalian semua bertanya-tanya dengan keputusan saya. Tetapi ini biar saya meluruskan, ini merupakan cita-cita saya dari dulu. Bekerja sama dengan kru film di balik layar sangat menantang bagi perempuan di dunia perfilman yang dituntut kerja keras. Tentunya bisa berkarya dengan sutradara," ungkap Yuki seraya melirik kagum pada Ryusho yang berdiri di samping. "Perkataan Ryusho, rekan saya memang sudah di jalurnya. Tahap ini kalian akan belajar melalui tahapan-tahapan kecil. Dari producing, skill editing ..."

"Screen writing, jangan lupakan histori perfilman. Bahkan peranan seorang sutradara, juga harus mengenal dasar-dasar akting," melanjutkan Ryusho mencerminkan apa yang dilaluinya. "Setelah itu karya terakhir yang akan kalian persembahkan untuk penilaian akhir. Semua kalian peroleh langsung dari ahlinya."

"Semua sangat menantang di bidang masing-masing. Apalagi berteman dengan hobi kalian sangat seru!" Yuki menebar semangatnya, begitu memesona mata para lelaki. Audiens yang mendengarkannya penuh keseriusan.

"Walaupun perfilman cukup mengeksplor fotografi, sebagai dasar yang perlu dipahami di jurusan kita bersama. Nah, kalau kalian ingin berkonsentrasi di bidang fotografi, maka ada kalian bisa memilih jurusannya tersendiri dan lebih mendalam," lanjut Ryusho memperdalam pemaparan Yuki.

"Intinya kami para senior juga akan membantu membimbing kalian, seperti para senior kami terdahulu," ungkap Yuki pengertian akan kecemasan semua calon mahasiswa.

"Apa ada pertanyaan?" lanjut Ryusho mempersilakan dengan bebas. Ini sudah mencapai akhir sesi tanya jawab fokus utama.

"Senior Ryusho dan Yuki cocok banget!"

"Tidak!" Komentar itu langsung dibantahnya dan Yuki bersamaan.

"Kami hanya sebatas rekan kerja," jelas Yuki, pipinya memerah.

Raut wajah Ryusho pucat mendengar komentar begitu. Apalagi lirikan ekor matanya menangkap Jiro sedang menertawainya. Pasti berhubungan dengan perempuan di sebelahnya itu.

"Kalian tidak pacaran?"

Kemudian malah memancing cekikikan lagi. Di pikiran Ryusho mereka segerombolan tukang shipper yang merajalela, dengan halu yang tidak berkesudahan.

"Baiklah cukup!" Menurut Murakami ini sudah menjauh dari topik pertama. "Terima kasih pada kedua narasumber kita. Matsudaira dan Nona Kajiyama!" Dosen Murakami berdiri dan mempersilakan mereka menyudahi sesi ini. Lalu layar putih yang sudah disiapkan berubah menjadi tampilan power point.

Aula riuh dengan tepuk tangan yang menyenangkan. Namun, sedari tadi Ryusho hanya terfokus ingin tahu isi otak busuk Jiro Hashiba. "Mari kita membahas jadwal ospek kalian selanjutnya. Tolong perhatikan baik-baik jadwal ini untuk kerja sama kalian. Bapak harap kalian semua bisa menyamai pencapaian target seperti mereka."

"Haik Sensei!" Semua para murid baru berantusias. Terutama dengan kehadiran si pangeran Ryusho dan Yuki si dewi kampus Kyushu.

Hampir tiga jam Ryusho bersama peserta ospek berada di aula multifungsi. Dari sekian pertanyaan, hanya satu yang terpikir oleh Ryusho. Bagaimana reaksi Miho ketika berjumpa sahabat lamanya itu? Apakah kekecewaan duluan atau... ia tak bisa mencari kalimat yang tepat untuk menebak sesuatu yang begitu sulit.

Ryusho mengawasi Jiro dan lainnya, dari salah satu kursi aula yang jauh dari sorot utama. Di mana mereka menyimak presentasi PowerPoint berisi informasi kampus dari layar lebar, beserta jadwal kegiatan penutupan hari terakhir ospek.

Sekali pun sibuk, ia tak melupakan untuk menginterogasi pemuda asing tersebut setelah keluar dari aula yang mengekang rasa penasarannya.

Ryusho bisa saja menyergap Jiro dari belakang. Tetapi hal ini dapat menimbulkan kecurigaan semua orang dan tentu saja menghindari keributan ala serial remaja dewasa.

Beruntung dosen Murakami mengakhiri sesi ini dan membubarkan peserta ospek untuk kelas pengenalan berikutnya. Tak membuang waktu, Ryusho bangkit dari kursi merah yang ditempati dan bergegas mengejar siluman mulut robek. Keliatan dari sudut pandang Ryusho, Hashiba Jiro sengaja menghindar dan berbaur dengan teman-teman barunya itu. "Sial, bocah itu cerdiknya kelewatan!" gumamnya mengutuk Jiro Hashiba. "Akan kuberi kau pelajaran."

Keluar dari pintu, Ryusho menerobos kerumunan yang sudah pada minggat. Menurut jadwal anak-anak ini, mereka akan menuju kantin di samping gedung aula setelah geladi bersih untuk penutupan MOS resmi tanggal 13 April.

Pelatihan terakhir kali sebelum pelaksanaan atau pementasan pada acara sesungguhnya. Besar kemungkinan juga ia akan diundang jadi tamu selain anak alumni terkenal.

Kebetulan Yuki yang sedang melayani ajakan main teman-teman baru. Tiba-tiba Ryusho lewat di depannya. "Ah, itu senior Ryusho." Yuki melambai.

Namun, sapaan Yuki terasa seperti angin lalu. Ryusho tak menggubris gadis serba bisa itu. Melainkan perhatian Ryusho tertuju kepada Jiro, otak cerdiknya merencanakan agar bisa menyalip arah jalan mereka.

"Kayaknya Ryusho itu terburu-buru, ya?" bisik Himari, teman Yuki seraya menatap arah pergi Ryusho.

"Kupikir iya," respon Yuki murung.

Rasa penasaran mereka terjawab, Ryusho mencegat rombongan yang jadi saingannya. Sekarang malah Jiro ikut-ikutan menjadi lawan setaranya Takaya Yuta.

"Hashiba Jiro, bukan?" Ryusho mencengkeram pundak pemuda itu dan menariknya agar terjadi kontak mata. Yang mana hal tersebut menimbulkan getaran

Sontak kawan-kawan Yuta ataupun Jiro terpaku melongo. Belum lagi, tindakan Ryusho memicu gosip-gosip yang tidak perlu oleh para mahasiswa baru, yang berhenti demi melihat apa yang terjadi.

Sekilas, ada getaran samar di pelipis Jiro. Tapi ia cepat menegakkan bahunya, menyembunyikan segala kegugupan di balik senyum tipis yang nyaris menantang. "Benar," Jiro dan rencana pelariannya pupus di tengah jalan. Ryusho mencegah lebih cepat dari perkiraannya. "Ada urusan dengan saya?"

Lengan Ryusho juga kemudian dicengkeram oleh Yuta, tak tega sebab manusia yang mengusir rasa bosannya diculik Matsudaira Ryusho. "Ryusho, kalau ada masalah, bicarakan baik-baik."

Jiro maupun Ryusho melirik Yuta yang tengah waspada.

"Tidak ada masalah sama sekali. Hanya saja, pemuda ini melupakan hadiahnya, ada penjelasan tambahan," sangkal Ryusho sesudahnya. "Masa kau melupakan registrasinya?"

Tampang Ryusho mengeras menyebutkan nama pemuda di hadapannya. Agak kurang meyakinkan, tetapi Yuta menurut. "Wah, itu hadiah dari panitia! Kalau begitu Jiro, pergilah." Bibir Yuta berbalik senyum ceria. "Habis itu mari bergabung dengan timku! Ada banyak aktivitas dari teman-teman lain."

Ingin sekali Ryusho meremukkan bahu kiri Jiro Hashiba, alih-alih ia cuma mengedikkan sebelah bahu dengan sikap tak peduli. "Berhubung Anda harus mengisi dokumen terkait hadiah fasilitas dari panitia. Bagaimana kalau kita juga bicara soal fokusmu di bidang perfilman?"

Kini mau tak mau Jiro yang sudah terpojok jadi pusat perhatian. Karena terdesak, ia menyembunyikan rasa tidak kesukaannya dengan menyunggingkan senyuman. "Ah, iya kalau begitu saya memutuskan tidak menerimanya, ada alasan tertentu," tolak Jiro mendapat mata melongo dari rombongan kelompoknya, termasuk senior Takaya Yuta.

"Jiro-kun itu fasilitas kelas pertama seantero kampus! Jangan ditolak!" Yuta dan yang lainnya membujuk secepat pesawat jet menyergap markas musuh.

"Iya, kalau begitu aku saja yang tadi bersaing ketat," ucap teman Yuta, agak sayang dengan melepaskan hadiah fasilitas kampus tersebut.

Sayangnya posisi Jiro malah perangkap, terjepit, serta mungkin saja menjadi bahan cemoohan orang-orang sialan ini. Tak salah lagi, ia harus memainkan peran rubah melawan tupai. Posisinya terancam di hadapan lirikan mata yang haus informasi. "Ah baiklah, rasanya tidak enak menolak sesuatu yang seharusnya saya terima. Maafkan kecerobohanku. Saya pikir seharusnya ada yang menerima hadiah itu kepada yang membutuhkan."

Ryusho menggeleng. "Berkat keberuntungannya jatuh padamu. Bagaimana? Anda tertarik berbincang, sebelum latihan geladi bersih upacara resmi?" Seringainya melebar, menjatuhkan nyali Jiro ke dasar lantai.

"Kalau begitu ayo, tidak akan lama, kan?" Dengan sikap berani mengambil bertanggung jawab, Jiro akhirnya mengiyakan ajakan Matsudaira Ryusho.

"Sempurna!" Ini bukan tipe Ryusho yang akan mengajak baik-baik seseorang untuk baku hantam.

"Kau yakin mau pergi, Hashiba Jiro?" Yuta yang kebetulan bersama Jiro, ragu membiarkannya seorang diri. Terlebih teman baru adalah ladang strategi.

"Benar, sesuatu disebut kesempatan pasti tidak akan terulang lagi, bukan?" sangkal Jiro cepat. "Tunjukkan tempatnya, senior."

"Kau selalu penuh kejutan. Ayo ke Kafe Honey dekat kampus. Kita butuh bicara—berdua," saran Ryusho mempersilakan Jiro duluan.

Jiro memaksa raut muka setuju dan tidak ingin membeberkan kebodohannya lebih lanjut. Sejenak Yuta dan krunya meluangkan waktu memandangi interaksi dua cowok itu dari arah kejauhan. Jiro dan Ryusho, bahkan tidak canggung untuk berjalan bersisian.

Ini memperkuat dugaan Yuta sebelumnya. Bukan hanya dia saja, seorang gadis bernama Kajiyama Yuki juga ikut terpancing. "Yuta, apa kau pikir mereka saling mengenal?"

Yuta mengabaikan sekilas nada mengejek dan pura-pura dalam suara gadis memesona "Tentu saja, mereka lupa berakting untuk saling tidak kenal. Bahkan hanya untuk sesaat saja."

Kedua netra Kajiyama Yuki menatap lurus kedua pemuda yang melesat pergi. Dalam bahasa tubuh yang tenang, di dalam kapsul ingatan masa sekolah yang sebenarnya harus segera ditutup, Yuki seketika terlempar kembali ke masa-masa penuh luka batin. Bahwa ia terobsesi pada Matsudaira Ryusho.

...Bersambung......

1
🥔Potato of evil✨
Ceritanya seru banget sampai aku lembur nge-baca, hehehe. 👍
Pluto
Next chapter, please! Aku harus tahu kelanjutan ceritanya.
Andi Akhasay: coba baca ceritaku
total 2 replies
Đông đã về
Author TIDAK BOLEH berhenti menulis, terus berikan karya yang memukau seperti ini!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!