Sejak istrinya memilih pergi demi pria lain, hidup Ages Sabiru hanya memiliki satu tujuan yaitu membesarkan putra semata wayangnya, Kalandra Sabiru. Dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, Ages berusaha menjadi ayah sekaligus tempat pulang terbaik bagi anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sementara Ages menjelma menjadi sosok ayah yang selalu mengutamakan putranya di atas segalanya. Di balik candaan, sarapan sederhana, dan perjalanan pulang bersama, tersimpan ikatan yang tak tergantikan.
Namun, ketika masa lalu yang telah lama mereka tinggalkan kembali muncul, hubungan ayah dan anak itu akan diuji. Mampukah cinta dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun bertahan menghadapi kenyataan yang selama ini disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merangkai kembali cermin yang pecah
Sudah tiga hari sejak kecelakaan itu.
Kondisi Kalandra perlahan mulai menunjukkan perkembangan.Meski masih harus dirawat di ICU, dokter mengatakan bahwa tekanan darahnya sudah stabil dan perdarahan di kepalanya tidak bertambah.
Namun, Kalandra belum banyak berbicara.Ia lebih sering diam dan tatapannya kosong.Sesekali hanya mengangguk atau menggeleng ketika dokter mengajukan pertanyaan.
Hal itu justru membuat Ages semakin takut.
Ia lebih memilih dimarahi.Lebih memilih dibentak,daripada melihat putranya diam seperti sekarang.
Pagi ini,dokter akhirnya memberikan kabar yang sedikit melegakan.
"Pak Ages."
"Iya, Dok?"
"Hari ini Kalandra boleh dipindahkan ke ruang rawat inap."
Ages langsung berdiri. "Benarkah?"
Dokter mengangguk.
l "Tetapi pengawasan tetap ketat. Benturan di kepalanya masih harus dipantau dan kakinya kita harus melakukan pemeriksaan rutin."
"Terima kasih, Dok."
Senyum kecil muncul di wajah Ages setelah sekian lama hilang.Ia segera memberi tahu keluarga yang sedang menunggu di luar.
"Yah,Bang..." Suara Ages bergetar. ."Kala akan dipindahkan ke ruang rawat."
Sean langsung memeluk Arsen. "Alhamdulillah..."
Tamara kembali menangis, kali ini karena lega.
Kakek Sabiru mengangkat kedua tangannya. "Ya Allah, terima kasih..."
Satu jam kemudian...
Kalandra dipindahkan menggunakan ranjang dorong.Seluruh keluarga mengikuti dari belakang.Tubuh remaja itu masih dipenuhi perban.Lengan kirinya digips.Lutut kirinya dipasang penyangga.
Di wajahnya masih terlihat beberapa luka jahitan yang mulai mengering.Saat melewati lorong, beberapa perawat tersenyum melihat keluarga yang mengiringinya.
Begitu tiba di ruang rawat, dokter mempersilakan keluarga masuk bergantian agar Kalandra tidak kelelahan.
Orang pertama yang masuk adalah Kakek Sabiru.Lelaki tua itu mendekati ranjang dengan langkah pelan.Tangannya yang mulai keriput mengusap rambut cucunya.
"Cucu Kakek..." Air matanya langsung jatuh. "Kamu bikin Kakek takut."
Kalandra membuka matanya perlahan.Melihat wajah kakeknya, sudut bibirnya terangkat sedikit. "Kek..."
Suara itu masih sangat pelan."Iya, Nak."
"Maaf..."
Kakek langsung menggeleng. "Jangan minta maaf."
"Kamu fokus sembuh saja,itu sudah lebih dari cukup."
Setelah Kakek keluar, Sean masuk dengan mata yang sedikit sembab.
"Woi..." Sean berusaha tersenyum. "Adek gue yang gantengnya masih di bawa gue."
Kalandra hanya tersenyum tipis.Respon yang kali ini membuat Sean terseyum pahit. "Biasanya mulut lu paling berisik kalau gue bilang fakta itu."
"Lagi habis baterai." kilah Kalandra
Sean tertawa pelan meski air matanya kembali menggenang. "Stres lo.."
"Gue kira..." Ia menghentikan ucapannya. "Gue kira bakal kehilangan adik paling nyebelin sedunia."
Kalandra memandang Sean beberapa detik."Sialan lo bang nyumpahin gue mati.."
Kalimat sederhana itu membuat Sean tertawa sekaligus menangis. "Nah gitu dong...Itu baru Kala."
Ia memeluk pelan bahu adiknya, berhati-hati agar tidak mengenai bagian tubuh yang terluka. "Cepat sembuh.Gue masih punya banyak utang ngebully lu."
"Dasar abang kampret,bukannya hibur gue" Jawab kala dengan mata melotot membuat Sean tersenyum lega.
Siang menjelang,kini Arsen yang masuk ke kamar.
Berbeda dengan Sean, Arsen hanya berdiri beberapa saat.
"Om Papi..." Panggilan lirih itu membuat Arsen mendekat.
"Gimana rasanya?"
"Sakit lah.."
"Hm" Arsen menarik kursi. "Dokter bilang nanti harus fisioterapi."
Kalandra menghela napas. "Berarti lama ya?"
"Yang penting kamu bisa cepat sembuh."
Kalandra hanya mengangguk,kemudian beberapa saat keduanya hanya diam.
"Kamu marah sama Papa kamu?"
Pertanyaan Arsen membuat Kalandra menoleh ke arah jendela.Cukup lama ia terdiam.
"Aku..." Ia menarik napas panjang. "...kecewa."
"Benci?"
Kalandra menggeleng. "Enggak bisa."
"Kenapa?"
"Karena dia Papa Kala."
Jawaban itu membuat Arsen tersenyum haru. "Kamu itu terlalu baik."
Kalandra tersenyum kecil. "Bukan." jawabnya cepat.
"Aku cuma...masih kecewa makanya belum mau banyak bicara sama papa.."
Sejak pagi,Ages belum sekali pun masuk ke ruang rawat.Bukan karena tidak ingin,tapi karena tidak berani.
Ia terus berdiri di balik kaca.Melihat putranya dari kejauhan.Setiap kali ingin masuk, langkahnya selalu berhenti di depan pintu.
Tamara menghampirinya. "Kenapa tidak masuk?"
Ages tersenyum pahit. "Aku takut."
"Takut apa?"
"Takut melihat dia kecewa setiap melihat wajahku."
Tamara menghela napas. "Kesalahanmu memang besar."
Ages mengangguk. "Aku tau
"Tapi kamu tetap ayahnya.Kalau terus menghindar, luka itu tidak akan pernah sembuh."
Ages menundukkan kepala. "Aku tahu."
Tak lama Arsen keluar dan menghampiri Ages. "Ges,"
"Iya?"
"Kala mau ketemu sama lo."
Jantung Ages langsung berdetak lebih cepat. "Kala?"
Arsen mengangguk. "Masuk gih"
Langkah Ages terasa begitu berat.Tangannya bahkan sedikit gemetar ketika membuka pintu.
Pintu terbuka perlahan.Kalandra sedang menatap ke arah jendela.Mendengar suara pintu, ia menoleh.Tatapan mereka bertemu.Tidak ada yang berbicara.Beberapa detik terasa sangat panjang.
Ages akhirnya berjalan mendekat. "Boleh...papa duduk di sini?"
Kalandra mengangguk pelan.
Ages menarik kursi.Tangannya saling menggenggam karena gugup.
"Dokter bilang...kamu sudah lebih baik."
"Iya."
"Masih sakit?"
Kalandra mengangguk. "Masih."
Hening kembali memenuhi ruangan.Ages berkali-kali ingin meminta maaf.Namun ia merasa kata itu sudah terlalu sering diucapkan.
Akhirnya ia berkata pelan, "Papa enggak akan minta kamu langsung memaafkan papa."
Kalandra tetap diam.
"Tapi...papa ingin memperbaiki semuanya."
Kalandra memandang wajah ayahnya.Ia benar-benar melihat perubahan di mata Ages.Tidak ada lagi Ages Sabiru yang tampan,rapi dan tegas yang ada hanya seorang ayah yang terlihat sangat menyesal.
"Pap,"
"Iya?"
"Aku boleh jujur?"
Ages mengangguk. "Boleh."
"Aku sempat takut."
"Takut apa?"
"Takut Papa udah enggak butuh aku lagi."
Kalimat itu menghantam Ages jauh lebih keras daripada tamparan apa pun.Air matanya langsung jatuh. "Jangan pernah bilang begitu."
"Tapi..."
"Kala." Suara Ages bergetar. "Dengarkan papa."
"Kamu adalah alasan Papa bangun setiap pagi,kamu alasan papa bekerja.Dan kamu alasan papa bertahan hidup." lanjutnya.
Ages menggenggam tangan kanan putranya dengan sangat hati-hati."Kalau waktu bisa diputar...papa akan memilih duduk makan mi instan sama kamu malam itu.Bukan restoran atau bersama siapa pun.Hanya sama kamu."
Air mata Kalandra ikut mengalir. "Aku cuma kangen Papa yang dulu."
Tangisan Ages pecah. "Papa juga kangen adek.Papa janji akan jadi Papa yang dulu."
Dengan gerakan yang masih lemah, ia mengangkat tangan kanannya.Ages langsung memahami maksudnya.Ia meraih tangan itu.Lalu menempelkan punggung tangan Kalandra ke pipinya.
"Maafin papa..."
Kalandra mengusap pelan pipi Ages dengan ibu jarinya.Belum ada satu kata atau pelukan dari Kala.Namun sentuhan kecil itu sudah cukup membuat Ages menangis tanpa henti,ia sadar kepercayaan yang hilang tidak akan kembali hanya dalam satu malam.
Tetapi hari ini,putranya telah memberikan satu kesempatan.Kesempatan untuk kembali menjadi ayah yang pantas dibanggakan.
Hal besar yang membuat Ages bersumpah,bahwa ia tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan itu lagi.
Akan menjadi Ages Sabiru yang selalu memprioritaskan seorang Kalandra dalam hidupnya.
.......
.......
.......
...♡Sabiru♡...
🦋 Jangan lupa tinggalkan jejak readersku..🦋