Aurora gadis desa yang penuh dengan misteri tentang masa lalunya. Ia datang mencari apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarganya di masa lalu. Ia hidup dengan identitas orang lain di besarkan oleh mantan pembantu ibunya sekaligus orang kepercayaan ibunya. Setelah berusia 21 tahun ia datang untuk mencari tahu penyebab ibunya mendekap di penjara dan kematian ayahnya yang masih melekat di ingatannya. Aurora kecil yang hampir kehilangan nyawanya karna ulah kejam sang ayah namun ia paham jika sikap ayahnya bukan seperti yang nampak di matanya. Setelah mendapatkan surat ucapan ulan tahun dari ibunya ia mencari sendiri kebenaran tentang dirinya. Bi inah mantan pembantu ibunya yang telah membesarkannya telah bercerita tentang masa lalunya namun ia merasa ada yang janggal ia memutuskan untuk pergi menemui keluarga ayahnya yang tak lain adalah dalang dari kekacauan keluarganya di masa lalu. Mampukah ia mengungkapkan beneran tanpa membongkar identitasnya. Kisah ini akan di bumbui dengan cinta segitiga yang berakhir tragis. akankah Aurora si gadis jenius mampu menghadapi kesulitan yang akan menghadang jalannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Era Nur agustina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35. kisah yang sebenarnya
Bi Inah masih menangis mengaduh ngaduh di depan makam adiknya. Ia sudah mendengar kematian Nona Mudanya, Ia menyesal memberikan dukungan pada Nonanya untuk membalaskan penderitaan Rianti. Ia sudah melanggar janjinya pada Nyonya Amalia untuk selalu melindungi putri kecilnya. tapi apa yang ia lakukan malah menjerumuskan dia kejurang yang sama dengan nyonya Amalianya.
"Rianti, Mbak Takut, Mbak sudah berdosa, Mbak sungguh tidak sanggup mendengar berita itu. Aulia sudah pergi selamanya"
Bi Inah masih saja menangis sesenggukan di makam adiknya. Ia menyirami air mawar dan mengirimkan doa setelah di rasa cukup dan hatinya mulai tenang ia meninggalkan makm itu. 'Dipta Harus tahu tentang ini' gumamnya
sementara di belahan Bumi Lainnya
Istambul,Turki
Pria Asia itu masih tengah sibuk dengan penelitiannya ia terpaksa membawa semua dokumen dokumen untuk di jadikan jurnal. Ia masih berkutat dengan laptopnya sesekali melirik wanita yang sedang bersantai di ruang TV sambil memangku sepiring berisi buah buahan. Wanita itu begitu asik menengok acara TV dengan berbahasakan Inggris.Ia masih memperhatikan wajah itu lalu menarik senyum di bibirnya ketika wanita itu menoleh kearahnya dan mengisyaratkan agar melanjutkan aktivitasnya sendiri dulu. Ia masih berkutat dengan angka angka tiba tiba ponselnya berdering. Ia melihat siapa yang menelponnya mengangkat satu alisnya 'Ibu? ada apa yach tumben' gumamnya. Wanita itu melihat ke arahnya menatap seakan ingin tahu siapa yang menelponnya selarut ini. Pria Itu seolah berbicara dengan angin tanpa suara dan hanya gerak bibir saja yang ia tunjukkan. Seraya tahu akan bahasa angin itu wanita itu bangkit dan menuju ke arah pria itu.
"Hallo Bu"
"Ia, Nak... akhirnya kamu angkat juga telpon Ibu"
"Maaf Bu, Dipta lagi sibuk, Tapi ini panggilan internasional loh Bu, nanti pulsanya abis lagi"
"Ngak apa apa, Ibu Cuma mau ngabari, Le.. Adik Mu...Lia... hiks... hiks... hiks"
"Lia Kenapa Bu,Ibu jangan nangis dong... Ibu cerita ada apa sama Lia"
"Lia... Kecelakaan dan dinyatakan meninggal, Le... hiks... hiks Ibu Sedih kasihan dia"
"Apa Me.. meninggal" ujarnya sambil beradu pandang dengan wanita di sampingnya itu. Wanita itu mengisyaratkan untuk tenang dan terus berbicara dengan orang yang di sebrang telpon itu.
"Kapan Kejadiannya Bu."
"Beberapa hari yang lalu Nak mobilnya terjun ke sungai dan jenazahnya tidak di temukan. Kata Polisi sulit mencarinya karna medan yang sulit. mereka hanya menemukan kaos yang di pakai adikmu sewaktu pergi"
"Ya Allah,....Bu jangan sedih Ya, Dipta belum bisa Pulang."
"Baiklah... Jaga dirimu ya selama di Sana. Ya sudah Ibu tutup telponnya"
"Ya Bu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Telpon terputus. Tangan Dipta bersendekap di dada dengan tatapan tajam menatap wanita di hadapannya kini.
"Lia, Jelaskan sama Mas" ujarnya. Aurora menelan kasar salivanya. Sepertinya ia akan di eksekusi Oleh Suaminya sendiri. Ia hafal betul Jika Pria yang di hadapannya ini sedang marah akan berubah menjadi orang yang berbeda.
"Hehehehe...Tenang,Mas...Tenang Tarik nafas....ya... hembuskan." ujarnya Pria itu dengan bodohnya mengikuti arahan sang Istri.
"Sudah lebih tenang"
"Hhhhmmm..."
"Oke...Begini ceritanya" ujarnya
Flasback On
Di sebuah Ruangan yang cukup besar dengan penerangan yang minim kedua wanita yang tengah pingsan itu di ikat di sebuah kursi yang berbeda. Lampu yang tepat di atas mereka di nyalakan Mereka di bangunkan secara Paksa dengan seember air yang di guyur di atas kepala mereka. Dengan kegagapan mereka tersadar dan mulai mengumpulkan ingatan masing masing. Aurora mengedarkan pandangannya 'Apa aku sudah mati, di sini gelap sekali, tapi kalau aku sudah mati kenapa tanganku di ikat begini kakiku juga' gumamnya Ia menoleh ke kirinya nampak Linda pun masih berusaha mengumpulkan kesadarannya.
"Nona kita dimana,apa kita sudah mati" ujar Linda masih mengerjapkan matanya
"Kau ini kalau mati mana mungkin tangan dan kaki terikat begini" sambil memalingkan wajahnya kesal
"Agh ia Nona benar"
Mereka tengah mengombrol tak jelas sampai tak menghiraukan para preman yang mereka pukuli beberapa waktu lalu. Hingga suara seseorang membuatnya terdiam
"Ehhheeemmm... sudah berdebatnya"
"Siapa.. Kau lepaskan kami... dasar preman pasar ngak ada ahklak..." umpat Aurora
"Ia Benar,Nona muda ku benar lepaskan kami"
"Hahahaha...tapi sayangnya kami tidak ingin melepaskan kalian."
"Bagaimana kalau kita negosiasi"
"Negosiasi...Ya...wah wah... ternyata putri seorang Hendrawan wiguna ini boleh juga diplomasinya"
"Cih... kau salah orang breng**k" ujar Aurora
"Aku tidak mungkin salah orang. Ibu Tirimu sendiri yang memberikan semua informasi tentang mu"
'Ternyata dia dalangnya. dasar wanita ular cantik tapi berbisa' gumamnya dalam hati
"Nona apa aku bilang wanita itu berbahaya, kita harus apa" ucap linda setengah berbisik pada Aurora
"Kau tenang saja, Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu. Biar aku yang menghadapi mereka kau cukup diam" ujar Aurora
'Ya Ampun Nona, Seandainya kau seorang lelaki pasti aku sudah jatuh cinta padamu. Sayangnya kau ini perempuan. Heh..' gumamnya
"Baiklah, hati hati Nona mereka licik"
"Ya.."
"Jadi bagaimana kau mau bernegosiasi padaku apa tidak."
"Apa yang aku dapatkan jika setuju"
"Apapun kau mau selain kami berdua." tawar Aurora
"Wah sombong sekali, tapi menarik"
"Aku bukan sombong tapi itulah yang bisa kutawarkan pada kalian"
"Baiklah, 2 Milyar"
"Ciih cuma segitu... tidak masalah,Lepaskan sekretaris ku biar dia selesaikan sekarang juga tapi kau harus kerja sama denganku dan aku tambah 1 Milyar lagi detik ini juga akan aku transfer"
"Waw... Tawaran yang bagus, Tapi aku harus memberi tahu bos ku dulu tentang tawaran mu itu"
"Heh... aku kira kau Bosnya, Buang waktuku saja... cepatlah panggil dia kemari"
"Cih... sombong.... dia sedang otw kemari"
"Ya... Baiklah.... apa kau tidak punya cemilan, aku lapar."
'Ya Ampun Nona, dalam keadaan begini kau masih ingat makan, pagi tadi kau sudah habiskan jatah makan siang dan malam ku sekarang kau sudah mengeluh lapar, kemana makanan yang kau makan tadi, Nona' gumam Linda dalam hati sambil berkedik ngeri
"Banyak maunya yach..."
"Aku bosan menunggu Bos mu kalau terlalu lama, Aku butuh menyuplai tenaga."
"Cerewet... hey Kau"
"Ya Bos,"
"Berikan yang dia minta"
"Ternyata Kau masih punya belas kasih ya"
Beberapa saat kemudian Sosok Bos yang di tunggu pun datang dengan derap langkah yang berat terdengar dari ujung ruangan itu. Ia berhenti tepat di depan cahaya lampu. Wajah Aurora dan Linda tidak begitu terlihat jelas karna terhalang gelap dan penerangan itu hanya menerangi meja di depan mereka.
"Bagaimana." Suara baritonnya terdengar menggema di ruangan. Sang Asisten membisikkan sesuatu di telinganya ada senyum yang tertarik di sudut bibirnya. Ia melangkah maju dan duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh anak buahnya
"Eeehhhmmm....Tawaranmu cukup menarik, tapi kami bukan tukang peras."
"Jadi apa mau mu, Kau takkan rugi jika melepaskanku"
"Tapi kami sangat setia, Nona"
"Cih... jangan Naif aku tau Istri ayahku membayar kalian tidak sebanyak tawaran ku bukan"
"Kau benar sekali Nona, Tapi bukan itu alasannya"
Aurora menaikkan satu alisnya dan nampak berpikir sesuatu lalu kembali berucap
"Agh roman romannya aku tahu, jika bukan uang pasti karna Hendrawan bukan" ujarnya sambil melihat orang itu dari jarak lumayan jauh tapi ia bisa melihat senyuman terbit di sana
"Aku beritahu dirimu jika ingin membalas si tua bangka itu dengan melukaiku kau salah sasaran karna aku bukan putri kandung pria tua itu, jika memang tebakanku ini benar kita punya tujuan yang sama"
"Omong Kosong apa ini...hah"
"Nona Mudaku berkata jujur dan jika anda mau bekerja sama. kita bisa menghancurkan Hendrawan wiguna dengan mudah"
"Lalu kau siapa jika bukan anak dari si tua itu"
"Aku... Kemarikan wajah mu agar melihat ku lebih jelas" ujar Aurora sambil memajukan tubuhnya sedikit agar terkena terpaan sinar lampu di hadapannya dan pria itu pun melakukan hal yang sama
"Aurora Putri Sanjaya" Ujarnya dan Pria itu membulatkan matanya
"Kamu, Astaga ke... kenapa aku sampai tidak mengenalimu, Ra" ujarnya namun Aurora sedikit heran Bos mereka mengenalinya
"Kau siapa..."
"Aku Randy...." ujarnya. Aurora berpikir sejenak mengingat Sesuatu
" Astaga, Dasar Kau idiot bisa bisanya kau mau mencelakai ku hah" sentaknya
" Ma... Maaf, Ra.... Hey kalian lepaskan mereka. Bisa bisanya kalian tidak memberiku informasi yang detail siapa target kita."
"Maafkan kami Bos"
Mereka lalu melapaskan ikatan tangan Aurora dan Linda. Mereka berbincang cukup Lama Randy menceritakan kronologisnya dan Aurora lalu mengajaknya kerja sama. Ia menjelaskan agar mereka mengikuti perintah Liana mobilnya harus di buat seolah kecelakaan dan masuk ke sungai dan mereka menggunakan mayat orang lain untuk menggantikan mayat mereka dengan begitu dirinya akan di kira meninggal,Aurora juga menyuruh mereka untuk memberikan kaos pada Liana sebagai bukti jika mereka sudah berhasil menyingkirkan dirinya.
"Kalian harus mengikuti di manapun Liana pergi setelah aku di nyatakan meninggal,Ambil Foto sebagai barang bukti agar alu bisa menyeretnya ke penjara. Seminggu lagi Rapat direksi di Wiguna grup dan aku bisa pastikan Ran kau akan mendapatkan hakmu kembali."
Flasback off
"Gitu Mas ceritanya....Mas marah"
"Ngak, tapi kamu hampir celaka, Sayang. Mas sudah pernah bilang keluarga itu sangat licik. Aku tidak bisa membayangkan hal buruk apa yang akan terjadi nanti"
"Mas tenang ajah Aku baik baik ajah kok Mas"
"Ya. Karna kau istrinya Mas" ujarnya sambil memeluk tubuh Aurora. Ada rasa khawatir yang ia sembunyikan ia memeluk sangat erat sang istri rasa tak ingin berpisah darinya.
TBC
Maaaaf Ya baru sempat up nih... doain biar aikon mendukung buat aku up... terima kasih sudah mampir keceritaku ini....
jangan lupa like n votenya yach....