Menjalin hubungan terlarang bersama mantan kekasihnya didalam kediaman keluarga Hollarck alias keluarga kekasihnya sendiri adalah sebuah ketegangan untuk Sophia.
Namun tidak untuk Felix, tangan kanan keluarga Hollarck tersebut yang menganggap semuanya adalah hal biasa saja dan malah menjadi tantangan menarik untuk hubungan mereka.
•••
"Sudah di bagian bumi lain bahkan aku masih saja bertemu dengan mu!"
Felix menyeringaikan cibiran, "Lalu kenapa? Apakah kau fikir kita akan berjodoh, kau sangat lucu... hahah lalu apakah menurut mu anjing dan kera berada dalam satu kebun binatang lalu terpisah bertahun-tahun, kemudian bertemu di kebun binatang lain lalu mereka akan berjodoh, menikah, lalu mempunyai anak dan bahagia? Huh...kisah yang indah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tris rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
“Saya dimana?” Sophia bangkit dari tidurnya di tilam lembut berbulu angsa dirumah nenek dan kakek tempat Gio menitipkannya itu.
Seorang nenek tua yang sedang merajut di kursi tuanya pun mengangkat wajahnya, “Kau bangun nak? Apa kau lapar?”
Sophia menggeleng, menyapukan pandangannya kesekitar, melihat pada isi rumah tua itu, rumah klasik, berdinding bata, ada banyak pajangan disana, perapian yang menyala.
“Rod, dia bangun!” Teriak nenek itu bangkit dari kursinya. “Anak cantik, jangan takut aku nenek Paloma, Gio menitipkan mu disini, tenganglah nak ini tempat yang aman, dia akan segera kembali menyelesaikan urusannya lalu membawa mu kembali ke tempatmu.” Jelas nenek.
Uhuk uhuk… Seorang kakek tua tampak datang membawa baki makanan, “Palo, Sup tomat jahe datang…” seketika lelaki tua itu berhenti. “Anak cantik kau sudah bangun, ayo kita makan sekarang sudah memasuki musim dingin, sup tomat jahe cocok sekali dimakan saat musim dingin.”
Nenek Paloma pun menduduki ranjang tempat Sophia berada, “Jangan takut, Gio mengenal kami, dia sudah seperti cucu kami sendiri, maka kau juga bisa menganggap kami seperti itu.”
Sophia menggeleng pelan, “Saya mau bertemu Felix, saya ingin menemuinya.”
Nenek Paloma yang sudah di ceritakan semua hal oleh Gio pun mengusap pundak Sophia, “Kau menyayanginya, bukan? Maka sekarang bangkitlah, Sayangi anaknya yang tumbuh sehat pada rahim mu, itu vitamin dan obat-obat pada masa kehamilan mu, seseorang sudah memeriksa keadaan mu kemarin sebelum sampai disini.”
Sophia yang menunduk pun mengeluarkan air matanya, jadi benar Felix meninggal, dia benar meninggal. “Felix… “Sophia memegang perutnya. Aku tidak hanya ingin dia tapi juga ingin kau.
Hiksss hikss…
“Jangan menangis, bayi mu akan ikut sedih,”
Bibir Sophia bergetar menahan suara, “Felix…” Hikss hikss…
Nenek Paloma pun seketika memeluk Sophia, ikut merasakan sakitnya dia, apa lagi dia tidak sempat melihat ayah dari anak yang ia kandung.
“Ada banyak hal yang kita tidak bisa prediksi di dunia ini, seperti kematian, itulah sebabnya aku selalu berusaha menjadikan setiap hari ku berharga agar tidak menjadi penyesalan saat aku pergi nanti.”
“Dia berjanji dia tidak akan gugur, kami akan pindah, atau aku yang menunggunya kembali, tapi kenapa dia berbohong, kenapa dia pergi sebelum semuanya di mulai, apa yang akan aku katakan pada anaknya… “ Hiksss hiksss “Akan apa anaknya tanpa seorang ayah.”
Paloma yang baru mengenalnya pun menjadi terbawa suasana, “Percayalah, Semesta membuatmu seperti ini sebab kau sanggup menjalani ini semua, ayo pejam kan matamu…rasakan makhluk kecil ini dalam pelukanmu, hitung sampai 10….yakini dirimu, kau bisa jadi ibu yang terbaik untuknya… membahagiakan dia… membanggakan ayahnya disana… dunia yang baik akan selalu bersamamu— tarik nafas dalam dan lepaskan.”
...•••...
Jullian dan Gio saling memukul dada, sekian lama akhirnya mereka bertemu lagi, Sedikit gugup Jullian sebab semuanya sudah lama ia tinggal.
Mereka berada disebuh gudang kosong, tempat tua yang lama ditinggalkan, ada beberapa anggota de hollrack lain disana yang memang tidak menyukai Simon, sebagian mereka pun tahu Simon memang salah satu klan yang licik.
Saat Gio mencuri untuk berderma Simon malah sebaliknya yaitu menimbun kekayaan sebab itu dia ingin sekali menggantikan posisi Felix agar dia bisa tahu semua aset kekayaan Dominique de Hollrack.
“Simon sedang berada di Pallezo…” ujar Gio.
Jullian dan Gio tengah menatap pada layar di meja usang itu, “Formula racun itu adalah buatanan dari Zheng Lab, dia harusnya menghilangkan nyawa di hari ke tiga masa inkubasi, berarti Dominique tidak tahu bahwa Simon memanipulasi ini, dia mengatakan serum itu akan mematikan dalam hitungan menit.” Jelas Jullian.
Gio terkesiap, “Artinya Felix tidak mati saat di Pallezo?”
“Bisa jadi tidak, namun jantungnya sudah melemah, mungkin paru-parunya juga, “ Seketika Gio menggerakkan mouse komputer itu memutar kamere halaman Pallezo. “Kita lihat cara mereka mengevakuasi.”
“Perhatikan dadanya garis pada baju Felix bergerak! Shit Felix masih hidup, saat itu!” Jullian memekik.
“Bangsat! Lihat tangannya dia meminta pertolongan! Tapi Simon memerintahkan memasukan kedalam kantung jenazah, Sialan!” Sentak Gio.
“Keparaatt! Simon memang sengaja ingin dia mati! Dua orang yang menangkat itu siapa! Bagaimana mereka tidak sadari itu!” Jullia melihat pada Klan Dehollrack yang ikut bersama Felix disana.
“Itu Jill dan Rohtu, mereka adalah tangan kanan Simon!” Jelas salah seorang.
“Jelas, Ya jelas… Simon mengambil ini sebagai kesempatan emasnya, setelah di masukan dalam kantung Jenazah bukankah Felix di bawa kerumah sakit Lagi?” Lihat Jullia pada Gio.
“Rumah sakit, apa beda dengan Simon, lelaki itu mungkin sudah meminta membuat dia yang sekarat benar-benar mati, atau mungkin Felix benar mati dalam perjalanan, bisa jadi dia mengkremasi Felix dalam keadaan masih bernyawa, Bangsaat!!!” Jullian menggeram, Ia pun seketika bangkit. “Ayo pergi! Ajaknya!”
... •••...
Beberapa jam berlalu, Filliphina.
Di rumah milik keluarga Felix di perkebunan, jarang sekali ada sebuah mobil pengiriman barang datang, namun sore itu mobil itu berhenti disana, nenek dan Fania tampak sedang memberi makan Siska monyet kesayangan keluarga mereka didepan rumah.
Fania pun menyambut jasa pengiriman barang itu, beberapa lelaki itu turun membuka pintu belakang mobil itu, satunya lagi turun memberikan surat-surat, gadis itu menyambutnya mengambil uluran itu.
“Surat kematian.. “Fania terperangah ting… telinganya serasa berdengung panjang, pergerakkan waktu seperti mendadak berhenti, Fania oleh membuat Nenek yang di belakang sana pun mendekat datang.
“FanFan ada apa?”
Buughh… Fania pun jatuh oleh tubuh yang melemas seketika. “MARIANN!! TOLONG!”
Para lelaki jasa pengiriman itu pun membantu nenek yang panik oleh Fania yang jatuh, mereka mengangkat tubuh kecil gadis itu.
Ibu Felix pun keluar dari rumah, “Apa yang terjadi?”
“Tidak tahu, Paket apa ini!” Nenek pun memunguti surat-surat yang terjatuh oleh Fania tersebut, “Surat kematian, serah terima abu jenazah. Siapa!! Siapa yang meninggal!” Nenek pun memekik, Ia begitu shock saat ia lihat pada kotak itu adalah kiriman dari Madrid.
“Apa Nanay? Ada apa?”
“FELIX, FELIXX!!! Marian, Felix Marian…Felix cucu ku, Felix bagaimana bisa…”
Marian ibu Felix pun merampas surat-surat dari nenek, surat dari Dominique keluarga, hingga semua barang-barang penting milik milik Felix pun surat kematiannya.
Marian menjerit seketika, Ia meremasi dadanya dan terduduk, “Felix… .Felix… “tangisan pun pecah seketika.
Rumah yang biasa ramai dengawa tawa nenek dan suara-suara teriakan Fania seketika memecah dengan tangisan, beberapa pekerja kebun mereka yang sedang berada didekat rumah seketika datang berhambur mendengar teriakan ibu Felix.
Wanita paruh baya itu merauh, ia menangis sejadi-jadinya, kotabesar berisi abu jasad Felix pun ia peluk, Surat permohonan maaf dari Dominique keluarga tampak terlempar berserakan.
“Felix….Kenapa ini terjadi, bukan ini yang Mama mau, bukan untuk ini aku susah payah melahirkan mu, kau harus mati karena hal-hal seperti ini, Sudah lamaa Felix… hiksss hiksss sudah lama Mama meminta mu berhenti, meminta mu mengakhiri, tapi ini yang kami dapat, ini… hanya abu mu.. “
“FELIXX!!! Felix….” Nenek meraung dengan tubuh yang begitu lemas rasanya, dunianya hancur, cucu kesayangannya, sosok periang, penyayang, peramai suasana, yang sangat amat ia cintai kini tidak ada lagi.
Beberapa jam kemudian rumah Felix pun ramai di datangi, foto besarnya terpajang di halaman besar rumah, dengan bunga-bunga yang mengelilinginya.
Keluarga benar-benar tidak percaya akan hal ini namun setelah di konfirmasi lagi salah satu pihak Dominique membenarkan itu Felix gugur dalam sebuah kesalahannya sendiri melakukan tugas organisasinya tanpa menceritakan pengkhianatan Felix.
“Organisasi bodoh! Nenek memekik! Bagaimana bisa kalian mengatakan kematianya sebab sebuah kesalahan dari dia sendiri!”
Tidak hanya Fania yang berkali-kali pingsan dalam raungannya, Ibu Felix juga sama, Ia begitu tidak bisa meneria ini, Sosok pelindung yang suka dengan kebebasan itu tidak ada lagi.
“Harusnya kau meramaikan rumah ini dengan pernikahan mu nak, bukan kematian mu…”hikss hikss..
Lelaki separuh baya yang tidak lain adalah ayah Felix pun sedari tadi terus menunduk, tidak memperlihatkan tangisannya, Felix benar-benar bisa di hitung dengan jari dalam beberapa tahun ini kembali kerumah jarang sekali ia pulang saat sudah di Eropa.
“Kenapa hanya guci, hanya guci berisi abumu saja yang pulang nak, bukan ini yang ayah mau…”
Lelaki yang tegar pemberani sama seperti sang anak itu pun merendahkan tubuhnya, kemudian ia bersujud rasanya begitu hancur kehilangan anak kandung kebanggannya itu yang dari jauh terus bersusah payah membangun perkebunan dan pabrik mereka setelah lama bangkrut.
Sebab, Felix ingin ayah ibunya tidak kemana-mana, tetap didalam desa perkebunan saja, jauh dari semua lingkar hitam yang tidak tahu kapanpun bisa menyerang.
Guci berisi abu Felix tidak akan disimpan melainkan akan di larungkan atau dibuang ke laut, tempat di mana dulu Felix ayah dan ibu sering kesana, berada tidak jauh dari perkebunan.
...
...
Sore ini menjadi sore yang amat menyedihkan untuk keluarga Felix, mereka semua mengunjungi pantai beramai-ramai bukan untuk berlibut atau menikmati senja melainkan membuang abu sosok kesayangan keluarga mereka.
Ibu tidak kuat ia memilih menjatuhkan dirinya, membiarkan mereka melakukan prosesinya dengan terus memeluk foto kecil Felix kedalam dadanya tidak bisa mengikhlaskan ini
Fania kembali berteriak memanggil sang kakak Felix lah yang membeikan banyak dorongan untuk dia, mendukungnya banyak hal, memberangkatkannya sekolah di luar Manila, Felix menjadi sosok terpenting yang sangat Fania banggkan, ia pun kembali Pingsan lagi di dekat pinggiran pantai tidak kuasa kehilangan kakaknya.
“Kuatlah FanFan…Kau bisa membuat ayah juga jatuh jika seperti ini.”
...•••...
Dibelahan bumi lain Sophia sedang menikmati semilir angin malam yang berhembus kuat di rumah nenek paloma, Langit malam terlihat terang namun tidak ada bintang disana.
Sophia mengusap pada perutnya melihat ke luar jendela, menagao pada bulan yang tampak redup tertutup awan-awan halus itu.
"Akan apa aku kedepan nanti, apakah aku bisa sendirian menjadi ibu untuknya..." hikss hiss...
Next»
makasih buat karya keren nya "sofiafelix" 😍
ngakak nya sampek ngik ngik
dari sekian banyak baca novel baru ini yang buat ketawa parahhh
outhor nya serius keuereeeennnnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣