NovelToon NovelToon
Alisha

Alisha

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Cintamanis / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:62.3k
Nilai: 4.7
Nama Author: Yuliana Farida

Ini hanyalah kisah romansa remaja yang dialami Alisha, remaja SMA ketika ia dekat dengan seorang anak laki laki yang berbeda dengan dirinya. Keseharian berjualan kaki lima tak surut untuk Alisha dalam mendekati Dika yang diam diam menyimpan kesempurnaan dalam hidupnya.


"Aku menyukainya.. tidak mau menahu akan pandangan orang orang disekitar akan dirinya, karena hanya aku yang mengetahui segalanya mengenai dia, Dika Arya."

Alisha Puteri,



"Sejak kapan kamu menjadi sosok puitis?"


Dika Arya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuliana Farida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

This is me, Dika

Dika POV

Ku kayuh sepedaku secepat mungkin agar cepat sampai ke rumah. Udara dingin tak seluruhnya menyelimutiku karena jaket hitam yang membungkus tubuhku. Meski kakiku sedikit kram karena udara dingin yang menerpa kedua kakiku yang tak tertutupi celana pendekku ditambah aku terus mengayuh pedal sepedaku.

Entah kenapa dia nekat sekali mendekatiku, aku yang biasa saja dan tak setara dengan dia berusaha menolak dan menjauhinya. Tapi tak ayal membuat gadis itu menyerah. Sampai aku melihatnya terluka, entah karena kecerobohannya atau karena ulahku yang tak berperasaan? Entahlah, tapi setelah itu aku merasa kasihan.

Baru kali ini ada orang yang mau dekat denganku, apalagi gadis manis dan menawan seperti Alisha, ya aku juga tidak memungkiri dia sedikit cerewet. Tapi dari sikap cerewetnya lah aku berusaha membuka diri untuk bisa berteman dengannya. Dia sepertinya menerimaku apa adanya, meskipun banyak sekali pernedaan yang kontras antara diriku dengan dirinya.

Dari kecil aku sudah biasa di jauhi, di tolak, bahkan di hina. Ibuku meninggalkanku semasa aku balita, dia tak akan kembali sampai kapanpun. Kata ayah, ibuku mengalami serangan jantung dan tak bisa ditolong.

Semenjak itu, keluarga kecilku yang ikut tinggal dirumah besar itu dipaksa menyingkir ke garasi bekas dibelakang rumah besar itu, mengingat hubungan pernikahan ayah dan ibuku yang tidak diterima oleh keluarga ibuku.

Ayah berusaha semaksimal mungkin menyamankan aku yang masih kecil itu tinggal dalam keadaan ruangan pengap itu yang hingga sekarang aku tinggali bersama ayah.

Pernah aku berpikir bahwa semua keluarga ibu membenciku. Tapi ternyata tidak, aku memiliki kakek-ayah dari ibuku- yang sangat menjaga dan menyayangiku. Meskipun banyak anggota keluarga yang menentang dan menghalang halanginya untuk dekat denganku, ia selalu diam diam berkunjung dan memberiku perhatian dan hadiah.

Sampai suatu malam kakek berkata bahwa malam itu adalah malam terakhir ia mengunjungi dan memberiku hadiah. Aku yang tidak tahu apa maksudnya hanya terdiam sambil membuka kantong yang diberikannya. Aku sangat senang waktu itu, kakek memberikan aku mainan robot seperti yang Alex punya.

Alex merupakan adikku, tepatnya anak adik ibuku. Kami lahir hanya selisih beberapa bulan sehingga umur kami tak jauh dan sebaya. Nerbeda denganku, dia sangat di sayangi dan dimanja oleh semua keluarganya. Kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, semuanya sangat menyayangi dia.

Berbeda denganku yang terbuang dan tidak dianggap pernah ada seiring dengan kepergian sang ibu ke pelukan Tuhan.

Mungkin kakek sering memperhatikanku yang selalu melihat Alex dari kejauhan sedang bermain dengan beberapa temannya. Oleh karenanya kakek juga memberikannya kepadaku agar aku tidak merasa iri dengan Alex.

Malam itu aku mengatakan berjanji akan memberikan kakek juga hadiah setelah besar nanti. Sebuah mimpi yang diberikan kakek melalui buku bukunya yang diberikan kepadaku berangsur angsur.

Tapi dipagi harinya, aku mendengar berita bahwa kakek telah meninggal dunia. Aku sangat sedih saat itu, aku sempat tak terima, kenapa orang orang yang menyayangiku selalu diambil dariku. Bahkan aku tak pernah melihat wajah ibu secara langsung. Hanya sebuah foto pernikahan yang ayah tunjukkan kepadaku.

Pagi itu aku berlari ke rumah besar itu, membuka pintu belakang yang sepi. Aku melihat ada Bi Nur, salah satu pembantu rumah sedang berjalan masuk ke dalam rumah.

Aku mengikuti dari belakang tanpa sepengetahuannya. Karena aku tahu keluarga itu akan mengusriku jika aku ketahuan masuk ke rumah besar itu.

Ku lihat peti mati yang diletakkan di tengah ruangan. Berisikan tubuh kakek yang berbalut jas terbujur kaku.

Aku menangis dalam diam hingga isakanku keluar dan tiba tiba seseorang menarik tanganku ke belakang. Bibi Rosa memandangku marah dengan mata sembabnya.

"Kenapa kau disini? Kami sedang berduka, bisakah kau tidak mengundang kemarahan kami? Keluarlah sebelum yang lain melihatmu."

Bentaknya sambil mendorongku ke pintu belakang tadi. Aku berjalan dengan kepala tertunduk menangis tersedu sedu. 'Kenapa mereka jahat sekali.' Ku seka air mataku yang terus mengalir itu. Ku hampiri ayah yang sedang duduk di kursi rumah.

"Ayah.. kakek." adu ku sambil terisak.

"Sudah, jangan menangis. Kakek sudah tenang." Ayah menggendongku kepangkuannya berusaha menenangkanku.

"Mau lihat kakek yah." Rengekku masih dengan isakan pedih karena kalekku sudah tiada.

"Iya, nanti hari ketujuh kita kunjungi kakek ya. Sekarang Dika berdo'a dan bacakan surat al-fatihah untuk kakek."

Aku mengangguk sambil berdoa dan membaca surat al-fatihah dalam hati untuk almahum kakek.

Hari ketujuh setelah kematian kakek ayah menepati janjinya untuk melihat kakek. Ayah membawaku ke kelenteng kota yang tak jauh dari rumah.

"Ayah, memang boleh masuk? Kata Bang Jamal kita gak boleh masuk ke rumah ibadah agama lain." tanyaku yang saat itu masih tidak mengerti.

"Boleh, asal kamu tidak berniat ibadah dan terus mengingat Allah. Kita hanya berniat baik untuk berziarah ke kakek."

Aku hanya mengangguk dan mengikuti ayah memasuki kelenteng sembari mengamit tangannya. Aku memperhatikan sekeliling, terlihat banyak dupa yang mengeluarkan asap dan orang orang yang sedang ibadah.

Kemudian aku melihat banyak guci dari berbagai ukuran yang diberi foto dan pengenal. Kami menghampiri guci yang berfotokan kakek, ayah mulai membacakan do'a yang kemudian di ikuti ku sebisa mungkin.

"Ayah kenapa ada guci?" Aku menanyakan hal yang sedari ku lihat dan ingin tahu begitu aku memasuki tempat itu.

"Guci itu tempat abu kakek yang telah dibakar."

"Kenapa dibakar? Pasti sakit." Ucapku mulai tersedu sedu kembali menangis.

"Kakek sudah tenang, jadi ia tidak merasakan sakit lagi. Ayo kita keluar."

"Ayah kapan kita lihat kakek lagi?"

"Ayah tidak tahu, biasanya beberapa bulan kemudian abunya akan dilepaskan ke laut."

"Kenapa begitu?" Aku menunduk lesu.

"Itu salah satu kepercayaan agama mereka Dik."

Aku melihat foto kakek terakhir kalinya dengan sedih sebelum ayah mengajakku untuk pulang.

****

Semua kilasan masa kecilku bersama kakek menemani perjalanan pulangku. Sesekali air mataku menetes membuatku harus segera menyekanya karena tidak mau pandanganku menjadi blur saat aku sedang bersepeda di malam hari seperti ini.

Hanya ayah yang sekarang aku punya, d**an mungkin juga Alisha.

Sesampainya di rumah aku memarkirkan sepedaku di depan bengkel ayah yang menyatu dengan rumah. Sepertinya ayah sudah tidur karena keadaan di dalam rumah sudah gelap.

Ku buka pintu dengan pelan agar tak membangunkan ayah. Tapi nyatanya tidak, aku mendengar deheman ayah dibelakangku saat aku hendak mengunci pintu.

"Ayah, belum tidur?" tanyaku mencoba tenang dan tidak terlalu panik.

Ayah menggeleng, "Anak ayah yang biasanya enggak keluyuran malam tiba tiba saja belum pulang." ucap ayah sambil menghidupkan saklar lampu.

"Habis dari mana?" tanya ayah yang kini duduk di kursi.

"Ehm keliling aja yah." 'Kenapa haru bohong Dik?!' batinku berontak tak menerima karena sudah berbohong kepada ayahku sendiri.

"Bukan habis ngapel?" Ayah sepertinya sedang menggodaku, sedari tadi wajahnya selalu menunjukan raut geli dan ingin menertawakanku yang bodoh dalam berbohong.

"Eh? Ehmm enggak." Aku gelagapan bingung harus menjawab apa. Malu juga jika menjawab habis dari rumah teman perempuan.

"K-kkok ayah tahu?" tanyaku pada akhirnya sambil mengusap tengkukku gugup.

"Tadi kata si Jono kamu di kejar kejar cewek cantik." jelas ayah dengan senyum menggoda yang semakin jelas ditunjukkan kepadaku.

"Temen yah." jawabku mengelak, memalingkan wajah saat ayah terus memandangku jenaka.

"Gak biasanya juga kamu tutup jam 4, biasanya kan jam 7." Pernyataan ayah semakin menyudutkanku. Aku yang tidak bisa berbohong kepada ayah akhirnya menjelaskan hal yang sebenarnya.

"Alish cuma teman Dika yah. Tadi dia terluka jadi Dika antar pulang-"

"Sambil ngapel?" sela ayah membuatku menggeleng gelagapan. Ayah tertawa terbahak bahak melihat tingkahku dan aku hanya menunduk sembari merutuki diriku yang bertingkah seperti tadi.

"Dia teman Dika yah." jelasku sambil tersenyum malu mengingat perkataan ku pada Alish sebelum aku pulang.

"Beneran cuma teman? Sesekali kamu pacaran lah biar gak jualan terus kerjaannya" Nasihat berisi candaan itu ayah berikan kepadaku. Aku hanya tertawa mengabaikannya sambil melangkah menuju kamarku.

"Dasar anak lagi kasmaran." gerutu ayah yang masih ku dengar setelah aku menutup pintu kamar.

Mataku kini melihat sekeliling kamarku yang sedikit berantakan. Kulepaskan jaket milik Alish dan di gantungkan di gantungan kayu belakang pintu.

Ku rebahkan tubuhku di kasur, melipat tanganku dibelakang sebagai bantalan kepalaku sambil menatap langit langit kamarku. Ku hela napas berulang kali memikirkan tentang Alish.

"Kamu kenapa sih?" ranyaku kepada diri sendiri. Ku acak acak rambutku kemudian menutup wajahku berusaha tidur dan menghilangkan pikiran tentang Alish.

"Ck." Decakku sebal karena tak kunjung jua mata ini tertutup. Ku ambil ponsel jadulku yang jarang ku pakai di atas meja.

Ku utak atik ponsel itu mencari nama nama di kontak.

"Ck kan gak punya." ingatku dan melempar ponsel tersebut ke kasur disebelahku. Ku ambil bantal untuk menutupi wajahku untuk tidur. Tetap tak bisa. Ku guling gulingkan badanku kesana kemari. Merasa gerah, aku membuka kaus ku dan kembali berbaring.

"Diam Lish." Geramku kepada Alish yang terus ada dipikiranku. Aku mencoba menutup mata lagi.

Sebegitu besarnya pengaruh Alisha terhadap diriku, ada apa dengan diriku ini?

"Ekhm. Tidur Dik." ingat ayahku dari luar kamar karena mendengarku masih terjaga.

Aku terdiam seraya bangun pelan pelan dan mengambil buku pengetahuan di atas meja. Lebih baik membaca buku dari pada diam tak bisa tidur.

Aku menikmati waktuku dalam membaca buku ku kali ini, sampai aku tak menyadari bahwa kini jam menunjukan pukul satu dini hari.

Buku tebal berisi tentang medis pemberian kakek itu sudah selesai ku baca sampai habis. Ku gosok gosok mataku yang terasa perih, lalu menyimpan buku tersebut kembali ke atas meja dan bersiap untuk tidur.

Dan syukurnya aku dapat tidur dengan tenang hingga matahari kembali terbit dari persembunyiannya.

1
lee_you
haaiii... masih ada yang Dateng ke lapak ini?? semoga aja ada yak😆.. meskipun cerita ini udah tamat.. aku kangen banget sama Dika dan mampir kesini lagi setelah sekian lama😭😭😭 kepikir buat revisi semua bab karena aku akui novel ini masih banyak kekurangan.. mulai dari alur yang berantakan, bahasa kepenulisan yang masih banyak salah.. dan banyak lagi😭😭 aku pikir mau rombak cerita ini sepenuhnya agar lebih baik lagi dan layak baca🥰🥰 thanks banget buat yang udah baca cerita ini sampai habis.. apalagi sama komentar" yang inovatif, suportif, dan kocak".. semoga cerita ini begitu berkesan yaa:)
🍒⃞⃟🦅₳яяσω σƒ яσмαη¢є
Baca ulang deh, kangen banget sama Dika
🍒⃞⃟🦅₳яяσω σƒ яσмαη¢є: Wah MaasyaaAllah.. Kembali berjumpa kita ya. Semangat terus dalam berkarya ya Yul
total 2 replies
🍒⃞⃟🦅₳яяσω σƒ яσмαη¢є
Ehh baru sempat buka cerita ini lagi, dulu aku baca pakai akun yang satunya, btw update selanjutnya pindah lapak ya yul..?
Aduh gak bisa ikutan aku😭
Doaku, semoga dikau sukses di lapak sebelah ya..!

Ini aku admin gc mu, aku udh gak menerima member karna gc sekarang pada sepi, takut cuma nampung doang sedang kita disana sering bertukar poin. Member disana asli sudah terpercaya dan memanfaatkan gc sebijak mungkin.
🍒⃞⃟🦅₳яяσω σƒ яσмαη¢є: Akhir² ini aku jarang on, aplikasi error terus. Gc pada hilang.
total 2 replies
Joko Jokoo
evan n dina jg seru kyk ny. buat crita evan yg ditinggl kekasih ny. trus nmuin cewk bru gitu.
Joko Jokoo: oche 👍
total 2 replies
Joko Jokoo
crita alex n kina, mau buat di mna thor??
lee_you: di dreame juga.. nunggu rampung dika sama alish dulu haha
total 1 replies
Nenk Fadila
inovel ada ga thor ?
lee_you: ada kak
total 1 replies
Joko Jokoo
kangen dika n alish
lee_you: sabaaarr😭😆
total 1 replies
Joko Jokoo
kpan lnjut lgi??
lee_you: tunggu beberapa hari lagi yaa
total 1 replies
Kiki•Put(ভ_ ভ)
haahhh... 🙀
begitu berat... tapi gak apa lahh,
Semangat terus kak Yul😁😆😆
lee_you: siapp😆❤
total 1 replies
RO_che
semaangat thor.. edisi jilid 2 yaa thorr... 🥰🥰🥰🥰🥰 pindah t4 kah thor??
lee_you: iyaa.. terima kasihh😁
total 1 replies
Flamboyan Dari Timur
suka bnget nget
Flamboyan Dari Timur
suka bnget..... jgn cpat tmat donk
lee_you: nantikan Dr.D ya☺💕
total 1 replies
Joko Jokoo
dika dri naik sepeda, smpe naik mobil. saling setia dn saling mendukung dlm meniti karir masing2.
lee_you: uwuu banget kak😁
total 1 replies
Joko Jokoo
ini lnjut di nt atw dream thor.

jangn buat konflik yg berat2 dong. msa crita ny di pisah kn melulu. 😣😣

ap lgi klw ad smpe ad konflik lupa ingatn dn gk ingt dgn pasangn ny.
Joko Jokoo: 👍👍👍👍👍👍👍
total 4 replies
Akifa
sukaaaa
lee_you: makasihh❤
total 1 replies
melfida
suka bangetttttt.....
lee_you: bener?? uuhh makasihh😘
total 1 replies
RO_che
masih puanjangg kan thoor ceritaanya..🥰🥰
RO_che: okeh siap thorr.. 🥰🥰
total 2 replies
RO_che
jgn buru2 dunk thor..
RO_che: ceritanyaa.. jgn c4 ending thor
total 4 replies
Joko Jokoo
dika, nyebeliiiiinnnn

tpi kmu suka kn liiiiisssshhh
lee_you: sukaaa😝
total 1 replies
icha.sunflower
yang novelnya welcome to wania disana ta thor. Dr. D nya belum ada
lee_you: iya.. Dr. D belum bikin, nanti nyusul☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!