Gue Alana Pradipta. Kalau lu liat penampilan , gue yakin lu bakalan berpendapat gue cewek gak bener, preman dan cewek kasar. Gue maklum sih kenapa lu bisa mikir gitu.
Sampe hari gue ketemu malaikat kecil yang gue jamin bikin lu yang sekeras batu karang bisa leleh kayak es krim kepanasan.
Angel minta gue jadi ibu sambungnya.
Yang bikin gue binggung adalah gue sayang sama Angel tapi gak sama bapaknya. Belum lagi sosial ekonomi kita yang nge jomplang banget.
Apa siap Angel punya ibu sambung preman kayak gue gini? Terus pernikahan tanpa cinta sama Pak Ricard gimana? Masa iya ngabisin hidup gue sama orang yang gak gue cinta dan mencintai gue?
cover source : wallbox. ru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Lima
" Sayang kamu... " gue lihat keterkejutan di wajah Richard. "Sayang, kamu kenapa?" Richard bangkit dari duduknya dan menghampiri gue dengan setengah berlari.
Richard menuntut gue untuk duduk di sofa. "Sayang apa yang terjadi?" Richard memeriksa luka dan memar diwajah gue.
"Appa, maaf aku minta uwak yang menjemput Angel."
"Tidak apa - apa sayang. Sekarang ceritakan apa yang terjadi." Pintanya.
Gue menceritakan apa yang terjadi apa Richard. Rahangnya mengeras, tanda dia emosi . Sorot matanya memancarkan kemarahan. Tapi ketika memandang gue, gue bisa lihat kasih sayang di mata Richard.
"Sayang, itu hanya cincin. Seharusnya kamu biarkan saja. Lihat kamu jadi terluka seperti ini."
"Appa, mana bisa aku menyerahkan cincin pernikahan kita?"
"Aku tidak mau ini terjadi lagi, sayang. Aku tahu kamu bisa menjaga dirimu dengan baik, tapi kembalilah tanpa terluka." Richard membawa gue masuk ke dalam pelukannya.
"Berikan saja apa yang mereka minta. Aku tidak masalah jika harus kehilangan harta benda tapi tidak kamu dan Angel, sayang."
"Maafkan aku appa." gue memeluk Richard.
"Apa sakit?" Richard mendekatkan wajahnya pada kening gue yang memar.
"Sudah lebih baik." gue tersenyum. Gue gak mau Richard khawatir. "Appa, aku lapar. Kamu sudah makan?"
"Belum. Aku akan memesankan nya untuk mu."
Tiga puluh menit berlalu, Jin masuk ke ruang Richard dengan membawa pesanan bos nya. "Tuan, ini pesanan anda." Jin meletakkan sebuah paper bag di meja.
*****
Angel ingin menginap di rumah uwak Madin tentu saja dengan senang hati Richard memberikan ijin. Menurutnya ini adalah kesempatan langka. Kami bisa berduaan tanpa Angel.
Gue dan Richard sedang duduk di ruang keluarga. Richard dengan telaten mengolesi memar diwajah gue dengan saleb.
"Seharusnya kalau tidak aja Angel gini, kita bebas bermesraan." keluh nya.
"Kan masih bisa, Appa." gue bersandar pada dada Richard. Gue menggambar pola abstrak di dadanya.
"Sayang, kamu menggodaku?"
"Angel sedang tidak di rumah, appa. Kamu bisa melakukan apapun sesuka mu." gue buat suara gue semanja mungkin.
Tanpa permisi Richard menggendong gue ala bridal, begitu kami akan naik ke lantai dua.
"Richard." sapa seseorang.
"Eomma." Richard menghentikan langkahnya.
Hah? Siapa? Mama nya Richard? Disini? gue antara kaget dan tidak percaya. Gue menoleh kearah sumber suara.
Oma Angel dan Jasmin datang bersama seorang wanita paruh baya yang masih tetap terlihat cantik diusia nya. Dari wajahnya tanpa jelas dia ibu nya Richard.
"Appa, turun kan aku." gue berbisik.
Richard mendekati eomma nya. Membungkuk memberi hormat. "엄마, 제 아내 알라나입니다" (eomma, je anae allanaibnida) Richard menarik dan mengenggam tangan gue.
** Mama, kenalkan ini istriku. Alana.
"Sayang, membungkuk dan beri salam." bisik Richard ditelinga gue.
Gue menurut
"아름다운. 한국어를 못 하시나요?" (Aleumdaun. Hangug-eoleul mos hasinayo) Mama nya Richard memperhatikan penampilan gue. Jantung gue berdegub kencang, seperti lomba lari.
Mungkin ini rasanya gerogi bertemu mertua.
**Cantik. Apa dia tidak bisa bahasa Korea?"
"그는 할 수 없다"(Geuneun hal su eobsda.)
** Dia tidak bisa.
"Appa, ayo ajak eomma masuk. Eomma pasti capek." gue menarik koper mertua gue. Gue bisa melihat oma Angel tersenyum menghina kearah gue.
Richard menuntun eomma nya ke ruang tengah. Gue meminta pelayan untuk membuatkan teh.
"Anda lihat kan, nyonya. Istri yang dipilih Richard. Preman dan tidak bisa mengurus suami." rupanya eomma Richard bisa bahasa Indonesia.
"Siapa nama mu?" Eomma yang bernama Lee Eun Hye. Eomma Eun Hye mengingatkan gue pada Richard yang dulu. Dingin dan tanpa ekspresi.
"Alana, nyonya."
"Apa yang terjadi pada wajahmu? Apa Richard yang melakukannya?" Nyonya Lee memegangi dagu gue, agar bisa melihat memar ku dengan lebih jelas.
"Bu... bukan nyonya. Ini hanya kecelakaan."
"Richard?" Rupanya nyonya Lee tidak puas dengan alasanku. Aku tidak habis pikir kenapa Richard justru menceritakan apa yang terjadi.
"Preman pasar." Sindir Oma Angel.
"Bodoh! Apa cincin lebih berharga dari nyawa mu?" Entah kenapa gue tidak tersinggung atau marah mendengar kata - kata nyonya Lee. Gue merasa itu caranya mengekspresikan perhatiannya.
"Maaf, nyonya."
"Eomma, beristirahatlah. Eomma pasti lelah." saran Richard.
Gue ikut mengantar Nyonya Lee ke kamar tamu. "Besok bangun pagi, kita buat kimci."
"Eomma, jangan terlalu keras pada Lana." gue langsung menyikut perut Richard. "Auw! Sayang sakit."
Aish Richard ini. Gue cuman bisa geleng - geleng kepala.
...🌼🌼🌼 Jangan lupa masukin list favorit ya, Like dan komen. Kasi bunga mawar buat Alana, Angel dan Richard gaes🌹🌹🌼🌼🌼...
Kasian Angel pengen ortu yg lengkap..